
Sumber Foto: hellosehat.com
Halo Sahabat Wirausaha,
Jauh sebelum Indonesia mengenal gandum sebagai bahan pangan utama, Nusantara sebenarnya telah memiliki “roti” alaminya sendiri: buah sukun. Tumbuh tenang di pekarangan desa hingga wilayah pesisir, sukun kerap diposisikan sebagai pangan sampingan—padahal secara karakter biologis dan ekonomi, ia menyimpan potensi besar yang lama terabaikan.
Di tengah ketergantungan pada bahan pangan impor, perubahan iklim yang makin terasa, serta meningkatnya kesadaran terhadap pangan lokal dan sehat, sukun kembali relevan untuk dibicarakan. Bukan sekadar sebagai simbol ketahanan pangan, tetapi sebagai bahan baku strategis yang dapat diolah UMKM menjadi produk bernilai tambah.
Berikut lima alasan mengapa buah sukun layak dikembangkan sebagai peluang usaha sekaligus solusi pangan bagi UMKM Nusantara.
1. Tanaman Tangguh dengan Risiko Produksi Relatif Rendah
Dalam konteks usaha pangan, risiko terbesar sering datang dari hulu: cuaca ekstrem, kegagalan panen, hingga tingginya biaya input produksi. Sukun berada di posisi yang relatif menguntungkan. Tanaman ini dikenal tahan terhadap suhu panas dan mampu tumbuh di lahan dengan kualitas tanah sedang hingga rendah.
Berbeda dengan komoditas yang menuntut pemupukan intensif, sukun dapat tumbuh dengan intervensi yang lebih minimal. Dalam satu siklus panen, satu pohon dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan buah. Bagi UMKM yang menggantungkan produksi pada ketersediaan bahan baku, kondisi ini berarti pasokan yang lebih stabil dan mudah diprediksi.
Stabilitas ini penting secara bisnis. Ketika bahan baku tidak terlalu fluktuatif, pelaku usaha dapat lebih fokus pada pengolahan, inovasi produk, dan pemasaran—bukan sekadar bertahan dari gejolak produksi.
2. Nilai Gizi dan Fungsi Pangan yang Semakin Dicari Pasar
Sukun bukan hanya sumber karbohidrat, tetapi juga memiliki kandungan serat yang cukup tinggi dan bebas gluten secara alami. Dalam beberapa tahun terakhir, preferensi konsumen mulai bergeser: pangan tidak lagi dinilai hanya dari rasa dan harga, tetapi juga dari fungsi kesehatan dan asal bahan bakunya.
Tren ini membuka ruang baru bagi UMKM. Produk berbasis sukun dapat diposisikan sebagai alternatif pangan lokal yang lebih ramah bagi konsumen tertentu, termasuk mereka yang mulai membatasi konsumsi gandum atau mencari variasi sumber karbohidrat.
Nilai gizi ini tidak harus dijual secara berlebihan. Cukup dengan pemrosesan yang baik dan narasi yang jujur, sukun dapat masuk ke segmen pasar yang menghargai pangan sederhana, lokal, dan fungsional.
Baca juga: Kelengkeng Tak Lagi Sekadar Tanaman Kebun: Peluang Bisnis Bernilai Tinggi di Pasar Kota
3. Fleksibel Diolah, Mudah Dikembangkan Bertahap
Salah satu kekuatan utama sukun adalah fleksibilitas pengolahannya. Pada tahap awal, UMKM dapat memulai dari bentuk olahan sederhana seperti sukun segar, kukusan, atau camilan. Seiring meningkatnya kapasitas dan permintaan, pengolahan dapat naik kelas menjadi tepung sukun, bahan baku setengah jadi, hingga produk pangan modern.
Tepung sukun, misalnya, memungkinkan diversifikasi produk tanpa harus mengganti bahan utama. Ia dapat diolah menjadi mi lokal, roti non-terigu, biskuit, atau produk pangan kreatif lainnya. Dari sisi usaha, ini membuka peluang satu bahan baku, banyak lini produk.
