
Photo oleh Husniati Salma di Unsplash.com
Pernahkah Sahabat Wirausaha UMKM terpikir bahwa sektor pendidikan bukan sekadar urusan sekolah dan universitas? Di balik bangku-bangku kelas dan layar laptop mahasiswa, ada perputaran ekonomi yang luar biasa besar.
Jika selama ini banyak orang mempersendikan bahwa UMKM itu hanya mencakup sektor ekonomi di bidang industri pengolahan, rumah makan, atau perdagangan, kini saatnya kita melirik sektor Jasa Pendidikan sebagai kolam peluang bisnis yang menunjukkan tren pertumbuhan positif pada lima tahun terakhir.
Bergerak ke depan, Sahabat Wirausaha jangan lagi menyempitkan peluang bisnis di sektor-sektor yang memproduksi dan menjual barang saja, tapi juga yang menjual jasa; karena jasa itu, produk juga, lho!
Berdasarkan laporan Statistik Indonesia 2025, kinerja sektor pendidikan menunjukkan resiliensi dan potensi pertumbuhan yang stabil, bahkan di tengah dinamika ekonomi pasca pandemi. Mari kita bedah datanya secara santai tapi serius, agar Sahabat Wirausaha bisa melihat di mana celah bisnis yang bisa dimasuki.
1. Ratusan Triliun Rupiah: Seberapa Besar Pasarnya?
Untuk memahami skala sebuah industri, kita harus melihat angka Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam lima tahun terakhir (2020–2024), nilai ekonomi sektor Jasa Pendidikan atas dasar harga berlaku terus menunjukkan tren kenaikan yang konsisten.
- Tahun 2020: Rp551.227,1 miliar.
- Tahun 2021: Rp557.666,7 miliar.
- Tahun 2022: Rp566.378,3 miliar.
- Tahun 2023: Rp583.384,0 miliar (angka sementara).
- Tahun 2024: mencapai Rp621.417,4 miliar (angka sangat sementara)
Angka di atas menunjukkan bahwa nilai tambah bruto yang dihasilkan dari aktivitas pendidikan di Indonesia sudah menembus angka Rp621 triliun per tahun. Bagi Sahabat Wirausaha, ini adalah indikator bahwa daya serap pasar di sektor ini sangat besar. Bayangkan kebutuhan sarana prasarana, alat tulis, seragam, katering sekolah, hingga jasa training pendukung yang dibutuhkan untuk menopang nilai ekonomi sebesar itu.
2. Tren Pertumbuhan: Sinyal Hijau bagi Investor UMKM
Melihat kontribusi terhadap total PDB nasional, Jasa Pendidikan menyumbang sekitar 2,81% pada tahun 2024. Meski persentasenya tampak kecil dibanding industri pengolahan (18,98%), laju pertumbuhannya menunjukkan akselerasi yang menarik.
Pada tahun 2021, sektor ini sempat melambat dengan pertumbuhan hanya 0,11% akibat dampak pandemi. Namun, coba lihat lompatannya:
- Tahun 2023: Tumbuh 1,77%.
- Tahun 2024: Melonjak menjadi 3,75%
Akselerasi pertumbuhan hampir dua kali lipat dalam satu tahun ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pendidikan telah kembali ke jalur ekspansi. Bagi Sahabat Wirausaha yang bergerak di bidang teknologi pendidikan (edutech), penyediaan alat peraga, atau kursus keterampilan non-formal, momentum ini adalah waktu yang tepat untuk memperluas jangkauan pasar.
Baca juga: Persiapan Membuka Bimbel, Tips Raih Cuan dari Bisnis Pendidikan
3. Ribuan Sekolah dan Kampus: Ekosistem Pelanggan yang Masif
Data pendidikan nasional mencatat jumlah institusi yang sangat masif di seluruh pelosok negeri. Ekosistem ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga merupakan target pasar B2B (Business to Business) bagi UMKM.
Mari kita lihat sebarannya di tahun ajaran 2024/2025:
- Taman Kanak-Kanak (TK): Terdapat 96.638 sekolah dengan 3,74 juta murid.
- Sekolah Dasar (SD): Mencapai 149.034 sekolah dengan beban murid sebanyak 23,99 juta anak.
- Sekolah Menengah (SMP, SMA, SMK): Terdapat puluhan ribu sekolah lainnya yang menampung belasan juta siswa.
- Pendidikan Tinggi: Di bawah Kemendikbudristek saja, ada 2.937 perguruan tinggi (negeri dan swasta) dengan total 8,46 juta mahasiswa di seluruh Indonesia.
Setiap sekolah dan kampus memerlukan pemasok. Mulai dari pemeliharaan gedung (konstruksi ringan), pengadaan alat tulis kantor (ATK), penyediaan makanan di kantin, hingga jasa keamanan dan kebersihan. Sahabat Wirausaha yang memiliki bisnis di sekitar area pendidikan memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari rantai pasok ini.
4. Tenaga Kerja dan Daya Beli Sektor Pendidikan
Sektor pendidikan juga merupakan penyerap tenaga kerja yang signifikan. Di tahun 2024, tercatat ada sekitar 249.375 dosen di bawah kementerian terkait dan jutaan guru di berbagai jenjang sekolah. Jika kita melihat data Aparatur Sipil Negara (ASN), jabatan fungsional guru dan dosen adalah salah satu kelompok terbesar dengan total lebih dari 2,1 juta orang.
Hal ini penting bagi UMKM karena kelompok tenaga pendidik ini memiliki profil daya beli yang relatif stabil. Rata-rata upah bersih sebulan untuk buruh/karyawan di kategori Jasa Pendidikan secara nasional pada tahun 2024 adalah Rp2.858.783. Angka ini bervariasi antar provinsi; misalnya, di DKI Jakarta mencapai Rp4.958.573, sementara di Jawa Timur sekitar Rp2.363.699.
Informasi upah ini bisa Sahabat Wirausaha gunakan untuk memetakan produk apa yang cocok dijual kepada para pahlawan tanpa tanda jasa ini, mulai dari produk fesyen kantor, perangkat teknologi, hingga layanan finansial sederhana.
Baca juga: Ketika UMKM Sibuk Mencari Pasar, 7 Komunitas Terdekat Ini Justru Sering Terlewatkan
5. Literasi dan Kegemaran Membaca: Celah untuk Industri Kreatif
Pemerintah juga fokus pada peningkatan literasi masyarakat. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional tahun 2024 berada di angka 73,52, yang masuk dalam kategori sedang. Di sisi lain, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional berada pada skor 72,44, dengan frekuensi membaca rata-rata 5–6 kali per minggu.
Menariknya, rata-rata durasi akses internet masyarakat untuk mencari informasi mencapai 1 hingga 2 jam per hari. Ini adalah peluang bagi UMKM di sektor kreatif untuk menciptakan konten pendidikan digital, penerbitan buku khusus (seperti buku edukasi anak atau pengembangan diri), hingga pembukaan taman bacaan atau kafe literasi yang sedang tren.
6. Peluang Strategis bagi UMKM Berdasarkan Data
Berdasarkan rangkuman data di atas, ada beberapa rekomendasi peluang yang bisa diambil oleh Sahabat Wirausaha:
- Pemasok Sarana & Prasarana: Dengan jumlah sekolah dasar mencapai lebih dari 149 ribu, kebutuhan akan furnitur kelas, alat kebersihan, dan renovasi ringan sangatlah tinggi.
- Katering dan Nutrisi: Konsumsi penduduk untuk makanan dan minuman jadi terus meningkat, termasuk di lingkungan pendidikan. Program makan siang sehat untuk anak sekolah adalah potensi pasar yang sangat masif.
- Digitalisasi Pendidikan: Durasi akses internet informasi yang cukup tinggi menunjukkan pasar yang siap untuk platform kursus *online* atau aplikasi pendukung belajar yang ramah saku.
- Penyediaan Atribut Pendidikan: Dari 3,74 juta murid TK hingga 8,46 juta mahasiswa, semuanya membutuhkan seragam, tas, sepatu, dan atribut identitas lainnya.
Baca juga: Siapa Pengusaha UMKM Indonesia? Ini Potret Data Usia, Pendidikan, dan Gender Pelakunya
Penutup: Waktunya UMKM Naik Kelas Lewat Pendidikan
Sektor Jasa Pendidikan terbukti bukan hanya soal mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi juga mesin ekonomi yang tangguh dengan nilai tambah bruto yang terus meningkat. Resiliensi pertumbuhan yang mencapai 3,75% di tahun 2024 menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah tetap memprioritaskan anggaran untuk sektor ini meskipun situasi ekonomi global menantang.
Bagi Sahabat Wirausaha, kuncinya adalah jeli melihat data sebaran sekolah dan upah tenaga pendidik di wilayah masing-masing untuk menyesuaikan strategi pemasaran. Jangan hanya menjadi penonton di tengah perputaran uang Rp621 triliun ini. Mari manfaatkan data statistik sebagai kompas bisnis Sobat agar usaha yang dijalankan lebih terukur dan tepat sasaran.
Sudah siap berkolaborasi dengan dunia pendidikan? Yuk, naik kelas bareng!
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Catatan Tambahan:
Data disarikan dari publikasi resmi Statistik Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).









