Masalah Bisnis Laundry - Bisnis laundry kiloan saat ini tak bisa dipandang sebelah mata karena banyaknya masyarakat memilih menggunakan jasa laundry dibandingkan mencuci pakaian sendiri. Terutama bagi pekerja kantoran yang kerap lembur, mahasiswa yang disibukkan dengan tugas kampus, sampai pasangan suami istri (pasutri) yang sibuk bekerja dari pagi sampai malam. Jasa laundry juga kerap menjadi penolong bagi mereka yang tak tahu caranya mencuci pakaian yang membutuhkan penanganan khusus seperti pakaian yang terbuat dari bahan wol, jas sampai tradisional.

Melihat peluang bisnis ini tentu membuat masyarakat berlomba-lomba melirik bisnis laundry karena terbilang sangat menjanjikan. Alliance Laundry Systems (ALS) menyebut bahwa pertumbuhan bisnis laundry cukup pesat, yaitu mencapai 50% selama tahun 2021-2022. Modal yang dibutuhkan cenderung minim dan pasarnya cukup luas sehingga banyak jenis yang bisa dicoba, seperti laundry industri, laundry retail, hingga laundry kiloan dan laundry koin.

Namun, sebelum memulai bisnis laundry, ada baiknya Sahabat Wirausaha mengetahui masalah umum yang kerap terjadi pada bisnis ini. Beberapa diantaranya adalah :

1. Kesulitan Mengatur Keuangan

Kesulitan modal merupakan salah satu masalah umum yang dialami para pelaku bisnis laundry. Biasanya, problem mendasar yang paling sering terjadi akibat pelanggan tidak mengambil cucian dalam bulan yang sama. Menurut kompas.com jumlahnya bisa mencapai 10 persen. Ada juga beberapa konsumen yang baru mengambil cucian di 3 bulan berikutnya. Jumlahnya mencapai 7 persen. Sedangkan customer yang benar-benar tidak mengambil cuciannya berada di angka 3 persen. Kondisi seperti ini tentu saja dapat membuat keuangan bisnis menjadi macet karena tidak memiliki modal yang cukup untuk menjalankan operasional.

Solusi dari masalah di atas yakni menerapkan down payment (DP) atau uang muka. Dengan menerapkan strategi ini setidaknya biaya produksi yang kita keluarkan sudah tertutupi. Untuk jumlahnya maksimal 50% diambil dari total biaya cucian. Jangan lupa juga pemberian DP diiringi dengan menerapkan reward and punishment baik pada karyawan atau pada diri sendiri jika bisnis masih dijalankan secara tunggal.

Baca Juga: Ingin Tahu Cara Memulai Bisnis Laundry? Simak 7 Tips Berikut

Hal ini dilakukan untuk mencegah cucian tertukar sampai hilang karena keteledoran. Ketika melakukan penghitungan, selalu gunakan aplikasi pencatatan, bukan invoice. Tujuannya untuk menghindari saling contek jumlah atau bahkan tidak dihitung lagi. Penghitungan dapat dimulai saat kain sampai di toko, kemudian masuk dalam tahapan pencucian, pengeringan, dan terakhir di pengemasan, semuanya harus dalam keadaan sudah dihitung.

2. Karyawan yang Tak Bisa Dipercaya

Sumber daya manusia bisa menjadi masalah terberat jika tidak ditangani dengan baik. Contohnya ketika Sahabat Wirausaha memulai bisnis laundry dari awal tanpa kehadiran karyawan. Seiring berjalannya waktu bisnis ini berkembang dan memaksa kita untuk merekrut minimal 1 pekerja, entah itu pekerja lepas atau karyawan tetap.

Jika Sahabat Wirausaha tidak pandai melakukan seleksi mendalam saat perekrutan, bisa saja karyawan yang didapatkan tidak seperti yang diharapkan. Seperti misalnya mengutil baju konsumen, mencuri uang kas, bekerja asal-asalan hingga tidak menjalankan perintah yang kita berikan.

Masalah diatas dapat diselesaikan dengan cara membuat memperhatikan karyawan tersebut. Bentuk perhatian yang kita berikan bisa dimulai dengan cara memberikan pelatihan dan pengembangan diri. Bisa juga dengan tidak terlalu memberikan pengawasan berlebih saat mereka bekerja. Karena jika ini terjadi, karyawan tersebut menjadi tidak nyaman lalu bekerja sesuka hati saat kita tidak ada.

Setelah mengurangi pengawasan berlebih, tambah dengan memberikan lingkungan kerja yang sehat. Contohnya memberikan fasilitas, sarana, budaya dan kebiasaan kerja yang positif. Karena tak jarang, pekerja yang mencari nafkah di lingkungan seperti ini dapat bertahan hingga puluhan tahun, walaupun mereka dibayar dengan upah yang pas-pasan.

Jangan lupa juga ketika karyawan sudah bekerja maksimal dengan memberikan keuntungan lebih bagi kita, berikan mereka apresiasi. Tak melulu soal uang, bentuk pengakuan yang kita berikan bisa dalam bentuk lain seperti sembako, atau bisa berupa asuransi kerja dan kesehatan. Begitu juga sebaliknya, ketika mereka melakukan pelanggaran jangan segan untuk memberikan pelajaran tambahan agar perbuatan tersebut tidak kembali terulang.

Baca Juga: Bisnis Laundry Gak Laku? Sudah Coba 3 Memasarkan Usaha Laundry Begini?

