UKM Indonesia

​Kisah Inspiratif Fitria Apriyani, Jadikan Hobi Sebagai Peluang Usaha


Bagaimana jika hobi yang kita miliki ternyata bisa dijadikan peluang usaha? Tentunya itu akan sangat menyenangkan bukan? Mengerjakan sesuatu yang kita sukai lantas bisa menghasilkan uang, mungkin hal itu bisa menjadi salah satu hal yang paling menggembirakan di dunia. Nah, seperti halnya Fitria Apriyani, yang menjadikan hobi sebagai peluang usaha. Bagaimana kisahnya? Yuk, kita simak cerita selengkapnya.

Baca Juga: Pentingnya Berjejaring dengan Supplier dan Kriteria Pemilihannya


Mengembangkan Hobi Sejak Kuliah

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika Fitria ingin mengembangkan hobinya menjadi sebuah bisnis. Lantas, kisah ini pun dimulai ketika Fitria menginjakkan kaki pertama kali di bangku kuliah. Ia mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya telah menyukai kerajinan tangan sejak sekolah. Namun ia baru mulai membuat kerajinan tangan pertamanya ketika kuliah tahun 2011 dengan modal awal yaitu 200 ribu.

“Dari dulu sekolah memang suka D.I.Y , lalu mulai masuk kuliah, nah pas kuliah ini saya penasaran banget bikin sarung HP dari flanel dengan berbagai karakter, dengan modal 200 ribu beli bahan flanel, benang, lem, mulai lah membuat sarung hp karakter, dan itu juga otodidak liat di Youtube”, tuturnya.

Tidak ada hasil tanpa usaha. Begitulah yang dirasakan Fitria ketika berhasil membuat kerajinan tangan pertamanya berupa sarung HP dengan kain flanel. Dan saat ditawarkan pun, ternyata banyak teman-temannya yang menyukainya.

Baca Juga: Pentingnya Kontrak Pengadaan Bahan Baku Bagi UMKM

“Nah, saya tawarin ke temen-temen kuliah pada suka, bahkan pesanan semakin hari semakin banyak, nah mulai seneng nih, udah hobi terus dapat uang pula”, sambungnya.

Selain mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi, Fitria juga merasa senang karena dapat menghasilkan uang dari hobinya itu. Namun, ia mengaku bahwa saat itu masih belum berpikiran untuk fokus mengembangkan hobinya itu menjadi usaha, “Karena dari awal hanya hobi jadi belum ada niatan untuk dikembangin”, ungkapnya.

Memasuki dunia kerja, Fitria tetap meluangkan waktu untuk membuat kerajinan tangan berupa souvenir gantungan kunci. Ia mulai menawarkan karyanya itu kepada rekan-rekan kerjanya. Beruntungnya ia, banyak yang menyukai kerajinan tangan buatannya. Ia juga sempat mengaku bahwa saat itu ia membuat hingga ratusan souvenir yang dijahit tangan sendiri. Bukan merasa lelah, Fitria justru merasa happy saat mengerjakannya karena itu adalah hobi yang disukainya.

Baca juga: Mengenal Standar SNI untuk Produksi

“Saya sendiri yang mengerjakan dengan ratusan pcs, dan jahit tangan. Yaa karena hobi jadi ya fun aja ngerjainnya”, terangnya.

Selama berada di bangku kuliah dan kerja, Fitria masih menjadikan hobinya tersebut sebatas pengisi waktu luang hingga akhirnya setelah menikah di tahun 2015, ia pelan-pelan mulai menggeluti hobinya menjadi sebuah usaha.


Menjadikan Hobi Sebagai Pekerjaan

Dari Lampung, Fitria pindah ke Tangerang bersama suami. Ia kemudian memilih untuk menekuni hobinya sebagai pekerjaan setelah menikah. Melalui promosi di media sosial seperti Facebook dan Instagram, ia akhirnya banyak mendapat pesanan. Ia juga bercerita, awalnya ia membuat usahanya itu dengan nama KV Seller. Namun saat itu, ada pesan chat dari orang luar negeri yang menganggap nama usahanya seperti jasa pembuat website. Akhirnya di tahun 2016, ia mengubah nama usaha kerajinan tangan miliknya menjadi Dafina Craft, yang merupakan gabungan nama antara suami dan dirinya.

Selain mempromosikan produknya secara online, Fitria juga aktif mengikuti bazar yang diadakan di sekitar tempat tinggal. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan produk kerajinan tangan buatannya. Dari situ, ia mengaku merasakan hasil yang luar biasa, “Saya ikut bazar di dekat-dekat rumah yang intinya saya mau promoin produk saya. Dan impack nya alhamdulillah ya, orang-orang sekitar pada order ke saya kalau mereka butuh handmade, bahkan ada yg datang kerumah langsung (saat itu saya belum punya toko)”, ungkapnya.

Baca Juga: Cerita Inspirasi, Bhoomi Art

Tidak sampai di situ, Fitria juga mulai mencari informasi bahwa ternyata di sekitar tempat usahanya ada wadah bagi pelaku usaha yaitu UMKM. Ia kemudian mengikuti beragam pelatihan dan pembinaan. Ia mengaku bahwa kegiatan-kegiatan tersebut membuatnya berwawasan lebih luas, terutama berkaitan dengan dunia bisnis.

“Saya mulai mengenal UMKM di daerah sekitar saya, kemudian saya mulai ikut pelatihan, pembinaan, dan lain-lain. Mulai dari situ saya terbuka wawasan dan lebih mengenal lagi apa itu produk , cara mengemas produk, cara selling dan lain-lain”, pungkasnya.


