Memikirkan dan membicarakan kondisi pertanian di Indonesia kerap membawa kepada kesedihan, kegeraman, bahkan keputusasaan. Ada banyak sekali perasaan negatif yang mungkin hinggap di benak dan hati kita. Tetapi tidak demikian halnya bila kita melihat hasil perjuangan Helianti Hilman dan bisnis sosial yang dirintisnya, Javara.
Betapa tidak? Deretan produk pertanian bermutu tinggi bisa kita saksikan di gerainya di Kemang. Ada 640 produk seperti itu, seperti yang dicatat oleh Oliver Balch dari The Guardian, ketika menuliskan laporan tentang Javara tahun lalu. Jumlah produk bermutu tinggi sebanyak itu tentu tak datang tiba-tiba, karena seluruh pihak tahu bahwa kondisi lapangan para petani secara umum tidaklah demikian.
Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati raksasa, atau megabiodiversity. Dahulu, sebelum Revolusi Hijau digalakkan, para petani padi di Indonesia mengenal sekitar 7.000 varietas padi. Secara umum terbagi menjadi Indica, Japonica, dan Javanica, dengan Javanica yang sangat dominan. Tetapi, padi-padi asli yang tadinya sangat dominan itu kemudian menghilang seiring dengan pemanfaatan padi unggul hasil rekayasa, juga lantaran menciutnya luasan lahan sawah di banyak tempat di Indonesia.
Varietas, bahkan juga spesies, lain banyak juga yang menyusut dalam kecepatan yang sangat tinggi. Negeri kita gagal memertahankan kekayaan hayatinya karena perhatian atas kondisi itu baru muncul belakangan, dan hingga kini belum juga benar-benar menjadi arus utama dalam pembangunan pertanian.
Dalam kondisi yang demikian, Javara hadir dengan pendekatan yang sangat telaten, memastikan kita tak lagi kehilangan varietas-varietas yang sangat berharga. Sebagaimana kisah—kini menjadi sangat popular—yang diceritakan oleh Helianti, ketika pertama kali mengunjungi petani-petani tradisional di Garut, ia diminta untuk menanggalkan sepatunya. Ia juga ditanyai apakah emosinya sedang positif. Seketika itu ia menjadi tersadar bahwa pertanian bukanlah sekadar urusan budidaya, melainkan jalan hidup holistik. Mengurusi pertanian berarti bertakzim kepada jalan hidup yang selaras alam.
Tentu saja, membantu para petani secara teknis juga ia lakukan. Lantaran perhatiannya memang pada pertanian berkelanjutan, maka seluruh teknik yang ia lestarikan dan introduksikan kepada para petani adalah yang sesuai dengan itu. Konsistensi dalam kuantitas dan kontinuitas hanya mungkin bisa dicapai bila kualitasnya memang sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Maka, produk-produknyapun ia dorong hingga mendapatkan pengakuan berupa sertifikasi nasional maupun internasional.
Menghormati jalan hidup dan memberikan bantuan teknis sendiri belumlah lengkap tanpa memastikan bahwa para petani itu bisa mendapatkan penghidupan yang layak dari pertanian berkelanjutan. Banyaknya petani tradisional yang miskin tentu menjadi alasan moral yang kuat untuk menolong mereka. Namun kalau cara menolongnya bukan dengan memasukkan mereka ke dalam ekonomi yang inklusif dan adil, tentu saja keberlanjutan upaya itu tak ada jaminannya. Karenanya, perhatian terhadap pasar sangat ditekankan Javara.
Seperti yang dicatat dalam situs Schwab Foundation, organisasi yang memberikan gelar Asian Social Entrepreneur of the Year 2015 kepada Helianti, Javara memiliki koneksi pasar dengan 25 mitra yang tersebar di 18 negara di Asia, Eropa dan Amerika. Untuk memastikan bahwa mutu produknya bisa diterima, Javara telah melatih 3.000 orang untuk menjadi garda depan mutu. Mereka bekerja keras memastikan bahwa produk yang berasal dari sekitar 50.000 petani itu layak bagi pasar internasional yang disasarnya.
Pendekatan holistik yang dianut oleh Javara, mulai dari takzim terhadap jalan hidup petani, pendampingan aspek teknis hingga tingkatan tertinggi, dan integrasi ke pasar global lewat perdagangan yang adil dan menyejahterakan adalah kunci sukses Helianti dan Javara. Javara, yang dalam bahasan Sansakerta berarti juara, adalah nama yang sangat pantas disandang bisnis sosial itu.
Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di KONTAN tanggal 11 Mei 2016.
Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