3. Tak Bisa Memenuhi Harapan Konsumen

Poin ke-3 ini bicara soal dampak yang ditimbulkan akibat perang harga, yakni membuat kualitas dan kuantitas pelayanan menjadi buruk. Padahal yang kerap terjadi di lapangan adalah ekspektasi konsumen yang tidak sesuai. Ketahuilah, jika berjualan dengan harga murah adalah kunci kesuksesan, tentu kita tidak akan pernah melihat pedagang yang gulung tikar hanya karena menjual produk dengan harga yang murah juga. Atau ketika pedagang menjual dagangannya dengan harga mahal langsung di cap sebagai pebisnis gagal.

Dua argumen di atas tentu tidak bisa kita terima karena murah atau mahalnya suatu produk terletak pada nilainya. Ketahuilah, nilai dari setiap produk dibuat melalui pendekatan dan strategi berbeda demi tujuan profit maksimal. Artinya, berbisnis bukan soal murah atau mahal. Melainkan mendapatkan formula terbaik agar usaha bisa lekas naik kelas.

Tak ada salahnya kita melakukan perang harga, namun kita juga harus mengetahui dampak dan resiko yang ditimbulkan. Seperti misalnya berpeluang besar menderita kerugian, hingga kehilangan market share. Solusi menghadapi masalah ini adalah jangan pernah berhenti melakukan inovasi dengan cara mengeluarkan produk-produk baru. Contohnya gratis 1 kilogram cucian setelah berbelanja Rp500.000.

Alasan kita mengeluarkan produk baru karena perang harga timbul akibat banyaknya produk serupa yang muncul di pasaran. Ketika kita mengeluarkan produk baru, Sahabat Wirausaha jadi memiliki waktu untuk menaikkan harga atau memilih tetap mempertahankan harga.

4. Tidak Efisien Menggunakan Sumber Daya

Salah satu masalah yang tidak bisa dihindari pengusaha laundry adalah kurang efisiennya penggunaan bahan dan peralatan mencuci. Misalnya saja, saat karyawan menggunakan deterjen dan pelembut terlalu banyak atau tak sesuai takaran, sehingga menyebabkan keduanya cepat habis. Tak hanya itu, masalah yang sama juga terjadi dengan pemakaian pewangi setrika, plastik pembungkus, dan penggunaan air. Hasilnya, bisa-bisa omset yang didapat tidak sesuai dengan perhitungan rencana keuangan di awal.

Untuk mengatasi masalah ini, Sahabat Wirausaha bisa membuat Standar Operational Procedure (SOP) yang harus ditaati oleh setiap karyawan laundry. Buat sesi khusus setiap hari atau setiap minggunya sebelum membuka toko, untuk mengarahkan karyawan untuk menjalankan SOP tersebut. Ingatkan mereka tentang takaran deterjen, volume air yang digunakan, dan penggunaan plastik pembungkus yang benar. Awasi pula pekerjaan mereka secara berkala agar sesuai arahan.

Baca Juga: 7 Masalah Bisnis dan Risiko Salon Kecantikan, Waspadai Agar Bisnismu Tidak Merugi!

5. Zaman Sudah Modern, tapi Bisnis Laundry Tetap Tradisional

Sampai saat ini masih banyak pelaku bisnis yang mempertahankan cara lama dalam menjalankan usaha laundry kiloan. Padahal sejatinya di era serba digital saat ini ada banyak sekali sistem yang memudahkan kita untuk mencapai tujuan profit paling maksimal. Salah satunya penggunaan aplikasi point of sales atau POS.

Dengan sistem yang satu ini kita dimudahkan dalam urusan-urusan meliputi pencatatan transaksi, menghitung biaya, sampai menjalankan proses produksi. Tidak perlu lagi mencatat di buku tentang arus kas. Atau menggunakan alat pembayaran digital seperti QRIS dan sejenisnya. Mengutip dari viva.co.id, aplikasi POS populer yang dapat berjalan di smartphone berbasis Android seperti Moka POS, Vend, Square Register, Kasir Pintar, Pawon, Qasir, Kasir Pos Ireap Lite, dan Loyverse POS.

Penggunaan uang elektronik juga memudahkan konsumen karena kepraktisannya. Belum lagi memiliki banyak program yang menguntungkan. Serta dapat terhindar dari aksi penipuan dengan modus uang palsu.

Jika bisnis kita beralih sepenuhnya ke sistem digital, secara otomatis akan menggantikan peranan beberapa karyawan seperti penggunaan aplikasi point of sales atau POS yang biasanya membutuhkan 2 orang, kini bisa dipangkas menjadi 1 orang saja. Artinya, dengan sistem kita dapat meminimalisir beban gaji karyawan dan mengalihkannya ke kebutuhan operasional lain.

Ketika Sahabat Wirausaha sudah mengetahui masalah umum pada bisnis laundry kiloan, kami harap masalah-masalah seperti kesulitan dalam mengatur keuangan, SDM, tak bisa memenuhi harapan konsumen dan masih menggunakan cara-cara manual tidak lagi terjadi kedepannya.

Jangan lupa juga untuk terus beradaptasi dengan dunia digital yang semakin hari perkembangannya semakin pesat agar Sahabat Wirausaha bisa cepat naik kelas.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini.

Referensi:

  1. https://money.kompas.com/read/2019/06/12/114600226...
  2. https://geotimes.id/tips/permasalahan-klasik-laund...
  3. https://investor.id/business/308293/bisnis-laundry-di-indonesia-tumbuh-50
  4. https://www.viva.co.id/digital/piranti/1486024-aplikasi-kasir-android