Tips Bebas Utang - Salah satu hal penting ketika memulai bisnis adalah menghindari utang sebisa mungkin, karena utang bisa menjadi beban yang memberatkan bagi keuangan/kondisi finansial usaha dan dapat menghambat pertumbuhan bisnis kita.

Tetapi, hutang ini juga sebaiknya dihindari oleh para pelaku usaha lainnya, supaya kita dapat terbebas dari bunga pinjaman yang tinggi, istilah “gali lubang tutup lubang”, dan lainnya. Meskipun memang dalam memulai dan mengembangkan bisnis seringkali memerlukan dana yang cukup besar, namun hal tersebut bisa dilakukan tanpa berhutang lho! Kira-kira bagaimana caranya ya? Pada artikel ini akan dibahas mengenai beberapa tips untuk pelaku usaha agar bisa menjalankan bisnisnya tanpa memiliki utang. Yuk kita bahas!

1. Merencanakan Tujuan Bisnis Dengan Bijak

Khusus bagi para pelaku usaha yang baru memulai bisnis atau berencana untuk mengembangkan usaha, persiapkan untuk membuat rencana bisnis yang komprehensif. Rencana ini harus mencakup proyeksi pendapatan, biaya, serta sumber dana yang dibutuhkan. Perencanaan bisnis yang dibuat secara bijaksana dapat membantu kita untuk menghindari utang yang tidak diperlukan.

Pastikan dalam perencanaan yang dibuat tersebut juga mencakup tujuan dan model bisnis yang jelas dan terperinci. Apalagi untuk pelaku usaha yang baru mulai berbisnis, hal ini akan membantu kita dalam menemukan sumber modal yang tepat, serta memungkinkan untuk menarik para investor atau mitra bisnis agar lebih memahami bisnis kita. Contohnya, jika ingin berbisnis makanan ringan kekinian, kita dapat menyusun rencana dengan komponen sebagai berikut:

  • Nama/identitas bisnis, misalnya: Keripik singkong “Cassavella”, cemilan enak untuk nemenin hari-harimu!
  • Deskripsi singkat tentang tujuan dan model bisnis, misalnya Keripik singkong “Cassavella” ini dikembangkan karena banyak masyarakat yang ingin cemilan penunda lapar namun tetap memliki rasa yang kekinian. Sertakan juga nilai-nilai keunggulan produk ini di model bisnis yang dibuat, contohnya dengan menggunakan Kanvas Model Bisnis (BMC)
  • Proyeksi pendapatan – tentang biaya, sumber dana, dan arus kas pada bisnis. Misalnya jika dalam satu kali produksi menghasilkan 40 bungkus keripik singkong dengan biaya operasional sekitar 300.000 rupiah, maka kita perlu menentukan sumber dana yang bisa dijangkau untuk kebutuhan operasional tersebut (contohnya seperti tabungan pribadi). Jangan lupa untuk menyesuaikan harga jualnya agar tetap untung, ya!

Baca Juga: Tips Melakukan Financial Check Up, Sudah Sehatkah Keuangan Bisnismu?

2. Mengendalikan Pengeluaran Dengan Anggaran yang Tepat

Kemudian, jangan lupa biasakan untuk memantau kondisi keuangan secara rutin. Hal ini bisa membantu kita untuk membuat sistem anggaran yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Adapun contoh yang bisa dicoba antara lain penganggaran berbasis nol, skema 50:30:20, atau dengan sistem amplop sebagai berikut: 

  • Penganggaran berbasis nol (atau Zero Based Budgeting) : Merupakan sistem anggaran yang memiliki fungsi dan tujuan tertentu dari penghasilan yang didapatkan. Misalnya anggaran untuk transportasi, bahan baku, dan lainnya.
  • Skema 50:30:20 : Skema ini sangat umum bagi masyarakat yang sudah memiliki penghasilan tetap, di mana alokasinya merupakan persenan angka yang diurutkan dari penghasilan yaitu 50% untuk pengeluaran dan operasional (kebutuhan), 30% untuk keinginan/wishlist pribadi, dan 20% untuk tabungan dan investasi.
  • Sistem amplop : Adalah sistem di mana setiap jenis pengeluaran akan dikategorikan ke dalam beberapa amplop sesuai dengan peruntukannya. Misalnya seperti amplop untuk belanja bahan baku keripik, amplop untuk sewa kios/toko, dan sebagainya.

Jika ingin lebih simpel, kita juga dapat menggunakan aplikasi anggaran keuangan yang bisa tersusun secara otomatis dan bisa menyesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Selain itu, dari anggaran tadi penting juga untuk mengendalikan pengeluaran bisnis yang dijalankan. 

Identifikasi area di mana kita dapat menghemat uang, seperti biaya operasional yang kurang efektif, atau pengeluaran pribadi yang dapat dikurangi. Melalui pengendalian ini, kita dapat mengurangi kebutuhan akan utang. Namun, jika memang ada utang pada periode bisnis sebelumnya, jangan ragu untuk membuat anggaran membayar utangnya juga yang sesuai dengan kemampuan kondisi finansial saat ini. 

3. Memprioritaskan Pendapatan yang Maksimal

Selanjutnya, upayakan untuk meningkatkan pendapatan bisnis kita secara terus-menerus. Hal ini bisa dipraktikkan dengan memperluas pangsa pasar/segmen konsumen, meningkatkan kualitas produk atau layanan, atau mengembangkan konten promosi yang menarik perhatian. 

Setelah dirasa cukup, alokasikan sebagian dari pendapatan untuk membuat jenis produk lainnya sebagai terobosan baru dari bisnis kita. Peningkatan pendapatan yang signifikan dapat mengurangi ketergantungan terhadap utang dalam pembiayaan kegiatan bisnis kita. 

Contohnya, dari bisnis keripik singkong pada poin sebelumnya kita dapat berkreasi untuk membuat varian rasa atau produk baru. Produk baru ini berguna untuk menambah saluran pendapatan serta menjangkau lebih banyak target konsumen. Selain itu, bisa juga dengan membuat kemasan edisi khusus agar menimbulkan kesan FOMO (Fear of Missing Out), misalnya seperti edisi khusus bulan Ramadhan.

Baca Juga: 7 Tips Mengelola Keuangan Bisnis ala Buku The Psychology of Money untuk Kunci Kestabilan Finansial

4. Menyimpan Sebagian Keuntungan Untuk Tabungan Bisnis

Daripada menghabiskan semua keuntungan bisnis kita, lebih baik sisihkan sebagian dari keuntungan tersebut sebagai kas cadangan atau dana untuk pengembangan bisnis di masa depan. Simpanan ini bisa dijadikan tabungan bisnis yang bisa digunakan jika menghadapi situasi darurat atau peluang bisnis yang menjanjikan. Selain itu, tabungan ini juga dapat menjauhkan kita dari utang tentunya! Adapun untuk besaran simpanannya yaitu setidaknya 20% dari total jumlah laba bersih yang didapatkan, atau bisa disesuaikan juga dengan kondisi bisnis saat ini.

5. Mengoptimalkan Sumber Daya yang Ada

Jika memang dirasa perlu mengambil pinjaman/hutang untuk kebutuhan bisnis, sebaiknya manfaatkan sumber daya yang sudah dimiliki terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengambil utang tambahan. Misalnya dengan menggunakan keuntungan/tabungan yang sudah ada sebelumnya, menawarkan kerja sama dengan mitra bisnis, atau mencari pendanaan dari investor atau modal ventura.

Selain itu, pastikan juga bahwa kita telah mempelajari sumber daya mana saja yang bisa dimanfaatkan untuk menambah dana usaha. Misalnya dengan mengurangi biaya operasional dan kuantitas produk, atau menjual produk dari rumah melalui toko online saja untuk menghemat uang.

6. Membuat Strategi Kemitraan dengan Mitra Bisnis

Sama seperti poin sebelumnya, kerja sama dengan mitra bisnis dapat menjadi sumber modal bisnis bebas hutang yang efektif. Kita dapat mencari tahu mitra bisnis apa yang cocok untuk melengkapi kebutuhan bisnis kita. Setelah itu, mulai untuk hubungi mereka dan buat perjanjian kerja sama dengan mitra bisnis yang benar-benar menjanjikan. 

Sebaiknya, pilih mitra bisnis yang memperbolehkan kita untuk menggunakan produk atau layanan mereka secara gratis atau dengan biaya lebih rendah. Sebagai imbalannya, bisnis kita bisa menyediakan produk atau layanan pelengkap kepada mereka. Selain itu, program kemitraan ini juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan, seperti barter konten promosi di media sosial misalnya, atau unggahan dengan skema paid partnership.

Baca Juga: UMKM Wajib Tahu! Inilah Plus Minus Membangun Bisnis Dengan Pinjaman

7. Mempertimbangkan Pendanaan Alternatif (Crowdfunding atau Penggalangan Dana Online)

Jika dana tambahan memang dirasa perlu untuk mengembangkan bisnis, kita dapat mempertimbangkan kembali untuk menggunakan pendanaan alternatif seperti pinjaman dari keluarga/teman, crowdfunding, atau program akselerator bisnis. Pendanaan alternatif ini cenderung lebih fleksibel dan sedikit memberi keringanan dalam proses pendanaannya, jika dibandingkan dengan utang tradisional.

