Sumber foto: karantinaindonesia.go.id

Badan Karantina Indonesia (Barantin) saat ini sedang menegosiasikan akses pasar ekspor komoditas tumbuhan ke 13 negara, mulai dari mangga dan wasabi ke Australia, mangga-melon ke Jepang, durian segar dan jagung manis ke Tiongkok, hingga berbagai tanaman hias ke Argentina, Chile, dan Uruguay. Sahabat Wirausaha bisa memakai daftar ini untuk mengecek apakah komoditasmu punya jalur pembukaan pasar baru.

Sebelum lanjut, kenalan dulu sebentar dengan pelaku utamanya: Barantin (Badan Karantina Indonesia) adalah lembaga pemerintah yang mengurus izin keluar-masuk tumbuhan dan hewan antarnegara  beda dari Bea Cukai yang mengurus pajak dan dokumen kepabeanan. Bayangkan kamu petani atau pelaku usaha tanaman yang selama ini hanya menjual ke pasar lokal: di balik meja perundingan, Barantin sedang menentukan komoditas dan negara mana yang berpotensi jadi pasar baru dan siapa yang paling siap dari sisi kualitas dan dokumentasi, akan jadi yang paling dulu menikmatinya.

Peta 13 negara di bawah ini bukan sekadar daftar rencana pemerintah. Ia menunjukkan ke mana arah permintaan pasar global bergerak dari mangga dan durian, sampai tanaman hias  jauh sebelum akses resminya benar-benar dibuka. Buat Sahabat Wirausaha yang bergerak di komoditas ini, memahaminya lebih awal berarti bisa mulai bersiap dari sekarang, bukan menunggu sampai pintunya resmi terbuka dan persaingan sudah ramai.


Apa Itu Karantina Tumbuhan?

Sebelum masuk ke daftar negara, ada satu konsep dasar yang perlu dipahami: karantina tumbuhan adalah sistem yang dipakai setiap negara untuk mencegah hama dan penyakit tumbuhan ikut masuk lewat produk yang diperdagangkan. Karena itu, punya produk yang enak dan layak jual saja belum cukup untuk bisa ekspor produkmu juga harus lolos syarat karantina negara tujuan, yang berbeda-beda untuk setiap komoditas dan negara. Arah negosiasi akses pasar dari Barantin adalah sinyal awal yang berharga: ia menunjukkan komoditas apa yang sedang diincar pasar global, dan negara mana yang paling realistis didekati lebih dulu.

Baca Juga: Standar Ekspor Produk Pertanian dan Perkebunan, Berikut Hal-Hal Penting yang Perlu Diketahui


Peta 13 Negara yang Sedang Membuka Akses untuk Komoditas Tumbuhan

Berdasarkan paparan Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan Barantin pada Kopdar Ekspor "From Local to Global" bersama Smesco Indonesia, September 2026, berikut negara-negara yang sedang dalam proses negosiasi akses pasar beserta komoditas yang dibidik. Cara membaca tabelnya: cek dulu kolom komoditas untuk tahu apakah usahamu relevan, lalu lihat kolom catatan status untuk mengukur seberapa dekat peluang itu ke tahap bisa direalisasikan.

Negara Komoditas yang Dinegosiasikan Catatan Status
Australia Mangga, nanas, buah naga, salak, wasabi Salak & buah naga pernah punya protokol resmi sekitar 2014-2015, tapi dihentikan sejak 2017 karena temuan lalat buah  jadi ini proses membuka kembali, bukan negosiasi baru dari nol
Tiongkok Durian segar, jagung manis, lengkeng Berbeda dari durian beku, yang sudah aktif diekspor ke Tiongkok (sekitar 3.200 ton pada 2025). Yang masih dinegosiasikan di sini khusus durian segar
Jepang Mangga, melon -
Korea Selatan Mangga -
Taiwan Manggis -
Vietnam Salak -
Malaysia Alpukat, durian -
Pakistan Nanas -
Uzbekistan Nanas, manggis, mangga, kelapa muda -
India Sapu lidi, buah noni, benih melon, bucephalandra, benih kangkung Bucephalandra adalah tanaman hias air (aquascape) populer
Argentina Agave, Echeveria, Sansevieria, Haworthia Kelompok tanaman hias sukulen
Chile Aglaonema, Alocasia, Colocasia, Homalomena, Hoya, Monstera, Zamioculcas Kelompok tanaman hias daun populer
Uruguay Aglaonema, Alocasia, Colocasia, Homalomena, Hoya, Monstera, Zamioculcas Kelompok tanaman hias daun populer

Daftar ini berbeda dari komoditas yang protokolnya sudah disepakati dan aktif direalisasikan, misalnya durian beku ke Tiongkok yang sudah punya protokol resmi, atau manggis dan porang ke Tiongkok. Daftar di atas berisi komoditas yang jalurnya masih dalam tahap perundingan atau pembukaan kembali  kesempatan bagi UMKM untuk bersiap sejak sekarang, sebelum akses resmi dibuka dan persaingan makin ramai. Sebaliknya, kalau komoditasmu tidak ada di daftar ini, bukan berarti tertutup  cek langsung ke UPT Barantin terdekat atau karantinaindonesia.go.id, karena bisa jadi aksesnya malah sudah aktif berjalan.

Sebagai gambaran skala peluang: volume ekspor manggis naik dari sekitar 44 juta kilogram (2023) menjadi lebih dari 915 juta kilogram (2025), dan salak naik dari 2,3 juta kilogram menjadi 557,6 juta kilogram pada periode yang sama  tren pertumbuhan manggis yang sejalan dengan posisinya sebagai superfood premium di pasar global. 