Pendekatan bertahap ini cocok bagi UMKM yang tidak ingin langsung mengambil risiko besar. Usaha bisa tumbuh mengikuti kemampuan produksi dan respons pasar, bukan dipaksakan dari awal.
4. Substitusi Pangan Impor yang Relevan bagi UMKM
Ketergantungan Indonesia pada gandum impor bukan hanya isu makro, tetapi juga berdampak langsung pada pelaku usaha kecil. Ketika harga gandum global naik, biaya produksi UMKM berbasis terigu ikut terdorong.
Sukun memang tidak menggantikan gandum secara penuh, tetapi dapat mengisi ceruk tertentu—terutama untuk produk lokal, pangan komunitas, dan konsumsi rumah tangga. Dalam konteks ini, UMKM berperan penting sebagai pengolah yang menjembatani potensi sukun dengan kebutuhan pasar.
Dengan memanfaatkan bahan baku lokal, UMKM dapat mengurangi eksposur terhadap fluktuasi harga global, sekaligus menciptakan produk yang lebih kontekstual dengan pasar domestik.
Baca juga: 7 Ide Produk Olahan Pisang, Cara Kreatif Ubah Buah Jadi Cuan
5. Peluang Usaha yang Selaras dengan Isu Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan
Alasan terakhir ini sering menjadi pembeda jangka panjang. Usaha berbasis sukun tidak hanya menjual produk, tetapi juga beririsan dengan isu yang makin relevan: ketahanan pangan, keberlanjutan, dan pelestarian sumber daya lokal.
Sukun merupakan tanaman yang telah lama menjadi bagian dari lanskap pangan Nusantara. Mengolahnya kembali bukan sekadar soal nostalgia, tetapi tentang mengaktifkan kembali potensi yang selama ini terpinggirkan. Bagi konsumen, produk berbasis sukun membawa cerita yang berbeda—bukan sekadar alternatif, tetapi bagian dari upaya memanfaatkan kekayaan lokal secara lebih bijak.
Bagi UMKM, narasi ini dapat menjadi nilai tambah. Produk tidak hanya bersaing lewat harga, tetapi juga lewat makna, konteks, dan relevansinya dengan tantangan pangan hari ini.
Membaca Tantangan Secara Jujur
Meski potensinya besar, pengembangan usaha berbasis sukun bukan tanpa tantangan. Ketersediaan pasokan masih bersifat musiman di beberapa wilayah, pengolahan pascapanen memerlukan pengetahuan yang tepat, dan pasar masih perlu diedukasi.
Namun justru di sinilah peran UMKM menjadi penting. Dengan skala yang lebih lincah, UMKM dapat bereksperimen, membangun pasar secara bertahap, dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan lokal. Tantangan ini bukan penghalang, melainkan ruang pembelajaran bisnis.
Baca juga: Mengenal Berbagai Macam Proses Pengolahan Kopi: Dari Buah hingga Siap Seduh
Penutup
Buah sukun mengingatkan kita bahwa peluang usaha dan solusi pangan tidak selalu datang dari bahan baru atau teknologi rumit. Sering kali, jawabannya telah tumbuh lama di sekitar kita, hanya belum dibaca dengan kacamata bisnis yang tepat.
Dengan karakter yang tangguh, fleksibel, dan relevan dengan isu pangan hari ini, sukun layak diposisikan sebagai bahan baku strategis bagi UMKM Nusantara. Bukan hanya untuk menciptakan pendapatan, tetapi juga untuk memperkuat peran usaha kecil dalam ekosistem pangan lokal yang lebih mandiri.
Bagi Sahabat Wirausaha, tantangannya kini bukan lagi soal apakah sukun punya potensi, melainkan bagaimana membaca dan mengolah potensi tersebut secara berkelanjutan.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









