
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Halo Sahabat Wirausaha,
Pernah merasa bingung mau inovasi apa lagi, padahal sudah lama berjualan dan merasa “mentok ide”? Banyak pelaku UMKM rajin produksi dan promosi, tapi jarang sengaja “jajan” ke produk atau layanan bisnis lain untuk belajar dari sudut pandang pelanggan. Padahal, kebiasaan sederhana seperti beli kopi di kedai lain, pesan makanan lewat aplikasi, atau mencoba produk kemasan brand lain bisa menjadi sumber insight langsung yang sangat kaya untuk mengembangkan usaha sendiri.
Artikel ini akan mengulas 10 alasan kenapa pelaku UMKM perlu membiasakan diri “jajan perspektif” — yaitu sengaja membeli dan mencoba produk/jasa pelaku usaha lain, bukan sekadar untuk konsumsi, tetapi untuk mengamati, mencatat, dan menarik pelajaran yang relevan bagi bisnis kita.
1. Belajar langsung dari pengalaman pelanggan
Saat Sahabat hanya mengamati usaha lain dari jauh, yang terlihat biasanya hanya permukaannya: ramai pembeli, kemasan menarik, atau tampilan toko yang bagus. Tapi ketika Sahabat benar-benar membeli, memesan, dan merasakan sebagai pelanggan, perspektif yang didapat jauh lebih lengkap.
Dengan “jajan perspektif”, Sahabat bisa mengamati:
- Seberapa cepat mereka merespon chat atau pesanan.
- Seberapa jelas informasi harga, varian produk, dan ongkir.
- Bagaimana perasaan Sahabat selama proses beli, dari awal sampai barang diterima.
Dari pengalaman langsung itu, Sahabat bisa bertanya, “Bagian mana yang bikin saya nyaman? Bagian mana yang bikin saya ragu?” Lalu, temuan itu bisa diterjemahkan ke perbaikan di usaha sendiri.
2. Menemukan detail kecil yang tidak terpikir sebelumnya
Sering kali, yang membedakan satu usaha dengan lainnya bukan hal besar, tetapi detail kecil yang konsisten. Misalnya, sapaan ramah di awal chat, kartu ucapan sederhana di dalam paket, atau cara penjual menjelaskan produk dengan bahasa yang mudah dipahami.
Ketika Sahabat jajan di usaha lain dengan “kacamata belajar”, detail-detail itu mulai terlihat:
- “Oh, ternyata tombol ‘balas cepat’ di chat bisa menghemat waktu dan tetap terasa personal.”
- “Oh, mereka selalu menyebut nama pelanggan di awal sapaan, rasanya lebih dekat.”
- “Oh, mereka menggunakan stiker sederhana untuk menutup kemasan, tapi efeknya produk terasa lebih rapi.”
Hal-hal seperti ini sering tidak muncul dalam pelatihan formal, tapi sangat mudah dipahami saat kita mengalaminya sendiri sebagai pelanggan.
3. Menguji ulang standar kualitas yang selama ini dianggap “cukup”
Banyak pelaku UMKM merasa produknya sudah “cukup bagus” karena tidak ada komplain besar dari pelanggan. Namun, ketika Sahabat mencoba produk sejenis dari usaha lain, standar “cukup” itu bisa berubah.
Misalnya, setelah jajan produk pesaing atau brand yang lebih besar, Sahabat bisa sadar:
- Tekstur produk mereka lebih konsisten dari hari ke hari.
- Kemasan mereka lebih aman, tidak mudah rusak di perjalanan.
- Informasi kadaluarsa, komposisi, dan cara pakai lebih jelas.
Perbandingan langsung ini bukan untuk membuat diri merasa kalah, tetapi untuk mengkalibrasi standar. Dari situ, Sahabat bisa menilai dengan lebih jujur: apakah kualitas produk dan layanan saat ini sudah setara, di atas, atau masih di bawah pemain lain?
Baca juga: 7 Jawaban Jujur: Diskon, Cashback, atau Gratis Ongkir—Mana yang Beneran Untung buat Penjual?
