Apa yang menjadi motivasi para pelaku bisnis sosial untuk menciptakan dan menebar manfaat untuk banyak pihak? Demikian pertanyaan yang banyak diajukan, seakan-akan tindakan menebar adalah tindakan yang aneh.

Sebetulnya, kita semua sangat akrab dan kerap menyaksikan berbagai tindakan yang mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan hingga mengorbankan kepentingan diri sendiri. Banyak sekali orang di sekitar kita yang seakan tak memiliki pamrih atau tidak memertimbangkan dirinya sendiri ketika membantu orang lain.

Tetapi, itu semua terjadi hampir-hampir hanya pada ranah non-bisnis. Kalau untuk urusan terkait ibadah, sudah sangat biasa orang berkorban. Untuk kerabat dan keluarga, hampir semua orang begitu. Untuk orang terkasih apalagi. Namun, kalau kemudian orang berbisnis dengan mendahulukan orang lain—pemasok, pekerja, konsumen—rasa-rasanya memang janggal, dan masih jarang yang melakukannya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau masih banyak di antara kita yang membelalak tak percaya atau segera menyatakan skeptisismenya ketika mendengar perilaku pebisnis yang demikian. Untunglah, ‘keanehan’ perilaku tersebut kini mulai dijelaskan secara ilmiah. Dalam artikel Why Create Value for Others? An Exploration of Social Entrepreneurial Motives (Ruskin, Seymour, dan Webster, 2016) merujuk pada teori-teori psikologi untuk mengetahui motif-motif tersebut.

Yang mungkin mengejutkan adalah bahwa tindakan para pebisnis sosial itu tidak sepenuhnya dijelaskan dengan motivasi yang mengutamakan orang lain. Motif yang berorientasi pada diri sendiripun bisa menghasilkan perilaku yang kompatibel dengan tujuan bisnis sosial. Namun, semuanya dimulai dari anteseden emosional yang berbeda.

Menurut ketiga peneliti dari Australia itu, para pebisnis sosial yang memiliki anteseden emosional berupa gairah (passion) dan frustrasi (frustration) akan cenderung bekerja berdasarkan motif yang berorientasi pada diri. Keempat motivasi yang timbul dari kedua anteseden tersebut adalah pencapaian (achievement), otonomi (autonomy), keterhubungan (relatedness), serta pengaruh (influence).

Sangatlah menarik untuk merenungi bahwa para pebisnis sosial di antaranya memang adalah para pencapai yang luar biasa. Bedanya, mereka mendefinisikan pencapaian itu tidak sesempit kebanyakan orang, yang misalnya menginginkan kekayaan belaka, tanpa peduli dari mana kekayaan itu diperoleh. Pencapaian yang baik, buat para pebisnis sosial misalnya adalah seberapa besar manfaat dirinya untuk masyarakat.

Demikian juga, otonomi, yang kerap sekadar berarti kemandirian keuangan atau pengambilan keputusan, bisa diartikan sebagai kemampuan mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang positif. Keterhubungan adalah motivasi yang orientasinya pemenuhan kebutuhan diri, namun karena terkait dengan orang lain, maka sangat relevan. Pengaruh pun sama, bila dipergunakan untuk kebaikan. Pendek kata, mereka yang ingin dirinya merasa positif sesungguhnya bisa mencapainya lewat menebar manfaat untuk orang lain.

Di sisi lain, anteseden emosi berupa simpati (sympathy) serta empati (empathy) menghasilkan motivasi-motivasi yang berorientasi pada orang lain. Keempat motivasi itu adalah altruisme (altruism), pemeliharaan (nurturance), keadilan sosial (social justice), dan dorongan melakukan tugas (sense of obligation).

Rasanya sangat mudah memahami bahwa kemampuan mengerti apa yang dirasakan orang lain (empati) serta perasaan belas kasih dan memahami kondisi mereka yang kurang beruntun (simpati) adalah yang menggerakkan tindakan menolong orang lain. Altruisme, kesediaan untuk terus-menerus mengutamakan orang lain, jelas timbul dari situ. Demikian juga dengan tiga yang lain.

Salah satu kesimpulan yang menarik dari artikel tersebut adalah bahwa para pebisnis sosial harus jeli melihat apa yang menjadi motivasi dirinya sendiri, serta motivasi orang-orang yang bekerja untuk dia. Misalnya, mereka yang punya motivasi pencapaian tinggi dapat diarahkan untuk mengawal pencapaian target. Mereka yang motivasinya aalah keterhubungan dapat dipastikan dapat menjalankan fungsi relasi dengan baik. Kedelapan motivasi yang ada memang bisa dimanfaatkan untuk melecutkan kinerja bisnis sosial, membawa manfaat untuk sebanyak mungkin orang dan menguatkan bisnis.


Sumber:

Artikel ini pernah dimuat di KONTAN tanggal 20 September 2016.

Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.

•