Halo, Sahabat Wirausaha!

Lebih dari separuh UMKM Indonesia digerakkan oleh perempuan, tapi riset terbaru Bank Indonesia (BI), Kementerian PPPA, dan Women's World Banking menunjukkan literasi keuangan perempuan pelaku UMKM masih tertinggal—mulai dari pemahaman produk keuangan formal hingga layanan digital—terutama di kelompok usaha kecil berbasis kebutuhan bertahan hidup sehari-hari.

Kalau kamu, Sahabat Wirausaha, masih bingung bedanya tabungan usaha dan tabungan pribadi, atau ragu ajukan pembiayaan karena nggak paham syaratnya, kamu nggak sendirian—dan riset ini menunjukkan kenapa gap literasi ini bisa jadi penghambat usahamu bertumbuh.

Selama ini, kontribusi perempuan dalam ekonomi rakyat sering hanya dilihat dari angka partisipasinya, padahal jalan menuju angka itu dipenuhi kompromi yang tidak selalu terlihat. Banyak perempuan pelaku usaha mikro memulai dari dapur rumah, kelompok arisan, atau kelompok usaha bersama, sambil tetap menjalankan peran sebagai istri, ibu, dan pengurus rumah tangga tanpa jeda.

Situasi ini makin terasa di kelompok usaha subsisten, yaitu kelompok usaha kecil yang bergerak dari kebutuhan bertahan hidup sehari-hari, bukan semata mengejar ekspansi. Kelompok inilah yang justru paling sulit tersentuh layanan keuangan formal, sekaligus paling rentan ketika beban rumah tangga membengkak. Dari situlah kajian BI, KemenPPPA, dan Women's World Banking ini bermula.

Baca Juga: Kisah Inspiratif UMKM: Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari


Perempuan Jadi Motor UMKM, tapi Literasi Keuangannya Masih Tertinggal

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sebanyak 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Di sektor ekonomi kreatif, kontribusinya bahkan lebih tinggi, dengan perempuan menyumbang 58,39 persen dari total tenaga kerja.

Indikator Persentase
Pelaku UMKM dikelola perempuan (BPS, 2025) 64,5%
Tenaga kerja perempuan di sektor ekonomi kreatif 58,39%

Sayangnya, besarnya kontribusi ini belum sejalan dengan tingkat literasi keuangannya. Riset Women's World Banking bersama Pusat Investasi Pemerintah Kementerian Keuangan pada tahun 2021 pada pelaku usaha ultra mikro sebelumnya bahkan mencatat, mayoritas pelaku usaha mengandalkan media sosial untuk berjualan, sementara pemahaman terhadap sistem pembayaran digital seperti QRIS masih jauh dari merata. Kesenjangan semacam ini yang membuat BI, KemenPPPA, dan Women's World Banking mendorong penguatan literasi keuangan sebagai salah satu prioritas program inklusi ekonomi perempuan.


Kajian "Model Bisnis Inklusif yang Responsif Gender": Apa Isinya?

Sumber foto: Foto: Dok. Bank Indonesia (BI)

Pada Jumat (21/8/2026), bertepatan dengan gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, BI bersama Women's World Banking dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) resmi meluncurkan kajian bertajuk "Menuju Model Bisnis Inklusif yang Responsif Gender: Pembelajaran dari Kelompok Subsisten di Indonesia".

Kajian ini menggali bagaimana norma gender, struktur dan kepemimpinan kelompok usaha, serta akses terhadap pelatihan dan layanan keuangan memengaruhi kualitas partisipasi dan manfaat ekonomi yang diterima pengusaha mikro, khususnya perempuan. Hasilnya diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi pemberdayaan dalam merancang program yang lebih tepat sasaran untuk perempuan pelaku UMKM dan kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi rentan.

Menteri PPPA Arifah Fauzi menilai pemberdayaan perempuan bukan hanya berkaitan dengan agenda kesetaraan, melainkan juga bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang inklusif. Menurutnya, perempuan membutuhkan akses yang lebih luas terhadap pembiayaan, pengetahuan, teknologi, pasar, hingga ruang pengambilan keputusan dalam usahanya.


Norma Gender: Ketika Waktu dan Ruang Perempuan Ikut Dibatasi

Salah satu temuan penting kajian ini adalah bahwa norma gender ikut memengaruhi ruang dan waktu yang dimiliki perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok usaha sekaligus mengembangkan bisnisnya sendiri. Fenomena ini sering disebut sebagai beban ganda, yaitu kondisi ketika perempuan tetap menanggung penuh pekerjaan domestik sambil juga dituntut produktif secara ekonomi. Artinya, bukan cuma soal keterampilan atau modal, tapi juga soal siapa yang "diizinkan" oleh norma sosial untuk punya waktu ekstra di luar urusan rumah tangga.

