UKM Indonesia

Syabila Snack

Penulis : Ainnur Rohmah
Editor : Sonia Fatmarani
21 September 2022
Lama Baca : 5 menit

Berkunjung ke Kota Pontianak tentu tak akan lengkap tanpa membeli oleh-oleh khasnya. Terlebih lagi, daerah yang dijuluki Kota Khatulistiwa ini memang terkenal dengan kuliner dan cemilan unik yang cukup sulit ditemukan di daerah lain. Peluang di pasar oleh-oleh makanan inilah yang membuat Widya, seorang ibu rumah tangga berumur 35 tahun, memutuskan untuk membuka bisnis oleh-oleh khas Pontianak berupa cemilan/makanan ringan yang dinamakan Syabila Snack.

Baca Juga: Jenis-jenis Promosi Paling Pas Untuk Bisnis Kuliner

Berdiri sejak tahun 2017, bisnis ini konsisten meningkatkan penjualan dan varian produknya. Snack yang dijual sangat bervariasi, meliputi stik keju, lempok durian, keripik sukun, amplang ikan, stik keladi, keripik talas, dan masih banyak lagi. Dari semua varian tersebut, yang paling terkenal adalah lempok durian dan memiliki bentuk unik seperti permen dan batangan. Bahkan di masa pandemi, bisnis ini tetap eksis dan bertahan. Nah, apa sih rahasia Widya agar bisnis kecilnya tetap bertahan dan menghasilkan penjualan yang konsisten meskipun di masa pandemi? Bagaimana Widya membangun bisnisnya dari nol? Yuk, simak kisah inspiratifnya di bawah ini!


Diawali dengan Hobi dan Modal Yang Minim

Sahabat Wirausaha, pernahkah merasa ragu untuk memulai bisnis hanya karena kekurangan modal? Jika iya, Sahabat perlu mendengar kisah Widya yang berhasil mendirikan dan membesarkan bisnisnya hanya dengan modal 200 ribu rupiah dan hanya memakai peralatan masak sederhana di rumah!

Baca Juga: Hj Nonoh Snack: Melinjo, Si Cemilan Lokal yang Go International

“Latar belakangnya karena pertama saya suka jualan, kedua karena usaha produksi snack atau kue margin untungnya lebih besar dengan harga jual pasaran dibanding beli produk umum lainnya,” jelas Widya.

Widya mengakui bahwa memulai bisnis dari awal sangat sulit. Perlu ketekunan dan kreativitas agar orang percaya untuk membeli barang dagangannya. Selain itu, masih banyak trial error demi menemukan produk yang cocok untuk dijual di pasaran. Terlebih lagi, jika nama brand masih belum dikenal banyak orang. Namun, Widya bisa mengakalinya dengan menjual ke penjual lain dengan harga terjangkau sebagai penjajakan pertama. Setelah mulai dikenal banyak pelanggan, barulah Widya menginvestasikan keuntungannya dan pelan-pelan mulai berani meningkatkan marginnya.

Baca Juga: Osha Snack : Raup Cuan Dari Kudapan Favorit Keluarga


Tips Memilih Varian Produk

Widya bercerita bahwa untuk berbisnis di awal tidak perlu memaksakan diri harus memiliki varian produk yang banyak. Di masa ini, hal terpenting adalah kualitas produk dan fokus dengan satu produk. Nanti jika sudah memiliki profit yang sudah cukup besar, Sahabat Wirausaha bisa pelan-pelan menambah varian produk.

Dalam memilih produk jualan, Widya memberikan saran kepada Sahabat Wirausaha untuk melakukan banyak pertimbangan dan riset terlebih dahulu. “Kalau kita jualan ternyata mesti cari produk yang banyak peminatnya tapi saingannya tidak banyak. Kita tinggal promosi dan menjaga kualitas rasa. Untuk produk lempok durian dan keripik sukun tidak terlalu banyak pesaingnya,” kata Widya.

Tips selanjutnya adalah pilihlah produk yang cukup sulit diproduksi sendiri oleh masyarakat di rumah, sehingga cenderung lebih tertarik membeli di tempat Sahabat Wirausaha.

Baca Juga: Tips Melakukan Riset Pasar Bagi UMKM

“Dari semua varian yang saya jual, Lempok durian yang paling laris, karena orang-orang tidak bisa produksi sendiri. Kayak dodol umumnya produksinya lama,” jelas Widya lebih lanjut.

Strategi Bisnis Makanan Ringan ala Widya

Berkecimpung di bisnis makanan ringan memang susah susah gampang karena memiliki banyak kompetitor. Sahabat Wirausaha tidak perlu khawatir karena menurut Widya, rezeki setiap orang tidak akan tertukar. Hal yang terpenting adalah menjaga cita rasa dan kualitas produk yang dijual agar tetap laris manis.

Widya menambahkan bahwa jika belum memiliki cukup modal untuk mendirikan toko fisik, Sahabat Wirausaha bisa berjualan via online. Hal inilah yang dilakukan Widya dalam memasarkan produk-produk dari Syabila Snack. “Dijual secara online dan pengantaran via ojek online. Kita sistem yang sekali produksi langsung habis dijual online karena menjaga produk selalu fresh. Tidak ada toko fisik,” ujar Widya.

Baca Juga: Menentukan Unique Selling Proposition

Dalam proses pemasarannya, Syabila Snack memaksimalkan penjualan secara online, dibantu dengan adanya tim promosi yang menyebarkan iklan dan informasi produk ke berbagai media sosial seperti TikTok, Facebook, Whatsapp, dan Marketplace Shopee. Beda media sosial, beda pula cara memasarkannya. Bagi Widya, seorang pebisnis harus menjemput bola (pembeli) dengan cara menawarkan ke orang-orang via inbox dan jangan lupa untuk konsisten dalam beriklan. Salah satu strategi Syabila Snack untuk meningkatkan penjualan secara online adalah melakukan paid promotion dengan beberapa influencer yang memiliki pengikut banyak di media sosial.

Meskipun dijual secara online dan tidak memiliki toko fisik, namun Syabila Snack menyediakan kurir pribadi sendiri sehingga pembeli yang tinggal di sekitar Pontianak bisa mendapatkan harga ongkir yang jauh lebih murah dibandingkan di marketplace atau di platform ojek online. Hal inilah yang membuat pembeli tertarik dan tidak merasa sungkan untuk membeli dari rumah.

Baca Juga: Mengenal Ragam Standar Global Kemasan dan Label

Sebelum beriklan, Widya memberikan tips kepada Sahabat Wirausaha untuk mempercantik toko online-nya terlebih dahulu sebelum dikunjungi oleh pembeli. “Ketika toko online-nya belum bagus, akan sulit meyakinkan orang lain dengan produk kita. Jika sudah mendapatkan pelanggan, cara yg paling efektif adalah menjaga pelanggan karena mereka sudah merasakan produk kita langsung. Lama-kelamaan pelanggan akan banyak, dari situ kita bisa dapat penjualan lebih banyak dan bisa pelan-pelan mengembangkan usaha kita dari profit yang lebih banyak. Selanjutnya bisa rekrut karyawan lebih banyak lagi,” jelas Widya.

Selain itu, Widya dan tim juga tetap meningkatkan kualitas produk agar pembeli yang sudah mengkonsumsi produk bisa repeat order atau ketagihan membeli kembali, apalagi jika produknya memiliki cita rasa yang unik. Syabila Snack memang sengaja tidak menyimpan stok produk terlalu banyak, demi menjaga produk tetap segar. Berbeda dengan kompetitor lain yang menyimpan produk lebih dari 1 bulan sehingga berpengaruh pada kualitas produk.

Baca Juga: Pengendalian Produksi

Dalam berbisnis, Widya menerangkan bahwa sangat penting untuk memahami siapa target market kita. “Karena target market saya ibu-ibu usia 25 tahun ke atas, jadi saya di awal dulu jualan via Facebook. Untuk produk sejenis yang kami jual termasuk umum dicari kebanyakan orang sehingga ketika promosi bisa langsung dapat pembeli.”

Terakhir, Widya memberikan pesan kepada para pebisnis UMKM pemula agar tidak cepat pantang menyerah. “Bangun usaha itu semua proses dan langkahnya sama jika memulainya dari nol, perlu di optimasi dulu beberapa waktu lamanya baru akan mendapatkan hasil terus menerus yang lebih besar. Jika memulai suatu usaha, ketika hasilnya belum maksimal jangan berhenti dulu, tapi mesti terus di-push baik promosinya, perbaiki foto atau tampilan produk dan lebih banyak memperkenalkan produk kita ke lebih banyak orang,” jelas Widya panjang lebar.

Baca Juga: Pentingnya Kontrak Pengadaan Bahan Baku Bagi UMKM

Nah, itu tadi sepotong Cerita Inspirasi dari pemilik bisnis makanan ringan dari Pontianak. Semoga memberikan semangat dan motivasi kepada Sahabat Wirausaha yang sedang proses merintis bisnisnya dari dasar, ya! Jangan lupa untuk membaca artikel lainnya untuk menambah wawasan di bidang bisnis. Semoga bermanfaat!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Sumber artikel:

  1. Wawancara langsung dengan pemilik Syabila Snack, Ibu Widya
  2. Instagram Syabila Snack
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: