Halo Sahabat Wirausaha,

Sekilas, bisnis kacamata tampak seperti pasar yang sudah penuh. Brand besar hadir di mana-mana—dari pusat perbelanjaan sampai marketplace. Modelnya banyak, promosinya masif, dan harganya berlapis. Wajar jika UMKM bertanya: masih ada ruang, atau sudah terlambat?

Jawabannya: masih ada peluang, tetapi bukan dengan cara meniru raksasa industri. Peluang UMKM justru muncul di celah yang tidak efektif dikerjakan pemain besar—ceruk kebutuhan, konteks penggunaan, dan cerita produk. Di sanalah UMKM bisa bertanding secara cerdas.


Permintaan Kacamata Tumbuh Seiring Perubahan Gaya Hidup

Permintaan kacamata di Indonesia tumbuh seiring perubahan gaya hidup yang makin visual dan digital. Aktivitas kerja, belajar, hingga hiburan kini banyak bergantung pada layar, membuat kebutuhan koreksi penglihatan dan kenyamanan mata menjadi semakin umum di berbagai kelompok usia.

Tren ini juga dibarengi pergeseran fungsi kacamata. Kacamata tidak lagi dipandang semata sebagai alat medis, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup. Di lapangan, semakin banyak konsumen yang memiliki lebih dari satu kacamata—bukan untuk fungsi berbeda, melainkan untuk menyesuaikan aktivitas dan gaya.

Perubahan perilaku ini membuka ruang bagi UMKM. Saat brand besar fokus pada pasar massal dengan desain aman, UMKM justru dapat masuk melalui ceruk yang lebih spesifik: desain yang unik, pendekatan personal, serta model bisnis yang lebih fleksibel dan dekat dengan keseharian konsumen.

Peluang 1: Kacamata Fungsional untuk Kebutuhan Spesifik

UMKM tidak perlu menjual kacamata “untuk semua orang”. Justru kekuatannya ada pada fokus masalah yang jelas.

Contohnya pekerja digital yang lelah mata, pengendara yang silau di sore hari, atau usia 40+ yang butuh kacamata baca ringan tanpa fitur berlebihan. Di sini, UMKM menjual solusi, bukan sekadar produk.

Secara operasional, pendekatan ceruk membuat skala lebih aman. Batch kecil 10–25 unit per model sudah cukup untuk uji pasar—melihat respons, kenyamanan, dan kecocokan desain—tanpa mengunci modal terlalu lama.

Baca juga: 6 Alasan Bisnis Senam Menjadi Peluang bagi UMKM di Tengah Tren Gaya Hidup Sehat

Peluang 2: Kacamata sebagai Produk Lifestyle (Bukan Sekadar Alat Medis)

Di banyak kota, kacamata telah menjadi aksesoris. Ia dipakai saat bekerja di kafe, rapat santai, atau nongkrong sambil laptop. Konsumen mencari rasa cocok, bukan spesifikasi rumit.

UMKM unggul lewat desain konsisten, visual rapi, dan narasi penggunaan yang jelas—misalnya “kerja santai”, “ngopi & laptop”, atau “urban daily wear”. Harga sering berada di kisaran ratusan ribu rupiah; selisih Rp50–100 ribu kerap kalah penting dibanding kenyamanan dan cerita.

Peluang 3: Material, Cerita, dan Nilai Tambah

Di pasar yang seragam, cerita yang jujur menjadi pembeda. Frame kayu, bahan daur ulang, handmade skala kecil, atau edisi terbatas bukan sekadar gimmick—bagi segmen tertentu, itu adalah nilai.

UMKM tidak harus mengalahkan pabrik dalam teknologi. Mereka bisa unggul dalam alasan mengapa produk itu ada dan untuk siapa produk itu dibuat.

Peluang 4: Model Bisnis Tanpa Produksi Berat

Membayangkan bisnis kacamata selalu dimulai dari pabrik adalah kesalahan umum. UMKM bisa masuk lewat jalur ringan: desain & branding, kurasi frame, perakitan ringan, atau white label dengan cerita sendiri.

Yang penting dipahami: UMKM tidak harus langsung memulai dengan modal besar. Banyak pelaku usaha justru mulai dari skala kecil, lalu menaikkan modal secara bertahap setelah melihat respons pasar.

Baca juga: Bisnis Minuman Probiotik Kombucha, Tren Sehat yang Bisa Jadi Cuan Besar

Peluang 5: Kacamata sebagai Bagian dari Ekosistem Usaha

Kacamata tidak harus berdiri sendiri. Ia bisa menempel pada ekosistem: kolaborasi dengan brand fashion lokal, coffee shop, coworking space, komunitas kreatif, atau menjadi merchandise premium dan corporate gift yang tidak generik.

UMKM unggul karena dekat dengan komunitas. Produk dijual bersama gaya hidup dan jaringan, bukan sendirian.

Peluang 6: Bisnis Frame Kacamata Unik sebagai Produk Fashion

Tidak semua peluang di bisnis kacamata harus dimulai dari lensa. Dalam beberapa tahun terakhir, justru muncul pendekatan yang lebih ringan dan fleksibel: menjual frame kacamata saja. Frame diposisikan sebagai produk fashion—unik, lucu, dan statement—bukan sebagai alat medis.

Di lapangan, banyak konsumen sudah punya lensa. Mereka ingin ganti gaya, bukan ganti fungsi. Frame diperlakukan seperti tas atau sepatu: satu lensa, beberapa frame untuk suasana berbeda.

Brand besar cenderung bermain aman. UMKM justru bisa unggul lewat desain nyeleneh dan identitas kuat. Dari sisi modal, bisnis frame saja bisa dimulai dari Rp5–15 juta, dengan batch kecil 10–20 unit per desain dan rilis terbatas.

Namun, seberapa ringan atau kreatif pun model bisnis yang dipilih—baik kacamata full maupun frame saja—UMKM tetap perlu memahami berapa modal yang dibutuhkan, bagaimana ritme jualannya, dan risiko apa yang paling sering muncul di lapangan. Tanpa itu, peluang yang terlihat menarik justru bisa menjadi beban di tengah jalan.

Baca juga: Peluang Usaha Minyak Kelapa Murni (VCO) Rumahan yang Banyak Dicari Konsumen Sehat


Modal & Risiko Bisnis Kacamata untuk UMKM 

Masuk ke bisnis kacamata tanpa menghitung modal dan cara jualnya justru berisiko. Bukan karena produknya sulit dijual, tetapi karena ritme belinya berbeda dengan bisnis harian seperti makanan atau minuman.

Penting dicatat, angka modal bukan syarat wajib di awal. Banyak UMKM memulai dari skala kecil terlebih dahulu.

Kisaran Rp20–50 juta umumnya baru relevan ketika model bisnis sudah terbukti berjalan, bukan sebagai titik awal bagi semua UMKM. Modal ini biasanya terserap untuk frame awal, kerjasama lensa atau optik, kemasan, identitas brand, serta pemasaran awal. Skala kecil tetap lebih sehat untuk uji pasar, tanpa mengunci modal terlalu lama.

Kalau modalmu belum besar, nggak apa-apa. Banyak usaha kacamata justru tumbuh dari langkah kecil yang tepat, bukan dari modal besar di awal.

Mulailah dari frame saja, terutama yang unik, lucu, atau punya karakter kuat. Dengan modal Rp5–15 juta, kamu sudah bisa uji pasar lewat batch kecil, sistem pre-order, atau rilis terbatas. Fokuskan energi ke desain, cerita, dan konten—bukan ke stok banyak.

Saat respons pasar mulai terlihat, barulah naikkan skala secara bertahap. Tambah variasi, perbaiki kualitas, atau perluas kolaborasi. Modal besar adalah hasil dari pembuktian, bukan syarat pertama untuk mulai.


Tantangan Ritme Penjualan

Kacamata bukan produk yang dibeli tiap hari. Konsumen bisa membeli satu pasang lalu kembali berbulan-bulan kemudian. Artinya, perputaran lebih lambat dan arus kas perlu dikelola dengan sabar. Masalah sering muncul karena ekspektasi yang keliru, bukan karena produknya. 

Strategi Jualan yang Paling Masuk Akal

  • Custom: personal, stok aman, nilai jual lebih tinggi.
  • Pre-order (PO): ideal untuk desain atau edisi tertentu; risiko stok rendah.
  • Hybrid: stok frame terbatas untuk display & konten, varian dibuat sesuai pesanan.

Risiko terbesar adalah salah membaca pasar. Desain menarik belum tentu nyaman. Kualitas dan kepercayaan tidak bisa ditawar—kesalahan kecil bisa merusak reputasi. Waktu baca pasar umumnya 3–6 bulan; terlalu cepat menyerah sering menghentikan usaha sebelum datanya berbicara.


Penutup

Sahabat Wirausaha, peluang bisnis kacamata untuk UMKM bukan tentang melawan brand besar secara frontal. Ini tentang memilih jalur berbeda—lebih fokus, lebih personal, dan lebih relevan. Pasar boleh kompetitif, tetapi peluang sering muncul di celah yang ditinggalkan pemain besar.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow WA Channel UKMIndonesia.id biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!