UKM Indonesia

​Potensi Ekspor Rempah-Rempah di Pasar Eropa



Indonesia merupakan salah satu produsen rempah-rempah terbesar di dunia. Rempah-rempah digunakan dalam banyak fungsi, dari masakan sampai obat kesehatan. Melihat manfaat yang tinggi tersebut, dari dulu rempah-rempah memiliki nilai perdagangan yang tinggi. Ini juga merupakan salah satu alasan mengapa Belanda menjajah kita, dikarenakan berlimpahnya rempah-rempah di Indonesia.

Permintaan terhadap rempah-rempah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya dipicu oleh pandemi COVID-19. Penjualan rempah-rempah yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh meningkat pesat sejak tahun 2020. Hal ini juga didorong oleh promosi media sosial yang mensosialisasikan manfaat dari rempah-rempah untuk terlindungi dari virus COVID-19.

Negara Eropa menjadi salah satu pasar yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk ini dikarenakan iklimnya memiliki keterbatasan untuk membudidayakan sebagian rempah-rempah. Produk yang paling popular di pasar Eropa adalah jahe, lada, temulawak, vanilla, kayu manis, cengkeh, bawang, dan lainnya. Negara-negara yang paling banyak memiliki permintaan adalah Jerman, Inggris, Belanda, dan Spanyol.

Maka dari itu, kita akan coba membedah bagaimana potensi ekspor rempah-rempah di pasar Eropa di artikel ini. Negara Eropa mana saja yang potensial dituju? Rempah-rempah apa saja yang potensial diekspor? Apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan ekspor rempah-rempah? Sahabat UKM wajib yah baca artikel ini.

Mengapa Eropa merupakan pasar potensial untuk ekspor rempah-rempah?

Negara-negara eropa memiliki ketergantungan tinggi dalam supply rempah-rempah karena keterbatasan iklimnya dalam membudidayakan rempah-rempah di negaranya. Lebih dari 95% impor rempah-rempah berasal dari negara berkembang. Meskipun selalu terjadi pertumbuhan impor rempah-rempah pada 2015-2019, namun terjadi peningkatan pesat pada 2020.

Terdapat beberapa negara Eropa yang mampu memproduksi rempah-rempah sehingga menjadi pesaing dari Kawasan yang sama, yaitu Bulgaria, Polandia, Romania, Spanyol, dan Hungaria. Namun, mereka hanya mampu memproduksi dengan volume yang sangat terbatas. Produk-produk rempah yang diproduksi pun juga terbatas sekali variannya seperti paprika dan lada. Inilah mengapa pintu sangat terbuka bagi negara di luar Eropa untuk ekspor rempah-rempah ke negara-negara Eropa.

Potensi ini makin didukung oleh pandemi COVID-19 yang memberikan dampak besar bagi permintaan impor rempah-rempah. Terdapat tiga jenis rempah-rempah yang memiliki pertumbuhan pesat pada 2020 karena manfaatnya pada daya tahan tubuh, yaitu jahe, temulawak, dan bawang. Akan tetapi, terdapat juga dampak buruk COVID-19 pada permintaan rempah-rempah. Contohnya, permintaan kayu manis menurun dikarenakan tidak adanya perayaan natal dalam skala besar. Lalu juga terdapat penurunan pada industri restoran juga berdampak pada permintaan rempah-rempah.

Siapa saja pesaing Indonesia dalam ekspor rempah-rempah ke Eropa?

Jika kita lihat dari total nilainya, China dan Madagascar merupakan supplier terbesar rempah-rempah ke pasar Eropa saat ini. Pada 2019, China mampu mengekspor rempah-rempah ke pasar Eropa dengan nilai 264 juta Euro (4.5 triliun Rupiah), sedangkan Madagascar dengan nilai 261 juta Euro (4.4 triliun Rupiah). Total nilai ekspor Madagascar paling banyak dipengaruhi oleh vanilla yang memiliki harga cukup mahal di pasar Eropa. Keberhasilan ekspor Madagascar ini menunjukkan bahwa negara kecil mampu untuk sukses ekspor ke pasar Eropa.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia menempati posisi ke-5 dalam ekspor rempah-rempah ke pasar Eropa pada 2019, dengan nilai sekitar 100 juta Euro (sekitar 1.7 triliun Rupiah). Namun total nilainya masih kalah dengan India dan bahkan dengan Vietnam (negara yang jauh lebih kecil). Sayangnya, Indonesia kalah jauh ekspornya dengan China dan Madagascar.

Negara Eksportir Terbesar Rempah-Rempah di Pasar Eropa (Nilai dalam Juta Euro).
Sumber: Eurostat (2020)

Negara Eropa manakah yang paling potensial untuk ekspor rempah-rempah?

Jerman merupakan negara importir terbesar untuk rempah-rempah, dengan total nilai impor 299 juta Euro (5.1 triliun Rupiah) pada 2019. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Belanda dan Prancis. Sedangkan negara importir terbesar lainnya adalah Spanyol, Inggris, dan Polandia.

Alasan mengapa Jerman menjadi negara importir terbesar rempah-rempah di Eropa adalah karena menjadi pusat perdagangan internasional rempah-rempah. Pelabuhan Hamburg memiliki fasilitas yang sangat maju dalam transportasi dan pergudangan rempah-rempah. Banyak perusahaan-perusahan besar dunia membeli rempah-rempah dari Hamburg. Alasan lainnya adalah karena Jerman merupakan pasar organic terbesar di Eropa. Masyarakat Jerman sangat peduli terhadap kesehatan dan isu sustainability. Hal ini membuat penduduk Jerman mengkonsumsi rempah-rempah dengan jumlah tinggi.

Belanda yang memiliki relasi sangat kuat dengan Indonesia juga merupakan pasar potensial untuk dituju. Banyaknya diaspora Indonesia di sana mendorong permintaan besar akan rempah-rempah Indonesia. Penduduk Belanda pun juga sudah familiar dengan masakan-masakan Indonesia. Tidak hanya itu, sama seperti Jerman, Belanda juga menjadi pintu perdagangan rempah-rempah dunia.

Beda halnya dengan Perancis, negara ini menjadi pusat perdagangan khusus untuk vanilla. Maka dari itu, Madagascar sebagai supplier vanilla kebanyakan ekspornya ke negara Perancis ini. Inggris juga lebih fokus pada rempah-rempah yang berkaitan dengan masakan India yang sangat populer di negaranya. Oleh karena itu, temulawak dan kunyit merupakan produk paling potensial untuk diekspor ke Inggris.

Negara Importir Terbesar Rempah-Rempah di Pasar Eropa (Nilai dalam Juta Euro).
Sumber: Eurostat (2020)


3 Rempah-Rempah Paling Potensial untuk Diekspor

Meskipun cukup banyak rempah-rempah yang memiliki permintaan tinggi di pasar Eropa, namun terdapat tiga rempah-rempah yang memiliki pertumbuhan paling pesat dikarenakan erat kaitannya dengan manfaat kesehatan, khususnya di pandemi COVID-19 ini.

#1 Jahe
Selain untuk masakan, jahe juga dipercaya mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Total volume impor jahe dari negara berkembang mampu melebihi 130 ribu ton pada 2019. Namun China masih mendominasi ekspor jahe ini di pasar Eropa.

#2 Lada
Permintaan lada sangat tinggi di pasar Eropa dikarenakan selalu dipakai untuk kebutuhan masak di rumah maupun restoran. Persaingan ekspor lada ini cukup merata, karena tidak ada yang mendominasi, meskipun saat ini Vietnam menjadi eksportir terbesar. Indonesia juga menjadi tiga terbesar eksportir lada ke pasar Eropa. Akan tetapi, total nilai 7 negara eksportir terbesar lada hanya mencakup 1% total impor Eropa.

#3 Temulawak
Produk ini memiliki pertumbuhan paling cepat di beberapa tahun belakangan karena peningkatan tren budaya makanan sehat, yang juga didorong oleh pandemi COVID-19. Inggris merupakan negara importir terbesar temulawak, dikarenakan besarnya penduduk dengan latar belakang Asia Tenggara di negara ini. Akan tetapi, 87% supply temulawak di pasar Eropa masih didominasi oleh India.

Bagaimana Indonesia dapat meningkatkan ekspor rempah-rempah ke pasar Eropa?

Kita sudah mengetahui bahwa saat ini meskipun Indonesia menjadi salah satu eksportir rempah-rempah ke pasar Eropa, namun kita belum menjadi pemain penting disini. Mengapa ini bisa terjadi? Padahal Indonesia merupakan negara dengan produksi rempah-rempah yang sangat besar serta dengan luas tanah dan iklim yang sangat mumpuni.

Salah satu masalah utama dari eksportir rempah-rempah Indonesia adalah belum mampunya untuk mengidentifikasi tren-tren yang terjadi di pasar Eropa. Maka dari itu, inilah beberapa hal yang bisa dianalisa serta mampu diimplementasikan oleh para eksportir rempah-rempah di Indonesia.

Meningkatkan keamanan produk
Regulasi keamanan makanan di Eropa merupakan paling ketat di dunia. Saya sendiri pernah berbicara dengan importir rempah-rempah Indonesia. Mereka bilang bahwa masalah utama sulit terjualnya rempah-rempah Indonesia adalah keamanan produk. Banyak sekali rempah-rempah Indonesia yang tidak lolos uji laboratorium. Ini dikarenakan produksi rempah-rempah oleh petani di Indonesia masih tradisional dan tidak memakai perlengkapan keamanan yang memadai. Sayang sekali, padahal potensi dan produksi rempah-rempah kita sangatlah besar.

Hal yang terpenting dalam keamanan rempah-rempah adalah regulasi Maximum Residue Levels (MRL). Kontaminasi dengan microbiological (contohnya Salmonella) dan bahan lainnya juga perlu diperhatikan (seperti aditif dan pewarna makanan). Maka dari itu, hal pertama yang wajib untuk kita tingkatkan adalah standar keamanan produksi rempah-rempah kita.

Menerapkan aspek sustainability dalam produksi
Banyak kasus dimana petani rempah-rempah di negara berkembang menggunakan bahan kimia untuk mempercepat budidaya rempah-rempah. Penduduk Eropa sangat peduli terhadap masalah-masalah ini, sehingga mereka mencari produk rempah-rempah yang aman.

Dalam aspek sosial, petani rempah-rempah juga dibayar dengan harga yang sangat rendah, dikarenakan tidak adanya kekuatan negosiasi. Para petani juga tidak memiliki pengetahuan dan teknologi yang baik dalam produksi. Kita perlu untuk melatih petani rempah-rempah Indonesia dan membayarnya dengan harga sesuai standar Fairtrade.

Bahkan isu kemasan juga sangat diperhatikan. Kebanyakan rempah-rempah menggunakan kemasan plastik yang merusak lingkungan dan tidak dapat didaur ulang. Kita perlu mengganti kemasan plastic pada rempah-rempah dengan kemasan paper bag atau carton box.

Dengan adanya isu-isu ini, maka eksportir rempah-rempah Indonesia harus mulai menerapkan prinsip sustainability dalam produksi rempah-rempah. Terdapat beberapa sertifikasi yang mampu menunjukkan bahwa rempah-rempah kita sustainable. Salah satu sertifikasi yang fokus pada isu sustainability produk rempah-rempah adalah Sustainable Spice Initiative (SSI). Selain itu, juga terdapat sertifikasi Organic, Fairtrade, dan Rainforest Alliance Sustainable Agricultural Standard.

Akan tetapi, jika sertifikasi ini belum mampu diproses, maka kita bisa mulai untuk menerapkan prinsip sustainability pada produk rempah-rempah kita. Setelah itu, jangan lupa didokumentasikan dan dikomunikasikan ke calon pembeli/importir. Dengan adanya cerita sustainability, itu juga sudah merupakan aset kuat untuk meningkatkan ekspor rempah-rempah kita.

Mengkomunikasikan transparansi rantai pasok
Seperti yang sudah dijelaskan di poin pertama, konsumen Eropa sangat peduli dan hati-hati akan produk makanan. Salah satunya yang dipedulikan adalah asal produk rempah-rempah serta proses rantai pasok yang terjadi. Komunikasi transparansi adalah hal yang wajib untuk dilakukan eksportir rempah-rempah untuk mengurangi ketidakpercayaan ini. Dengan tingginya persaingan ekspor rempah-rempah, maka kepercayaan merupakan keunggulan daya saing.

Komunikasi transparansi rantai pasok ini dapat dilakukan dengan presentasi foto atau video. Storytelling merupakan kunci dalam komunikasi ini, yang dapat meningkatkan unique selling proposition kita. Dalam storytelling ini, kita juga perlu memasukan unsur keunikan produk, praktik sustainability, serta manfaat kesehatan produk.

Mendorong Supply ke Produk Suplemen Kesehatan
Semenjak pandemi COVID-19, beberapa rempah-rempah mengalami peningkatan pesat seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Hal ini juga mendorong bagi industri kesehatan untuk memproduksi produk suplemen dari rempah-rempah ini. Salah satunya yang populer untuk suplemen adalah produk jahe, temulawak, kunyit, dan bawang (seperti dilihat pada gambar di bawah).

Sumber: Holland & Barret dan Strongus

Maka dari itu, teman-teman bisa mulai cari kerjasama dengan sektor farmasi dan suplemen makanan di pasar Eropa. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, penting untuk melakukan tes laboratorium untuk keamanan dan kandungan produk. Berhati-hatilah dalam mempromosikan manfaat kesehatan pada rempah-rempah. Hal ini dikarenakan terdapat regulasi ketat dalam labelling di Eropa. Klaim yang menuliskan bahwa rempah-rempah dapat menyembuhkan penyakit tertentu tidak dapat ditulis, dikarenakan tidak ada penelitian kuat.

