Pada awal Oktober 2017, DBS-NUS Social Venture Challenge Asia 2017 mengumumkan para pemenangnya. Tiga perusahaan sosial Indonesia memenangkan penghargaan bergengsi itu, yaitu Crowde, TEMU, dan Evoware. Mereka meneruskan ‘tradisi’ berbagai perusahaan sosial di Indonesia yang telah memenangkan penghargaan bergengsi di level internasional. Dari ketiganya, yang hendak dipaparkan kali ini adalah Evoware.
Indonesia adalah negeri dengan jumlah sampah plastik yang sangat besar. Ketika Jenna Jambeck dan kawan-kawan menuliskan artikel terkenal, Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean, di tahun 2015, Indonesia menjadi sorotan dunia. Betapa tidak? Kita bukanlah negara yang paling banyak penduduknya, namun ternyata sampah plastik kita menempati urutan kedua terbanyak di lautan lepas, setelah sampah plastik dari Tiongkok.
Reaksi atas artikel tersebut di dalam negeri cukup beragam. Ada yang menyangkalnya, tentu saja, namun sebagian besar punya sambutan yang lebih positif, yaitu bagaimana kita menanganinya. Ada yang kemudian tergerak untuk melakukan pembersihan sampah plastik di pantai, mengumpulkan sampah di muara atau di sepanjang sungai. Beberapa organisasi juga menggalakkan daur ulang plastik. Namun, ada juga mereka yang memilih untuk menekan penggunaan plastik lewat penyediaan alternatifnya.
Evoware menggunakan pendekatan yang terakhir itu. Di situs perusahaan mereka, kita bisa membaca pernyataan tujuan dan pendekatan yang sangat jelas. “Evoware is a socially responsible enterprise that elevates an environmentally friendly lifestyle and provides innovative value to urban society. Through Evoware's products, people evolve to be closer to nature and live a more responsible and sustainable life. We are here to be the eco-solution for plastic waste problems. Our products are eco- friendly, biodegradable or even edible and healthy for the body. We use seaweed as our raw material.”
Masyarakat kota jumlahnya makin besar di Indonesia. Mereka juga yang memiliki dampak lingkungan yang sangat besar, lewat beragam gaya hidupnya. Plastik adalah kenyamanan luar biasa bagi masyarakat urban yang dahulu tak dipikirkan dampaknya. Namun, terutama setelah publikasi Jambeck dkk itu, kita menyadari bahwa plastik memiliki dampak yang luar biasa besar. Apalagi, jumlah penduduk perkotaan juga jelas akan terus meningkat. Jadi, apa yang ditawarkan oleh Evoware jelas sangat tepat, baik itu sasaran maupun solusinya.
Data yang ada memang memang menyedihkan. Plastik, yang menjadi bagian kenyamanan hidup masyarakat urban itu kebanyakan berakhir menjadi sampah; di mana sekitar 70%-nya berasal dari plastik pembungkus makanan dan minuman. Lantaran banyak yang berakhir di laut, maka pencemaran terjadi. Telah ditemukan ikan-ikan yang diambil dari perairan Indonesia mengandung plastik, sehingga membahayakan kesehatan mereka yang memakannya. Dan, kalau kita tak berhasil mengurangi sampah plastik di laut ini, maka di tahun 2050 akan ada lebih banyak plastik dibandingkan ikan.
Evoware kemudian melihat bahwa salah satu jalan keluarnya adalah menyediakan produk yang bisa menggantikan plastik, dengan segala kualitas yang mendekatinya, namun ramah bagi lingkungan. Jalan itu ada pada rumput laut. Dan, bagusnya, jalan keluar itu juga memiliki dampak sosial yang baik. Rumput laut itu pasokannya berlimpah, bahkan kerap tak bisa tertampung oleh pasar selama ini. Para petani rumput laut sendiri tergolong miskin, lantaran rantai pasar yang panjang, dan mereka kerap menjadi korban dari tengkulak. Dengan begitu, meningkatkan permintaan atas rumput laut dan membeli secara langsung dari para petani itu, dengan harga yang adil, sebagaimana yang dilakukan oleh Evoware, sesungguhnya betul-betul membantu para petani itu meningkat kesejahteraannya.
Produk pengganti plastik dari Evoware ini bisa dikatakan ajaib. Selain benar-benar bisa terurai secara alamiah, produk ini bahkan bisa dimakan. Baik standar keamanan pangan HACCP maupun standar kehalalan sudah mereka peroleh. Produk ini juga bisa tahan selama dua tahun, dan bisa dimodifikasi sama mudahnya dengan plastik, termasuk bila ada yang menginginkan pencetakan logo di atasnya.
Tidak mengherankan kalau perusahaan yang dipimpin oleh David Christian ini kemudian menyabet berbagai penghargaan internasional. Bukan cuma penghargaan dari DBS-NUS, melainkan juga dari Elsevier Foundation, Sankalp Forum, New Plastics Economy, serta OpenIDEO The Circular Design Challenge. Kalau para konsumen di Indonesia semakin terbuka matanya, tentu dampak positif Evoware terhadap lingkungan dan kehidupan petani rumput laut akan makin besar, dan penghargaan-penghargaan seperti itu akan makin banyak mereka terima.
Sumber:
Artikel ini pernah dimuat di surat kabar KONTAN, pada tanggal 16 Agustus 2018.
Penulis: Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA).
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









