
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Halo, Sahabat Wirausaha!
Dalam beberapa tahun terakhir, cara konsumen memandang minuman mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Minuman tidak lagi dipilih semata untuk melepas dahaga, tetapi juga dinilai dari perannya dalam menunjang gaya hidup sehat. Perubahan ini mulai terasa kuat sejak pandemi, ketika kesadaran terhadap daya tahan tubuh dan konsumsi bahan alami meningkat. Menariknya, kebiasaan tersebut tidak berhenti ketika situasi kembali normal. Justru sebaliknya, semakin banyak konsumen yang lebih selektif terhadap apa yang mereka konsumsi setiap hari.
Tren produk kesehatan alami dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong meningkatnya minat terhadap berbagai produk herbal. Sejumlah pelaku usaha mulai melihat sektor ini sebagai peluang bisnis yang menjanjikan, mulai dari minuman fungsional hingga produk olahan berbasis bahan alami. Gambaran lebih luas mengenai peluang usaha di sektor ini dapat dilihat dalam artikel 9 Peluang Usaha Produk Herbal Potensial yang Tren di Pasaran.
Di tengah perubahan itu, produk kesehatan alami mendapatkan ruang yang semakin luas. Konsumen mencari sesuatu yang terasa aman, berbahan alami, mudah dikonsumsi, dan tidak merepotkan. Dalam konteks inilah teh rimpang lokal mulai dilirik. Bukan karena ia produk baru, melainkan karena ia terasa relevan dengan kebutuhan konsumen hari ini.
Rimpang Lokal: Bahan Lama, Cara Baca yang Berubah
Rimpang seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, rimpang identik dengan jamu, ramuan tradisional, atau minuman herbal rumahan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa produksi rimpang nasional mencapai sekitar 2,5 juta ton pada 2024. Namun, ketersediaan bahan baku yang besar tidak otomatis menghasilkan nilai tambah. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana rimpang tersebut diolah dan dipresentasikan sebagai produk yang selaras dengan kebiasaan konsumsi modern—praktis, konsisten, dan relevan dengan rutinitas harian.
Yang berubah hari ini bukanlah rimpangnya, melainkan cara konsumen memaknainya. Rimpang tidak lagi diposisikan semata sebagai “obat”, tetapi sebagai bagian dari rutinitas hidup sehat. Pergeseran ini mendorong perubahan bentuk penyajian, dari rebusan yang memakan waktu menjadi teh kering yang praktis diseduh kapan saja.
Teh Rimpang sebagai Produk, Bukan Sekadar Minuman Sehat
Rimpang seperti jahe, kunyit, dan temulawak dikenal mengandung senyawa bioaktif alami yang selama ini dikaitkan dengan kenyamanan tubuh dan daya tahan. Teh rimpang modern perlu dibedakan dari jamu tradisional, meskipun keduanya sering berbagi bahan yang sama. Teh rimpang tidak diposisikan sebagai minuman penyembuhan, melainkan sebagai functional beverage—minuman fungsional yang bisa dikonsumsi secara rutin. Persepsi inilah yang menjadikannya relevan dalam kategori produk kesehatan alami.
Pendekatan ini menuntut perhatian serius pada pengalaman konsumsi. Rasa menjadi faktor penting. Banyak konsumen tertarik pada manfaat rimpang, tetapi enggan jika rasanya terlalu tajam atau menyengat. Karena itu, teh rimpang modern cenderung menawarkan rasa yang lebih ringan dan seimbang, baik melalui teknik pengeringan yang tepat maupun perpaduan beberapa rimpang.
Bentuk produk juga menentukan. Teh rimpang kering dalam sachet atau kemasan kecil lebih mudah diterima, terutama oleh konsumen urban yang menginginkan kepraktisan. Kemudahan ini memungkinkan teh rimpang masuk ke rutinitas harian, bukan hanya diminum sesekali saat tubuh terasa kurang fit.
Bagi UMKM, hal ini menandakan bahwa peluang tidak hanya terletak pada bahan baku, tetapi pada kemampuan mengubah rimpang menjadi produk yang konsisten, nyaman dikonsumsi, dan relevan dengan gaya hidup konsumen masa kini.
Artinya, peluang bisnis teh rimpang masih terbuka, terutama bagi pelaku usaha yang mampu melakukan penyempurnaan. Bukan dengan mencari bahan baru, melainkan dengan memperbaiki pengalaman konsumsi. Selama konsumen masih mencari minuman alami yang praktis, ringan, dan bisa diminum rutin, teh rimpang tetap memiliki relevansi.
Baca juga: Rantai Nilai Bunga Telang Indonesia: Dari Tanaman Pekarangan ke Produk Bernilai Ekonomi
Dimana Letak Peluang Nyata untuk UMKM?
Peluang bisnis teh rimpang tidak selalu menuntut UMKM untuk langsung masuk ke skala besar. Justru, ruang pertumbuhan paling realistis terbuka bagi pelaku usaha yang mampu membaca celah di antara kebutuhan konsumen dan keterbatasan kapasitas produksi.
Salah satu peluang utama terletak pada produk siap seduh untuk konsumsi harian. Banyak konsumen tidak mencari minuman kesehatan dengan klaim berat atau fungsi spesifik. Mereka hanya menginginkan minuman hangat berbahan alami yang terasa ringan, mudah disiapkan, dan nyaman diminum setiap hari. Dalam konteks ini, teh rimpang berfungsi sebagai pendamping keseharian, bukan sebagai produk kuratif.
UMKM dapat memulai dari bentuk yang paling sederhana: teh rimpang kering dengan komposisi jelas, rasa seimbang, dan kemasan kecil yang praktis. Fokusnya bukan pada banyaknya varian, melainkan pada konsistensi rasa dan kualitas. Produk yang enak diminum berulang kali cenderung memiliki peluang bertahan lebih besar dibanding produk dengan klaim manfaat yang terlalu luas.
Peluang lain muncul dari pendekatan kurasi. UMKM tidak harus menanam atau memproduksi seluruh bahan sendiri. Kerja sama dengan petani atau pemasok lokal memungkinkan pelaku usaha menjaga kualitas dan kontinuitas bahan baku. Dalam posisi ini, UMKM berperan sebagai pengemas nilai—menggabungkan bahan, proses, cerita, dan pengalaman konsumsi menjadi satu produk yang utuh.
Dari sisi pasar, konsumen urban menjadi segmen yang menarik. Mereka relatif terbuka terhadap produk berbasis bahan alami, tetapi sensitif terhadap kepraktisan, rasa, dan citra merek. Teh rimpang yang dikomunikasikan sebagai minuman sehat tanpa kesan “obat” memiliki peluang lebih besar untuk diterima, terutama jika disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan membumi.
Bagi UMKM yang belum memiliki kapasitas produksi sendiri, ekosistem usaha saat ini juga membuka opsi maklon atau kerja sama pengolahan. Skema ini memungkinkan pelaku usaha memulai dari skala kecil tanpa investasi alat yang besar. Meski demikian, maklon tetap perlu disikapi secara hati-hati. Pemahaman terhadap proses produksi dan standar mutu tetap penting agar UMKM tidak kehilangan kendali atas kualitas produknya.
Tantangan agar Tidak Sekedar Ikut-ikutan
Di balik peluangnya, bisnis teh rimpang juga menyimpan tantangan. Konsistensi rasa dan kualitas menjadi pekerjaan rumah utama, mengingat bahan alami memiliki variasi yang cukup besar. Selain itu, edukasi konsumen perlu dilakukan secara bijak. Klaim manfaat kesehatan harus disampaikan secara hati-hati agar tidak menimbulkan ekspektasi berlebihan.
Pasar yang mulai ramai juga menuntut diferensiasi yang jelas. Produk yang hanya mengandalkan label “rimpang lokal” tanpa nilai tambah lain akan sulit bersaing. Di sinilah UMKM dituntut untuk berpikir sebagai pengembang produk, bukan sekadar pengolah bahan.
Baca juga: Peluang Usaha Budidaya Lebah Madu untuk Produk Herbal dan Permintaan Industri Kosmetik
Penutup: Dari Rimpang ke Nilai Tambah
Teh rimpang lokal menunjukkan bahwa peluang bisnis tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, peluang justru muncul dari cara pandang yang berbeda terhadap bahan lama. Rimpang yang selama ini identik dengan jamu dapat naik kelas ketika dibaca sebagai produk yang relevan dengan gaya hidup sehat masa kini.
Bagi UMKM, kunci keberhasilannya bukan sekadar ikut tren, tetapi memahami perubahan perilaku konsumen dan menerjemahkannya ke dalam produk yang tepat. Selama teh rimpang diperlakukan sebagai produk bernilai tambah—bukan hanya ramuan tradisional—peluang bisnisnya masih terbuka untuk dikembangkan.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Almanar Herbafit. (2025). Maklon Teh Rimpang, Peluang Bisnis Produk Kekinian. https://almanarherbafit.co.id/2025/03/04/maklon-teh-rimpang-peluang-bisnis-produk-kekinian/
- Kompasiana. (2024). Teh Rimpang: Potensi Sehat dan Peluang Emas bagi UMKM Nusantara. https://www.kompasiana.com/feii/68ef2dcf34777c665d476bd2/teh-rimpang-potensi-sehat-dan-peluang-emas-bagi-umkm-nusantara
- Media Indonesia. (2024). Teh Indo Rimpang Bikin Hidup Gen Z Makin Sehat Tanpa Perlu Ribet. https://mediaindonesia.com/kuliner/754395/teh-indo-rimpang-bikin-hidup-gen-z-makin-sehat-tanpa-perlu-ribet
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Produksi Tanaman Biofarmaka Indonesia. https://www.bps.go.id









