Pengembangan masyarakat adalah upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian kelompok masyarakat rentan, melalui pemanfaatan sumberdaya yang mereka miliki sendiri serta sumberdaya eksternal komplementer. Kelompok masyarakat rentan sendiri adalah terjemahan dari vulnerable group, yang sumber kerentanannya bisa bersifat struktural, kultural maupun personal. Yang perlu diingat adalah bahwa pengembangan masyarakat bukanlah untuk semua anggota masyarakat, melainkan hanya kelompok rentan di antara mereka.
Mereka yang rentan karena penyebab struktural misalnya adalah para penganggur, yang tidak mendapatkan pekerjaan karena struktur ekonomi memilih para pekerja yang sesuai dengan kepentingan tertentu. Mereka yang rentan karena kultur misalnya adalah para perempuan yang disingkirkan dari penguasaan sumberdaya karena budaya patriarkhi. Sementara, mereka yang kehilangan pencari nafkah karena meninggal dunia adalah contoh kerentanan personal.
Bagian dari definisi di atas yang juga penting untuk dipegang erat adalah bahwa dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian itu sumberdaya pertama yang dimanfaatkan adalah milik kelompok rentan itu sendiri. Mengapa? Karena pengembangan masyarakat benar-benar ingin memandirikan mereka, bukan membuat kelompok sasaran itu menjadi tergantung. Oleh karenanya, sumberdaya eksternal harus dipikirkan masak-masak berapa jumlah (sesedikit mungkin!) yang diperlukan sebagai komplementer, serta kapan pemanfaatannya akan diakhiri.
Ketika hal-hal yang esensial itu kita pegang erat, biasanya kemudian pengembangan masyarakat datang dalam wujud projek-projek tertentu untuk masyarakat (community projects). Ini dilakukan oleh siapa saja, termasuk donor, organisasi masyarakat sipil, pemerintah dan perusahaan. Ketika sekarang perusahaan semakin banyak melakukan pengembangan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya, wujud pengembangan masyarakat bertambah dengan peluang ketenagakerjaan dan pengembangan bisnis lokal.
Peluang ketenagakerjaan sebagai pengembangan masyarakat datang ketika perusaaan melihat bahwa kelompok-kelompok rentan itu bisa membaik kondisinya bila mereka dibantu dengan pendidikan formal dan informal, pelatihan dan magang, serta kuota dan perlakuan khusus tertentu lainnya. Kalau kelompok rentan dibiarkan bertarung melawan masyarakat kebanyakan, tentu sangat sulit bagi mereka untuk memenangkan persaingan. Jadi, perusahaan memang perlu memberikan perlakuan khusus, yang biasanya disebut tindakan afirmatif.
Demikian juga, ketika perusahaan punya sejumlah peluang bisnis yang timbul dari kebutuhan sepanjang rantai pasokan, maka itu bisa juga dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat. Tentu, itu bisa terwujud bila perusahaan mengutamakan kelompok masyarakat rentan dalam penentuan siapa yang berhak mendapatkan peluang tersebut. Apapun yang bisa dipasok oleh kelompok masyarakat rentan seharusnya dibuka untuk mereka. Kalau mereka belum bisa memenuhinya, perusahaan bisa memberikan bantuan peningkatan kapasitas.
Ketiga strategi pengembangan masyarakat itu—projek untuk masyarakat, peluang kerja, dan pengembangan bisnis lokal—kini telah diterima sebagai strategi utama (Anderson dan Zandvliet, 2009). Namun, ketika ada jenis perusahaan baru timbul, yaitu perusahaan sosial, kiranya muncul satu lagi strategi pengembangan masyarakat yang tadinya tak terpikirkan. Strategi itu adalah pengembangan masyarakat lewat inovasi produk yang ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan tertentu.
Ambil contoh KickStart yang didirikan oleh Nick Moon dan Martin Fisher. Perusahaan sosial ini memulai bisnisnya di antaranya dengan menciptakan pompa irigasi mikro yang banyak dibutuhkan petani di wilayah Afrika Timur. Alat itu sedemikian bermanfaatnya hingga para petani di sana bisa bercocok tanam lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Inovasi itulah yang menjadi strategi utama pengembangan masyarakatnya. Baru kemudian KickStart juga membuka peluang kerja dan usaha penjualan bagi masyarakat.
Kyle Zimmer mendirikan First Book yang memanfaatkan buku-buku bagus namun sudah habis masa copyright-nya, sehingga bisa menekan biaya produksi hanya untuk ongkos cetak. Anak-anak dari keluarga miskin di AS bisa mendapatkan bacaan bermutu tinggi dan legal lewat inovasi itu. Mereka kemudian terungkit pendidikannya dan dalam jangka panjang diharapkan kesejahteraannya meningkat. Sama dengan KickStart, First Book juga banyak membuka peluang kerja dan usaha.
Jadi, perusahaan sosial menambahkan lagi satu strategi pengembangan masyarakat. Strategi ini, tentu saja, bisa dicontoh oleh organisasi manapun yang hendak melakukannya.
Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di KONTAN tanggal 5 Januari 2017.
Penulis: Jalal dan Wahyu Aris Darmono (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









