UKM Indonesia

Berkah Jaya Bike : Menghidupkan Berbagai Sektor Lewat Bisnis Sepeda


woman biking during daytime

Sumber gambar : Unsplash

Sepeda mungkin bukan alat transportasi yang akan selalu pas dengan zaman, namun ia akan selalu punya tempat di hati masyarakat. Di Indonesia, tren menggowes sepeda menemukan puncak kepopulerannya di kala pandemi. Dilansir dari Tempo.co, bedasarkan survei The Institute of Transportation and Development Policy, penggunaan sepeda meningkat hingga 1000 persen saat PSBB di Jakarta, alias sepuluh kali lipat jika dibandingkan dengan Oktober 2019.

Melihat angka tersebut, wajar saja jika bisnis bengkel dan toko sepeda kian menjamur di ibukota. Bengkel Berkah Jaya Bike (BJB) adalah salah satunya. Namun, tak seperti bengkel sepeda pada umumnya, BJB punya misi sendiri yang ingin mereka wujudkan demi mewujudkan dunia persepedaan yang lebih sustainable. Seperti apa BJB menjalankan bisnisnya? Dan bagaimana mereka turut berusaha menghidupkan sektor lain yang sempat mati di kala pagebluk? Simak cerita lengkapnya berikut ini.

Mengemas Konsep Bengkel Sebagai Wadah Komunitas Biker

Omar Prawiranegara, Co-Founder Berkah Jaya Bike, bercerita tentang ide awal mendirikan BJB yang muncul di awal-awal penerapan PSBB Jakarta. Muncul dari keresahan awal akan sulitnya mencari bengkel sepeda yang available di masa pandemi, Omar dan beberapa teman yang memang sering gowes bareng, memutuskan untuk mendirikan bengkel sepeda. Saat itu, olahraga sepeda memang sedang naik daun. Alhasil, bengkel-bengkel sepeda di ibukota semuanya penuh, dan banyak pesepeda yang kebingungan mencari tempat untuk memperbaiki sepeda.

Pendeknya, usaha bengkel mereka terdengar apik. Apalagi, kebetulan salah satu dari mereka juga paham banyak soal spare part dan bongkar-pasang sepeda. Maka akhirnya berdirilah Berkah Jaya Bike, sebuah bengkel sekaligus warung sepeda yang terletak di bilangan Cipete, Jakarta.

Berdiri sejak bulan Agustus 2020, usaha ini memiliki visi untuk menjadi bengkel dan warung sepeda yang dapat melayani sepenuh hati dengan harga terjangkau dan suku cadang beragam. Tak hanya itu, Berkah Jaya Bike juga ingin menjadi wadah untuk para cyclist untuk tetap bersepeda dan bisa ngobrol selayaknya teman.

Menurut Omar, kebersamaan komunitas inilah yang tidak kita dapatkan di bengkel-bengkel sepeda lain, yang montirnya sekadar “kerja”, apalagi yang sudah punya nama besar. Mereka juga ingin bersepeda tidak hanya jadi sekedar tren yang tidak lama lalu hilang. “Kita ingin hype ini terus kejaga, jadai dari segi hobi jalan, dari sisi cuan juga jalan gitu,” ujar Omar.

Mereka sadar, bahwa untuk menjaga tren bersepeda secara berkelanjutan, yang harus dilakukan bukan hanya memperbanyak toko-toko dan bengkel sepeda. Mereka juga perlu menyediakan wadah atau tempat bagi komunitas pesepeda untuk tetap eksis. Sebab, pada dasarnya sepeda tidak hanya hadir sebagai moda transportasi alternatif, melainkan juga sebagai alat rekreasi, koleksi, dan olahraga.

Menghidupkan Cuan di Sektor Lain Lewat Sepeda.

Dari servis yang dilakukan, BJB memang tidak mengambil untung yang banyak. Mereka berusaha Tapi mereka ingin memberi satu alternatif olahraga selama pandemi dengan jalan-jalan sehat keluar kota via sepeda. “Kita rame-rame bikin trip, misalnya 5 orang, grup kecil, di arrange semacam EO untuk jalan-jalan di kota tujuan,” jelas Omar. Jadi, sepeda tidak hanya sekedar hobi tapi juga connecting the dot, alias menghubungkan titik-titik yang sempat hilang selama pandemi.

Dari sepeda, mereka juga bisa lintas bisnis dari pariwisata dan kuliner. Bagaimana caranya? BJB kerap membuat event-event bersepeda untuk kru dan pelanggan-pelanggan yang ingin bergabung. Contohnya, adalah acara tur bersepeda di Bali dan Yogyakarta. Lewat konsep seperti ini, mereka turut melanggengkan tren bersepeda sekaligus membuka peluang bisnis bagi sektor-sektor lainnya.

