Kalau mahasiswa selalu dinyatakan sebagai pemimpin masa depan, maka tentu saja masa depan Indonesia bisa diintip dari apa yang dipikirkan, dinyatakan, dan dilakukan oleh para mahasiswanya. Termasuk masa depan bisnis Indonesia, yang di dalamnya termasuk bisnis sosial.
Journal of Science and Technology Policy Management baru saja memuat sebuah artikel forthcoming atau akan terbit, terkait dengan isu tersebut. Judulnya, The Mediating Effects of Social Entrepreneurial Antecedents on the Relationship between Prior Experience and Social Entrepreneurial Intent: The Case of Filipino and Indonesian University Students. Artikel tersebut ditulis oleh Jean Paolo G. Lacap, Hendrati Dwi Mulyaningsih, dan Veland Ramadani.
Penelitian dilakukan di awal tahun 2018, di Pampanga, Filipina, dan Bandung, Indonesia. Sejumlah 500 kuesioner disebarkan, dan 400 di antaranya kembali dengan terisi penuh. Jumlahnya hampir sama persis, 201 kuesioner kembali dari Filipina dan 199 dari Indonesia. Karena disengaja, sebagian besar mahasiswanya berlatar belakang administrasi bisnis (153 orang), disusul akuntansi (111 orang), kewirausahaan (67 orang), dan 69 orang sisanya berasal dari beragam jurusan. Sebagian besarnya adalah mahasiswa tingkat 3 dan 4, dengan 210 mahasiswa perempuan dan 190 lelaki.
Hasilnya sangat menarik. Pertama, studi ini memberi konfirmasi atas beragam studi sebelumnya bahwa pengalaman berhadapan atau mengetahui beragam masalah sosial memang secara positif dan signifikan terkait dengan empati, kewajiban moral, efikasi diri terkait kewirausahaan sosial (yaitu keyakinan diri bahwa mampu memecahkan masalah sosial dengan pendekatan pasar0, dan persepsi atas dukungan sosial (yaitu keyakinan bahwa bantuan dari para pemangku kepentingan, termasuk keluarga dan rekan, akan mereka dapatkan bila mereka berusaha membantu memecahkan masalah sosial tertentu). Keempatnya, menurut pakar bisnis sosial Kai Hockerts, adalah faktor yang menjadi perantara terkuat menuju niatan membangun bisnis sosial.
Karenanya paparan terhadap berbagai masalah sosial dan bagaimana perusahaan-perusahaan sosial memecahkan masalah-masalah itu sangat penting untuk meningkatkan keempat faktor tersebut. Mahasiswa yang diberikan pengalaman berhadapan dengan kasus-kasus beragam masalah yang dihadapi masyarakat, walaupun tidak mengalaminya sendiri, akan bisa diarahkan minatnya untuk mengembangkan ide-ide bisnis sosial. Dan minat itu berasal dari kondisi mental berupa compassionate understanding atau pengertian yang didasarkan pada rasa kasih sayang (Lacap, Mulyaningsih, dan Ramadani, akan terbit).
Berikutnya, tanpa melihat faktor antara tersebut, memang terbukti juga bahwa paparan terhadap berbagai permasalahan sosial membuat niat untuk terjun ke bisnis sosial meningkat. Ini juga sesuai dengan beragam studi terdahulu. Dan, lebih jauh lagi, semakin tinggi paparan atas berbagai masalah sosial, semakin besar pula peluang kesadaran sosial benar-benar mewujud menjadi bisnis sosial. Salah satu yang menjadi pengalaman yang dominan adalah kesempatan menjadi sukarelawan dalam berbagai kegiatan sosial, apalagi yang diselenggarakan oleh perusahaan sosial.
Studi ini juga mengungkap bahwa kalau empati dan kewajiban moral masih berada di tahapan awal dari niat, kekuatan prediksi yang lebih besar lagi tampak pada efikasi diri dan persepsi atas dukungan sosial. Kedua yang disebut belakangan inilah yang benar-benar memicu terwujudnya bisnis sosial. Keyakinan bahwa diri mampu menyelesaikan masalah sosial tertentu, dan keyakinan bahwa pihak lain pasti turut membantu memang sangat jelas menonjol pada mereka yang telah menceburkan diri ke dalam gerakan bisnis sosial. Semakin tinggi kedua perasaan itu, semakin bulat pula tekad mereka mewujudkannya.
Tentu saja, dengan hasil seperti itu konsekuensi untuk perguruan tinggi dan para proponen gerakan bisnis sosial sangatlah jelas. Mereka perlu bekerjasama secara erat menghadirkan beragam permasalahan sosial ke dalam kelas, atau, yang lebih baik lagi, mengirim mahasiswa ke luar kelas untuk melihat beragam permasalahan sosial secara langung. Mereka juga perlu menunjukkan beragam ide pemecahan masalah-masalah itu lewat mekanisme pasar, sehingga pasar tidak lagi dilihat sebagai sekadar sumber masalah, melainkan peluang pemecahan masalah. Keyakinan diri mahasiswa bahwa mereka bisa berkontribusi positif perlu dibangun, demikian juga mereka perlu diperkenalkan kepada seluruh ekosistem bisnis sosial yang bisa mendukung niat mereka berkontribusi.
Kalau Indonesia memang menginginkan lulusannya menjadi pebisnis sosial handal, bukan sekadar menjadi pekerja bagi bisnis kapitalistik, sudah saatnya kurikulum perguruan tinggi dirombak.Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di surat kabar KONTAN, pada tanggal 21 Juni 2018.
Penulis: Wahyu Aris Darmono (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA) dan Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA).
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