Sebagai konteks makro: nilai ekspor hasil pertanian Semester I 2026 tercatat US$2,58 miliar (kopi jadi unggulan, US$786,2 juta)   beda periode dan sumber dengan laporan BPS Juni 2026 yang mencatat sektor pertanian turun 11,36 persen tahunan akibat pelemahan kopi dan rempah, bukan sinyal peluang hortikultura ikut turun.

Baca Juga :


Kenapa Prosesnya Tidak Bisa Instan?

Membuka akses pasar ekspor komoditas tumbuhan bukan sekadar urusan kesepakatan dagang. Ada empat tahap yang harus dilalui Barantin sebelum sebuah komoditas benar-benar boleh dikirim ke negara tujuan:

  1. Pengajuan permohonan akses pasar ke negara mitra, biasanya dari usulan petani, eksportir, pemerintah daerah, atau kementerian/lembaga terkait.

  2. Penyiapan informasi teknis komoditas, dipakai negara tujuan untuk analisis risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT)  istilah untuk hama dan penyakit tumbuhan.

  3. Negosiasi teknis dengan NPPO negara mitra  singkatan National Plant Protection Organization, otoritas karantina tumbuhan negara tujuan (semacam "Barantin versi negara lain").

  4. Bimbingan teknis pemenuhan persyaratan kepada petani, kelompok tani, dan eksportir agar siap begitu akses dibuka.

Catatan penting: keempat tahap ini adalah tugas Barantin dan negara mitra, bukan tugasmu  dan tidak perlu ditunggu selesai dulu sebelum bergerak. Bagianmu sebagai UMKM ada di Syarat Umum dan Langkah Praktis dibawah, dan bisa mulai dikerjakan dari sekarang.

Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun bervariasi tergantung hasil perundingan antar negara, dan tidak bisa dipastikan di muka. Negosiasi manggis ke Australia sempat terhenti karena kebun di Indonesia belum memenuhi persyaratan fumigasi metil bromida, dan baru terealisasi setelah protokol direvisi pada Januari 2026. Ada juga kasus sebaliknya: akses nanas ke Selandia Baru dan Amerika Serikat sudah disepakati sejak 2024 -2025, tapi realisasinya masih nol karena minimnya minat eksportir dan kendala pasokan bahan baku.

Baca Juga: 7 Syarat Ekspor Produk Tumbuhan yang Wajib Dipenuhi UMKM agar Lolos ke Luar Negeri


Langkah Praktis untuk UMKM yang Mau Ambil Peluang Ini

Kalau komoditasmu masuk dalam daftar 13 negara di atas, mulailah dari yang paling dasar. Pilih salah satu (atau keduanya) sesuai kesiapanmu:

Kalau belum siap ekspor sendiri:

  • Bergabung dengan kelompok tani, koperasi, atau eksportir/agregator yang sudah lebih dulu didampingi Barantin, ini jalur tercepat kalau kamu belum punya legalitas usaha atau belum familier dengan proses ekspor.
  • Hubungi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Barantin di daerahmu untuk konsultasi dan bimbingan teknis, meski kamu belum jadi eksportir sendiri.

Kalau ingin ajukan sendiri:

  • Pastikan legalitas dasar sudah ada  minimal Nomor Induk Berusaha (NIB), yang bisa diurus gratis lewat OSS dan tersedia juga untuk usaha perorangan/mikro.
  • Daftar dan ajukan permohonan lewat sistem resmi Barantin, yaitu IQFAST atau PPK Online, sebagai titik masuk paling awal sebelum mengurus syarat teknis lainnya. Sebagai gambaran waktu, proses penerbitan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan lewat IQFAST umumnya memakan waktu sekitar 1–3 hari kerja begitu dokumen lengkap  jauh lebih cepat dari proses negosiasi akses pasar yang bisa bertahun-tahun.
  • Cek persyaratan fitosanitari negara tujuan di karantinaindonesia.go.id, karena persyaratan bisa berubah.

Yang bisa disiapkan dari sekarang, apa pun jalur yang kamu pilih:

  • Mulai bangun dokumentasi ketertelusuran kebun secara rapi, catat asal benih, tanggal tanam, penggunaan pupuk/pestisida, dan proses panen.
  • Terapkan praktik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) sejak dini, sebagai fondasi status PFA/ALPP maupun keamanan pangan.

Peta akses pasar ini adalah undangan terbuka untuk menyiapkan diri lebih awal begitu pintu resmi terbuka, yang paling siap dari sisi kualitas dan dokumentasi yang paling cepat memanfaatkannya.

Baca Juga : Mengenal Good Agricultural Practice - Pengertian, Manfaat, dan Cara Mendapatkan Sertifikasi

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id, yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kamu lebih siap untuk naik kelas!

Daftar referensi:

  • Badan Karantina Indonesia, "Peran & Dukungan Badan Karantina Indonesia: Akselerasi Ekspor Produk Tumbuhan Indonesia," dipaparkan pada Kopdar Ekspor "From Local to Global" – Smesco Indonesia, 1 September 2026.
  • Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik Ekspor Juni 2026.                                                              https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2026/08/03/2597/ekspor-dan-impor-indonesia-juni-2026-masing-masing-tercatat-usd-25-46-miliar-dan-usd-25-91-miliar.html
  • Databoks Katadata, "Komoditas Ekspor Unggulan Hasil Pertanian Indonesia Semester I 2026.



Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.