Mempromosikan dalam Produk Kuliner
Meskipun restoran terdampak besar oleh pandemi COVID-19, namun jasa online food delivery masih mampu untuk meningkatkan sektor ini, termasuk ke industri kuliner Asia. Penduduk Eropa memiliki keingintahuan dan penasaran tinggi untuk mencoba kuliner dari negara lain. Ini yang belum mampu dimanfaatkan oleh Indonesia. Padahal Indonesia memiliki budaya kuliner yang sangat kaya. Setiap daerah memiliki keunikan kulinernya tersendiri. Namun sosialisasi ini belum berhasil untuk mempromosikan kuliner Indonesia ke pasar Eropa. Kuliner yang masih populer di Eropa adalah kuliner India, Jepang, Afrika, serta Timur Tengah.

Meskipun masih kurang populernya kuliner Indonesia, saat ini di Eropa selalu mencari produk masak dengan rasa yang unik dan baru. Contohnya pasta Umami sangat populer dicari. Tidak hanya itu, saus Jepang sepri miso, teriyaki, dan katsu juga dicari banyak. Oleh karena itu cari kerjasama dengan perusahaan yang memproduksi produk masak rempah-rempah (spice blends). Namun perlu diperhatikan bahwa kadar kuatnya rempah-rempah dalam produk masak perlu disesuaikan dengan cita rasa penduduk lokal di Eropa.

Rempah-rempah di Indonesia juga perlu dipromosikan lebih agresif dalam social network marketing. Kita perlu untuk meminta blogger dan celebrity chef terkenal dari Eropa (seperti Jamie Oliver) untuk bisa mempromosikan rempah-rempah Indonesia. Platform-platform digital seperti Facebook, Linkedin, Youtube, dan Instagram juga perlu dioptimalkan strategi marketing rempah-rempah kita ke Eropa.

Memanfaatkan Permintaan Rempah-Rempah Pedas
Permintaan impor cabe kering meningkat 7% per tahun selama lima tahun terakhir. Menurut riset dari Kalsec, penduduk Eropa memakan kuliner pedas lebih banyak daripada setahun lalu. Ini juga diprediksi akan terus berkembang kedepannya. Namun tetap, konsumen Eropa lebih memilih memakan dengan tingkat kepedasan menengah, bukan yang terlalu pedas.

Maka dari itu tawarkan produk cabe kering kita dan rempah-rempah pedas lainnya ke importir. Cari rempah-rempah dengan pedas yang tidak tinggi sehingga cocok dengan lidah konsumen Eropa.

Nah itulah artikel Bedah Kasus kita kali ini yang membahas potensi ekspor rempah-rempah Indonesia ke pasar Eropa. Dari artikel ini, kita sudah mengetahui bahwa besarnya potensi dan peluang untuk mengekspor rempah-rempah ke pasar Eropa. Namun disini kita juga dapat melihat bahwa Indonesia belum mengoptimalkan potensi ekspor tersebut.

Dari sini, Sahabat Wirausaha perlu untuk terus mengidentifikasi tren-tren yang terjadi dalam permintaan rempah-rempah di Eropa. Keamanan produk rempah-rempah menjadi yang paling wajib untuk dipenuhi, karena faktanya banyak pembeli Eropa tidak percaya membeli rempah-rempah kita karena masalah ini. Namun selain itu, banyak hal yang belum kita optimalkan.

Praktik sustainability perlu diprioritaskan untuk dapat meningkatkan value proposition rempah-rempah kita di pasar Eropa. Bahkan tidak hanya Eropa, berbagai negara maju dan berkembang memperhatikan aspek ini dalam membeli rempah-rempah. Promosi rempah-rempah Indonesia juga perlu digenjot melalui platform digital dan diaspora kita.

Pandemi COVID-19 memang berdampak buruk bagi perdagangan kita. Namun, rempah-rempah seharusnya menjadi suatu peluang dalam meningkatkan perdagangan Indonesia. Hal ini dikarenakan tingginya permintaan rempah-rempah karena manfaat kesehatan yang terkandung. Teman-teman hanya perlu untuk memanfaatkan momentum ini dengan baik. Rempah-rempah Indonesia pasti bisa maju. UKM pasti bisa ekspor!

Banu Rinaldi, Content Editor ukmindonesia.id, Dosen dan Business Advisor – Universitas Bina Nusantara

Referensi:

CBI (2021): What is the demand for spices and herbs on the European market?

CBI (2021): Which trends offer opportunities or pose threats on the European spices and herbs market?

Tags
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: