UKM Indonesia

Raja Uduk : ​Menjadi Pemenang Pasar Nasi Uduk Bermodal Observasi


Gambar diambil dari tripadvisor.com

Siapa yang tak kenal nasi uduk? Hampir semua masyarakat Indonesia pasti sudah akrab lidahnya dengan kuliner tradisional ini. Menu nasi uduk tersebar di seluruh Nusantara, dan hampir setiap daerah memiliki resep khasnya sendiri-sendiri. Tak terkecuali kota Pontianak, yang memiliki restoran khas nasi uduk bernama Raja Uduk. Berdiri sejak hampir sepuluh tahun yang lalu, Raja Uduk dengan menu khas nasi uduk, ayam bakar, dan iga bakarnya, saat ini menjadi salah satu gerai rumah makan terdepan dalam persaingan kuliner Indonesia. Tak percaya? Lihatlah review yang diberikan para pelanggannya, baik di Google Search, di aplikasi pemesanan makanan, maupun di akun Instagram resmi Raja Uduk. 99% dari mereka memberikan respon yang sangat positif (Detik.com).

Nah, resep apa yang dimiliki Raja Uduk sehingga bisa diterima secara luas oleh masyarakat? Strategi apa yang digunakan timnya sehingga kanal sosial media dan lapak online-nya begitu digandrungi pelanggan dan hampir tak pernah sepi? Bagaimana tim Raja Uduk membangun bisnis mereka sejak awal hingga bisa sebesar sekarang? Rizal Kurniady, selau CEO dan Founder dari Raja Uduk, membagi Cerita Inspirasi di sini.


Diawali Dengan Mimpi Besar dan Modal Sederhana

Raja Uduk berdiri di tahun 2011, dengan konsep dan modal yang sangat sederhana. “Saat itu, kami mulai hanya dengan lima ekor ayam,” kata Rizal. Ia bercerita bahwa di awal mendirikan bisnis, timnya mengadakan riset kecil-kecilan untuk membaca perilaku masyarakat dan menentukan segmentasi pasar. Ternyata, dari riset ini diketahui bahwa kuliner di Pontianak yang ramai adalah kuliner lokal, seperti soto lamongan dan bakso. Rizal memperhatikan bahwa meskipun kebanyakan pemilik dan pengelola rumah makan bukanlah sarjana di bidang marketing, namun rumah makan mereka selalu ramai. Dari observasi ini, ia menyimpulkan bahwa ada tiga faktor pendukung fenomena ini. Pertama, kemungkinan besar hal ini karena rumah makan yang digunakan tidak terkesan mewah maupun mahal. Kesederhanaan ini membuat orang tidak segan untuk datang. Kedua, produknya memang adalah kuliner lokal yang sudah semua orang kenal. Dan ketiga, harganya terjangkau oleh kantong masyarakat yang menjadi target pasarnya.

Rizal mengakui bahwa saat pertama membuka warung makan, keuangan dan kas sulit. Raja Uduk memulai hampir tanpa modal, semua piring, etalase, kompor, semuanya hasil pinjaman. Kami hanya modal semangat dan niat. Dari sinilah kemudian Rizal dan timnya mulai bertahan dan mengembangkan bisnis dengan modal data observasi. Mereka memilih menu nasi uduk lantaran statusnya sebagai kuliner khas nasional yang bisa diterima di semua kalangan. Setelah menentukan menu utama, Rizal dan tim terus memperkuat resep untuk menciptakan produk nasi uduk yang secara kualitas di atas rata-rata, namun dengan pendekatan yang low profile. Intinya, produk ini bersifat sederhana, namun secara rasa sangatlah nikmat. Tak hanya itu, outlet mereka juga dibuat terbuka dan tidak terkesan mewah supaya masyarakat tidak merasa sungkan untuk datang.

Kami menggunakan Business Model Canvas, di mana kami punya value proposition dan market segmentation yang sudah ditentukan sejak awal, ungkap Rizal.

Dikatakannya bahwa Raja Uduk tidak datang hanya dengan ide, namun juga dengan solusi. Ya, Rizal dan tim percaya bahwa kuliner tidaklah melulu soal rasa, tapi juga soal memenuhi kebutuhan pelanggan. Dalam hal ini, kebutuhan yang diakomodasi Raja Uduk adalah permintaan pasar akan suatu makanan sederhana, enak, murah, terjangkau, dan bisa diterima oleh lidah. Di Pontianak, terdapat ratusan tempat makan dengan kriteria tersebut. Namun, tempat-tempat lain memiliki kekurangan : kurang bersih tempatnya, kurang ramah pelayanannya, dan kurang unik produknya. Nah, Raja Uduk kemudian memecahkan masalah ini dengan menjadi rumah makan yang memiliki masakan enak, tempat yang higienis, dan pelayanan yang ramah. Hasilnya, Raja Uduk perlahan diterima masyarakat dan reputasinya menyebar cepat.


Memaksimalkan Kekuatan Rasa dan Jalinan Silaturahmi

Kesuksesan Raja Uduk saat ini tentunya tidak dicapai dalam sekejap mata. Kekuatan data, rajin observasi, dan promosi dari mulut ke mulut merupakan tiga hal yang berperan penting dalam pengembangannya. Rizal bercerita bahwa di masa-masa awal promosi bisnis, ia memanfaatkan teman, keluarga, dan lingkaran-lingkaran kerabat terdekatnya. “Saya jadwalkan mereka untuk datang ke Raja Uduk di hari-hari tertentu, agar restoran selalu terlihat ramai,” ungkapnya. Keramaian ini akhirnya membuat banyak orang penasaran, hingga tergoda untuk mampir. Kekuatan silaturahmi sangat penting dalam memulai usaha, khususnya di ranah lokal. Sebagai pemilik usaha, Rizal juga selalu turun langsung untuk mengontrol kualitas produk, melayani pengunjung, serta –yang paling penting—membentuk ikatan pertemanan dengan pelanggan lewat berkenalan secara pribadi dan mengobrol.

“Karena secara kualitas produk kami sudah yakin, hanya perlu orang untuk memasarkan dan metode yang kami pilih adalah dari mulut ke mulut,” ungkap Rizal dengan percaya diri. Selama setahun, metode ini membuahkan hasil, dan nama Raja Uduk dengan cepat menjadi terkenal di seluruh Pontianak. Dari sinilah Rizal kemudian belajar, bahwa kekuatan personal branding, silaturahim, dan pertemanan yang baik dengan kualitas produk bagus adalah kunci awal diterimanya Raja Uduk.

Selain mengedepankan hubungan antar-personal sebagai media promosi, kualitas produk juga berperan penting untuk kekuatan brand Raja Uduk. Karenanya, Rizal beserta tim dapurnya senantiasa memaksimalkan rasa nasi uduk dan berbagai hidangan mereka. Rasa uduk yang khas dari restoran mereka terbukti sukses merebut lidah banyak orang. Sampai ada orang tidak suka nasi uduk, tapi nyatanya menikmati hidangan Raja Uduk. Tak hanya itu, Raja Uduk juga menyuguhkan pelayanan dan kearifan khas Melayu, sebagai bentuk keramahan yang ditawarkan kepada customer sejak awal. Terakhir, Rizal selalu berusaha agar rumah makannya tetap sederhana namun bersih sehingga saat makan di tempat, pengunjung merasa nyaman dan senang.


Apa Proses Paling Penting Dalam Riset Pasar?

Bagi Rizal, proses paling penting dalam melakukan riset pasar untuk membuka usaha, adalah observasi yang mendalam. Rizal sendiri dulu melakukan hal ini dan berdasarkan hasil observasinya memutuskan untuk membuka usaha nasi uduk. Awalnya, saat masih menjadi pencuci motor, Rizal melihat banyak rumah makan yang menyajikan masakan lokal. Dan warung-warung ini selalu ramai. Setelah dianalisa, ternyata dari riset pasarnya, masyarakat senang dengan masakan yang sederhana dan praktis, dengan harga terjangkau. Makanan nasional yang di lidah mudah diterima. Tak hanya itu, Rizal juga menghitung jumlah kendaraan yang lewat di area warung-warung makan selama satu jam, guna menilai potensi keramaian pengunjung di daerah itu. Setelah dihitung-hitung, ternyata pasarnya cukup besar. Dari data-data inilah Rizal bisa menyimpulkan bahwa di Pontianak masih ada potensi besar untuk masuk di market yang sama, dengan pangsa pasar yang masih besar.


Melek Data dan Sosial Media Jadi Kunci Bertahan di Kala Pandemi

Di tahun 2014, Raja Uduk mulai merambah dunia sosial media dan membuat tim khusus untuk menangani Instagram. Melalui hal ini, Rizal dan timnya belajar lebih banyak lagi soal pemanfaatan data untuk promosi produk. Di ruang lingkup lokal, menggunakan analisa data skala nasional tidak terlalu efektif. Tapi di bidang UMKM, kekuatan personal branding individu sangat penting, dengan produk berkualitas, pelayanan baik, dan rajin aktif dalam media sosial biasanya jadi kunci awal mereka bisa diterima masyarakat.

Selain itu, Rizal dan tim juga bermain di Instagram Ads dan Facebook Ads, guna memaksimalkan fungsi promosi di sosial media. Berdasarkan hasil pengamatannya, di media sosial para pelanggan dan followers tidak hanya membutuhkan produk, namun juga sesuatu yang bisa menjawab permasalahan mereka sehari-hari. Karenanya, di sosial media, akun Raja Uduk tidak hanya menjual produk, tapi menjual cerita dan solusi akan kebutuhan mereka. “Dari sana, kita memasukkan di iklan 70% jawaban atas permasalahan, baru 30% kita bicara produk,” ujar Rizal. Baginya, inilah daya tarik utama yang harus dimainkan di media sosial, karena jika hanya menjual produk, sudah banyak sekali produk-produk serupa yang bertebaran di luar sana. Sebagai pelaku UMKM yang bersaing ketat, kita harus mampu menawarkan nilai unik yang tidak dimiliki usaha lain, termasuk dalam strategi promosinya.

Data followers sangat membantu untuk selamat ketika masa pandemi omzet secara online sangat turun, hanya sisa 10%. Banyak orang saat pandemi malas keluar, sehingga akhirnya Raja Uduk bergeser haluan dan membuka akun usaha Jastip Menantu. Apa itu? Dikatakan Rizal, bahwa bisnis jasa penitipan pembelian barang ini dibuat untuk menghubungkan pelanggan dan penjual secara luas, dari Pontianak hingga Singkawang. Ya, Jastip Menantu memfasilitasi kegiatan belanja rumah tangga untuk ibu-ibu yang terhalang pergi ke pasar di masa pandemi. Selain itu, karena berdasarkan analisa data sosial media banyak pelanggan Raja Uduk yang suka jajan, mereka akhirnya juga membuat akun usaha baru bernama Jajanan Bahagia. dari produk-produk kami yang bisa untuk jajanan di rumah. Ketiga, kita juga membuka frozen food.

Diakui oleh Rizal, bahwa sejak awal tim Raja Uduk memang tidak banyak bermain dengan data berupa angka dan statistik. Ia memaksimalkan data-data yang diperoleh dari observasi bisnis lokal dan menerapkannya dalam pengembangan bisnis Raja Uduk. “Kesimpulan saya, pendekatan bisnis lokal cukup berbeda dengan skala nasional atau marketplace nasional,” ungkap Rizal. Dikatakannya bahwa untuk skala lokal, langkah promosi yang efektif lebih mirip Fly Wheel Strategy, di mana pelanggan sendiri yang akhirnya menjadi promotor produk kita. Ini bisa dimulai dari silaturahmi, keramahan, dan pertemanan terhadap pelanggan. Tak hanya itu, value proposition juga sangat penting, karena nilai unik dan kualitas produk adalah kekuatan utama suatu brand dalam bersaing di pasar.

Nah, itu dia lika-liku perjalanan bisnis Rizal dan usaha Raja Uduk miliknya yang semakin berkembang besar. Setelah membaca pengalamannya, teman-teman UKM diharapkan harus rajin-rajin mengamati pelanggan dan observasi lingkungan sekitar untuk mendapatkan data yang tepat dalam mengembangkan bisnis. Sebab data adalah alat penting bagi UMKM untuk bertumbuh, berinovasi, dan –tentu saja—naik kelas!

Yuk simak cerita inspirasi lengkapnya di Webinar APINDO UMKM Akademi.

Tags
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: