Salah satu terbitan berkala paling dirujuk dalam wacana bisnis sosial, Stanford Social Innovation Review, baru-baru ini mempublikasikan kritik paling keras terhadap fenomena merebaknya bisnis sosial. Social Enterprise is Not Social Change, begitu judul artikel yang muncul di edisi Musim Semi 2018. Penulisnya—Marshall Ganz, Tamara Kay, dan Jason Spicer—bukan orang-orang sembarangan. Ganz adalah profesor kebijakan publik di Universitas Harvard; Kay adalah profesor sosiologi di Universitas Notre Dame; sementara Spicer sedang menyelesaikan studi doktoral perencanaan perkotaan di MIT.

Apa yang menjadi inti kritik mereka? Ada tiga. Pertama, naiknya popularitas perusahaan sosial itu menggerus demokrasi, lantaran alih-alih mempromosikan penguatan masyarakat, gerakan bisnis sosial malah mengidolakan individu-individu heroik sebagai agen perubahan sosial. Mereka menunjukkan contoh bagaimana Ashoka mendeskripsikan para wirausahawan sosial: “Just as entrepreneurs change the face of business, social entrepreneurs act as the change agents for society, seizing opportunities others miss to improve systems, invent new approaches, and create solutions to change society for the better.”

Kedua, gerakan bisnis sosial tampak selalu merujuk perusahaan sosial sebagai bentuk organisasi yang paling baik dalam mencapai tujuan-tujuan perubahan sosial, terutama karena sifatnya yang fleksibel, sangat efisien dalam memberikan pelayanan sosial, dan memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk memilih. Namun, menurut mereka, sesungguhnya di balik itu ada perebutan sumberdaya finansial dari para investor swasta, melalui janji bahwa semakin banyak manfaat yang bisa diberikan, perusahaan sosial akan juga semakin membawa keuntungan finansial bagi investornya.

Ketiga, secara terbuka para promotor bisnis sosial kerap menyatakan hendak mengambil alih peran pemerintah, bahkan meminimumkannya. Mereka mencontohkan pernyataan John Whitehead, yang membiayai pendirian Social Enterprise Initiative di Universitas Harvard: “I’m always looking for opportunities to expand the nonprofit sector of our economy to have nonprofits take over functions that are now performed by the government. ... In the work of public schools, charter schools are an example of how the private sector can do it better, or nonprofits can do it better.”

Apakah kritik-kritik mereka valid? Mari kita lihat satu persatu. Di sektor apapun kita terbiasa mencari contoh individu-individu yang bisa memberi inspirasi. Sudah sangat lama para tokoh masyarakat, LSM, bisnis dan pemerintahan yang memiliki prestasi di bidangnya kita berikan penghargaan. Harapannya, agar semakin banyak yang bisa seperti mereka. Rasanya berlebihan kalau kita menyatakan bahwa kalau individu berprestasi itu ditampilkan, maka kekuatan kolektif masyarakat akan tergerus. Sebaliknya, kalau rekognisi itu bisa menciptakan makin banyak individu yang memiliki aspirasi untuk membuat perubahan sosial, tentu dampaknya adalah berkebalikan daripada yang dituduhkan Ganz, dkk.

Perusahaan sosial berusaha menggabungkan sifat-sifat terbaik organisasi masyarakat sipil dan perusahaan, untuk mengisi celah layanan yang belum diisi oleh pemerintah atau perusahaan komersial. Bagaimanapun, demokrasi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengisinya, dan perusahaan komersial jauh lebih sulit masuk untuk melayani kelompok masyarakat rentan. Kalau kemudian makin banyak investor yang tertarik kepada bisnis sosial, itu adalah keputusan mereka lantaran menimbang potensi keseimbangan tujuan sosial dan komersial yang melekat pada model bisnis ini.

Tak ada niat gerakan bisnis sosial untuk meminimumkan peran pemerintah sama sekali. Itu adalah niatan gerakan Neoliberal, yang harus diwaspadai jebakannya oleh para wirausahawan sosial. Whitehead, yang dikutip Ganz, dkk itu jelas tak mewakili gerakan bisnis sosial secara universal. Kalau kita lihat pesan-pesan para profesor bisnis sosial yang mempromosikan gerakan ini di universitas-universitas paling terkemuka—terutama Stanford, Yale, Columbia, UC Berkeley, dan Oxford—tampak jelas bahwa Neoliberalisme bukanlah kawan seiring bagi bisnis sosial.

Walaupun demikian, kritik-kritik itu sangat penting untuk diperhatikan. Wirausahawan sosial tak boleh menepuk dada sebagai pahlawan perubahan sosial sendirian. Pembuktian keberhasilannya harus transparen, demikian juga dengan pelajaran-pelajaran dari kegagalannya. Dan, yang terpenting, kerjasama dengan sektor-sektor lain, termasuk pemerintah, harus digalakkan untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat—sebagaimana yang dianjurkan oleh William Eggers dan Paul MacMillan dalam The Solution Revolution: How Business, Government, and Social Enterprises Are Teaming Up to Solve Society's Toughest Problems (2013).


Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di surat kabar KONTAN, tanggal 22 Maret 2018.

Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA).

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.

•