Halo Sahabat Wirausaha,

Perdebatan antara jajanan tradisional dan jajanan modern kerap muncul dalam diskusi pelaku UMKM. Sebagian melihat jajanan tradisional sebagai warisan rasa yang tak tergantikan, sementara jajanan modern dianggap lebih relevan dengan selera pasar hari ini. Di tengah derasnya tren kuliner yang silih berganti, UMKM sering dihadapkan pada dilema: bertahan dengan tradisi atau mengikuti arus modernisasi.

Namun persoalan sebenarnya bukan soal memilih salah satu. Yang sedang terjadi di pasar bukan sekadar pergeseran jenis jajanan, melainkan pergeseran cara konsumen menilai sebuah produk. Di titik inilah banyak UMKM mulai keliru membaca arah selera pasar.

1. Tradisional dan Modern Bukan Dua Kutub yang Benar-Benar Berseberangan

Jajanan tradisional dan jajanan modern sering diposisikan sebagai dua dunia yang saling bertolak belakang. Yang satu diasosiasikan dengan resep turun-temurun, pasar lokal, dan harga terjangkau. Yang lain identik dengan inovasi, kemasan menarik, dan narasi kekinian.

Padahal dalam praktiknya, batas antara keduanya semakin kabur. Banyak jajanan modern justru berangkat dari inspirasi resep tradisional. Sebaliknya, jajanan tradisional yang mampu bertahan biasanya bukan yang menolak perubahan, melainkan yang mampu menyesuaikan diri dengan konteks zaman.

Hal ini menunjukkan bahwa yang berubah bukan semata produknya, melainkan cara produk tersebut dikemas, diceritakan, dan diposisikan di benak konsumen.

2. Selera Pasar Tidak Hanya Ditentukan oleh Rasa

Kesalahan umum UMKM adalah menganggap selera pasar identik dengan rasa. Padahal, konsumen hari ini menilai jajanan sebagai pengalaman yang lebih utuh. Rasa memang penting, tetapi ia tidak lagi berdiri sendiri.

Ketika suatu jajanan laku, UMKM cenderung menyimpulkan bahwa rasanya cocok. Sebaliknya, ketika produk kurang diminati, yang disalahkan sering kali adalah resep atau bahan. Cara pandang ini membuat pembacaan pasar berhenti di permukaan.

Padahal, selera pasar bekerja jauh lebih kompleks. Konsumen tidak hanya memilih berdasarkan apa yang enak, tetapi juga berdasarkan situasi konsumsi, emosi, dan kemudahan. Jajanan yang sama bisa diterima atau ditolak tergantung konteks waktu, tempat, dan cara ia hadir. Ketika dimensi ini tidak diperhitungkan, UMKM berisiko salah membaca sinyal pasar dan mengambil keputusan yang keliru.

Ritme hidup yang semakin cepat, pilihan produk yang melimpah, serta paparan visual yang terus-menerus membuat konsumen lebih sensitif terhadap kemudahan, tampilan, dan konteks konsumsi. Dalam situasi ini, jajanan tradisional yang tidak hadir dalam bahasa pasar hari ini sering dianggap “tertinggal”, bukan karena rasanya kalah, tetapi karena tidak cukup komunikatif secara konteks.

Baca juga: 7 Alasan Rebusan Polo Pendem Kembali Menarik sebagai Bisnis Jajanan Tradisional UMKM

3. Jajanan Modern Unggul dalam Narasi, Bukan Selalu pada Substansi

Salah satu keunggulan jajanan modern terletak pada kemampuannya membangun cerita. Produk tidak hanya dijual sebagai makanan, tetapi sebagai pengalaman, simbol gaya hidup, atau identitas tertentu. Nama produk, visual, hingga cara penyajian dirancang untuk membangun persepsi yang relevan dengan target pasar.

Sebaliknya, banyak jajanan tradisional masih mengandalkan asumsi bahwa kualitas rasa akan berbicara dengan sendirinya. Asumsi ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi tidak lagi cukup di pasar yang semakin padat. Dalam konteks UMKM, rasa enak adalah prasyarat dasar, sementara pembeda justru lahir dari bagaimana produk tersebut dimaknai oleh konsumen.

4. Ketika Jajanan Tradisional Dipersepsikan Murah, Bukan Bernilai

Masalah lain yang kerap muncul adalah persepsi nilai. Banyak jajanan tradisional sejak awal diposisikan sebagai makanan murah dan merakyat. Posisi ini membuat ruang gerak UMKM menjadi sempit ketika ingin menaikkan harga, memperluas pasar, atau masuk ke segmen baru.

