
Sumber foto: Ilustrasi AI (ChatGPT)
Halo, Sahabat Wirausaha!
Selama ini, pembahasan tentang minyak goreng di Indonesia hampir selalu berputar pada dua komoditas utama: sawit dan kelapa. Keduanya telah lama menopang kebutuhan rumah tangga maupun industri pangan. Namun dinamika beberapa tahun terakhir—mulai dari fluktuasi harga hingga meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan—mendorong munculnya pertanyaan baru: adakah alternatif lain dari Nusantara yang layak dibaca ulang?
Artikel ini tidak ditujukan untuk menawarkan solusi massal atau peluang usaha yang bisa direplikasi oleh semua UMKM. Sebaliknya, tengkawang dibahas sebagai contoh peluang berbasis konteks lokal—hasil hutan Kalimantan, terutama Kalimantan Barat—yang menunjukkan bagaimana nilai ekonomi dapat tumbuh dari keterbatasan, bukan dari skala besar.
Biji Tengkawang: Dari Hutan Kalimantan hingga Karakter Penggunaannya

Sumber foto: catatanmel.com
Tengkawang merujuk pada biji dari beberapa jenis pohon Shorea yang tumbuh alami di hutan Kalimantan. Dari biji inilah dihasilkan lemak nabati yang sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, baik untuk kebutuhan memasak, perawatan tubuh, maupun keperluan rumah tangga.
Minimnya pembahasan tengkawang dalam wacana pangan nasional bukan karena nilainya rendah, melainkan karena karakter produksinya yang berbeda dari minyak nabati arus utama. Pohon tengkawang tidak dibudidayakan secara masif seperti sawit. Ia tumbuh alami di hutan dan berbuah secara musiman, bahkan bisa bersiklus beberapa tahun sekali. Pasokannya terbatas dan tidak dirancang untuk sistem produksi yang menuntut kontinuitas tinggi.
Dari sisi karakter, lemak tengkawang bersifat padat pada suhu ruang, dengan tekstur menyerupai mentega nabati. Aromanya relatif netral dan stabil untuk pemanasan ringan hingga sedang. Dalam praktik tradisional, lemak ini digunakan untuk menumis ringan, mencampur bahan pangan, atau sebagai lemak dasar dalam olahan tertentu. Artinya, tengkawang bukan ditujukan untuk gorengan skala besar, melainkan untuk kebutuhan memasak yang lebih selektif.
Baca juga: 7 Alasan Mengapa Tongkol Jagung Layak Dilihat Ulang sebagai Peluang Usaha UMKM
Alternatif Lokal yang Tidak Massal, Tapi Relevan bagi UMKM
Penting menempatkan biji tengkawang secara proporsional. Ia bukan pengganti langsung minyak goreng sawit atau kelapa, dan tidak dirancang untuk pasar konsumsi massal. Namun tengkawang memiliki relevansi tersendiri bagi segmen konsumen yang peduli pada asal bahan, proses alami, dan cerita di balik pangan yang dikonsumsi.
Perlu ditegaskan, biji tengkawang bukan peluang usaha yang bisa dijalankan oleh semua UMKM. Ia tumbuh dari konteks geografis dan sosial yang sangat spesifik. Namun justru dari keterbatasan inilah tengkawang memberi pelajaran penting: bahwa nilai usaha tidak selalu lahir dari produksi besar-besaran.
Dalam kondisi tertentu, produk yang sangat lokal, niche, dan berbasis ekosistem justru memiliki daya tarik jangka panjang—bahkan hingga pasar ekspor—ketika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Ekspor, dalam konteks ini, bukan titik awal yang harus dikejar semua UMKM, melainkan kemungkinan yang muncul ketika kualitas, kemitraan, dan rantai nilai terbangun secara matang.
Dari Hutan Kalimantan ke Dapur: Rantai Nilai Berbasis Ekosistem
Biji tengkawang merupakan hasil hutan bukan kayu yang sangat bergantung pada kelestarian ekosistem. Proses pengumpulannya melibatkan masyarakat adat dan komunitas sekitar hutan, dengan aturan sosial yang mengatur waktu panen dan pembagian hasil.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa pohon tengkawang hanya berbuah optimal ketika hutannya tetap terjaga. Artinya, nilai ekonominya justru lahir dari kondisi hutan yang utuh, bukan dari pembukaan lahan baru. Berbeda dengan komoditas perkebunan, tengkawang tumbuh alami dan berbuah mengikuti siklus alam.
Dalam praktiknya, rantai nilai berbasis hasil hutan seperti tengkawang menuntut cara pandang yang berbeda dari komoditas pertanian atau perkebunan pada umumnya. Ketersediaan bahan baku tidak bisa dipaksakan mengikuti kalender produksi industri, karena sangat bergantung pada siklus alam dan kondisi ekosistem. Di sinilah letak tantangan sekaligus keunikannya. Bagi UMKM, konteks ini penting dipahami agar pengembangan usaha tidak semata mengejar volume, tetapi selaras dengan daya dukung alam dan komunitas penjaganya.
Baca juga: Spesifikasi Standar Mutu (Grading) Kayu Gaharu dan Pemetaan Segmen Pembelinya di Indonesia
Peluang dan Batasan UMKM dalam Mengelola Biji Tengkawang

Sumber foto: catatanmel.com
Peluang UMKM dari biji tengkawang tidak terbatas pada menjual lemaknya sebagai minyak masak. Ruang inovasi justru terbuka pada produk turunan, seperti bahan campuran pangan olahan, produk bakery skala kecil, atau pangan artisan berbasis lemak nabati alami.
Selain sektor pangan, biji tengkawang juga menyimpan potensi nilai tambah di luar dapur. Dalam beberapa tahun terakhir, minyak tengkawang mulai dilirik sebagai bahan baku perawatan kulit alami. Kandungan asam stearat dan asam oleat yang tinggi membuatnya efektif menjaga kelembapan dan elastisitas kulit. Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, pemanfaatan ini sejatinya bukan hal baru, melainkan bagian dari pengetahuan lokal yang telah lama digunakan untuk merawat kulit secara alami.
Bagi UMKM, potensi ini membuka ruang diversifikasi produk tanpa harus mengejar skala besar. Namun tantangannya tetap nyata. Sifat tengkawang yang musiman membuat pasokan tidak selalu tersedia. Proses pascapanen dan pengolahan membutuhkan standar kebersihan dan keamanan yang baik, baik untuk pangan maupun produk perawatan tubuh. Di sisi lain, edukasi konsumen menjadi kunci, karena produk berbasis tengkawang—baik pangan maupun non-pangan—masih relatif asing di pasar domestik.
Kondisi ini menuntut UMKM untuk bertumbuh secara organik, memahami batas pasokan, dan membangun pasar secara bertahap. Tengkawang tidak cocok untuk ekspansi cepat, tetapi relevan bagi usaha yang dibangun dengan kesadaran jangka panjang.
Dari Pasar Lokal hingga Global: Belajar Membaca Potensi Daerah
Secara historis, lemak tengkawang dikenal di pasar global sebagai illipe butter, terutama untuk industri kosmetik dan pangan olahan. Peluang ekspor bukan hal baru, namun bagi UMKM sebaiknya diposisikan sebagai tujuan jangka panjang, bukan target awal.
Lebih jauh, kisah tengkawang mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki potensi unik yang tidak selalu bisa diseragamkan. Tidak semua wilayah memiliki hutan Kalimantan, tetapi setiap wilayah memiliki sumber daya, praktik lokal, dan cerita yang khas.
Bagi UMKM di daerah lain, tengkawang bukan ajakan untuk meniru komoditasnya, melainkan dorongan untuk lebih peka membaca potensi di sekitarnya—apa yang tumbuh secara alami, bagaimana masyarakat setempat mengelolanya, dan nilai apa yang bisa diangkat tanpa memaksakan skala. Dari kepekaan inilah peluang UMKM yang relevan dan berkelanjutan biasanya lahir.
Dalam konteks UMKM, biji tengkawang bukan sekadar alternatif bahan pangan. Ia adalah contoh bahwa peluang usaha tidak selalu datang dari yang paling populer atau paling mudah direplikasi. Kadang, peluang justru hadir dari yang selama ini terlewat—menunggu dibaca ulang dengan cara yang lebih bijak.
Bagi Sahabat Wirausaha, membaca tengkawang berarti belajar bahwa nilai usaha dapat tumbuh seiring upaya menjaga hutan, budaya, dan relasi sosial di sekitarnya. Bukan semua peluang harus massal, dan bukan semua usaha harus besar. Yang penting, ia relevan dengan konteks, dijalankan dengan kesadaran, dan tumbuh bersama ekosistem yang menopangnya. Dalam situasi ini, kepekaan membaca konteks lokal menjadi modal penting agar UMKM tidak sekadar mengikuti tren, tetapi membangun usaha yang berakar dan berdaya tahan.
Setelah membaca tengkawang, pertanyaan pentingnya justru bergeser: sudahkah Sahabat Wirausaha mengenali potensi khas daerahmu sendiri?
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Kompas.com. (2026). Buah tengkawang bisa jadi alternatif minyak sawit tanpa merusak hutan. https://www.kompas.com/tren/read/2026/02/04/113000065
- Liputan6.com. (2021). Tengkawang: Ekologi, nilai sosial budaya, dan ekonomi hutan adat Borneo. https://www.liputan6.com/regional/read/4432512
- Radar Tuban – Jawa Pos Group. (2026). Tengkawang, alternatif minyak goreng lokal berkelanjutan dari Kalimantan. https://radartuban.jawapos.com
- Multikompetensi.com. (2026). Dari hutan Kalimantan, tengkawang hadir sebagai alternatif minyak goreng berkelanjutan. https://multikompetensi.com
- Catatan Mel. (2021). Minyak tengkawang untuk skincare: kearifan lokal yang belum banyak dikenal. https://www.catatanmel.com/2021/03/minyak-tengkawang-skincare-kearifan-lokal.html