4. Memahami kenapa pelanggan rela bayar lebih mahal
Kadang muncul pertanyaan, “Kok mereka bisa jual lebih mahal, padahal kurang lebih produknya sama?” Jawabannya sering baru terasa jelas ketika Sahabat benar-benar jajan di sana dan merasakan seluruh pengalaman layanannya.
Dengan jajan perspektif, Sahabat bisa memetakan:
- Apakah kemasan mereka membuat produk terasa lebih premium.
- Apakah pelayanan mereka membuat pelanggan merasa dihargai dan aman.
- Apakah proses pemesanan mereka lebih rapi, jelas, dan minim ribet.
Dari situ, Sahabat bisa belajar bahwa harga bukan hanya tentang bahan baku dan ukuran, tetapi juga tentang persepsi nilai yang dibangun dari ujung ke ujung: dari promosi, pemesanan, pembayaran, sampai penerimaan barang.
5. Mendapat ide kemasan dan storytelling tanpa harus meniru mentah-mentah
Kemasan dan cara bercerita (story telling) tentang produk sering menjadi faktor penting yang mempengaruhi keputusan beli. Namun, ide kemasan dan cerita sering terasa “buntu” kalau hanya dipikirkan dari dalam usaha sendiri.
Saat Sahabat jajan produk lain, cobalah perhatikan dan catat:
- Bagaimana mereka menuliskan manfaat di label atau media sosial.
- Kata-kata apa yang mereka gunakan untuk menjelaskan keunggulan produk.
- Cara mereka memadukan warna, font, dan visual sehingga terasa konsisten.
Dari situ, Sahabat tidak perlu meniru, tetapi bisa mengambil pola. Misalnya, “Ternyata mereka fokus menjelaskan manfaat yang dirasakan pelanggan, bukan hanya fitur produk.” Pola ini bisa diterapkan dalam versi yang sesuai dengan karakter dan segmen usaha Sahabat.
6. Memahami alur layanan digital dari sudut pandang pengguna
Banyak UMKM sudah mulai jualan melalui chat, marketplace, atau media sosial, tetapi belum pernah sungguh-sungguh merasakan sendiri sebagai pembeli yang melalui seluruh alur tersebut di usaha lain. Padahal, pengalaman langsung ini sangat membantu menyusun alur pelayanan yang lebih nyaman.
Dengan jajan perspektif lewat kanal digital lain, Sahabat bisa mengamati:
- Apakah katalog mereka rapi dan mudah dipahami.
- Seberapa jelas informasi stok, varian, dan estimasi kirim.
- Bagaimana mereka mengarahkan pelanggan dari “tanya-tanya” menuju “jadi beli” tanpa terasa dipaksa.
Setelah merasakan sendiri, Sahabat bisa bertanya, “Kalau saya jadi pelanggan, alur di usaha saya sudah senyaman ini belum?” Dari situ, alur pelayanan digital bisa disusun lebih manusiawi dan efisien.
Baca juga: Memahami Cara Kerja Otak Konsumen Laki-Laki dan Perempuan bagi Strategi Pemasaran UMKM
7. Mengurangi bias “usaha saya sudah paling benar”
Tanpa disadari, pelaku UMKM bisa terjebak dalam keyakinan: “Cara saya sudah yang paling benar, buktinya usaha masih jalan.” Cara pikir ini berbahaya karena membuat kita menutup diri dari cara baru yang mungkin lebih efektif.
Dengan rutin jajan perspektif, Sahabat diajak rendah hati untuk mengakui bahwa:
- Ada banyak cara melayani pelanggan, bukan hanya cara kita.
- Ada ide yang lahir dari jenis usaha lain, tapi bisa diadaptasi ke usaha kita.
- Ada praktik baik yang mungkin lebih sederhana daripada yang selama ini kita bayangkan.
Kebiasaan ini bukan untuk membuat kita merasa tertinggal, tetapi untuk menjaga agar usaha tetap lentur dan mau belajar, bukan keras kepala bertahan pada pola lama.
8. Mendapat inspirasi lintas sektor, bukan hanya dari usaha sejenis
Jajan perspektif tidak harus selalu di usaha yang sama jenisnya. Pemilik usaha makanan bisa belajar dari cara klinik kecantikan melayani pelanggan; penjual pakaian bisa belajar dari cara kafe mengelola suasana; pengusaha jasa bisa belajar dari cara brand produk kemasan menyusun instruksi penggunaan.
Contohnya:
- Pengusaha makanan belajar dari kafe yang selalu menuliskan nama pelanggan di gelas, sehingga terasa personal.
- Penjual baju belajar dari barbershop yang menawarkan paket langganan, sehingga pelanggan punya alasan untuk kembali.
- Penyedia jasa belajar dari brand skincare yang sabar menjelaskan cara pakai dan hasil realistis, sehingga pelanggan tidak salah ekspektasi.
Dengan membuka diri ke berbagai sektor, Sahabat punya “bank ide” yang lebih kaya, dan bisa memilih mana yang relevan dan mungkin diadaptasi secara kreatif.
9. Membangun kebiasaan mencatat dan merefleksikan pengalaman
Jajan perspektif akan jauh lebih kuat dampaknya kalau tidak hanya berhenti di “merasakan”, tetapi juga “mencatat” dan “merenungkan”. Tanpa itu, pengalaman mudah hilang begitu saja.
Sahabat bisa mulai dengan cara sederhana:
- Setiap kali jajan di usaha lain, catat 3 hal yang mereka lakukan dengan baik, dan 1 hal yang bisa diperbaiki.
- Renungkan, “Dari 3 hal ini, apa satu hal kecil yang bisa saya coba di usaha saya minggu ini?”
- Pantau apakah perubahan kecil itu membawa dampak ke kepuasan pelanggan atau alur kerja.
Dengan pola ini, jajan perspektif bukan sekadar aktivitas konsumsi, tetapi menjadi kebiasaan belajar yang terkumpul dari waktu ke waktu.
Baca juga: Tanggal Merah & Hari Libur 2026: Panduan Promosi UMKM Sepanjang Tahun
10. Menjadikan jajan sebagai investasi cara pandang, bukan hanya pengeluaran
Keluhan yang mungkin muncul adalah, “Kalau sering jajan di tempat lain kan jadi nambah pengeluaran.” Disinilah pentingnya mengubah cara pandang: bukan sekadar jajan untuk memuaskan keinginan, tetapi jajan sebagai investasi untuk memperluas cara berpikir bisnis.
Ketika Sahabat menyisihkan sedikit anggaran bulanan untuk jajan perspektif — mencoba produk baru, layanan baru, atau tempat baru — pikirkan:
- Dari uang yang dikeluarkan, minimal satu insight bisa diambil dan diuji.
- Jika satu insight itu bisa meningkatkan kepuasan pelanggan, mengurangi komplain, atau mempercepat alur kerja, nilai baliknya jauh lebih besar dari biaya jajannya.
- Kebiasaan ini membuat Sahabat tidak hanya belanja barang, tapi sekaligus “belanja sudut pandang” yang bisa menguatkan usaha dalam jangka panjang.
Dengan cara pandang ini, jajan bukan lagi dianggap pemborosan, tetapi bagian dari belajar aktif di “laboratorium nyata” bernama pasar.
Penutup: jajan dengan mata pembelajar
Halo Sahabat Wirausaha, jajan perspektif bukan tren istilah, melainkan kebiasaan baru yang bisa kita bangun pelan-pelan. Bedanya dengan jajan biasa adalah: kita tidak hanya menikmati produk atau layanan, tapi juga memperhatikan, mencatat, dan mengaitkannya dengan usaha kita sendiri.
Setiap kali Sahabat jajan di usaha lain — entah itu kopi, makanan, jasa, atau produk kemasan — coba tambah satu pertanyaan: “Apa satu hal yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini untuk usaha saya?” Bila pertanyaan sederhana ini dijadikan kebiasaan, pelan-pelan kualitas cara pandang dan kualitas keputusan bisnis akan ikut naik.
Dengan begitu, usaha Sahabat tidak hanya bertahan karena kerja keras, tetapi juga bertumbuh karena cara pandang yang terus diperluas melalui jajan perspektif. Gimana, udah siap jajan perspektif?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









