
Halo Sahabat Wirausaha,
Banyak pelaku UMKM masih memandang personal branding sebagai urusan tampil di depan kamera, aktif di media sosial, atau membangun citra diri agar terlihat profesional. Di level usaha kecil dan menengah, fokus utama masih berkutat pada produk: rasa, harga, kemasan, dan promosi. Selama barang laku dan pelanggan datang, urusan “siapa pengelolanya” sering dianggap bukan prioritas.
Padahal di lapangan, tidak sedikit UMKM dengan produk bagus yang tetap sulit berkembang. Bukan karena kualitasnya kalah, melainkan karena usahanya belum cukup dipercaya untuk melangkah lebih jauh. Sulit mendapatkan mitra, ragu diberi proyek jangka panjang, atau dianggap belum siap naik kelas. Di titik inilah personal branding pengelola usaha bekerja—bukan sebagai pencitraan, melainkan sebagai penanda cara berpikir dan kedewasaan bisnis.
Artikel ini tidak membahas cara membangun personal branding secara teknis. Fokusnya adalah memahami mengapa personal branding pengelola usaha sering diremehkan, padahal diam-diam menentukan arah keberlanjutan UMKM.
1. Ketika Produk Sudah Mirip, yang Dinilai Bukan Lagi Barangnya
Realita pasar hari ini semakin terbuka. Banyak UMKM menawarkan produk yang serupa—baik dari sisi fungsi, harga, maupun tampilan. Dalam kondisi seperti ini, pihak luar mulai mencari pembeda lain.
Pembeda itu sering kali bukan lagi produk, melainkan siapa yang mengelola usaha tersebut. Cara pengelola menjelaskan bisnisnya, menyikapi masalah, hingga mengambil keputusan di bawah tekanan menjadi bahan penilaian. Tanpa disadari, personal branding mulai terbentuk dari interaksi-interaksi kecil ini.
Di fase ini, personal branding bukan soal ingin dikenal, melainkan soal dibaca. Dibaca apakah pengelola usaha ini layak dipercaya untuk tumbuh bersama, atau hanya mampu bertahan di transaksi jangka pendek.
2. Personal Branding Selalu Terbentuk, Mau Disadari atau Tidak
Banyak pengelola UMKM merasa tidak pernah membangun personal branding. Namun faktanya, personal branding selalu terbentuk—entah dikelola secara sadar atau dibiarkan berjalan begitu saja.
Cara berbicara soal uang, kebiasaan menunda kewajiban, cara merespons komplain, hingga sikap saat usaha sedang turun atau naik, semuanya meninggalkan jejak. Jejak inilah yang membentuk persepsi tentang pengelola usaha.
Jika personal branding selalu terbentuk, pertanyaannya bukan lagi apakah ia penting, melainkan mengapa begitu banyak pelaku usaha justru mengabaikannya.
Baca juga: Dari Karya ke Usaha: Strategi Seniman Membangun Bisnis Seni Berkelanjutan Jangka Panjang
3. Mengapa Banyak Pelaku Usaha Tidak Mengoptimalkan Personal Branding?
Rendahnya perhatian pelaku UMKM terhadap personal branding sering kali bukan karena mereka menolak perubahan, melainkan karena konsep ini dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak berdampak langsung pada penjualan. Dalam praktik sehari-hari, pengelola usaha cenderung memprioritaskan hal-hal yang hasilnya cepat terlihat—seperti produksi, harga, dan distribusi—dibandingkan membangun reputasi personal yang efeknya terasa dalam jangka panjang.
Dalam kajian personal branding, konsep ini tidak dipahami sebagai sekadar aktivitas komunikasi atau tampilan luar. Tom Peters, yang mempopulerkan istilah personal branding pada akhir 1990-an, menyebut bahwa setiap individu—termasuk pengelola usaha—pada dasarnya adalah sebuah brand yang dinilai dari cara berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan secara konsisten.
Pemikiran tersebut kemudian diperdalam oleh Montoya dan Vandehey (2009), yang menjelaskan bahwa personal branding merupakan proses strategis untuk mengidentifikasi, mengomunikasikan, dan mengelola nilai unik individu secara konsisten guna membentuk persepsi tertentu di benak publik. Dengan kata lain, personal branding bukan aktivitas sesaat, melainkan pengelolaan reputasi jangka panjang.
Pandangan ini diperkuat oleh Khedher (2014), yang menempatkan personal branding sebagai pembentukan identitas profesional melalui nilai, kompetensi, dan perilaku yang konsisten, sehingga mempengaruhi cara publik menilai kredibilitas seseorang. Artinya, personal branding tidak bisa dilepaskan dari cara pengelola usaha berpikir dan bertindak dalam menjalankan bisnisnya.
Namun dalam praktik UMKM, banyak pelaku usaha belum memandang dirinya sebagai identitas profesional yang membawa nilai strategis bagi bisnis. Mereka lebih sering melihat diri sebagai “orang yang menjual produk”, bukan sebagai pengelola usaha yang cara berpikir dan pengambilan keputusannya turut membentuk kepercayaan pasar.
Kondisi ini menjelaskan mengapa personal branding kerap dianggap bukan prioritas. Selama usaha masih berjalan dan transaksi tetap terjadi, reputasi pengelola tidak terasa mendesak. Padahal, kepercayaan justru diuji ketika bisnis menghadapi keterbatasan, konflik, atau ketidakpastian.
4. Dari Personal Branding, Terbaca Mindset Bisnis Pengelolanya
Personal branding yang kuat tidak dibangun dari tampilan luar, melainkan dari fondasi internal: mindset bisnis. Cara pengelola memandang uang, risiko, pertumbuhan, dan kegagalan akan menentukan kualitas personal branding yang terbentuk.
Pengelola dengan mindset bisnis yang matang biasanya terlihat dari cara ia memahami batas kapasitas usaha, tidak tergesa mengambil peluang besar, dan mampu menjelaskan risiko secara jujur. Sebaliknya, mindset yang masih berorientasi “jualan cepat” sering tercermin dari keputusan yang reaktif dan minim perhitungan.
Pengelola yang melihat uang sebagai alat, bukan tujuan, cenderung lebih tenang dalam mengambil keputusan. Mereka yang memandang masalah sebagai data, bukan ancaman, biasanya lebih siap beradaptasi. Sebaliknya, mindset yang emosional dan reaktif membuat personal branding mudah runtuh ketika bisnis menghadapi tekanan nyata. Personal branding di sini bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ia terbaca alami dari cara berpikir yang diwujudkan dalam tindakan.
5. Saat UMKM Ingin Naik Kelas, Mindset Pengelola yang Pertama Dinilai
Ketika UMKM mulai berbicara tentang pembiayaan, kemitraan, atau ekspansi, yang dinilai lebih dulu sering kali bukan produknya, melainkan siapa di balik usaha tersebut. Apakah pengelolanya realistis? Apakah ia paham risiko? Apakah ia mampu berpikir jangka panjang?
Di tahap ini, personal branding tidak lagi opsional. Ia menjadi konsekuensi dari mindset bisnis yang telah terbentuk sejak awal. Banyak usaha gagal melangkah bukan karena produknya kurang layak, tetapi karena pengelolanya belum siap secara cara berpikir.
Penutup: Personal Branding adalah Jejak Mindset dalam Mengelola Usaha
Sahabat Wirausaha, personal branding pengelola usaha bukan tentang tampil percaya diri atau aktif di ruang publik. Ia adalah jejak dari cara berpikir yang kamu praktikkan setiap hari dalam mengelola bisnis.
Produk bisa ditiru. Strategi bisa disalin. Namun cara berpikir pengelola usaha adalah hal yang paling sulit dipalsukan dan paling lama terbaca. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi, “Bagaimana saya membangun personal branding?”
Melainkan, “Mindset bisnis apa yang selama ini tercermin dari cara saya mengambil keputusan?”
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