Terus Belajar dan Berkembang

Setelah bergabung dengan UMKM setempat, Fitria mengaku bahwa ia kerap kali mengikuti bazar-bazar yang diadakan oleh pemerintah sekitar. Selain itu, ia juga mengikuti komunitas yang memiliki hobi sama yaitu DIY Tangerang. Dari situ ia semakin banyak belajar, dari menemukan banyak ide, pertemanan hingga akhirnya menambah jumlah pembeli.

Berkat komunitas tersebut juga, Fitria sempat diminta mengisi kegiatan terkait DIY di salah satu acara TV swasta, yaitu “Pagi-pagi Net TV”. Selain itu, ia juga pernah mengisi acara "homesweethome" yang disiarkan oleh MNC TV (tv cable) serta diikutsertakan dalam pameran HOMEdec di AEON mall. Dari mengikuti berbagai kegiatan, ia masih tetap menerima pesanan. Selain dari Instagram dan WhatsApp, ia juga kerap mendapat pesanan melalui Gojek dan Shopee.

Fitria juga sempat mengisahkan perjalanan usahanya di saat pandemi. Tepatnya di tahun 2020, ia mendapatkan bantuan dana dari pemerintah untuk pelaku UMKM. Kemudian dana tersebut ia manfaatkan untuk membeli mesin jahit untuk memproduksi masker kain sesuai standar. Ia berhasil mengumpulkan uang kembali.

Baca Juga: Kanagoods, Melangkah Dengan Produk Fashion Berkelanjutan

Setelahnya Fitria mulai berinovasi. Ia mulai berpikir untuk menambah bidang usaha. Akhirnya tercetuslah usaha sablon digital. Dan di tahun 2021, ia dan suami kembali pindah ke Lampung. Di sana mereka berhasil membuka toko usaha sendiri. Toko tersebut menjadi pusat produksi kerajinan tangan buatannya dan sablon digital miliknya.

Fitria mengaku bahwa dalam pengembangan bisnisnya, ia yang mengurus langsung bagian produksi dan keuangan. Ia menganggap jika kerajinan tangan membutuhkan skill tersendiri sehingga ia sangat selektif untuk merekrut karyawan. Sementara itu, suaminya turut membantunya dalam teknologi desain dan menyiapkan proposal hinga materi-materi promosi.


Mimpi Besar Dafina Craft

JIka berbicara hambatan, Fitria tidak begitu menganggap sebuah hambatan itu menjadi beban dalam menjalankan bisnis. Karena baginya, usaha yang ia geluti adalah hobi atau sesuatu yang memang ia sukai. Jadi sekalipun membesarkan usahanya begitu lama atau pembelinya berdasarkan musim, ia tidak merasa terbebani dengan hal tersebut.

“Hambatan ya, dibilang ada si ya ada ya, cuman kalau saya itu bangunnya ya ngalir aja gitu, nggak maksain harus besar banget gitu, dan memang usaha ku itu cuman muterin modal yang ada, jadi ya apa adanya uang aja diputer, jadi ya emang lama besarnya”, terangnya.

Baca Juga: 10 Wirausaha Inovatif yang Ramah Lingkungan

Fitria juga menambahkan, “Kalau bisa dalam bisnis jangan asal ikut tren, karena kalau hanya ikut tren dan viral, mungkin nggak bakal bertahan lama. Karena bisnis itu juga komitmen kan, komitmen pada diri. Intinya sukai apapun pekerjaanmu meskipun itu kecil, insyaallah jika sudah suka maka apapun halangannya gk akan menyerah”, sambungnya.

Namun, ia tidak pernah berhenti untuk menekuni hobi yang kini berubah menjadi usaha. Ia ingin menunjukkan bahwa perajin kerajinan tangan bisa eksis dalam dunia bisnis.

“Karena handmade itu dianggap tidak bisa masuk ranah bisnis dan tidak bisa menopang hidup. Jadi saya semakin semangat cari orderan agar saya bisa menunjukkan bahwa handmade bisa bertahan di dunia bisnis”, pungkasnya.

Setelah 7 tahun berdiri, ia memiliki banyak produk kerajinan tangan yang ia buat sendiri, mulai dari masker kain, clutch pandan, pouch, souvenirs, bucket, aksesoris, dan sablon digital. Dari yang harga 5 ribu hingga 100 ribu rupiah dan wilayah pemasarannya ada di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Kini, omset Dafina Craft sudah mencapai 2 hingga 5 juta perbulan, dari yang awalnya masih di bawah 1 juta.

Baca Juga: Pengertian Daur Ulang

Fitria berharap, bahwa usahanya bisa tetap terus bertahan dan bisa mewariskan bakat tersebut kepada anaknya, serta memberi manfaat bagi sekitar.


Kesimpulan

Fitria menjadi salah satu pelaku usaha yang berhasil mengembangkan dan mempertahankan bisnis yang berawal dari hobi. Apapun hobinya, sejatinya memiliki peluang yang sama untuk dijadikan peluang usaha. Begitu pula jika Sahabat Wirausaha memiliki hobi, maka tidak ada salahnya untuk menjadikan hobi tersebut sebagai usaha. Semoga kisah di atas memberikan informasi dan inspirasi bersama!

Narasumber : Fitria Apriyani (Founder Dafina Craft - @fitriakittydiba)

Jl. Raya Punggur, Dusun 2 Sukomulyo, RT 007 RW 003, Desa Nunggal Rejo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, lampung

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: