
Halo Sahabat Wirausaha,
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “usaha yang disukai anak muda” sering dipahami secara terlalu sederhana. Ketika satu jenis bisnis terlihat ramai di media sosial, banyak pelaku UMKM tergoda untuk ikut masuk, berharap keramaian itu otomatis berubah menjadi keberlanjutan. Padahal, tidak sedikit usaha yang justru berhenti di tengah jalan meski sempat viral di awal.
Masalahnya bukan pada produk, melainkan pada cara membaca pasar. Milenial dan Gen Z bukan sekadar kelompok usia, tetapi membawa pola hidup, kebiasaan, dan cara mengambil keputusan yang khas. Mereka tidak selalu mencari harga paling murah atau produk paling baru, tetapi semakin sering mempertimbangkan apakah sebuah produk selaras dengan cara hidup yang ingin mereka jalani. Dari sinilah ide usaha yang realistis seharusnya lahir: bukan dari tren sesaat, melainkan dari pola gaya hidup yang berulang dan konsisten.
Artikel ini mengajak Sahabat Wirausaha melihat tujuh pola gaya hidup Milenial dan Gen Z, lalu memahami bagaimana pola tersebut melahirkan 18 ide usaha UMKM yang masuk akal untuk dijalankan, terutama bagi pelaku usaha dengan sumber daya terbatas.
1. Gaya Hidup Serba Praktis dan Hemat Waktu
Bagi banyak Milenial dan Gen Z, waktu adalah sumber daya yang mahal. Mereka terbiasa dengan layanan cepat, sistem langganan, dan proses yang tidak memaksa mereka mengambil keputusan berulang. Dari pola ini, meal prep rumahan berbasis langganan mingguan menjadi relevan, misalnya paket makan siang lima hari untuk pekerja hybrid yang dikirim setiap awal minggu tanpa perlu pesan ulang setiap hari.
Kecenderungan yang sama terlihat pada minuman siap saji berbasis pre-order, seperti kopi literan atau jamu modern yang dipesan di awal minggu lalu dikirim terjadwal. Di kawasan perkotaan, jasa titip kebutuhan harian berbasis area juga tumbuh, misalnya jastip khusus satu kompleks atau kos-kosan untuk belanja air galon, gas, atau sarapan pagi. Nilai utamanya bukan pada variasi produk, melainkan pada keandalan dan efisiensi, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha.
2. Konsumsi Berbasis Pengalaman dan Cerita
Generasi muda tidak hanya membeli fungsi, tetapi juga konteks. Produk yang terasa punya cerita cenderung lebih diingat. Inilah sebabnya kuliner tematik skala kecil sering mendapat tempat, misalnya warung sarapan dengan konsep rutinitas pagi pekerja urban atau kedai minuman yang mengangkat nostalgia masa sekolah.
Pola ini juga membuka ruang bagi workshop hobi mikro, seperti kelas manual brew kopi untuk enam hingga delapan orang di rumah, atau sesi journaling akhir pekan yang dibungkus sebagai ruang refleksi, bukan kelas formal. Selain itu, produk custom personal—seperti hampers dengan kartu cerita personal atau merchandise kecil untuk lingkar pertemanan—menjadi medium ekspresi emosi yang tidak bisa digantikan produk massal.
Baca juga: 9 Cara Memahami Psikologi Konsumen Milenial dan Gen Z
3. Gaya Hidup Digital-First dan Fleksibel
Bekerja tidak lagi selalu identik dengan ruang fisik. Banyak aktivitas usaha kini dijalankan jarak jauh dan berbasis kepercayaan. Dari pola ini muncul jasa admin dan operasional UMKM online, seperti membantu membalas chat marketplace, mencatat pesanan, dan mengatur pengiriman harian tanpa harus datang ke toko.
Kebutuhan visual yang konsisten juga melahirkan jasa desain atau konten mikro untuk UMKM, misalnya paket desain feed bulanan atau template katalog sederhana. Sebagian pelaku usaha bahkan mengemas keahliannya menjadi produk digital sederhana, seperti template invoice UMKM, caption pack promo musiman, atau preset desain Canva. Tantangannya bukan pada ide, melainkan pada konsistensi kualitas dan manajemen waktu.
4. Kesadaran Kesehatan dan Keseimbangan Hidup
Milenial dan Gen Z mungkin tidak selalu hidup paling sehat, tetapi mereka semakin sadar pada rutinitas yang membuat hidup terasa lebih seimbang. Dari pola ini, minuman fungsional skala rumahan seperti infused drink lemon-jahe atau jamu modern menemukan pasarnya.
