Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)

Halo, Sahabat Wirausaha!

Banyak pelaku UMKM memulai usaha dengan keyakinan sederhana: semakin sedikit pihak yang terlibat, semakin besar margin yang bisa disimpan. Logika ini masuk akal, terutama di fase awal ketika skala usaha masih kecil dan pengelolaan bisa ditangani sendiri. Menjual langsung ke konsumen memberi kendali penuh atas harga, promosi, dan arus kas.

Namun, seiring waktu, ketika bisnis mulai ingin tumbuh lebih besar, logika tersebut mulai diuji. Pertanyaannya tidak lagi berhenti pada siapa yang paling besar mengambil margin, melainkan siapa yang sanggup menopang pertumbuhan usaha secara berkelanjutan. Di titik inilah dilema berbagi margin muncul.


Ketika UMKM Ingin Tumbuh, Tapi Tetap Jalan Sendiri

Pilihan paling umum bagi produsen UMKM adalah menjual sendiri. Mereka membuka toko di marketplace, mengelola media sosial, menjalankan iklan, melayani pelanggan, hingga mengatur pengiriman. Semua dilakukan dengan satu tujuan: menjaga margin tetap utuh.

Pada fase awal, strategi ini sering kali terasa efektif. Volume penjualan masih terbatas, promosi bisa dilakukan manual, dan biaya iklan relatif terkendali. Namun ketika permintaan mulai meningkat, kompleksitas ikut naik. Iklan perlu dipantau setiap hari, pesan pelanggan menumpuk, sementara produksi harus tetap berjalan.

Di titik ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah pertumbuhan bisnis diikuti oleh pertumbuhan kapasitas pengelolaan? Jika tidak, usaha memang terlihat berkembang dari luar, tetapi di dalamnya mulai rapuh.


Ilusi Margin Utuh dalam Penjualan Mandiri

Menjual sendiri kerap dipersepsikan sebagai cara paling menguntungkan karena margin tidak dibagi dengan pihak lain. Padahal, dalam praktik e-commerce, margin hampir selalu terbagi—hanya saja tidak selalu terlihat.

Diskon rutin, biaya iklan, potongan platform, subsidi ongkir, hingga biaya operasional harian merupakan bentuk pembagian margin yang sering tidak dihitung secara jujur. Secara nominal, keuntungan memang tidak “dibagi” dengan mitra. Namun secara riil, margin tetap terkikis.

Banyak UMKM baru menyadari hal ini ketika kelelahan mulai terasa. Usaha berjalan, omzet naik, tetapi waktu dan energi terkuras habis. Margin yang tampak besar di atas kertas ternyata dibayar mahal dengan beban kerja yang tinggi.

Baca juga: 10 Alasan Pelaku UMKM Perlu Jajan Perspektif: Cara Memperluas Pola Pikir dan Strategi Usaha


Berbagi Margin sebagai Strategi, Bukan Kekalahan

Di sinilah konsep berbagi margin perlu dibaca ulang. Berbagi margin bukan tanda menyerah atau kehilangan kendali, melainkan strategi untuk membagi peran. Dalam banyak kasus, berbagi margin justru memungkinkan usaha tumbuh lebih cepat tanpa membebani satu pihak secara berlebihan.

Pedagang, reseller, atau mitra distribusi membawa aset yang berbeda: jaringan pelanggan, kemampuan promosi, serta waktu untuk mengelola penjualan. Produsen tetap fokus pada produksi dan kualitas, sementara mitra membantu mendorong penjualan.

Margin memang dibagi, tetapi beban kerja dan risiko juga ikut terbagi.


Melihat Margin Secara Lebih Jujur

Sebelum memutuskan menjual sendiri atau berbagi peran dengan pihak lain, UMKM perlu melihat pembagian margin secara lebih jernih. Dalam praktiknya, margin usaha jarang benar-benar utuh. Apa pun model penjualannya, pembagian nilai hampir selalu terjadi—perbedaannya hanya pada siapa yang menerima bagian tersebut.

