Pada bagian pertama telah diuraikan bagaimana 7 wirausahawan sosial berhasil mengatasi beragam tantangan pembangunan di tempat yang dianggap sangat berat: Afrika dan Timur Tengah. Karena keberhasilan itu, mereka dinobatkan menjadi penerima Social Entrepreneur of the Year 2018 dalam ajang penghargaan yang diberikan oleh World Economic Forum (WEF) tanggal 24 September 2018 lalu.
Lima penerima penghargaan lainnya berasal dari berbagai negeri: India, Tiongkok, Belanda, Brasil dan Amerika Serikat. Masing-masing menyelesaikan masalah yang sangat besar di negara-negara itu.
Urvashi Sahni mendirikan Study Hall Education Foundation di India. Organisasi ini mengelola jaringan sembilan jenis sekolah dan program yang melayani anak perempuan, anak-anak yang menyandang disabilitas, pemuda pedesaan, dan anak-anak di luar sistem sekolah formal. Hingga saat ini, yayasan telah bekerja dengan lebih dari 900 sekolah negeri dan melatih 5.000 guru pemerintah, dengan keseluruhan penerima manfaat sekitar 500.000 orang.
Untuk mengatasi beragam masalah yang saling terkait di Hong Kong, David Yeung mendirikan Green Monday. Green Monday bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim, kerawanan pangan global, dan masalah kesehatan masyarakat sekaligus. Organisasi ini menawarkan jasa kepada sekolah, perusahaan katering, dengan menjadi rantai pasokan makanan vegetarian seminggu sekali, yaitu di hari Senin, untuk mengubah kebiasaan diet. Filosofi hanya mengkonsumsi makanan nabati sekali seminggu itu kini dipraktikkan oleh lebih dari 1,6 juta orang di Hong Kong. Dan, lantaran komunikasi massif oleh organisasi itu, telah pula menyebar ke lebih dari 30 negara.
Bas van Abel adalah pendiri Fairphone, sebuah perusahaan sosial Belanda. Fairphone mendorong perubahan dalam industri elektronik dengan membuat telepon pintar dengan cara yang menempatkan nilai sosial dan lingkungan lebih tinggi prioritasnya dibandingkan, misalnya, kecanggihan teknologi. Dengan pendirian yang demikian, Fairphone telah menerapkan desain modular yang tahan lama dan bisa diganti secara parsial. Dengan begitu, produknya sangat membatasi limbah, selain juga hanya mengambil dari sumber bahan bebas konflik, memastikan para pekerjanya berada dalam dengan kondisi kerja yang baik, dan mendukung upaya daur ulang dalam ekonomi sirkular. Fairphone telah menjual 160.000 ponsel pintar di negeri asalnya, dan berharap bisa meluaskan operasinya.
Valdeci Ferreira mendirikan The Brazilian Fraternity of Assistance to Convicts (FBAC) di Brasil untuk mengembangkan beragam metode penyiapan narapidana agar siap kembali ke masyarakat. Metode itu mereka kembangkan berdasarkan pada 12 prinsip, termasuk partisipasi masyarakat, pekerjaan yang layak, prestasi, dan keluarga. FBAC beroperasi di lima negara bagian Brasil dan telah memfasilitasi adopsi metodologi mereka di 23 negara lainnya. Narapidana Brasil yang menjalani hukuman mereka di fasilitas FBAC memiliki tingkat residivisme 30%, lebih rendah 55% dibandingkan dengan rata-rata Brasil yang mencapai 85%. Ini berarti metode tersebut memiliki keberhasilan yang tinggi
Terakhir, Zack Rosenburg, yang mendirikan St. Bernard Project (SBP) di Amerika Serikat. Organisasi ini berupaya keras memotong waktu antara bencana dan pemulihan, dengan memastikan bahwa warga dan masyarakat memiliki akses ke informasi dan dukungan yang mereka butuhkan sebelum dan sesudah bencana terjadi. Mereka membangun kembali rumah yang lebih tahan bencana dalam waktu yang singkat, dengan biaya 40% saja dibandingkan rerata kontraktor. Mereka telah membangun kembali 1.420 rumah secara langsung, membuka informasi soal model pembangunannya, dan memberikan pelatihan kepada organisasi-organisasi lain untuk mendorong adopsi secara luas.
Dari ke-12 wirausahawan sosial yang tahun ini dinyatakan sebagai teladan oleh WEF, mereka yang bekerja di Afrika dan Timur Tengah sangatlah dominan. Mereka terutama bekerja untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, termasuk yang disebabkan oleh pengungsian. Di lokasi-lokasi lainnya, tantangan yang dipecahkan lebih beragam, termasuk pendidikan, pangan dan perubahan iklim, limbah elektronik, pemasyarakatan kembali para mantan narapidana, hingga pengembangan resiliensi di masyarakat.
Dampak sosial dari apa yang dilakukan oleh ke-12 wirausahawan sosial dari 11 perusahaan sosial itu sangatlah menakjubkan. Namun, WEF, di dalam publikasinya masih kurang menjelaskan bagaimana model bisnis yang mereka lakukan hingga dampak itu bisa diraih. Pun, bagaimana kinerja keuangan masing-masing organisasi itu tak mendapat ruang memadai di dalam publikasi WEF. Kalau kita kunjungi website masing-masing organisasi, kita baru akan paham bahwa mereka memang melakukannya dengan sangat pintar.
Sumber:
Artikel ini pernah di muat di surat kabar KONTAN, pada tanggal 11 Oktober 2018.
Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA).
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









