Halo Sahabat Wirausaha,

Setiap menjelang bulan Ramadhan, permintaan terhadap produk ibadah hampir selalu mengalami peningkatan. Salah satu yang paling konsisten adalah mukenah. Produk ini bukan barang baru, tidak mengikuti tren musiman yang cepat berubah, dan nyaris tidak pernah benar-benar hilang dari pasar. Namun justru karena terlihat “aman”, peluang bisnis mukenah kerap dipahami secara dangkal—sekadar jualan musiman yang ramai dalam waktu singkat.

Padahal, jika dibaca lebih jernih, peluang bisnis mukenah di bulan Ramadhan tidak hanya bertumpu pada lonjakan permintaan, melainkan pada pola konsumsi bernilai yang berulang setiap tahun. Inilah yang membuat bisnis mukenah tetap relevan, bahkan ketika persaingan semakin padat.

1. Ramadhan adalah Momen Konsumsi Bernilai, Bukan Sekadar Musiman

Perilaku belanja di bulan Ramadhan berbeda dibandingkan bulan-bulan lainnya. Konsumen tidak hanya membeli berdasarkan kebutuhan fungsional, tetapi juga mempertimbangkan niat, makna, dan rasa pantas terhadap produk yang digunakan untuk beribadah.

Dalam konteks ini, mukenah tidak diposisikan sekedar sebagai perlengkapan shalat, melainkan sebagai bagian dari kesiapan spiritual. Keputusan membeli mukenah sering kali lahir dari pertimbangan yang lebih reflektif, bukan impulsif. Faktor inilah yang membuat permintaannya relatif stabil setiap Ramadhan.

Dalam konteks Ramadhan, keputusan membeli seringkali melibatkan pertimbangan batin yang lebih panjang. Konsumen tidak hanya bertanya apakah produk tersebut berguna, tetapi juga apakah produk itu pantas digunakan dalam momen ibadah. Pertimbangan ini membuat standar penilaian menjadi lebih tinggi dibandingkan bulan biasa. Produk yang terasa “asal” atau tidak selaras dengan suasana Ramadhan cenderung dieliminasi lebih cepat, meskipun harganya lebih murah.

Bagi UMKM, situasi ini menandakan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum peningkatan volume, melainkan fase di mana konsumen lebih selektif dalam memberi makna pada setiap pembelian.

2. Mukenah adalah Kebutuhan Berulang, Bukan Produk Sekali Pakai

Berbeda dengan produk musiman lain yang sangat bergantung pada tren, mukenah memiliki siklus kebutuhan yang lebih stabil. Setiap tahun selalu ada alasan untuk membeli mukenah baru: mengganti yang lama, menambah cadangan, atau menyesuaikan dengan kebutuhan baru, seperti bepergian atau aktivitas di luar rumah.

Sifat kebutuhan yang berulang ini membuat bisnis mukenah tidak sepenuhnya bergantung pada inovasi ekstrem. Yang dibutuhkan justru konsistensi kualitas serta pemahaman terhadap konteks penggunaan konsumen dari waktu ke waktu.

Baca juga: 12 Ide Jualan Dessert Khas Ramadhan, Bisa Kamu Mulai dengan Budget Minimal!

3. Tradisi Memberi Menguatkan Permintaan Mukenah Saat Ramadhan

Selain kebutuhan pribadi, mukenah juga lekat dengan budaya memberi. Ramadhan menjadi momen berbagi dalam lingkup keluarga maupun sosial. Mukenah kerap dipilih sebagai hadiah karena memiliki nilai simbolik yang kuat dan relevan dengan suasana ibadah.

Pola ini membuat permintaan mukenah tidak datang dari satu jenis konsumen saja. Ada pembeli yang mencari untuk dipakai sendiri, ada pula yang membeli sebagai bentuk perhatian dan kepedulian. Keragaman motif inilah yang membuat pasar mukenah tetap hidup dan berlapis.

4. Pergeseran Selera: Nyaman, Layak, dan Personal

Meski produknya sama, cara konsumen menilai mukenah mengalami perubahan. Konsumen kini lebih memperhatikan kenyamanan bahan, kepraktisan penggunaan, serta kesan personal yang ditawarkan. Mukenah tidak lagi dipilih semata karena fungsi, tetapi karena rasa layak digunakan dalam momen yang dianggap sakral.

Pergeseran ini membuka ruang bagi variasi produk tanpa harus meninggalkan esensi mukenah itu sendiri. Di titik ini, peluang bisnis tidak terletak pada seberapa ramai desain yang ditawarkan, melainkan pada seberapa dalam UMKM memahami pengalaman ibadah konsumennya.

Baca juga: Fenomena Omzet Penjualan UMKM Di Bulan Ramadhan: Tembus Hingga Rp 1 Miliar, Tapi Ada Juga yang Turun Hingga 40 Persen


Arah Tren Mukenah 2025–2026: Dari Praktis ke Lebih Bermakna

Memasuki 2025 hingga menuju 2026, tren mukenah menunjukkan pergeseran yang semakin jelas. Pasar tidak lagi hanya mencari produk yang praktis dan mudah dibawa, tetapi mulai menempatkan makna, kenyamanan, dan rasa pantas sebagai pertimbangan utama. Mukenah tidak lagi dipilih semata karena fungsinya, melainkan karena bagaimana ia menemani pengalaman ibadah.

Pada fase awal, mukenah travel dan lightweight hadir sebagai jawaban atas mobilitas tinggi masyarakat. Namun seiring waktu, konsumen menjadi lebih kritis. Ringkas saja tidak cukup jika kenyamanan dikorbankan. Mukenah tetap diharapkan ringan, tetapi juga nyaman dipakai dalam durasi ibadah yang panjang, terutama selama bulan Ramadhan.

Di sisi lain, mukenah premium bergerak ke arah yang lebih tenang. Kemewahan tidak lagi diartikan sebagai ornamen berlebihan, melainkan pada kualitas bahan, jatuh kain, dan detail yang rapi. Warna-warna netral dan desain minimalis justru dipandang lebih relevan karena tidak mengganggu fokus ibadah.

Menuju 2026, arah pasar semakin tegas: konsumen tidak mencari mukenah yang paling ramai atau paling murah, tetapi mukenah yang terasa layak dibawa ke momen sakral. Praktis tetap penting, namun makna menjadi penentu akhir.

Pergeseran tren ini penting dibaca secara strategis, bukan kosmetik. Ketika konsumen mulai menilai mukenah dari rasa nyaman, pantas, dan bermakna, maka kompetisi tidak lagi terjadi pada motif atau warna semata, tetapi pada kualitas pengalaman yang ditawarkan. UMKM yang hanya menyesuaikan tampilan tanpa memperbaiki kualitas dasar berisiko tertinggal, meskipun produknya terlihat mengikuti tren.

Di titik ini, tren berfungsi sebagai sinyal arah, bukan instruksi instan. Membaca tren dengan jernih berarti memahami apa yang berubah dalam cara konsumen menilai nilai, bukan sekadar meniru apa yang tampak laku di etalase.

5. Kesalahan UMKM Membaca Ramadhan sebagai Lonjakan, Bukan Pola

Salah satu kesalahan umum UMKM adalah membaca Ramadhan hanya sebagai lonjakan permintaan jangka pendek. Akibatnya, persiapan bisnis dilakukan secara terburu-buru: masuk pasar terlalu mepet, fokus pada volume, dan mengabaikan nilai produk.

Cara pandang ini membuat peluang bisnis mukenah diperlakukan sebagai kesempatan sesaat, bukan bagian dari strategi usaha yang berulang setiap tahun. Padahal, konsumen di bulan Ramadhan justru cenderung lebih selektif dan sensitif terhadap kualitas serta makna produk.

Baca juga: Mengapa Brand Rela Ganti Logo Saat Ramadhan? Ini Penjelasannya!

6. Peluang UMKM Terletak pada Nilai, Bukan Sekadar Skala

Bisnis mukenah tidak selalu menuntut skala besar. Justru UMKM memiliki keunggulan dalam menghadirkan nilai yang lebih dekat dengan konsumen—mulai dari perhatian pada detail, cerita di balik produk, hingga kedekatan emosional yang sulit ditiru oleh pemain besar.

Dengan memahami mukenah sebagai produk ibadah bernilai, UMKM dapat membangun pasar yang tidak hanya aktif di bulan Ramadhan, tetapi juga berlanjut di luar musim puncak. Di titik ini, peluang bisnis mukenah tidak berhenti pada momen, melainkan tumbuh sebagai bagian dari identitas usaha.


Penutup: Membaca Ramadhan dengan Cara yang Lebih Jernih

Sahabat Wirausaha, peluang bisnis mukenah di bulan Ramadhan tidak lahir semata karena meningkatnya permintaan, melainkan karena kuatnya makna yang melekat pada produk tersebut. Ramadhan menghadirkan konsumen yang lebih reflektif, bukan sekadar impulsif.

UMKM yang mampu membaca momen ini dengan jernih—bukan sebagai ajang mengejar volume, tetapi sebagai kesempatan menghadirkan nilai—memiliki peluang untuk membangun usaha yang lebih berkelanjutan. Pada akhirnya, bukan siapa yang paling cepat masuk pasar yang akan bertahan, melainkan siapa yang paling tepat memahami mengapa konsumen membeli.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!