Pada tahun 2003, John Pearce menulis buku yang telah menjadi klasik, Social Enterprise in Anytown. Buku tersebut dibuka dengan kalimat yang sangat kuat: “The world of social enterprise is changing with great speed. The pace has been at times breath-taking.” Tiga belas tahun kemudian, Alan Kay, Michael Roy, dan Cam Donaldson meninjau ulang buku tersebut dalam artikel mereka, Re-Imagining Social Enterprise (Social Enterprise Journal, Vol. 12/2 2016). Dan, menurut mereka, “This pace of change has continued, even accelerated, since the book was first published....”
Seluruh pakar memang melihat betapa kecepatan yang mencengangkan telah terpantau sejak satu dekade lalu. Perkiraan terbaik, pertumbuhan bisnis sosial memang sekitar tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan bisnis kapitalistik.
Tetapi kecepatan pertumbuhan perusahaan sosial itu bukan satu-satunya yang penting dan menarik. Secara gegrafis, pertumbuhan perusahaan sosial tercatat di seluruh penjuru Bumi. Tak ada tempat di mana perusahaan sosial tidak diketemukan. Dan, bertentang dengan kecenderungan bisnis komersial yang biasanya sulit muncul dan tumbuh di tempat di mana masyarakat cenderung miskin, bisnis sosial malah tumbuh pesat di kantung-kantung kemiskinan.
Permalahan yang ditangani oleh bisnis sosial juga semakin beragam. Perusahaan sosial memang ingin memecahkan beragam permasalahan yang dihadapi masyarakat dengan pendekatan pasar. Kalau masalah yang ditangani semakin banyak, itu adalah pertanda bahwa beragam model bisnis memang telah ditemukan untuk memecahkan masalah di masyarakat.Mungkin banyak yang ingat bisnis sosial bernama Kantin Kejujuran? Bisnis sosial ini membuktikan bahwa kejujuran pun bisa dipromosikan lewat bisnis! Tentu saja, beragam permasalahan lain—baik itu ekonomi, sosial, maupun lingkungan—bisa dipecahkan dengan bisnis, bila pasar memang diarahkan untuk itu.
Selain jumlah perusahaan, geografi dan masalah, yang juga tumbuh dalam bisnis sosial adalah pelakunya. Tentu saja, akselerasi pertumbuhan yang sedemikian tinggi itu tidak ditopang oleh sedikit orang. Pelaku bisnis sosial di seluruh dunia bukan ‘yang itu-itu saja’, melainkan oleh orang dengan latar belakang yang beragam. Banyak aktivis LSM yang kemudian menjalankan bisnis sosial agar idealismenya tetap dicapai, sementara kemandirian pendanaan juga bisa digapai.Para pebisnis yang ‘bertobat’ juga banyak masuk ke sini.
Tetapi, yang paling banyak masuk tampaknya adalah para pebisnis sosial pemula, yaitu generasi muda yang punya semangat membara mengubah dunia dan menjadi sejahtera bersama-sama dengan berbagai kelompok masyarakat yang mereka bantu. Kalau kita menyempatkan diri untuk mengunjungi kampus-kampus paling terkemuka di dunia, lalu mencuri dengar pembicaraan di antara para mahasiswanya, kita akan tercengang karena ide-ide brilian bisnis sosial sangat kerap terdengar. Merekalah yang terus mendorong pertumbuhan bisnis sosial.
Dan, tentu saja, tumbuhnya bisnis sosial ini bisa dideteksi oleh pertumbuhan jumlah mereka yang menjadi penerima manfaatnya. Di berbagai tempat semakin banyak masyarakat yang mengenali bentuk-bentuk bisnis sosial lantaran mereka memang menjadi penerima manfaat. Biasanya, dengan sangat cepat mereka bisa mengenali apa saja perbedaan antara bisnis sosial dengan bisnis komersial, dan merujuk perdagangan yang berkeadilan (fair trade) sebagai ciri utamanya. Kalau sebagai pemasok, masyarakat akan menerima bayaran lebih baik; sementara sebagai konsumen mereka membayar lebih murah.
Artikel Kay, Roy dan Donaldson (2016) sendiri menyatakan bahwa apapun yang dilakukan oleh perusahaan sosial, yang diperjuangkan adalah masyarakat yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perusahaan sosial selalu menghadirkan dampak positif maksimal di aras individu, masyarakat, dan lingkungan. Kalau yang kemudian menjadi popular adalah ciri perdagangan yang berkeadilan, itu karena memang diarahkan untuk menyasar perubahan di ketiga aras.
Yang penting untuk diingat oleh para pendukung bisnis sosial adalah bahwa walaupun perkembangan dalam satu dekade sangatlah cepat, bisnis komersial nan kapitalistik masih tetap mendominasi.John Pearce sendiri sepanjang hidupnya—ia meninggal tahun 2011—bertanya-tanya apakah memang kelak bisnis sosial bisa menjadi bentuk arus utama.Tentu, kalau ingin membuat dunia menjadi lebih berkeadilan dan berkelanjutan, kita semua sangat perlu bekerja keras mewujudkannya.
Kami sendiri memang membayangkan bisnis sosial segera masuk ke kurikulum-kurikulum pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia, menjadi aspirasi penting dari para mahasiswa dan alumni perguruan tinggi, juga menarik minat para investor yang semakin mau menimbang dampak untuk masyarakat dan lingkungan. Ulang tahun ke-20 buku Pearce, di tahun 2023, bisa jadi tonggak itu.
Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di KONTAN tanggal 17 November 2016.
Penulis: Wahyu Aris Darmono dan Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









