Siapa yang tak mengenal Dompet Dhuafa? Lembaga yang didirikan oleh empat jurnalis terkenal—Parni Hadi, Sinansari Ecip, Haidar Bagir dan Erie Sudewo—itu telah berkiprah sejak tahun 1993. Lembaga inilah yang pertama kali memanfaatkan kekuatan media massa untuk pengumpulan donasi masyarakat untuk kegiatan sosial secara kontinu dan massif.
Tetapi, itu baru salah satu di antara sekian banyak inovasi yang diperkenalkan oleh lembaga itu. Di bawah kepemimpinan Erie Sudewo, Dompet Dhuafa memerkenalkan banyak sekali inovasi. Dua yang paling menonjol. Pertama, pemanfaatan zakat, infaq, sadakah dan wakaf untuk keperluan produktif. Sebelumnya, hampir seluruh pemanfaatan keempatnya hanyalah untuk tujuan konsumtif, sehingga nilai pemberdayaannya tidak menonjol. Kedua, transparensi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Hal ini menjadikan Dompet Dhuafa menjadi lembaga pengelola dana masyarakat untuk tujuan sosial yang paling terpercaya.
Masih ada banyak lagi inovasi Dompet Dhuafa yang bisa disebutkan. Salah satunya adalah kemampuan lembaga ini melihat bahwa bisnis sosial adalah salah satu jalan yang wajib ditempuh untuk memerbaiki bisnis sekaligus memecahkan beragam persoalan sosial. Dompet Dhuafa kini memiliki Social Entrepreneur Academy, sebuah lembagai pendidikan non-formal yang memberikan pelatihan dan pendampingan bagi mereka yang ingin mengembangkan dirinya menjadi pebisnis sosial.
Sebagaimana yang dinyatakan dalam penelitian Boston Consulting Group tentang kondisi bisnis sosial di Indonesia, The Art of Sustainable Giving: Priorities to Accelerate Social Enterprise Growth in Indonesia (Yulius, Siregar, dan Tampubolon, 2015), kehadiran lembaga promotor bisnis sosial adalah keniscayaan bila kita menginginkan sektor ini terus maju. Lembaga promotor yang terpenting adalah enabler dan investor. Dan, Social Entrepreneur Academy menjalankan kedua peran itu.
Dari pendidikan yang dilakukan secara kontinu, inisiatif ini telah menghasilkan beberapa perusahaan sosial yang telah mendapat pengakuan berbagai pihak di tingkat nasional maupun regional. Jadi, bukan hanya Dompet Dhuafa saja yang telah diakui secara internasional dengan Ramon Magsaysay Award yang diperolehnya di tahun ini; para ‘cucu’-nya—yang dilahirkan oleh Social Entrepreneur Academy—pun sudah beroleh berbagai pengakuan.
Di antara inovasi yang baru lahirpun ada yang sudah sangat menjanjikan terobosan luar biasa. Kapiler Indonesia dan Social Entrepreneur Academy baru saja meluncurkan inisiatif Beras untuk Panti. Sesuai dengan namanya, ini adalah donasi barang, yaitu beras, untuk panti asuhan. Sampai di sini, tentu tak ada bedanya dengan banyak kegiatan serupa. Namun, ada beberapa hal yang jelas sangat inovatif.
Pertama, beras dibeli langsung dari petani, yang memutus mata rantai tata niaga beras yang panjang. Ini berdampak pada peningkatan harga yang bisa dibayarkan ke petani, sementara para pemberi donasi sendiri tidak membayar lebih mahal dibandingkan harga di pasaran. Kedua, petaninya sendiri merupakan binaan Dompet Dhuafa, yang memang telah lama berkonsentrasi pada perbaikan praktik pertanian menuju pertanian sehat dan berkelanjutan. Donasi yang diberikan juga akan memerkuat petani.
Ketiga, lantaran panti asuhannya merupakan mitra dari Kapiler Indonesia, maka penyaluran beras akan menjadi tepat sasaran dan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Ketepatan dalam sasaran dan jumlah donasi sangat sulit dicapai tanpa pengorganisasian seperti ini. Keempat, laporan donasinya sendiri sangat transparen, yang bisa dilihat di kapiler.indonesia.com/beraspanti. Ini mengikuti tradisi yang telah digariskan Dompet Dhuafa sejak awal.
Kelima, proses donasinya sendiri sangat mudah—untuk jasa yang diberikan, tentu saja—karena bisa dilakukan lewat website maupun aplikasi Android. Teknologi informasi benar-benar dimanfaatkan inisiatif ini untuk memudahkan donasi, selain untuk memastikan transparensi dan akuntabilitas. Terakhir, Dompet Dhuafa lewat Institut Kemandirian-nya juga memberikan pembinaan lanjutan untuk anak-anak panti yang menjelang usia produktif, hingga mereka kelak menjadi tenaga ahli maupun wirausahawan.
Banyak organisasi sosial yang berusaha memaksimumkan manfaatnya dengan menjadi jembatan kebaikan antara donatur dengan penerima manfaat. Namun, inisiatif ini menambah lagi satu pihak, yaitu pemasoknya. Inisiatif ini juga menambahi manfaat dengan pembinaan bagi pemasok, yaitu petani, maupun penerima manfaat akhir, anak-anak penghuni panti asuhan. Kalau kita hitung berapa manfaat yang timbul dari setiap rupiah donasi dengan teknik social return on investment, hasilnya pastilah sangat besar. Dan itu adalah inovasi sosial yang dahsyat!
Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di KONTAN tanggal 1 Desember 2016.
Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









