Sahabat Wirausaha, coba bayangkan ini: setiap pagi, tumpukan tulang ikan yang berbau amis dikumpulkan, dijemur di bawah terik matahari, lalu dijual dengan harga belasan kali lipat dari harga belinya. Bukan sulap, bukan rekayasa — ini bisnis nyata yang sudah berjalan 15 tahun di bawah kolong jembatan tol, di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.

Kisah Ropika (58), warga Kalibaru Cilincing, viral bukan karena keberuntungan, tapi karena ketekunan membaca peluang di tempat yang selama ini dianggap tidak ada nilainya — limbah tulang ikan cucut. Di saat nelayan dan pengolah ikan di Muara Baru membuang atau menjual murah sisa-sisa itu, Ropika justru melihatnya sebagai bahan baku.

Fenomena ini bukan cerita tunggal. Ini adalah sinyal bahwa bisnis tulang ikan menyimpan potensi yang belum banyak digarap oleh pelaku UMKM secara serius.


Selisih Harga yang Menarik 

Angka-angka dari bisnis Ropika cukup berbicara sendiri. Berdasarkan laporan Kompas.com (15/6/2026), tulang ikan cucut dibeli dari nelayan di Muara Baru, Penjaringan, seharga Rp 4.500 per kilogram dalam kondisi basah. Setelah melalui proses penjemuran hingga benar-benar kering, harga jualnya bisa mencapai Rp 65.000 per kilogram — sebuah selisih lebih dari 14 kali lipat dari harga beli.

Perinciannya pun bervariasi tergantung bagian tulangnya. Tulang bagian kepala dihargai sekitar Rp 35.000 per kilogram, sementara tulang punggung berkisar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Dalam satu kali pengiriman ke Tegal, Jawa Tengah — yang dilakukan setiap setengah bulan sekali — volume tulang basah yang dikirim bisa mencapai sekitar 1,5 ton.

Usaha ini tidak berdiri sendiri. Ropika juga mengolah kulit ikan cucut menjadi kerupuk — dibeli seharga Rp 2.500 per kilogram, lalu diolah menjadi 250 plastik kerupuk per kilogramnya dengan harga jual Rp 2.000 per plastik. Dari gabungan dua lini usaha ini, omzetnya dilaporkan mencapai sekitar Rp 50 juta per bulan — dikelola bersama empat orang karyawan.

Koordinator Gugus Tugas Pengelolaan Sampah Universitas Gadjah Mada, Wiratni Budhijanto, menyebut praktik seperti ini sebagai contoh nyata penerapan ekonomi sirkular. Berdasarkan pernyataannya kepada Kompas.com (15/6/2026), hampir seluruh bagian ikan cucut — kulit, kepala, tulang, hingga jeroan — sebenarnya dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, alih-alih sekadar menjadi sampah organik yang membebani lingkungan.

Baca juga: 12 Ide Bisnis Perikanan Modal Kecil yang Bisa Langsung Dicoba


Kenapa Tulang Ikan Punya Pembeli?

Pertanyaan wajar muncul: siapa yang membeli tulang ikan? Jawabannya lebih luas dari yang mungkin kamu bayangkan, dan ini yang membuat bisnis tulang ikan memiliki permintaan yang cukup stabil dari berbagai segmen industri.

Pertama, industri pakan ternak dan budidaya ikan adalah pasar terbesar untuk tulang ikan kering. Tulang yang sudah diproses menjadi tepung tulang ikan mengandung kalsium dan fosfor tinggi, menjadikannya bahan baku yang dibutuhkan produsen pakan. Peneliti Ilmu dan Teknologi Pangan UGM, Ahmad Faizal Fajar Sunarma, memperkirakan bahwa sekitar 25 persen dari total produksi perikanan Indonesia berupa produk samping tulang yang belum dioptimalkan. Dengan asumsi total pengolahan ikan sekitar 7 juta ton per tahun, potensi tulang yang bisa diolah mencapai 1,75 juta ton per tahun — dan jika dikonversi menjadi tepung tulang, potensi ekonominya bisa menyentuh angka Rp 45 triliun.

Kedua, industri pengolahan pangan lokal juga menyerap tulang ikan dalam jumlah signifikan — untuk kerupuk tulang, abon, hingga nugget berbasis ikan. 

Ketiga, Kepala Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut bahwa produk olahan kulit dan tulang ikan cucut — termasuk kerupuk — memiliki potensi menembus pasar ekspor, asalkan dikelola dengan standar produksi yang baik dan kemasan yang higienis. Kandungan kolagen tinggi dalam kulit ikan cucut bahkan menjadi nilai tambah di pasar snack premium yang terus berkembang.


Tiga Titik Masuk untuk UMKM yang Ingin Mulai

Bisnis tulang ikan tidak harus dimulai dari skala Ropika yang sudah memiliki jaringan pemasok tetap selama 15 tahun. Ada beberapa titik masuk yang lebih realistis bagi Sahabat Wirausaha yang ingin menjajal peluang ini.

  • Pengumpul dan pengering bahan baku. Model paling sederhana dan modal awal paling rendah. Kamu membeli tulang ikan segar dari pengolah ikan, warung seafood, atau tempat pelelangan ikan, kemudian mengeringkannya dan menjualnya ke pengepul atau industri pengolah. Nilai tambah datang murni dari proses pengeringan — persis seperti yang Ropika lakukan di awal. Yang dibutuhkan: lahan penjemuran, meja jemur sederhana, dan akses ke sumber bahan baku yang konsisten. Modal awal bisa dimulai dari skala puluhan kilogram per hari.

  • Pengolah produk pangan berbasis tulang ikan. Ini satu tingkat lebih kompleks, tapi memberikan margin lebih tinggi dan pasar yang lebih luas. Produk yang bisa diproduksi antara lain kerupuk tulang, tepung tulang ikan untuk suplemen kalsium, atau abon berbasis ikan yang memanfaatkan sisa daging yang masih menempel. Berdasarkan jurnal Pengolahan Limbah Tulang Ikan, produk-produk ini tidak hanya diminati di pasar lokal, tetapi juga berpotensi dikembangkan melalui pemasaran digital. Tantangannya ada di standarisasi rasa dan higienitas produk untuk bisa masuk ke pasar yang lebih luas dari sekadar warung lokal.

  • Pemasok bahan baku kolagen dan gelatin industri. Ini titik masuk yang lebih teknis dan memerlukan pemahaman proses yang lebih dalam, namun pasarnya sangat besar. Berdasarkan keterangan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri dari IPB University, kulit dan tulang ikan merupakan sumber gelatin — derivat protein dari kolagen yang berguna untuk pengolahan pangan (penstabil, pengental, pengemulsi) maupun non-pangan (kosmetik, farmasi). Jenis ikan yang umum diolah menjadi gelatin dan kolagen antara lain patin, nila, tuna, hiu, kod, sturgeon, dan salmon. Industri kosmetik, farmasi, dan pangan fungsional adalah segmen yang aktif mencari bahan baku kolagen alternatif dari sumber ikan.

Baca juga: Raup Keuntungan Dari Usaha Pengolahan Hasil Perikanan: Surga Kekayaan Laut Indonesia!


Yang Perlu Kamu Pertimbangkan Sebelum Mulai

Bisnis tulang ikan memiliki daya tarik yang nyata, tapi ada beberapa risiko operasional dan pasar yang perlu dipahami sebelum kamu terjun.

Yang pertama adalah soal konsistensi pasokan bahan baku. Tidak semua daerah memiliki akses ke sumber tulang ikan dalam jumlah besar dan harga yang kompetitif. Model bisnis ini sangat bergantung pada kedekatan geografis dengan sumber bahan baku — pelabuhan, TPI (Tempat Pelelangan Ikan), atau industri pengolah ikan. Jika kamu tidak berada di dekat sumber itu, biaya logistik bisa menggerus margin secara signifikan.

Kedua, proses pengeringan yang bergantung pada cuaca. Ropika sendiri mengakui bahwa proses penjemuran membutuhkan sinar matahari yang cukup — dan saat musim hujan, waktu pengeringan bisa berlipat hingga satu minggu. Ini berdampak langsung pada kapasitas produksi dan jadwal pengiriman. Investasi pada alat pengering mekanis bisa menjadi solusi, tapi juga berarti penambahan biaya awal.

Ketiga, aspek perizinan dan higienitas perlu diperhatikan sejak awal, terutama jika kamu berniat mengolah tulang ikan menjadi produk pangan atau suplemen. Sertifikasi dari BPOM dan sertifikat halal bukan hambatan yang tidak bisa diatasi, tapi perlu direncanakan dengan benar agar bisnis bisa tumbuh melampaui pasar informal.


Limbah yang Jadi Cuan Puluhan Juta

Ropika tidak mulai dari modal besar atau koneksi bisnis yang luas. Ia mulai dari kenekatannya melihat nilai di tempat yang orang lain lewati begitu saja. Selama 15 tahun, bisnis itu tumbuh — dari sekadar coba-coba menjadi omzet puluhan juta per bulan, dari satu orang menjadi tim kecil yang bekerja setiap hari.

Pertanyaannya bukan apakah bisnis tulang ikan itu menjanjikan — datanya sudah cukup menjawab. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: di lingkungan kamu, berapa banyak limbah perikanan yang setiap harinya dibuang begitu saja? Dan apakah kamu sudah mulai melihatnya sebagai peluang?

Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Gagal di 10 Produk, Nia Temukan Jalannya Lewat Garam Infused Salty Ship

Ilmu yang bermanfaat layak untuk terus bergerak. Jika artikel ini memberikan nilai, bantu kami sebarkan kepada sesama pelaku usaha yang mungkin sedang membutuhkannya.

Kamu juga bisa berkontribusi lebih jauh dengan mendukung keberlanjutan konten edukatif ini melalui fitur Dukung Kami di bawah artikel — setiap dukungan berarti bagi kami.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin tumbuh dalam komunitas yang saling menguatkan, bergabunglah di ukmindonesia.id/registrasi. Di sinilah tempat para pelaku UMKM belajar bersama dan naik kelas.

Daftar Referensi:

  • Kompas.com – Bisnis Tulang Ikan di Jakut: Dibeli Rp 4.500, Dijual hingga Rp 65.000. 2026. https://megapolitan.kompas.com/read/2026/06/17/14422951/bisnis-tulang-ikan-di-jakut-dibeli-rp-4500-dijual-hingga-rp-65000
  • Kompas.com – Limbah Kulit Ikan Cucut Diolah Jadi Kerupuk di Cilincing, Omzet Rp 50 Juta per Bulan. 2026. https://megapolitan.kompas.com/read/2026/06/17/08271471/limbah-kulit-ikan-cucut-diolah-jadi-kerupuk-di-cilincing-omzet-rp-50-juta 
  • Republika – Rokhmin: Limbah Perikanan, dari Sampah Menjadi Berkah (2020). https://ekonomi.republika.co.id/berita/qfbbdw374/rokhmin-limbah-perikanan-dari-sampah-menjadi-berkah 

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.