Untuk membantu membaca realitas ini secara lebih konkret, berikut simulasi sederhana pembagian margin yang umum terjadi dalam usaha UMKM, khususnya di kanal e-commerce dan penjualan digital.

Baca juga: Inovasi Tidak Selalu Jadi Solusi Bisnis: Memahami Breakthrough Improvement bagi UMKM Tangguh


Studi Kasus Simulasi: Pola Berbagi Margin dalam Usaha UMKM

Catatan: Angka berikut bersifat simulatif dan tidak mewakili standar industri tertentu. Tujuannya membantu UMKM memahami logika pembagian margin dan beban usaha.

Asumsi Dasar
Harga jual ke konsumen: Rp100.000
Produk merupakan hasil produksi UMKM
Penjualan melalui kanal digital (marketplace atau social commerce)

Tabel Simulasi Pembagian Margin UMKM

Komponen Biaya / Margin Jual Sendiri Skema Reseller Skema Affiliate & Iklan
Biaya produksi 45% 45% 45%
Margin produsen 30% 25% 25%
Margin reseller 20%
Komisi affiliate 10%
Iklan/promosi 15% 10%
Potongan platform & fee 5% 5%
Operasional (CS, packing, dll) 5% 10% 5%
Total 100% 100% 100%

Pada skenario jual sendiri, margin produsen terlihat paling besar. Namun seluruh beban promosi, iklan, layanan pelanggan, dan operasional ditanggung sendiri. Strategi ini umumnya efektif pada fase awal usaha, ketika volume masih terkendali.

Pada skenario skema reseller, margin produsen sedikit turun, tetapi beban penjualan dan promosi dialihkan. Produsen memperoleh keuntungan dari stabilitas volume dan bisa lebih fokus pada produksi serta kualitas.

Sementara pada skenario skema affiliate dan iklan, margin produsen tetap terbagi, meski tanpa kehadiran pedagang fisik. Margin dialokasikan ke sistem digital, dengan risiko utama berada pada efektivitas iklan dan konversi.


Dari Simulasi ke Refleksi Strategis

Simulasi ini menunjukkan satu hal penting: margin usaha hampir selalu terbagi, apapun model penjualannya. Perbedaannya bukan pada ada atau tidaknya pembagian margin, melainkan kepada siapa margin tersebut dialirkan dan beban apa yang ditanggung sebagai konsekuensinya.

Di sinilah strategi berbagi margin perlu dipahami sebagai keputusan sadar, bukan refleks ketakutan kehilangan keuntungan. UMKM yang ingin tumbuh lebih besar perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah mengejar margin terbesar per transaksi sejalan dengan kapasitas tenaga, waktu, dan risiko yang sanggup ditanggung? Ataukah margin yang sedikit lebih kecil, tetapi berulang dan terkelola, justru membuka ruang pertumbuhan yang lebih sehat?

Baca juga: Panduan Menulis Prompt ChatGPT agar UMKM Jago Bikin Konten Menarik dan Relevan


Dari Ego Margin ke Keberlanjutan Usaha

Salah satu hambatan terbesar dalam berbagi margin adalah ego. Keinginan untuk menguasai seluruh rantai penjualan seringkali membuat usaha sulit berkembang. Padahal, banyak bisnis yang bertahan lama justru tumbuh melalui kemitraan.

Usaha yang sehat bukan selalu yang marginnya paling besar per transaksi, melainkan yang mampu menjaga arus penjualan, kualitas produk, dan stamina pengelolanya. Dalam jangka panjang, keberlanjutan sering kali lebih berharga daripada margin sesaat.


Penutup: Pertumbuhan Butuh Keputusan Dewasa

Pada akhirnya, strategi berbagi margin bukan soal untung atau rugi semata, melainkan soal pilihan sadar tentang cara bertumbuh. UMKM yang ingin naik kelas perlu berani mengevaluasi kapasitasnya sendiri—apakah masih sanggup berjalan sendirian, atau sudah saatnya berbagi peran.

Karena dalam dunia usaha, tumbuh besar jarang terjadi tanpa kolaborasi. Margin mungkin terbagi, tetapi peluang untuk bertahan dan berkembang justru semakin besar.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!