Sahabat Wirausaha,

Selama ini, kelengkeng identik dengan kebun luas di pedesaan atau sentra buah musiman. Ia dipahami sebagai tanaman produktif yang nilai ekonominya baru terasa saat panen tiba. Namun dalam beberapa tahun terakhir, persepsi itu perlahan bergeser. Kelengkeng mulai “masuk kota”, hadir di halaman rumah perumahan, teras rumah tapak, hingga sudut-sudut hunian dengan lahan terbatas.

Perubahan ini bukan sekadar soal tren menanam. Ia mencerminkan pergeseran pasar—dari kelengkeng sebagai komoditas kebun menjadi produk tanaman buah bernilai tinggi untuk konsumen perkotaan. Di titik inilah, kelengkeng membuka peluang bisnis baru bagi pelaku UMKM yang jeli membaca kebutuhan pasar kota.


Dari Kebun ke Pekarangan Kota

Pertumbuhan kawasan perkotaan membawa konsekuensi pada perubahan pola hunian. Lahan semakin terbatas, tetapi minat masyarakat terhadap tanaman tidak serta-merta hilang. Justru sebaliknya, muncul ketertarikan pada tanaman yang tidak hanya hijau secara visual, tetapi juga memberi hasil nyata.

Kelengkeng—terutama jenis yang dapat dibudidayakan dalam pot—menjawab kebutuhan tersebut. Ia menawarkan dua nilai sekaligus: estetika sebagai tanaman pekarangan dan produktivitas sebagai tanaman buah. Bagi konsumen kota, memiliki pohon kelengkeng di rumah bukan semata soal panen, tetapi juga pengalaman: melihat tanaman berbunga, berbuah, hingga akhirnya dipanen sendiri.

Kondisi ini membuat kelengkeng tidak lagi diposisikan sebagai tanaman kebun yang “jauh”, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup rumah kota yang ingin tetap dekat dengan alam dan pangan.

Baca juga: Buah Naga: Dari Kebun Lokal, Menembus Pasar Global! Peluang Emas Ekspor Menanti Kamu!


Nilai Jual Kelengkeng Tidak Hanya di Buah

Salah satu kesalahan umum dalam membaca peluang usaha kelengkeng adalah mengukur nilainya hanya dari hasil panen buah. Padahal, di pasar kota, nilai jual kelengkeng justru muncul jauh sebelum panen.

Dalam praktiknya, kelengkeng memiliki beberapa fase yang masing-masing dapat menjadi produk:

  • pohon kelengkeng siap tanam,
  • pohon yang sudah dibentuk rapi,
  • pohon berbunga,
  • hingga pohon yang sedang berbuah perdana.

Setiap fase ini memiliki segmentasi pasar dan nilai jual yang berbeda. Konsumen kota kerap bersedia membayar lebih untuk pohon yang “tinggal menunggu hasil”, karena mereka tidak ingin repot menunggu terlalu lama atau menghadapi risiko gagal berbuah. Di sinilah kelengkeng berubah dari sekadar tanaman buah menjadi produk bernilai tinggi per unit, bukan per kilogram hasil panen.

Sejumlah publikasi pertanian juga mencatat bahwa kelengkeng termasuk buah tropis dengan nilai ekonomi relatif tinggi, terutama ketika dikembangkan dengan pendekatan kualitas dan diferensiasi. Artinya, nilai kelengkeng tidak semata ditentukan oleh jumlah panen, tetapi juga oleh jenis tanaman, kesiapan pohon, serta segmen pasar yang dituju—terutama pasar kota yang lebih menghargai kualitas dan kemudahan.


Karakter Konsumen Pasar Kota

Pasar kota memiliki karakter yang berbeda dengan pasar kebun atau sentra produksi. Konsumen tidak membeli dalam jumlah besar, tetapi lebih selektif. Mereka cenderung memperhatikan tampilan tanaman, kondisi daun, bentuk tajuk, hingga cerita di balik tanaman tersebut.

Bagi banyak konsumen perkotaan, kelengkeng bukan hanya soal rasa buah, tetapi juga soal kepuasan memiliki tanaman produktif di ruang terbatas. Mereka menginginkan tanaman yang terlihat rapi dan sehat, tidak membutuhkan perawatan rumit, serta memiliki potensi berbuah yang jelas.

Karakter ini membuat pasar kota lebih sensitif terhadap kualitas dibanding kuantitas. Bagi pelaku UMKM, kondisi ini justru membuka peluang karena usaha tidak harus dimulai dari skala besar untuk bisa masuk pasar.

Baca juga: Buah Ciplukan: Dari Halaman Belakang hingga Pasar Dunia, Peluang Emas Ekspor Menanti!


Mengapa Kelengkeng Cocok untuk UMKM Skala Kecil

Dibanding banyak komoditas pertanian lain, kelengkeng relatif fleksibel untuk dikembangkan secara bertahap. Pelaku usaha dapat memulai dari jumlah pohon yang terbatas, memanfaatkan pekarangan rumah atau lahan kecil, lalu meningkatkan skala seiring bertambahnya pengalaman dan permintaan.

Model usaha ini cocok bagi UMKM karena tidak membutuhkan kebun luas sejak awal, modal dapat diputar secara bertahap, dan risiko dapat dikendalikan per unit tanaman. Selain itu, kelengkeng memberi ruang bagi UMKM untuk bermain di nilai tambah, bukan perang harga. Perawatan, pembentukan tajuk, dan kesiapan tanaman menjadi faktor pembeda yang menentukan harga jual, terutama di pasar kota.


Bagaimana Kelengkeng Dijual di Pasar Kota

Berbeda dengan pasar kebun yang berfokus pada hasil panen, pasar kota membeli kelengkeng dalam bentuk yang lebih beragam. Konsumen perkotaan umumnya tidak mencari buah dalam jumlah banyak, melainkan tanaman yang sudah “jadi” dan siap dinikmati di rumah.

Dalam praktiknya, kelengkeng di pasar kota dijual dalam beberapa bentuk. Ada pohon kelengkeng siap tanam untuk konsumen yang ingin memulai dari awal, tetapi segmen ini biasanya sensitif harga. Ada pula pohon yang sudah dibentuk rapi, dengan tajuk seimbang dan daun sehat, yang diminati konsumen yang mengutamakan estetika.

Nilai jual tertinggi justru sering muncul pada pohon kelengkeng yang sudah memasuki fase berbunga atau berbuah perdana. Pada fase ini, konsumen tidak lagi membeli janji, melainkan kepastian hasil. Mereka bersedia membayar lebih karena risiko menunggu dan gagal berbuah sudah jauh berkurang. Bagi pelaku UMKM, memahami fase ini penting karena menentukan strategi perawatan sekaligus waktu terbaik untuk menjual.

Artinya, kelengkeng di pasar kota tidak diperlakukan sebagai komoditas panen massal, melainkan sebagai produk tanaman dengan nilai per unit. Pendekatan inilah yang membuat usaha kelengkeng tetap relevan meski dijalankan dalam skala kecil.


Saluran Penjualan yang Paling Relevan untuk Pasar Kota

Selain bentuk produk, cara menjual kelengkeng juga sangat menentukan keberhasilan di pasar kota. Konsumen perkotaan jarang membeli tanaman secara impulsif di pasar tradisional. Mereka cenderung membeli setelah melihat visual tanaman dan memahami ceritanya.

Penjualan langsung di lingkungan perumahan, komunitas hobi tanaman, atau pameran skala kecil sering kali lebih efektif dibanding sekadar menitipkan barang. Di ruang-ruang ini, konsumen bisa melihat kondisi tanaman secara langsung, bertanya, dan merasa lebih yakin sebelum membeli.

Saluran digital juga memegang peran penting. Media sosial dan marketplace memungkinkan pelaku UMKM menampilkan visual tanaman, proses perawatan, hingga testimoni pembeli sebelumnya. Bagi pasar kota, cerita di balik tanaman—mulai dari bagaimana pohon dirawat hingga kapan berpotensi berbuah—sering kali sama pentingnya dengan produk itu sendiri.

Kombinasi antara penjualan langsung dan digital memberi fleksibilitas bagi UMKM. Skala usaha tidak harus besar, tetapi kehadiran yang konsisten dan komunikasi yang jujur menjadi kunci. Dengan memahami saluran penjualan yang tepat, kelengkeng bisa dipasarkan sebagai produk bernilai tinggi tanpa harus bersaing di perang harga.

Baca juga: Ekspor Buah ke Singapura: Meraih Manisnya Peluang di Jantung Asia Tenggara!


Tantangan yang Perlu Disadari Sejak Awal

Meski peluangnya terbuka, bisnis kelengkeng untuk pasar kota bukan tanpa tantangan. Tanaman hidup membutuhkan konsistensi perawatan. Kesalahan pengelolaan dapat berdampak langsung pada kualitas tanaman dan kepercayaan konsumen.

Selain itu, edukasi pasar juga menjadi pekerjaan tersendiri. Tidak semua konsumen memahami bahwa tanaman buah tetap membutuhkan perawatan meski sudah siap tanam. Di sinilah pelaku UMKM perlu membangun komunikasi yang jujur agar ekspektasi konsumen selaras dengan kondisi tanaman.

Tantangan lain datang dari faktor lingkungan. Adaptasi kelengkeng terhadap kondisi iklim dan lokasi tertentu perlu diperhatikan agar tanaman tetap produktif ketika dipindahkan ke lingkungan perkotaan.


Penutup: Peluang yang Datang dari Cara Pandang Baru

Kisah kelengkeng yang kini masuk ke pasar kota menunjukkan bahwa peluang bisnis tidak selalu lahir dari produk baru. Sering kali, peluang justru muncul dari cara pandang baru terhadap produk lama. Kelengkeng tetaplah kelengkeng, tetapi pasarnya berubah—dan bersama perubahan itu, cara menjual, menilai, serta mengelola usahanya ikut bergeser.

Bagi UMKM, perubahan ini membuka ruang usaha yang lebih inklusif. Tidak perlu menunggu memiliki kebun luas atau modal besar untuk memulai. Dengan memahami karakter pasar kota, menjaga kualitas tanaman, dan mengelola usaha secara disiplin, kelengkeng berpotensi menjadi bisnis bertahap yang bernilai tinggi.

Pada akhirnya, kelengkeng di pasar kota bukan hanya soal buah yang dipanen, tetapi tentang produk hidup yang menawarkan pengalaman, kepastian, dan nilai. Di sanalah letak peluang bisnisnya—dan di sanalah UMKM dapat mengambil peran.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!