Sebaliknya, jajanan modern sering kali mampu membangun nilai melalui kemasan, cerita, dan pengalaman konsumsi. Harga kemudian dipahami sebagai konsekuensi dari nilai yang dirasakan, bukan semata dari biaya produksi. Kesalahan membaca pasar terjadi ketika UMKM menganggap persoalan ini sebagai soal harga, bukan soal bagaimana nilai dibangun dan dikomunikasikan.

Dilansir dari GoodStats.id, sejumlah survei menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap makanan tradisional cenderung lebih rendah dibandingkan makanan modern. Namun penurunan minat ini tidak selalu berkaitan dengan rasa atau kualitas bahan, melainkan dengan faktor kepraktisan, visual, dan cara penyajian produk. Temuan ini sejalan dengan berbagai ulasan yang menyebut bahwa makanan modern lebih mudah diterima karena dianggap lebih praktis, higienis, dan relevan dengan gaya hidup saat ini. Ketika data preferensi tersebut dibaca secara mentah, UMKM kerap menyimpulkan bahwa pasar meninggalkan jajanan tradisional. Padahal, yang sebenarnya ditinggalkan bukanlah tradisinya, melainkan cara produk tersebut dihadirkan dalam konteks konsumsi hari ini.

Baca juga: Pesona Ubi Jalar Madu: Jajanan Sederhana yang Menjadi Peluang Bisnis Menarik bagi UMKM

5. Ketika UMKM Salah Memaknai Tren Jajanan

Kesalahan paling umum UMKM dalam membaca tren jajanan bukan terletak pada pilihan antara tradisional atau modern, melainkan pada cara memaknai tren itu sendiri. Tren sering diperlakukan sebagai tujuan akhir yang harus segera diikuti agar tidak tertinggal.

Akibatnya, yang ditiru sering kali hanya permukaannya: jenis produk yang sedang ramai, tampilan visual, atau gaya promosi. Sementara konteks yang melahirkan tren tersebut—perubahan gaya hidup, kebutuhan praktis, atau pencarian pengalaman baru—tidak benar-benar dipahami. Di titik ini, UMKM merasa sudah mengikuti pasar, padahal yang dilakukan baru sebatas menyalin bentuk luar.

Mengikuti tren tanpa pemahaman justru berisiko. Tidak semua tren bertahan lama, dan tidak semua tren relevan dengan kapasitas usaha. UMKM yang terburu-buru beradaptasi sering kali kehilangan fokus, sementara UMKM yang terlalu defensif berisiko ditinggalkan pasar.

Kesalahan membaca tren jajanan sering berlanjut pada kesalahan pengambilan keputusan bisnis. UMKM yang merasa tertinggal biasanya bereaksi cepat dengan mengganti menu, mengubah konsep, atau meniru produk yang sedang ramai. Sayangnya, perubahan ini kerap dilakukan tanpa evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas usaha dan identitas bisnis yang sudah dibangun sebelumnya.

Akibatnya, usaha terlihat bergerak, tetapi arah sebenarnya kabur. Produk silih berganti, namun posisi di benak konsumen tidak pernah benar-benar terbentuk. Di titik ini, UMKM tidak hanya kehilangan keunikan, tetapi juga kehilangan pijakan untuk membaca apakah keputusan yang diambil benar-benar selaras dengan kebutuhan pasar atau sekadar respons panik terhadap tren sesaat.

Baca juga: 10 Peluang Bisnis Jajanan Pasar Inovatif: Rasa Klasik, Tampilan Modern


Penutup: Selera Pasar Berubah, Cara Membacanya yang Menentukan

Sahabat Wirausaha, perubahan selera pasar adalah keniscayaan. Namun yang menentukan keberlanjutan usaha bukan seberapa cepat mengikuti tren, melainkan seberapa dalam memahami arah perubahan tersebut.

Jajanan tradisional dan jajanan modern bukan musuh satu sama lain. Keduanya adalah refleksi dari cara pasar menilai nilai, cerita, dan pengalaman. Tantangan UMKM bukan memilih kubu, melainkan mengambil keputusan bisnis dengan pemahaman yang lebih matang terhadap selera pasar. Di sinilah banyak UMKM sering keliru—bukan karena produknya salah, tetapi karena cara membaca pasarnya belum jernih.

Membaca arah selera pasar berarti memahami mengapa sebuah produk diminati, bukan hanya apa yang sedang diminati. Pemahaman ini menuntut kejernihan berpikir, bukan sekadar kecepatan merespons.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!