A picture containing text, tableDescription automatically generated

Indonesia telah terkenal sebagai negara dengan kekayaan akan sumber daya alamnya. Setiap daerah pun memiliki sumber daya alam dan potensi yang berbeda-beda. Namun, seringnya potensi tersebut belum digali secara maksimal. Singkong merupakan salah satu komoditas yang potensinya belum digali secara maksimal sehingga singkong tidak memiliki nilai jual lebih.

Namun di tangan Lienna, seorang ibu dari 2 anak yang bertempat tinggal di Yogyakarta, singkong diolah menjadi makanan yang kekinian yaitu cake berbahan baku singkong dengan berbagai varian rasa. Kali ini kita akan membahas lebih jauh mengenai proses jatuh dan bangunnya mengembangkan bisnis ini, serta proses menerapkan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dari bahan baku yang jarang dilirik oleh orang lain.

Baca juga: Tren dalam Instagram yang Penting Bagi Digital Marketing


Profil Sriminil Cake Singkong

Sriminil adalah sebuah bisnis yang bergerak di bidang kuliner yang berfokus pada produk bakery. Produk yang ditawarkan pun beragam mulai dari cake dengan varian rasa coklat, pandan, keju, aren, dan almond. Namun, yang membuatnya unik adalah cake tersebut bukan berbahan baku tepung terigu namun mocaf (modified cassava flour). Mocaf adalah tepung yang terbuat dari singkong yang melalui proses modifikasi. Mocaf dan tepung tapioka memiliki perbedaan walaupun menggunakan bahan baku yang sama yaitu singkong. Perbedaannya terletak pada proses pengolahannya.

Cake dari Sriminil berbeda dari cake pada umumnya, sebab ia tidak menggunakan tepung terigu mamun menggunakan 100% mocaf. Hal tersebut menjadikan produk Sriminil bebas gluten sehingga ramah terhadap konsumen yang memiliki alergi terhadap gluten. Produk Sriminil pun lebih sehat karena tidak menggunakan pengawet dan rendah kalori. Produknya pun telah mendapatkan sertifikasi PIRT dan Halal untuk menjamin kualitas, higienitas dan kehalalannya.

Berbagai pencapaian telah Sriminil dapatkan, yaitu Pemenang 5 besar UMKM Berjaya yang diadakan oleh PT Bentoel Group dan Ngalup.co, 100 Peserta Terbaik WeLearn 2020, Pemenang kedua Program Pebisnis Online Perempuan Maju Digital Batch 3, Mengikuti Bazar Hari Pangan Sedunia 2020, Mengikuti event Fiesta Singkong 2021 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Singkong Indonesia, dan Dirjen Tanaman Pangan Kementan dan Propaktani 30 September 2021.

Baca Juga: 10 Tips Membuat Foto Konten yang Menarik untuk Produk Makanan


Sejarah Sriminil Cake Singkong

Sriminil didirikan oleh Lienna, seorang ibu dari 2 anak dan saat ini tinggal di Sleman, Yogyakarta. Lienna membuka usaha ini sejak tahun 2016 yang pada awalnya hanya sekedar coba-coba saja dan dipasarkan secara terbatas ke teman-temannya. Namun, ia mendapatkan respon baik, produknya diminati oleh banyak orang karena penasaran rasa dari cake berbahan baku tepung singkong mocaf ini.

Nama brand Sriminil diambil dari nama julukan anaknya yang kerap dipanggil oleh teman dan keluarganya sebab anak Lienna saat balita memiliki tubuh yang kecil dan aktif. Nama itu ia pilih karena rasa cintanya dengan anaknya.

Lienna mengaku bahwa membangun bisnis bukanlah hal yang mudah, terlebih posisinya sebagai wanita karir dan memiliki dua anak yang menjadikan ia harus membagi fokus dan waktunya dengan baik. Hal tersebut berdampak Sriminil tidak mengalami perkembangan atau sempat jalan di tempat. Ia pun berusaha untuk membagi fokusnya dengan memisahkan kegiatan bisnis, pekerjaan, dan rumah tangga dengan baik.

Baca Juga: Mengenal Ragam Platform Untuk Membuat Website Toko Online Milik Sendiri

Pada tahun 2020, Sriminil pun terdampak pandemi Covid-19. Lienna mengaku bahwa ia lebih fokus mengembangkan pemasaran digital sejak adanya pandemi. Berkat strategi dan kegigihannya tersebut Sriminil justru mengalami peningkatan permintaan dan banyak mendapatkan pelanggan baru berkat mengadopsi pemasaran digital. Ia menggunakan platform sosial media, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan WhatsApp. Namun, ia berfokus mengembangkan strategi pemasaran di Instagram dan WhatsApp.

“Pemasaran digital yang sukses adalah proses dimana pesan dan tujuan yang ingin disampaikan terpenuhi dengan meningkatnya respon cutomer dan penjualan” Ujar Lienna. Instagram Sriminil Cake Singkong pun ia jadikan sebagai platform edukasi mengenai pentingnya kesehatan melalui makanan Gluten free, manfaat singkong, serta cake dari singkong lebih lezat dan sehat dari yang berbahan tepung terigu.

Lienna mengaku hingga saat ini ia hanya melayani pesanan secara pre-order dikarenakan ia ingin memberikan produk dengan kondisi fresh dan selain itu produknya pun hanya bertahan selama 3-4 di suhu ruangan karena tidak menggunakan pengawet.

Terdapat berbagai kendala yang kerap ia rasakan selama mengembangkan bisnis ini. Diantaranya terletak pada kualitas bahan bakunya. Lienna kesulitan untuk mencari singkong dengan kualitas serupa yang telah menjadi standar kualitasnya, sebab di petani dan di pasar terdapat begitu banyak jenis singkong dan beberapa jenis tersebut tidak dapat diolah menjadi cake. Selain itu, kendala lain adalah terbatasnya alat produksi. Lienna menjelaskan “Keterbatasan alat produksi sehingga ketika banyak orderan dan waktunya tidak memungkinkan, maka terpaksa kami menolak dan menawarkan opsi di lain hari jika customer berkenan.”

Baca Juga: Tips Sukses Membangun Strategi Pemasaran Secara Offline dan Tetap Relevan ala Rendang Mizaki

Lienna juga kerap mengikuti kurasi produk dan kerap mendapatkan respon yang kurang baik dari para kurator yang menanyakan apakah ada yang ingin membeli produknya yang berbahan baku singkong. Namun, Lienna pun tidak berkecil hati dengan komentar tersebut dan menjadikannya sebagai evaluasi bagi produknya. Ia pun disarankan untuk mengembangkan produk kue kering berbahan baku mocaf ini agar memiliki jangka waktu simpan yang lebih lama. Oleh karena itu, saat ini ia juga mulai berinovasi pada kue kering.


Membangun Kearifan dan Potensi Lokal Melalui Singkong

Lienna mengaku bahwa penggunaan singkong sebagai bahan baku cake yang ia jual berasal dari keresahan pribadinya yang melihat singkong berlimpah namun potensinya belum dikelola secara maksimal. “Singkong mudah didapat dan merupakan sumber pangan lokal yang belum diberdayakan secara maksimal. Dengan melihat banyaknya cake yang berbahan baku tepung, rasanya kok sayang ya, padahal negeri kita kaya akan singkong. Singkong juga merupakan bahan baku yang murah” Ujar Lienna. “Singkong juga bisa naik kelas menjadi sajian kekinian yang bisa dinikmati semua kalangan” Lanjutnya.

Ia mengolah singkong dengan terlebih dahulu membuatnya menjadi mocaf. Setelah menjadi mocaf, akan lebih mudah jika di kreasikan menjadi cake beragam rasa. Lienna mengatakan bahwa mocaf lebih sehat daripada tepung terigu dikarenakan bebas gluten. Hal tersebut menjadikan produknya memiliki nilai tambah dan nilai proposisi sebagai cake sehat dan ramah bagi orang yang memiliki alergi gluten.

Baca Juga: Raja Uduk, Menjadi Pemenang Pasar Nasi Uduk Bermodal Observasi Riset Pasar

Lienna pun aktif dalam berbagai organisasi, salah satunya adalah Komunitas Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) yang terdiri dari para petani, pengusaha, dan akademis yang aktif melakukan inovasi pengembangan singkong. Ia juga pernah mengikuti Fiesta Singkong yang merupakan kerjasama antara MSI, PROPAKTANI, Kementerian Pertanian Dirjen Tanaman Pangan di tahun 2021.

Ia berharap bahwa potensi singkong dapat digali lebih dalam lagi melalui proses inovasi dan kreativitas dalam mengembangkan produk berbahan baku singkong sehingga singkong dapat diminati lebih banyak orang lagi.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Refrensi:

  1. Wawancara Langsung dengan Lienna, Owner Sriminil Cake Singkong
  2. Instagram Sriminil Cake Singkong (@Sriminilbake)