
Sumber Foto: shutterstock/Ricky_herawan
Batagor, singkatan dari bakso tahu goreng, dikenal sebagai jajanan yang praktis dijual dan akrab di lidah berbagai kalangan sehingga mudah diterima pasar luas dan bertahan hingga hari ini.
Di tengah ramainya bisnis kuliner berbasis tren—mulai dari minuman viral hingga jajanan musiman—batagor justru jarang masuk daftar usaha yang dianggap menjanjikan. Tidak ada lonjakan popularitas, tidak ramai di media sosial, dan nyaris tidak pernah disebut sebagai peluang besar. Namun jika ditarik ke lapangan, batagor justru termasuk salah satu usaha kecil yang paling konsisten bertahan.
Batagor hidup di ruang yang sering luput dari sorotan: depan sekolah, dekat pasar, pinggir perkantoran, hingga kawasan permukiman. Ia tidak menunggu tren datang, karena konsumennya sudah ada setiap hari. Dari sudut pandang UMKM, kondisi ini membuat batagor menarik bukan karena potensi lonjakan omset cepat, melainkan karena kestabilan permintaan dan pola usaha yang relatif bisa diprediksi.
Batagor dan Karakter Konsumen Indonesia
Salah satu kekuatan utama batagor terletak pada kedekatannya dengan selera pasar. Batagor bukan makanan musiman dan tidak terikat momen tertentu. Ia dikonsumsi lintas usia, dari pelajar hingga pekerja, sebagai camilan maupun pengganjal lapar. Karakter ini membuat permintaannya cenderung stabil, selama lokasi dan jam jualannya tepat.
Berbeda dengan produk kuliner yang mengandalkan keunikan rasa ekstrem atau visual, batagor bertumpu pada rasa yang familiar. Konsumen datang bukan untuk mencoba hal baru, tetapi untuk mendapatkan rasa yang sudah mereka kenal. Dalam konteks usaha mikro, pola ini justru menguntungkan karena mengurangi ketergantungan pada promosi besar-besaran dan biaya pemasaran tambahan.
Batagor dan Siomay: Kombinasi yang Menguatkan Usaha
Dalam praktiknya, banyak pedagang batagor juga menjual siomay sebagai produk pendamping. Kombinasi ini bukan sekadar variasi menu, melainkan strategi usaha yang rasional. Batagor dan siomay berbagi bahan baku utama yang serupa, proses produksi yang saling melengkapi, serta target konsumen yang sama. Dengan menambahkan siomay, pedagang dapat memaksimalkan penggunaan bahan dan menekan risiko sisa stok.
Dari sisi konsumen, kehadiran siomay memberi pilihan tanpa mengubah keputusan utama untuk jajan. Konsumen yang awalnya berniat membeli batagor seringkali menambah siomay, atau sebaliknya. Pola ini meningkatkan nilai transaksi per pembeli tanpa harus menarik konsumen baru.
Baca juga: 7 Persiapan Memulai Usaha Batagor yang Wajib Kamu Tahu!
Dari Sisi Bisnis, Batagor Relatif Masuk Akal
Jika dilihat dari struktur usahanya, batagor termasuk bisnis dengan kompleksitas rendah. Bahan baku mudah ditemukan di pasar lokal dan bisa disesuaikan dengan skala produksi harian. Proses pengolahan yang tidak rumit memungkinkan pelaku usaha memulai dari dapur rumah atau gerobak sederhana.
Model produksi harian juga membuat risiko bahan rusak atau tidak terjual relatif bisa dikendalikan. Pelaku usaha tidak perlu menumpuk stok dalam jumlah besar, sehingga tekanan modal di awal usaha cenderung lebih ringan. Bagi UMKM pemula, kondisi ini memberi ruang belajar yang aman untuk memahami ritme dagang, pengelolaan bahan, dan interaksi dengan konsumen.
Soal Untung: Kecil per Porsi, Kuat di Perputaran
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul dalam pembahasan usaha batagor adalah ekspektasi keuntungan besar per porsi. Pada praktiknya, margin batagor memang tidak spektakuler. Namun kekuatannya terletak pada perputaran.
Harga jual yang terjangkau membuat batagor mudah dibeli berulang. Keuntungan per porsi mungkin terlihat kecil, tetapi jika penjualan berlangsung konsisten dari siang hingga sore, akumulasi hariannya menjadi signifikan. Inilah yang membuat batagor sering disebut sebagai usaha cashflow harian—uang berputar cepat, meski tidak melonjak tajam. Bagi UMKM mikro, arus kas yang lancar sering kali lebih penting daripada margin besar yang belum tentu stabil.
Tantangan Nyata di Balik Usaha Batagor
Di balik kesederhanaannya, bisnis batagor tetap memiliki tantangan yang perlu disadari sejak awal. Salah satu yang paling terasa adalah fluktuasi harga bahan baku, terutama ikan. Perubahan harga yang terjadi tiba-tiba dapat menggerus margin jika pelaku usaha tidak disiplin mengatur porsi atau menyesuaikan harga secara bertahap.
Tantangan berikutnya adalah keterbatasan daya simpan produk. Batagor dan siomay diproduksi dalam kondisi segar, sehingga kesalahan memperkirakan jumlah produksi bisa berujung pada sisa dagangan atau kehilangan peluang penjualan. Pada fase awal usaha, banyak pelaku UMKM yang masih belajar membaca pola penjualan harian, sehingga pencatatan sederhana menjadi sangat penting.
Persaingan juga tidak bisa diabaikan. Batagor adalah jajanan yang mudah ditemukan dan terlihat “mirip” di banyak tempat. Dalam kondisi ini, konsistensi rasa, kebersihan, dan kepercayaan pelanggan sering kali lebih menentukan daripada inovasi yang terlalu jauh dari karakter produknya. Selain itu, usaha ini sangat bergantung pada lokasi dan jam jualan, serta menuntut kehadiran fisik dan konsistensi harian dari pelaku usahanya.
Baca juga: 7 Persiapan Memulai Usaha Siomay Agar Cepat Untung
Batagor sebagai Usaha Transisi bagi UMKM Pemula
Bagi banyak pelaku UMKM, batagor bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga usaha transisi untuk belajar menjalankan bisnis secara nyata. Usaha ini sering menjadi titik awal sebelum pelaku melangkah ke skala yang lebih besar atau ke jenis usaha lain. Dari batagor, pelaku usaha berhadapan langsung dengan realitas dagang harian tanpa kompleksitas yang berlebihan.
Melalui usaha batagor, pelaku UMKM terbiasa menghitung biaya bahan, mengatur porsi, dan menyesuaikan harga jual dengan daya beli lingkungan sekitar. Kesalahan yang terjadi di fase awal umumnya masih bisa dikoreksi tanpa dampak besar, sehingga proses belajar berlangsung secara alami. Tidak sedikit pelaku usaha yang menjadikan batagor sebagai “sekolah bisnis” informal sebelum mengembangkan usaha lain.
Selain itu, usaha batagor melatih konsistensi. Tidak ada lonjakan penjualan instan yang bisa diandalkan, sehingga keberhasilan sangat bergantung pada kedisiplinan membuka usaha setiap hari, menjaga rasa tetap sama, dan membangun hubungan dengan pelanggan. Dari sini, pelaku UMKM mulai memahami bahwa keberlanjutan usaha lebih ditentukan oleh kebiasaan kecil yang dijalankan terus-menerus.
Batagor Bisa Naik Kelas, Tapi Tidak Harus Tergesa-gesa
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pelaku UMKM yang mencoba membawa batagor ke level berikutnya, misalnya melalui produk batagor frozen, kemasan siap antar, atau kerja sama dengan layanan pesan antar. Langkah ini sah-sah saja, selama dilakukan bertahap dan sesuai kapasitas usaha.
Yang perlu dihindari adalah dorongan untuk langsung membesarkan usaha tanpa pondasi yang kuat. Batagor tidak harus menjadi bisnis berskala besar untuk tetap menguntungkan. Dalam banyak kasus, menjaga konsistensi rasa, lokasi, dan pelanggan setia justru lebih berdampak daripada ekspansi yang terlalu cepat.
Baca juga: Snacking Economy Menguat: Peluang Bisnis Camilan UMKM di Pasar yang Tumbuh
Penutup: Usaha Kecil yang Masuk Akal
Batagor mungkin tidak menawarkan cerita sukses instan atau lonjakan omzet yang dramatis. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia bertahan bukan karena tren, melainkan karena logika bisnis yang sederhana dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Bagi UMKM, peluang bisnis batagor sering kali lebih relevan dibandingkan usaha yang tampak menjanjikan di atas kertas. Stabil, bisa dipelajari pelan-pelan, dan memberi ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh sesuai kemampuan. Dalam iklim usaha yang penuh ketidakpastian, karakter seperti inilah yang membuat batagor tetap layak dipertimbangkan sebagai pilihan usaha mikro.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Referensi:
- TokoMesin.com (2023). Peluang Usaha Batagor dan Analisa Usahanya. https://www.tokomesin.com/peluang-usaha-batagor-dan-analisa-usahanya.html
- VIVA Tangerang (2024). Peluang dan Modal Usaha Jualan Batagor Keliling, Bisnis Kecil Untung Besar. https://tangerang.viva.co.id/bisnis/4336-peluang-dan-modal-usaha-jualan-batagor-keliling-bisnis-kecil-untung-besar









