Halo Sahabat Wirausaha,

Diskon kerap dipersepsikan sebagai jalan paling rasional untuk berhemat. Menunggu promo dianggap keputusan finansial yang cerdas, sementara membeli tanpa diskon sering diasosiasikan dengan pemborosan. Namun dalam praktiknya, diskon justru sering membawa orang pada pola belanja yang lebih impulsif dan pengeluaran yang lebih besar.

Fenomena ini bukan semata soal kurang disiplin mengatur uang. Diskon bekerja pada cara otak manusia memproses harga, rasa kehilangan, dan emosi sesaat. Karena itu, memahami diskon penting bukan hanya bagi konsumen, tetapi juga bagi UMKM yang menjadikan promo sebagai strategi penjualan.

Berikut 7 alasan kenapa diskon sering membuat orang lebih boros, bukan lebih hemat.

1. Diskon Mengubah Cara Orang Membuat Keputusan Belanja

Dalam kondisi normal, belanja dimulai dari kebutuhan. Namun saat diskon muncul, urutannya berubah. Konsumen tidak lagi bertanya apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, melainkan apakah kesempatan itu akan terlewat jika tidak segera dibeli.

Diskon menciptakan rasa takut kehilangan peluang. Melewatkan promo terasa seperti sebuah kerugian, meskipun sebenarnya tidak ada kebutuhan yang mendesak. Di titik inilah FOMO (fear of missing out) bekerja.

Bukan karena barangnya penting, tetapi karena kesempatan membeli dengan harga lebih murah dianggap tidak akan terulang. Akibatnya, keputusan belanja bergeser dari kebutuhan menjadi dorongan emosional untuk menghindari penyesalan. Diskon tidak lagi dibaca sebagai potongan harga, melainkan sebagai momen yang “sayang dilewatkan”.

2. Harga Coret Mengaburkan Penilaian Nilai Barang

Diskon hampir selalu menampilkan dua angka: harga awal dan harga setelah potongan. Harga awal ini menjadi patokan psikologis, meskipun konsumen tidak pernah berniat membeli di harga tersebut.

Ketika harga diskon muncul, barang terasa lebih murah bukan karena nilainya meningkat, melainkan karena dibandingkan dengan angka yang lebih tinggi. Fokus konsumen bergeser dari manfaat barang ke besarnya selisih harga. Di titik ini, diskon tidak membantu menilai nilai, tetapi menciptakan rasa “untung”.

Baca juga: Hukum Penipuan Diskon Barang, Bagaimana Konsekuensinya Bagi Pemilik Usaha?

3. Diskon Memberi Rasa Hemat yang Sering Keliru

Setelah membeli barang diskon, konsumen sering merasa telah melakukan keputusan finansial yang baik. Rasa puas ini menciptakan ilusi bahwa masih ada ruang dalam anggaran.

Padahal secara nyata, uang sudah keluar. Rasa “sudah hemat” ini kerap menjadi pembenaran untuk belanja tambahan. Akibatnya, diskon yang awalnya terasa menguntungkan justru membuka pintu ke pengeluaran berikutnya.

Meski diskon kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menghemat pengeluaran, pada praktiknya ia sering bekerja dengan cara yang lebih subtil. Diskon tidak selalu membuat konsumen membeli lebih murah, melainkan membuat konsumen membeli sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam rencana belanja.

Di titik inilah kesalahpahaman umum muncul. Banyak orang merasa telah berhemat hanya karena membayar lebih rendah dari harga awal, padahal penghematan sejati tidak ditentukan oleh besarnya potongan harga, melainkan oleh apakah pengeluaran tersebut memang perlu terjadi.

Untuk memahami perbedaannya dengan lebih jernih, kita bisa menurunkannya ke contoh paling sederhana dalam keseharian.


Diskon Murah ≠ Hemat

Diskon sering disalahartikan sebagai penghematan. Padahal, harga yang lebih murah tidak otomatis berarti pengeluaran lebih kecil. Kunci membedakannya ada pada satu pertanyaan sederhana: apakah barang ini memang akan dibeli jika tidak ada diskon?

Jika jawabannya tidak, maka diskon justru menciptakan pengeluaran baru—bukan menghemat pengeluaran yang sudah direncanakan.

Ilustrasi Sandal
Kamu melihat sandal seharga Rp200.000, lalu ada diskon 50 persen menjadi Rp100.000. Jika kamu membeli sandal itu hanya karena diskon, padahal sebelumnya tidak ada rencana membeli sandal, maka kamu tidak sedang menghemat Rp100.000. Yang terjadi justru kamu mengeluarkan Rp100.000 untuk barang yang tidak akan dibeli tanpa promo. Diskon menurunkan harga, tetapi menaikkan pengeluaran.