Kesadaran yang sama mendorong jasa kebugaran rumahan, misalnya kelas yoga privat di rumah klien atau sesi stretching pagi untuk pekerja WFH. Di sisi lain, produk self-care lokal seperti lilin aromaterapi atau sabun natural hadir sebagai bagian dari ritual harian, bukan solusi instan. Bagi UMKM, tantangannya adalah menjaga kejujuran klaim dan konsistensi kualitas agar tidak terjebak jargon semata.
Baca juga: Menaklukkan Hati Gen Z: Strategi Cerdas Membangun Brand yang Mereka Cintai
5. Preferensi pada Produk yang Punya Nilai, Sikap, dan Dampak Lingkungan
Pilihan konsumsi generasi muda semakin dipengaruhi oleh nilai yang mereka anggap penting. Di titik ini, pendekatan bisnis hijau mulai relevan, bukan sebagai jargon besar, tetapi sebagai respons terhadap kesadaran konsumen. Hal ini terlihat pada minat terhadap produk ramah lingkungan skala kecil, seperti usaha refill sabun dan deterjen, penggunaan kemasan guna ulang, atau produk harian yang dirancang untuk mengurangi limbah.
Kesadaran tersebut juga memperkuat posisi brand lokal berbasis cerita komunitas atau daerah, terutama ketika proses produksinya melibatkan bahan lokal, rantai pasok yang lebih pendek, dan praktik usaha yang lebih bertanggung jawab. Namun, bisnis hijau menuntut kejujuran. Klaim ramah lingkungan tanpa praktik yang sejalan justru berisiko menurunkan kepercayaan. Karena itu, bagi UMKM, pendekatan paling aman adalah memulai dari skala kecil dan konsisten, sesuai kapasitas usaha.
6. Budaya Komunitas dan Micro-Niche
Alih-alih mengejar pasar besar, banyak usaha justru tumbuh dari kelompok kecil yang solid. Merchandise komunitas bekerja karena rasa memiliki, misalnya kalender mini kreatif dengan ilustrasi khas komunitas sepeda, tote bag edisi terbatas komunitas kopi manual brew, atau stiker internal yang hanya dipahami anggotanya.
Pola serupa terlihat pada produk berbasis minat spesifik, seperti journal prompt untuk komunitas journaling, alat seduh kopi manual dengan desain lokal, atau aksesori sederhana untuk pecinta hewan peliharaan. Pasarnya sempit, tetapi loyal. Produk cenderung dipakai lebih lama karena memiliki makna personal, bukan sekadar fungsi.
Baca juga: 6 Alasan Mengapa Transisi dari Jualan ke Bisnis Jadi Fase Paling Menantang bagi UMKM
7. Pola “Coba Dulu, Baru Komit”
Generasi muda cenderung menghindari risiko besar di awal. Strategi seperti bisnis berbasis pre-order dan limited batch memungkinkan UMKM menguji pasar tanpa menumpuk stok, misalnya produksi kue rumahan berdasarkan jumlah pesanan mingguan.
Pendekatan serupa terlihat pada bisnis musiman berbasis momen tertentu, seperti hampers Ramadan, produk tematik akhir tahun, atau jasa dekorasi kecil untuk wisuda dan ulang tahun. Pola ini membantu UMKM belajar membaca timing dan permintaan, bukan sekadar menambah varian produk.
Memahami Masalah Konsumen adalah Kunci Keberhasilan Produk
Kesalahan umum pelaku UMKM adalah meniru bentuk usaha tanpa memahami pola hidup konsumennya. Dua usaha bisa menjual produk serupa, tetapi hasilnya berbeda karena konteks pembelinya tidak sama. Ramai di awal tidak selalu berarti berkelanjutan jika usaha tidak benar-benar hadir dalam keseharian konsumennya.
Pada akhirnya, ide usaha boleh mirip, tetapi cara membaca gaya hidup konsumen menentukan umur bisnisnya. Bagi Sahabat Wirausaha, pertanyaan terpenting bukan ide mana yang paling menjanjikan, melainkan seberapa selaras ide tersebut dengan kapasitas usaha dan pola hidup pasar yang dilayani. Di situlah keputusan bisnis yang lebih matang biasanya lahir.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!









