
Sahabat Wirausaha, nama Atika Algadri Makariem mungkin tidak sering muncul di halaman depan media bisnis. Namun, apa yang ia bangun bersama dua rekannya pada September 1972 menjadi salah satu contoh wirausaha perempuan paling relevan untuk dipelajari hingga hari ini: mendirikan bisnis media di saat industri belum menyediakan ruang bagi suara perempuan, tanpa modal pelatihan jurnalistik formal, dan di tengah ekosistem ekonomi yang baru mulai bergerak.
Atika Algadri Makariem — dikenal pula sebagai Atika Anwar Makarim atau Tika Makarim — lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 21 Maret 1945. Ia merupakan putri dari Hamid Algadri, pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang terlibat dalam Perundingan Linggarjati, Renville, hingga Konferensi Meja Bundar. Latar keluarga yang kuat dalam nilai perjuangan dan keberanian berpendapat tampak membentuk cara Atika memandang peluang — termasuk peluang bisnis. Ia kemudian menempuh pendidikan hingga meraih gelar Master of Education dari Harvard University, sebuah pencapaian yang tidak umum bagi perempuan Indonesia di era 1960–1970-an.
Data Wirausaha Perempuan Indonesia: Besar, tapi Belum Optimal
Sebelum membahas lebih jauh perjalanan Atika, penting untuk memahami konteks data wirausaha perempuan di Indonesia saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 sebagaimana dikutip Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan, setara dengan sekitar 37 juta orang.
Angka ini terlihat besar. Namun, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024 mencatat bahwa hanya 18 persen dari UMKM yang dikelola perempuan memiliki akses ke layanan keuangan formal. Artinya, mayoritas pengusaha perempuan masih beroperasi di ekosistem yang rapuh secara struktural — aktif secara kuantitas, tetapi terbatas secara kapasitas. Rasio wirausaha Indonesia secara keseluruhan pun masih berada di angka 3,35 persen dari total angkatan kerja per Oktober 2024, jauh di bawah Malaysia (4,74%) dan Singapura (8,76%), berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan analitis yang penting: apa yang membedakan wirausaha perempuan yang mampu membangun usaha berkelanjutan dengan yang stagnan? Perjalanan Atika dan Femina menawarkan beberapa jawaban yang layak dikaji.
Femina 1972: Ketika Tiga Ibu Rumah Tangga Membangun Bisnis Media
Pada 18 September 1972, majalah Femina terbit untuk pertama kalinya. Tiga sosok di balik produksi perdananya adalah Mirta Kartohadiprodjo, Widarti Gunawan, dan Atika Anwar Makarim — yang oleh Mirta sendiri diakui bukan berlatar belakang wartawan profesional. Mereka bukan eksekutif korporat. Mereka ibu rumah tangga dengan modal ide, keberanian mengisi kekosongan pasar, dan kemampuan melihat kebutuhan yang belum terlayani.
Konteks pasar saat itu cukup jelas: belum ada majalah berbahasa Indonesia yang menempatkan perempuan sebagai tokoh utama cerita, bukan sekadar pelengkap rubrik gaya hidup. Berdasarkan arsip Perpustakaan Digital UI, Femina Group berdiri sejak 1970 dan berkembang menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia, menaungi lebih dari 13 majalah baik lokal maupun berlisensi global.
Strategi editorial Femina sejak awal menarget perempuan usia 25–35 tahun, berstatus bekerja dan berwirausaha, dari kelas menengah ke atas. Ini bukan kebetulan — ini adalah keputusan segmentasi pasar yang disengaja, jauh sebelum istilah 'target audience' populer di dunia pemasaran Indonesia. Dari perspektif bisnis media, Femina tumbuh karena menangkap niche yang nyata: perempuan Indonesia membutuhkan konten dalam bahasa mereka, dengan perspektif mereka.
Pelajaran Wirausaha: Apa yang Bisa Kamu Pelajari dari Atika?
Sahabat Wirausaha, kisah Atika dan Femina menyimpan beberapa pola yang relevan untuk konteks UMKM modern. Pertama, bisnis yang berkelanjutan dimulai dari identifikasi kekosongan pasar yang nyata, bukan sekadar tren sesaat. Pada 1972, kekosongan itu adalah konten media berbahasa Indonesia untuk perempuan. Hari ini, kekosongan serupa mungkin ada di berbagai segmen: konten edukatif lokal, jasa digital berbasis komunitas, atau produk yang menyesuaikan kebutuhan spesifik pelaku usaha kecil.
Kedua, keterbatasan latar belakang profesional bukan hambatan mutlak. Atika dan rekan-rekannya bukan jurnalis terlatih, namun mereka memiliki kapasitas untuk belajar, bereksperimen, dan membangun tim. Ini pola yang relevan untuk UMKM: memulai dengan kapabilitas yang ada, kemudian membangun sistem secara bertahap.
Ketiga, modal sosial dan nilai keluarga berfungsi sebagai fondasi jangka panjang. Atika dikenal sebagai pendiri perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) dan aktif sebagai pegiat antikorupsi dan pluralisme — nilai-nilai yang ia tanamkan dalam kehidupan keluarga maupun kiprah publiknya. Dalam konteks bisnis, reputasi dan integritas membangun kepercayaan jangka panjang yang jauh lebih tahan lama dibanding viral marketing sesaat.
Baca juga: 7 Pekerjaan Online yang Cocok Bagi Perempuan, Meningkatkan Fleksibilitas dan Kemandirian Ekonomi
Implikasi untuk Pelaku UMKM Perempuan: Dari Inspirasi ke Aksi
Kamu mungkin bertanya: apa hubungan antara majalah Femina 1972 dengan UMKM kamu hari ini? Hubungannya ada pada pola pikir bisnis yang bisa diterapkan lintas era. Wirausaha perempuan yang mampu bertahan — baik di era media cetak maupun era digital seperti sekarang — biasanya memiliki kesamaan: mereka mendefinisikan masalah dengan jelas, membangun produk atau layanan berbasis kebutuhan nyata, dan memiliki disiplin dalam menjaga nilai usaha mereka.
Femina sendiri mengalami transformasi besar: sejak 2023, majalah ini tidak lagi memproduksi versi cetak dan beralih sepenuhnya ke platform digital. Ini bukan kegagalan — ini adalah adaptasi yang mencerminkan realitas pasar. Bagi UMKM perempuan yang kini beroperasi di ekosistem digital, kemampuan adaptasi seperti inilah yang menjadi pembeda antara usaha yang bertahan dan yang tidak.
Jika merujuk data tantangan yang ada — rendahnya akses keuangan formal dan terbatasnya literasi bisnis digital — maka pekerjaan rumah bagi pengusaha perempuan Indonesia masih panjang. Namun, data juga menunjukkan potensi: 37 juta pelaku UMKM perempuan adalah kekuatan ekonomi yang, jika terorganisir dan terliterasi dengan baik, mampu menjadi motor penggerak PDB nasional secara signifikan.
Risiko dan Konteks: Tidak Semua Perjalanan Linear
Penting untuk tidak membaca kisah Atika Algadri Makariem secara naratif tunggal yang serba mulus. Femina Group juga mengalami masa sulit — termasuk krisis operasional yang berujung pada persoalan hukum ketenagakerjaan. Transformasi digital yang terlambat merupakan risiko nyata bagi bisnis media manapun.
Bagi kamu yang mengelola UMKM, ini adalah pengingat bahwa tidak ada model bisnis yang abadi tanpa evaluasi berkala. Atika sendiri pada akhirnya meninggalkan Femina dan fokus pada bidang lain — antikorupsi dan penulisan. Ini pun merupakan keputusan wirausaha: mengenali kapan harus melanjutkan, kapan harus beralih, dan kapan harus melepas dengan terhormat.
Risiko lain yang perlu kamu pertimbangkan dalam skala UMKM: ketergantungan pada satu platform distribusi, kurangnya pemisahan keuangan usaha dan pribadi, serta absennya sistem pencatatan yang memadai. Data OJK mengingatkan bahwa akses keuangan formal yang rendah di kalangan UMKM perempuan sebagian besar juga disebabkan oleh ketidaksiapan administratif — bukan semata-mata masalah diskriminasi pasar.
Baca juga: Peran Digitalisasi Bagi UMKM yang Dikelola Perempuan dan Rumah Tangga, Seberapa Besar Dampaknya?
Perspektif Akhir: Warisan yang Tidak Berbentuk Bangunan
Sahabat Wirausaha, warisan seorang wirausaha perempuan seperti Atika Algadri Makariem tidak terukur dari berapa lama namanya tercantum di masthead sebuah majalah. Ia terukur dari pertanyaan-pertanyaan yang ia — dan Femina — dorong untuk diajukan: Apakah perempuan punya suara dalam ekonomi? Apakah bisnis yang dibangun dari nilai-nilai kuat bisa bertahan melewati krisis? Apakah integritas dan keberanian mengambil risiko bisa diajarkan lintas generasi?
Dalam ekosistem UMKM Indonesia yang terus berubah, pertanyaan-pertanyaan itu tetap relevan. Kamu tidak perlu mendirikan majalah nasional untuk meninggalkan jejak. Tapi kamu perlu membangun usaha yang punya alasan kuat untuk ada — bukan sekadar karena tren, melainkan karena ada masalah nyata yang kamu selesaikan dengan cara yang jujur.
Kalau Atika dan dua rekannya bisa memulai tanpa latar belakang jurnalistik dan membangun grup media berskala nasional dari nol, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan 'apakah kamu siap?' — melainkan 'apakah kamu cukup jelas melihat masalah yang ingin kamu selesaikan?'
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Referensi data: BPS 2024, OJK 2024, KemenPPPA, KemenKopUKM, Arsip UI
Sumber foto: https://kaltim.tribunnews.com/
Dukung UKM Indonesia
Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.









