Sahabat Wirausaha, pernah terpikir kalau limbah pertanian bisa berubah jadi genteng yang kuat dan tahan gempa? Atau tepung bergizi yang bisa menggantikan gandum impor? Itulah sorgum—tanaman yang selama ini dianggap “tanaman sampingan” di beberapa daerah Indonesia, tapi kini mulai dilirik pemerintah sebagai komoditas strategis untuk diversifikasi pangan dan pembangunan berkelanjutan. Lebih penting lagi: sorgum membuka peluang bisnis konkret untuk UMKM lokal melalui hilirisasi, dari panen hingga produk akhir yang bernilai tinggi.

Apa itu sorgum? Ini adalah tanaman serealia yang sudah dikenal ribuan tahun, asalnya dari Afrika Timur. Di Indonesia, sorgum tumbuh subur terutama di daerah kering karena adaptasi tinggi terhadap kekeringan—tidak perlu banyak air seperti padi atau jagung. Keunggulan inilah yang membuat pemerintah mulai serius mengembangkannya sebagai alternatif impor gandum yang mencapai 8,3 juta ton per tahun (senilai USD 2,4 miliar). Namun, untuk transformasi ini berjalan efektif, dibutuhkan UMKM yang siap menangkap peluang hilirisasi—mengubah biji dan limbah sorgum menjadi produk bernilai tinggi.


Produksi Sorgum Indonesia: Dari Kecil Menuju Target Ambisius

Saat ini, produksi sorgum Indonesia masih sangat kecil dibanding potensinya. Pada 2019-2020, produksi nasional hanya berkisar 4.000-6.000 ton per tahun. Pada 2019, tercatat produksi 6.114 ton, meningkat menjadi 7.695 ton pada 2020—pertumbuhan yang sangat perlahan. Produktivitas rata-rata nasional hanya 2-3 ton per hektar, jauh di bawah potensi optimal yang bisa mencapai 3-4 ton per hektar.

Namun, pemerintah menetapkan target yang ambisius. Pada 2022, target luas tanam adalah 15.000 hektar dengan produksi 115.848 ton (asumsi produktivitas 4 ton/ha). Tahun 2023, target ditingkatkan menjadi 115.000 hektare. Pada 2024, pemerintah menargetkan 154.000 hektar dengan proyeksi produksi 154.464 ton. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: pemerintah benar-benar berniat menjadikan sorgum sebagai pilar diversifikasi pangan nasional.

Sentra produksi sorgum tersebar di enam provinsi utama. Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pusat terbesar dengan luas tanam 3.400 hektare, khususnya di Kabupaten Waingapu yang menjadi prioritas pemerintah. Jawa Barat menempati posisi kedua dengan 488 hektar, diikuti Kalimantan Barat (305 ha), Jawa Timur (200 ha), Jawa Tengah (120 ha), dan Nusa Tenggara Barat (100 ha). Di Jawa Timur sendiri, sorgum sudah dikembangkan di Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Pacitan, Sampang, Sumenep, dan Probolinggo dengan produktivitas mencapai 2,5-3 ton per hektar.

Baca juga: Potensi Bisnis UMKM dari Loofah: Peluang Nyata yang Selama Ini Diabaikan


Sorgum Bukan Sekadar Pangan: Potensi Hilirisasi Berlapis

Di sinilah peluang bisnis UMKM dimulai—sorgum bukan hanya untuk pangan, melainkan “pohon industri” yang setiap bagiannya bisa dimanfaatkan. Biji sorgum dapat diolah menjadi beras gluten-free, tepung, atau bahkan etanol berkualitas tinggi. Batang sorgum manis menghasilkan nira yang dapat diproses menjadi gula coklat, gula kristal, atau kecap. Sisa panen—daun dan bagase (ampas)—menjadi pakan ternak berkualitas tinggi atau bahkan bahan baku material bangunan.

Inilah yang menarik: limbah pertanian sorgum dapat dikonversi menjadi genteng komposit yang ramah lingkungan. Berdasarkan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang telah dipatenkan, genteng sorgum dibuat dari bagas sorgum (ampas) dan molase (limbah gula) tanpa menggunakan semen atau perekat sintetis. Genteng ini memiliki keunggulan signifikan: emisi lebih rendah, aman untuk kesehatan, cocok untuk iklim tropis, bobotnya ringan, dan tahan terhadap gempa. Untuk daerah yang rawan bencana gempa seperti banyak wilayah di Indonesia timur, inovasi ini sangat relevan.

BRIN membuka peluang kolaborasi dengan industri dalam negeri untuk produksi genteng komposit sorgum secara massal. Langkah ini tidak hanya mendukung ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah pertanian, tetapi juga menciptakan value chain baru dari hulu hingga hilir.

Lebih konkret lagi: PT Pertamina (Persero) sedang mengembangkan sorgum sebagai bahan baku bioetanol untuk campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin. Pertamina melihat sorgum sebagai solusi diversifikasi feedstock energi terlepas dari keterbatasan molase (limbah gula). Keunggulan unik sorgum adalah tidak ada konflik antara pangan dan energi seperti pada tebu—biji sorgum bisa diolah untuk pangan (mengurangi impor gandum), sementara batang digunakan untuk bioetanol (mengurangi impor BBM). Pertamina saat ini sedang menggarap pilot project budidaya sorgum di Nusa Tenggara Barat menggunakan teknologi geospasial untuk identifikasi lahan yang cocok. Ini berarti batang sorgum sudah memiliki off-taker (pembeli) potensial yang serius.


Peluang Bisnis UMKM Lokal: Dari Petani hingga Pengolah

Untuk memahami peluang bisnis sebagai UMKM, kamu perlu mengerti dinamika hilirisasi sorgum di setiap tahapnya. Pertama, tingkat petani: Sorgum adaptif terhadap lahan kering, kebutuhan input minimal (pupuk, air), dan dapat dipanen 3-5 kali dalam satu periode tanam (disebut ratun). Ini berarti efisiensi lahan jauh lebih tinggi dibanding tanaman lain. Petani di sentra produksi—khususnya di NTT, Jawa Timur, dan Jawa Barat—sudah memiliki tradisi menanam sorgum, meski masih dalam skala kecil.

Kedua, tingkat UMKM pengolahan: Disinilah letak peluang terbesar yang belum tergarap. Hingga kini, industri tepung skala UMKM di daerah sentra sorgum masih belum terbentuk secara masif. UMKM pengolahan sorgum bisa fokus pada: (a) pembuatan tepung sorgum untuk pangan lokal dan modern (roti, kue, makanan bayi) dengan potensi off-take dari industri makanan besar, (b) produksi beras sorgum untuk konsumsi langsung, (c) pengolahan nira menjadi gula coklat atau gula semut, atau (d) kolaborasi dengan BRIN untuk memproduksi genteng sorgum komposit. Lebih strategis lagi, petani dan UMKM yang menanam sorgum sudah memiliki jaminan pasar untuk batang sorgum melalui PT Pertamina yang sedang mengembangkan bioetanol. Ini berbeda dengan komoditas pangan lain yang seringkali menghadapi ketidakpastian pasar—Pertamina sudah siap menjadi off-taker dengan jaminan harga dan volume yang jelas.

Ketiga, dukungan pemerintah: Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Ini membuka peluang subsidi, insentif harga, dan bahkan kewajiban industri besar untuk mencampurkan minimal 30% tepung lokal (termasuk sorgum) dalam produk mereka. UMKM yang siap dengan standar kualitas akan mendapat akses pasar yang lebih luas melalui program Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dan insentif industri besar.

Baca juga: Teknologi IoT Pertanian Mulai Terjangkau, UMKM Agribisnis Bisa Tingkatkan Omzet Lebih Cepat


Bagaimana UMKM dapat Memaksimalkan Peluang Ini?

Pertama, identifikasi lokasi dan kemitraan. Jika kamu berada di sentra produksi—NTT, Jawa Timur, atau Jawa Barat—kamu memiliki akses langsung ke petani sorgum. Hubungi kelompok tani atau koperasi petani untuk memahami volume produksi dan jadwal panen mereka. Kemitraan yang stabil dengan petani adalah fondasi bisnis hilirisasi yang berkelanjutan.

Kedua, investasi dalam teknologi pengolahan. Peralatan pasca panen seperti mesin penepung, penyosoh biji, atau peralatan pengeringan masih terbatas di level petani. UMKM yang mampu memiliki alat-alat ini akan menjadi critical juncture dalam value chain. Teknologi ini tidak perlu impor mahal—banyak produsen lokal yang menghasilkan mesin pengolahan sorgum dengan harga terjangkau.

Ketiga, fokus pada produk yang sudah ada pasar. Tepung sorgum untuk industri makanan (roti, biskuit, makanan bayi) memiliki permintaan yang lebih pasti dibanding produk eksperimental. Gula sorgum atau gula semut juga memiliki pasar yang jelas di segmen konsumen modern yang mencari alternatif gula konvensional. Sebelum diversifikasi ke produk baru seperti genteng sorgum, pastikan basic business model sudah solid.

Keempat, sertifikasi dan standar kualitas. Pemerintah mendorong produk sorgum masuk dalam program CPP, namun ini memerlukan standar produksi yang ketat. UMKM harus memenuhi persyaratan kebersihan, nutrition labeling, dan dokumentasi supply chain yang transparan.


Tantangan yang Nyata: Jangan Abaikan Risiko Pasar

Meskipun peluang besar terbentang, UMKM sorgum juga menghadapi hambatan signifikan yang perlu diantisipasi sejak awal.

Pertama, pasar untuk pangan belum sepenuhnya established. Produk sorgum—terutama dalam bentuk olahan pangan—masih kurang dikenal masyarakat luas. Tepung sorgum, beras sorgum, atau gula sorgum bukan produk familiar bagi konsumen Indonesia yang terbiasa dengan produk berbasis gandum atau beras putih. UMKM harus berinvestasi dalam edukasi konsumen dan branding, yang memerlukan biaya marketing yang tidak kecil. Namun, untuk batang sorgum sebagai bahan bioetanol, pasar sudah lebih pasti karena Pertamina sudah melakukan pilot project dan siap menjadi off-taker dalam volume signifikan.

Kedua, harga kompetitif untuk produk pangan belum terbentuk. Saat artikel ini ditulis (Maret 2025), harga sorgum kering panen sekitar Rp13.000 per kilogram. Untuk UMKM pengolahan pangan bisa profitable, margin antara harga bahan baku dan harga jual produk akhir harus memadai. Namun, tanpa jaminan pasar dari industri besar atau pemerintah, harga produk sorgum olahan sering tidak kompetitif dibanding substitut lainnya (gandum impor, tepung jagung). Subsidi harga atau insentif dari pemerintah masih belum konsisten. Sebaliknya, untuk batang sorgum—dengan Pertamina sebagai offtaker—harga sudah ada referensi pasar yang lebih jelas.

Ketiga, infrastruktur pengolahan masih lemah untuk produk pangan. Meskipun pemerintah mendorong hilirisasi, di lapangan masih banyak daerah sentra yang kekurangan peralatan modern untuk pengolahan pangan. Penyosohan biji sorgum lebih sulit dibanding beras, memerlukan teknologi khusus. Tanpa mesin yang tepat, UMKM akan menghadapi bottleneck produksi dan efisiensi rendah.

Keempat, supply bahan baku masih terbatas untuk scale up. Dengan produksi nasional yang masih sekitar 7.000-15.000 ton per tahun (tergantung realisasi target), volume bahan baku untuk UMKM pengolahan masih relatif kecil. Jika banyak UMKM pengolahan pangan bersaing merebut bahan baku yang sama, harga akan naik dan margin keuntungan tergerus. Ini berbeda dengan model energi yang dipromosikan Pertamina—batang sorgum bisa memanfaatkan seluruh biomassa tanpa kompetisi dengan sektor pangan.

Kelima, kemitraan dengan petani belum berkelanjutan. Beberapa UMKM sorgum yang ada biasanya beroperasi secara sporadis—hanya ketika ada pasokan bahan baku, kemudian menganggur saat musim tidak panen. Untuk bisnis yang sustainable, perlu ekosistem yang sehat dari hulu ke hilir, dengan jaminan supply dan demand yang stabil. Di sinilah peran Pertamina menjadi penting—sebagai anchor customer yang memberikan kepastian pada petani untuk terus memproduksi sorgum dalam volume konsisten.

Baca juga: Peluang Ekspor Kratom bagi UMKM Petani Indonesia di Tengah Ketatnya Regulasi Global


Sorgum Sebagai Pilihan Jangka Panjang UMKM

Sahabat Wirausaha, sebelum kamu memutuskan memasuki bisnis sorgum, ada pertanyaan reflektif yang perlu dijawab: apakah kamu siap jadi pelopor di pasar yang potensinya besar, tapi masih berkembang?

Sorgum bukan komoditas “sudah mapan” seperti beras atau jagung. Ini adalah pasar yang sedang berkembang, didukung oleh pemerintah melalui regulasi dan insentif, tetapi belum memiliki ekosistem bisnis yang solid di level UMKM. Petani sorgum masih sedikit, UMKM pengolahan belum banyak, dan konsumen masih perlu diedukasi.

Namun, justru itulah peluangnya. UMKM yang bergerak lebih dulu akan memiliki keuntungan first-mover—menguasai supply petani lokal, membangun brand awareness, dan menciptakan kesetiaan konsumen sebelum kompetitor besar masuk. Dengan dukungan pemerintah melalui subsidi dan program CPP, kesempatan ini mungkin hanya terbuka untuk beberapa tahun ke depan.

Target sorgum 2024 (154.000 ha) sangat ambisius. Jika tercapai, akan ada lonjakan signifikan dalam ketersediaan bahan baku. UMKM yang sudah siap dengan kapasitas dan teknologi pengolahan akan menjadi pemain kunci dalam rantai pasok baru ini. Sebaliknya, UMKM yang menunggu hingga pasar “matang” akan ketinggalan momentum.

Pertanyaannya: apakah kamu siap berinvestasi dalam teknologi pengolahan, penguatan merek, dan kemitraan petani sekarang—meskipun pasar masih belum pasti? Atau kamu lebih nyaman menunggu hingga sorgum menjadi pilihan aman seperti komoditas lain, dan menerima margin keuntungan yang lebih kecil karena persaingan lebih ketat?

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Daftar Referensi:

  • Badan Pangan Nasional (BPN) - Siaran Pers resmi Maret 2025 tentang hilirisasi sorgum. https://badanpangan.go.id/blog/post/hilirisasi-sorgum-langkah-strategis-badan-pangan-nasional-wujudkan-swasembada-pangan 
  • BRMP Kementerian Pertanian - Data pengembangan sorgum hulu-hilir dari Kementan. https://serealia.brmp.pertanian.go.id/berita/pengembangan-sorgum-dari-hulu-ke-hilir-hingga-market 
  • BPS - Data statistik produksi sorgum nasional. https://ntt.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTM1MiMx/jumlah-usaha-pertanian-perorangan-tanaman-sorgum-menurut-kabupaten-kota-dan-pemanfaatan-produksi-unit-2023.html 
  • RRI (Radio Republik Indonesia) - Media berita nasional, sumber berita genteng BRIN. https://gayahidup.rri.co.id/waykanan/iptek/2300873/genteng-sorgum-brin-siap-dikomersialkan-dukung-industri-hijau 
  • CNBC Indonesia (2024). “Budidayakan Tanaman Ini, RI Bisa Auto Swasembada Pangan & Energi!”. 2024. https://www.cnbcindonesia.com/news/20241028080230-4-583466/budidayakan-tanaman-ini-ri-bisa-auto-swasembada-pangan-energi 
  • Sumber foto: https://www.ffa.org/ffa-in-the-usa/sorghum-foods-best-kept-secret/ dan https://bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/57_panen-perdana-sorgum-di-desa-telaga-harap-menjadi-tambahan-penghasilan-petani 

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.