Beberapa profesi yang mereka ajak kerjasama adalah fotografer, yang selama pandemi justru banyak kehilangan pekerjaan. Fotografer dihadirkan dalam paket wisata guna mengemas dokumentasi dengan apik. Tak hanya itu, mereka juga menyasar rental mobil yang bernasib sama.

Rajin Menjemput Bola

Di awal membuka bisnis, Omar masih merupakan karyawan yang berpenghasilan tetap setiap bulan. Hal ini membuatnya lengah dalam menjalankan bisnis. “Saat kita menjalankan bisnis untuk sampingan, ya cuannya juga cuma sampingan,” paparnya. Ia merasa bahwa kecilnya cuan dari BJB dan usaha kedai kopinya saat itu adalah kurangnya fokus dalam berbisnis.

Kedua bisnisnya justru menjadi lebih berkembang saat ia memutuskan untuk mencurahkan seluruh waktunya untuk menjalankan bisnis. Namun, hal ini tidak serta merta berujung sukses. Menurut Omar, ia dan kawannya harus rajin-rajin “jemput bola”, promosi kesana kemari lewat kenalan atau kerabat tentang bisnisnya agar ramai pengunjung. Di sini, menurut Omar, keahlian untuk berkomunikasi dan sosialisasi dengan orang-orang amatlah penting.

Selain itu, Omar dan kawan-kawannya juga sangat berpegang pada data dalam berbisnis. Mereka kerap memperhatikan keluhan pelanggan. Menurutnya, data observasi harian dan hasil mengobrol dengan pelanggan di beberapa kesempatan bisa memperkuat intuisi bisnis kita sebagai UMKM. Hal-hal informal seperti survei bisa diolah menjadi strategi untuk mengembangkan bisnis kita. Misalnya saja, selama beberapa minggu Omar dan tim memperhatikan bahwa pelanggan memiliki lebih banyak masalah dengan ban dalam sepeda. Hal ini dikarenakan jalan di Jakarta yang masih belum pas dengan jenis kebanyakan roda sepeda. Maka mereka kemudian lebih meningkatan servis untuk ban dalam sepeda dan mencoba lebih mengerti masalah yang ada. “Bahkan, mereka mengimpor ban dalam dari Thailand untuk menyediakan harga yang sesuai,” ujarnya.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Pasalnya, kebanyakan bengkel sepeda membandrol harga yang kelewat mahal hanya untuk penggantian ban dalam. Tren sepeda yang terus menanjak membuat permintaan spare part sepeda naik drastis, sehingga banyak produsen ban dalam menaikkan harga produk mereka. Dengan mengimpor dari negara seperti Thailand yang masih memberikan harga normal untuk ban dalam sepeda, BJB bisa memecahkan masalah kebanyakan pelanggannya.

Karena itulah, bagi teman-teman UKM yang baru memulai bisnis, Omar menyarankan untuk rajin mengamati pelanggan. Tidak hanya menjalankan bussiness as usual, melainkan juga memperhatikan kebutuhan dan selera pelanggan. Sebab, meskipun terkesan remeh, data-data ini bisa berpengaruh besar pada penjualan.

Rencana Ke Depannya Untuk BJB

Setelah memberanikan diri masuk ke bisnis travel dan pariwisata, Omar dan kawan-kawan di BJB juga ingin merambah ke sektor lain. Salah satu yang sedang diusahakan adalah sektor media berupa website, untuk sharing informasi seputar olahraga pesepeda, seperti jual beli partisi, tips dan trik bersepeda, dan sebagainya. Hal ini berangkat dari kegelisahan para pesepeda lokal tentang sulitnya mencari info dan ruang diskusi seputar sepeda di Indonesia. Ya, mereka tetap menjalankan komitmen awal, yaitu untuk membuat tren bersepeda terus naik dan tidak sekadar populer sementara.

Dari usaha Berkah Jaya Bike, teman-teman UKM tentu bisa belajar bahwa banyak hal dari tren bersepeda yang bisa dijadikan ide bisnis, bahkan cuan. Asalkan kita kreatif dan tetap mengamati apa yang dibutuhkan oleh komunitas sepeda di Indonesia. Jadi, teman-teman tidak perlu takut untuk berkembang di sektor ini. Sebab, pasarnya tidak akan pernah mati.

Referensi :

Webinar APINDO UMKM Akademi bertajuk “Ada Cuan di Balik Keunggulan Produk Custom” yang bisa diakses melalui link berikut https://www.topkarir.com/article/detail/webinar-ada-cuan-dibalik-keunggulan-produk-custom

https://frekuensiantara.com/wara-wiri-gowes-2020

https://otomotif.tempo.co/read/1361580/pesepeda-indonesia-naik-1000-persen-negara-ini-alami-lonjakan

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: