World Economic Forum (WEF) setiap tahunnya mengadakan perhelatan untuk memberikan penghargaan kepada individu dan organisasi yang dianggap telah memberikan jalan keluar berbagai permasalahan pembangunan melalui mekanisme pasar. Individu-individu wirausahawan sosial itu, pada tanggal 24 September 2018, diganjar penghargaan Social Entrepreneurs of the Year 2018 oleh organisasi khusus WEF, Klaus Schwab Foundation for Social Entrepreneurship. Schwab sendiri adalah pendiri WEF.
Pada tahun ini, terdapat 12 wirausahawan sosial yang berasal dari 11 perusahaan sosial yang mendapatkan penghargaan tersebut. Yang sangat menonjol adalah kenyataan bahwa 7 wirausahawan sosial tersebut bekerja di wilayah Afrika dan Timur Tengah. Agaknya benar pendirian bahwa di mana masalah pembangunan ditemukan, di situ pula bisnis sosial tumbuh subur.
Tulisan pertama dari dua bagian ini menjelaskan apa yang dilakukan oleh 7 wirausahawan tersebut. Bagian berikutnya akan menjelaskan 5 yang lain, selain memberikan catatan atas apa yang telah dilakukan WEF untuk mempromosikan mereka.
Fatuma Abdulkadir Adan adalah pendiri Horn of Africa Development Initiative (HODI), Kenya. HODI bekerja untuk menciptakan komunitas yang damai dan tangguh di wilayah Tanduk Afrika yang sangat miskin dan rawan kekeringan. Caranya melalui advokasi, pendidikan, resolusi konflik, dan promosi penghidupan yang layak. Empat program andalannya itu menjangkau 300 desa, 10.000 anak muda, 13 sekolah dengan 1.500 siswi, dan 14.700 rumah tangga. Program HODI yang diberi nama Breaking the Silence bertujuan untuk mengakhiri rasa malu dan penderitaan korban kekerasan seksual dengan menciptakan jejaring berbasis sekolah di mana gadis remaja dapat memberi dan menerima dukungan.
Bruktawit Tigabu mendirikan Whiz Kids di Ethiopia. Organisasinya menggunakan jangkauan televisi, radio, dan media cetak untuk menyebarluaskan pesan pendidikan dalam tujuh bahasa lokal dengan penekanan pada pendidikan anak usia dini, perilaku sehat, literasi, dan kesetaraan gender. Program unggulan internasionalnya, Tsehai Loves Learning, menjangkau hingga 5 juta pemirsa televisi setiap minggu, dan sekitar 10 juta pendengar radio.
Dari Zambia dan Malawi ada Mike Quinn dengan Zoona-nya. Quinn membangun platform teknologi dan jaringan waralaba yang menyediakan layanan keuangan yang mudah diakses. Sejak diluncurkan pada tahun 2009, organisasi telah berkembang untuk melayani basis pelanggan aktif dari 2 juta konsumen dan 3.000 agen, dan telah memproses USD2 miliar dalam transaksi dan mengumpulkan lebih dari USD25 juta keuntungan yang diinvestasikan kembali.
Dalam bidang jasa keuangan mikro, ada juga Muhammad Amjad Saqib, pendiri Akhuwat, yang jasanya dapat dinikmati di Pakistan, Uganda, dan Kenya. Akhuwat telah memberikan sekitar USD600 juta pinjaman di antara orang miskin, dengan 98% di antaranya telah digunakan untuk membuat atau meningkatkan skala usaha kecil. Dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip keuangan Islami, Akhuwat telah menjadi program keuangan mikro bebas bunga terbesar di dunia.
Sementara, di Turki ada organisasi Tabit yang dibentuk oleh Tulin Akin. Tabit telah memelopori sistem berbasis SMS yang gratis dan dapat diakses melalui telepon seluler apa pun. Layanan SMS itu merevolusi cara di mana petani skala kecil menerima informasi pertanian penting termasuk prakiraan cuaca, harga pasar, dan beragam opsi pembiayaan untuk musim tanam berikutnya. Pada 2017, diperkirakan 1,5 juta petani di Turki menggunakan layanan ini, atau sekitar 50�ri total petani negeri tersebut.
Sasha Chanoff dan Amy Slaughter mendirikan organisasi RefugePoint, yang bermarkas di Afrika dan Timur Tengah. Organisasi ini menemukan solusi jangka panjang bagi para pengungsi paling berisiko di dunia dengan meningkatkan integrasi mereka ke negara-negara di mana mereka menjadi pengungsi melalui program pemandirian. Bermitra dengan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Afrika, Asia Tenggara, dan Timur Tengah, RefugePoint telah secara langsung membantu lebih dari 54.000 pengungsi mengakses pemukiman kembali dan menghubungkan mereka dengan sumber-sumber nafkah yang tersedia di negara-negara tujuan.
Apabila kita periksa satu per satu organisasi tersebut di website masing-masing, kita akan segera tersadar bahwa mereka telah melakukan pekerjaan yang sangat besar di tengah tantangan yang sangat besar di Afrika dan Timur Tengah. Namun, inovasi sosial telah membuat mereka mampu mengatasi semua tantangan dengan baik.
Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di Surat Kabar KONTAN, pada tanggal 27 September 2018.
Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