Saat ini, pelaku UMKM bisa mencoba salah satu bentuk crowdfunding yang dihadirkan oleh pemerintah melalui OJK yaitu Securities Crowdfunding (SCF). Secara singkat, penggalangan dana SCF ini menggunakan skema “patungan” yang dilakukan oleh pemilik bisnis atau usaha, dalam memulai atau mengembangkan bisnisnya. Kemudian, investor bisa membeli dan mendapatkan kepemilikannya melalui saham, surat bukti kepemilikan utang (Obligasi), ataupun surat tanda kepemilikan bersama (Sukuk). Bukti kepemilikan tersebut didapatkan sesuai dengan persentase besaran nilai kontribusinya.

Selain melalui SCF tadi, adapun alternatif khusus untuk crowdfunding atau penggalangan dana online lainnya kita dapat menggunakan situs web seperti Kickstarter, Indiegogo, atau Patreon untuk mempromosikan bisnis kita dan mencari dukungan finansial dari komunitas yang ada. Dalam kegiatan crowdfunding ini, berikan informasi tentang bisnis kita dengan lengkap, tujuan penggalangan dana, dan hadiah atau insentif untuk pendukung yang berpartisipasi dalam kegiatan ini agar mereka tertarik, misalnya potongan harga/gratis ongkir.

8. Menjaga Kredit Bisnis

Jika kita memutuskan atau terpaksa untuk mengambil utang, pastikan untuk menjaga kredit bisnis kita agar tetap stabil. Contohnya seperti membayar tagihan tepat waktu, menghindari utang lainnya yang tidak dibutuhkan, dan memperbaiki masalah keuangan secepat mungkin. Kestabilan kredit bisnis ini dapat mempertahankan akses ke pendanaan tambahan bisnis kita di masa depan.

Adapun sebelum mengajukan pinjaman atau utang di tempat tertentu, pastikan agar kita telah memahami dan membaca seluruh syarat dan ketentuan pinjaman, serta suku bunga yang dikenakan. Skema pinjaman atau utang yang diambil perlu dipikirkan dengan matang, supaya kita mampu untuk melunasinya tanpa bunga tambahan yang memberatkan.

Baca Juga: Kredit Pinjol Macet Meningkat, Antisipasi dengan Cara Bijak Mengatur Keuangan

9. Mampu Menjaga Perasaan Emosional Agar Tetap Stabil

Terakhir, jika memang kita sedang dilanda hutang yang cukup banyak, dan perlu waktu untuk melunasinya, maka hal-hal ini perlu dipahami. Pertama, perlu diingat bahwa memiliki utang atau hidup bebas hutang bukanlah masalah moral. Kita bukan orang jahat jika memiliki hutang. Sebaliknya, kita juga bukan orang baik jika terbebas dari hutang. Kedua, hal ini sudah pasti untuk dilakukan, yaitu hutang harus dilunasi bagaimanapun caranya. Tidak perlu panik atau emosi, karena sejatinya semua akan ada jalan keluarnya.

Jika kita ingin memperbaiki kondisi finansial dan membina hubungan yang lebih baik lagi soal keuangan, jangan ragu untuk bekerja sama dengan seorang ahli keuangan atau financial planner yang dapat memberikan arahan dan membantu menyiapkan strategi menuju finansial bisnis yang sejahtera.

Nah Sahabat Wirausaha, dari beberapa tips di atas kita dapat mempelajari betapa pentingnya untuk mempersiapkan dana awal/modal dalam berbisnis. Jika ingin terbebas dari utang, maka kita perlu memanfaatkan dana yang sudah ada dengan optimal, atau melakukan kerja sama dengan beberapa pihak yang menerapkan skema win-win solution. Hal ini dikarenakan pengembangan bisnis tidak selalu melibatkan pendanaan, melainkan bisa juga dengan skema lainnya seperti kolaborasi konten untuk promosi bisnis di media sosial. 

Selain itu, meminimalisir atau menghindari utang ini juga akan menjadi upaya dalam mewujudkan kebebasan finansial yang lebih besar, dan memungkinkan kita untuk fokus pada pertumbuhan dan kesuksesan bisnis dalam jangka panjang. Jadi, yuk mulai alokasikan dana secara efisien dan perbanyak relasi untuk kembangkan bisnis yang memberi manfaat bagi masyarakat. Semangat mencoba, ya!

Jika tulisan ini bermanfaat , silahkan di share ke rekan-rekan Sahabat Wirausaha. Follow juga Instagram @ukmindonesia.id untuk update terus informasi seputar UMKM. 

Referensi : DokuPromo, Bisnis.com, RamseySolutions