Kajian tersebut juga menemukan bahwa keberhasilan program pendampingan usaha sangat dipengaruhi oleh dukungan ekosistem di sekitar perempuan, baik dari keluarga maupun lingkungan tempat tinggal. Ketika suami, orang tua, atau komunitas ikut mendukung, perempuan punya ruang lebih besar untuk hadir dalam pelatihan, mengakses layanan keuangan, dan mengambil keputusan strategis untuk usahanya. Sebaliknya, tanpa dukungan itu, sebaik apa pun programnya, hasilnya cenderung timpang.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menekankan bahwa penguatan literasi dan inklusi keuangan bagi perempuan dan kelompok rentan membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Ia mengaitkan hal ini dengan semangat "Beudaya MeusareSare" atau berdaya bersama-sama yang diusung dalam KKI 2026.

Baca Juga: Kisah Inspiratif UMKM: Madam Moore, Brand Snack Premium di Baliknya Ada Remaja Putus Sekolah yang Kini Berdaya


Kenapa Kelompok Usaha Subsisten Rentan Buta Literasi Keuangan?

Kelompok usaha subsisten sengaja dijadikan fokus kajian karena segmen ini paling rentan terpinggirkan dari layanan keuangan formal. Mereka biasanya beroperasi dalam skala sangat kecil, mengandalkan modal seadanya, dan sering kali tidak tercatat dalam data ekonomi formal—padahal jumlahnya besar dan mayoritas anggotanya perempuan.

Bagi kelompok ini, memahami produk tabungan formal, skema kredit usaha rakyat, hingga cara kerja pembayaran digital masih menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini makin berat karena banyak anggotanya juga memikul beban ganda—mengurus rumah tangga sekaligus menjalankan usaha—sehingga waktu untuk belajar hal baru soal keuangan formal jadi makin terbatas. Minimnya paparan terhadap literasi keuangan membuat banyak dari mereka tetap bertransaksi secara tunai dan informal, meski peluang untuk naik kelas sebenarnya terbuka. Kondisi inilah yang membuat BI, KemenPPPA, dan Women's World Banking mendorong model bisnis yang tidak hanya inklusif secara finansial, tapi juga membekali kelompok subsisten dengan literasi keuangan yang lebih memadai.


Apa yang Bisa Kamu Lakukan sebagai Pelaku UMKM Perempuan?

Riset ini bukan sekadar data di atas kertas. Ada beberapa langkah yang bisa mulai kamu pertimbangkan:

  • Manfaatkan kelompok usaha bersama di sekitar tempat tinggalmu sebagai pintu masuk ke pelatihan dan informasi keuangan formal, bukan cuma arisan modal.

  • Ajak keluarga bicara soal pembagian peran, karena dukungan ekosistem rumah tangga terbukti memengaruhi seberapa jauh usahamu bisa berkembang.

  • Cari tahu program inklusi keuangan dari BI, kementerian terkait, atau lembaga keuangan yang punya skema khusus untuk perempuan pelaku usaha mikro.

  • Catat dan kelola keuanganmu secara terpisah dari keuangan rumah tangga, sekecil apa pun skala usahamu, agar lebih mudah mengakses pembiayaan formal ke depannya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif UMKM: Tini, Fasilitator Sekolah Perempuan yang Berdayakan Diri serta Komunitasnya Lewat Bisnis Serundeng Kelapa

Ilmu dan informasi yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Yuk, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.

Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.

Daftar Referensi: 

  • Bank Indonesia, Kementerian PPPA dan Women’s World Banking Dorong Ekonomi dan Keuangan Inklusif Perempuan. 2026. https://swa.co.id/read/476533/bank-indonesia-kementerian-pppa-dan-womens-world-banking-dorong-ekonomi-dan-keuangan-inklusif-perempuan 
  • Riset BI dan KemenPPPA: Beban Ganda Masih Hambat Usaha Perempuan. 2026. https://www.parapuan.co/read/534407298/riset-bi-dan-kemenpppa-beban-ganda-masih-hambat-usaha-perempuan
  • BI dorong perempuan jadi kunci perkuat ekonomi kelompok subsisten. 2026. https://m.antaranews.com/amp/berita/5709665/bi-dorong-perempuan-jadi-kunci-perkuat-ekonomi-kelompok-subsisten
  • Riset Bank: Beban Domestik Batasi Perempuan Mengembangkan Usaha dan Mengakses Keuangan. https://money.kompas.com/read/2026/08/24/125858526/riset-bank-beban-domestik-batasi-perempuan-mengembangkan-usaha-dan-mengakses.
  • Sumber foto thumbnail artikel: Estefania Rainie di Unsplash.com 
Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.