Ilustrasi Kopi
Kamu awalnya tidak berniat membeli kopi hari ini. Namun karena ada promo beli satu gratis satu, kamu akhirnya membeli dua gelas. Harga per gelas memang terasa lebih murah, tetapi secara total kamu tetap mengeluarkan uang yang sebelumnya tidak direncanakan. Diskon membuat pengeluaran terasa wajar, bukan lebih hemat.

Ilustrasi Baju
Kamu masuk ke toko tanpa rencana belanja. Melihat label diskon besar, kamu membeli baju yang sebenarnya tidak mendesak. Uang yang keluar bukan hasil penghematan, melainkan hasil keputusan impulsif yang dibenarkan oleh potongan harga.

Dari ketiga contoh ini, satu pola terlihat jelas: diskon hanya bisa disebut hemat jika ia mengurangi pengeluaran yang memang akan terjadi.

Baca juga: Tips Melakukan Pemasaran Dengan Promosi dan Diskon


4. Tekanan Waktu Mengikis Pertimbangan Rasional

Diskon hampir selalu datang dengan batas waktu. Ketika waktu terasa sempit, otak cenderung mengambil jalan pintas. Evaluasi rasional—seperti membandingkan harga, mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang, atau menghitung anggaran—sering dilewati.

Keputusan menjadi cepat, tetapi dangkal. Diskon bukan lagi sekadar potongan harga, melainkan alat untuk mempercepat transaksi sebelum konsumen sempat berpikir panjang.

5. Diskon Menyembunyikan Total Pengeluaran

Potongan harga biasanya disajikan per item, bukan sebagai gambaran total belanja. Setiap transaksi terasa ringan, meskipun dilakukan berulang. Ketika pengeluaran dipecah menjadi bagian kecil, konsumen sulit menyadari akumulasinya.

Di sinilah pola pikir YONO (you only need one) bekerja. Setiap pembelian dibenarkan sebagai keputusan kecil yang berdiri sendiri—cuma satu item, nggak banyak, sekali ini aja. Namun ketika pola ini terjadi berulang, “satu demi satu” justru menumpuk menjadi pengeluaran yang signifikan. Diskon membuat uang terasa keluar perlahan, padahal totalnya sering kali lebih besar dari yang disadari.

6. Diskon Mengubah Belanja Menjadi Aktivitas Emosional

Bagi banyak orang, berburu diskon memberi kepuasan tersendiri. Ada rasa senang karena merasa jeli dan berhasil mendapatkan nilai lebih.

Dalam kondisi ini, belanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan menjadi sumber emosi positif. Di sinilah pola pikir YOLO (you only live once) bekerja secara halus—belanja diperlakukan sebagai bentuk self-reward yang terasa wajar. Ketika diskon menjadi pemicu perasaan puas, keputusan belanja cenderung diambil lebih sering, meskipun tidak selalu dibutuhkan.

7. Diskon Membentuk Pola Konsumsi yang Tidak Seimbang

Jika konsumen terbiasa membeli saat diskon, harga normal mulai terasa tidak masuk akal. Pembelian pun ditunda hingga promo datang, lalu dilakukan sekaligus dalam jumlah lebih banyak.

Pola ini mendorong konsumsi menumpuk dan pengeluaran yang sulit dikendalikan. Diskon yang awalnya dimaksudkan untuk membantu justru menciptakan siklus belanja yang tidak sehat.


Implikasi bagi UMKM

Bagi Sahabat Wirausaha, memahami cara kerja diskon berarti bisa menggunakannya dengan lebih strategis. Diskon memang efektif menarik perhatian dan mendorong transaksi, tetapi jika menjadi tumpuan utama, ia berisiko:

  • menggeser nilai produk menjadi sekadar murah,
  • membentuk konsumen yang hanya datang saat promo,
  • dan melemahkan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

UMKM yang berkelanjutan mulai memposisikan diskon sebagai alat taktis, bukan fondasi. Nilai produk, manfaat, dan pengalaman tetap menjadi alasan utama konsumen kembali.

Baca juga: Bagaimana Menentukan Besaran Promo Diskon?


Penutup

Diskon tidak otomatis membuat orang lebih hemat. Dalam banyak kasus, ia justru memicu belanja yang tidak direncanakan dan pengeluaran yang lebih besar.

Hemat bukan soal seberapa besar potongan harga, melainkan seberapa sadar keputusan belanja diambil. Memahami hal ini membantu kita menjadi konsumen yang lebih bijak—dan pelaku usaha yang lebih cermat dalam membangun bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!