Sahabat Wirausaha, di tengah gempuran furnitur sintetis yang selama ini mendominasi rak-rak toko dunia, konsumen global perlahan berbalik arah dan kembali memburu produk berbahan alami — tren yang membuka jalan lebar bagi furnitur rotan Indonesia untuk semakin dilirik pasar internasional. Kabar baiknya, posisi Indonesia di panggung ekspor rotan dunia sekarang didukung sejumlah data konkret yang bisa jadi bekal kamu membaca peluang ini, sehingga kamu tidak hanya menilai tren dari permukaan saja:

  • Ekspor furnitur rotan Indonesia pada 2025 tercatat senilai USD41,09 juta, dengan pasar utama mencakup Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Jerman, Inggris, Australia, dan Taiwan, menurut data Kementerian Perdagangan (Kemendag).

  • Indonesia memasok sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku rotan dunia, dengan produksi mencapai 1,7 juta batang atau setara 15.000 ton pada 2024 menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

  • Dua sentra produksi utama, yaitu Cirebon di Jawa Barat dan Desa Trangsan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi tulang punggung produksi furnitur rotan nasional yang mayoritas hasilnya berorientasi ekspor.

  • Permintaan impor furnitur rotan di pasar global tumbuh rata-rata 4,3 persen per tahun, meski ancaman rotan sintetis yang harganya 20–30 persen lebih murah membuat daya saing produk rotan alami perlu terus dijaga.


Tren Global: Dunia Kembali Melirik Furnitur Rotan Alami

Pergeseran selera konsumen ini bukan sekadar tren musiman. Kemendag mencatat, konsumen di negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang kini semakin mengutamakan produk yang ramah lingkungan, tahan lama, dan memiliki jejak karbon rendah — kriteria yang justru menjadi kekuatan alami furnitur rotan dibanding material sintetis berbasis plastik. Sektor hospitality global pun ikut mendorong permintaan ini. Hotel dan resor mewah di berbagai destinasi dunia, dari Eropa hingga Timur Tengah, banyak mengutamakan furnitur natural untuk menciptakan suasana hangat, eksotis, dan elegan, karakter yang sangat identik dengan furnitur rotan karya pengrajin Indonesia.

Momentum ini penting bagi kamu yang bergerak di sektor kerajinan atau furnitur, karena artinya pasar sedang aktif mencari alternatif dari produk yang selama ini kamu anggap sebagai pesaing utama. Pertanyaannya bukan lagi apakah pasar rotan alami masih ada, melainkan seberapa siap UMKM Indonesia mengambil porsi lebih besar dari tren ini.

Baca juga: Kisah Inspiratif UMKM: Limbah Kerang Disulap Nanik Jadi Produk Bernilai Tinggi, Kini Dijual di Museum Amerika


Sentra Produksi Rotan Indonesia: dari Cirebon hingga Trangsan

Usaha industri kerajinan rotan di Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. /dok cirebonkab.go.id

Kekuatan Indonesia di industri rotan tidak lepas dari sentra-sentra produksi yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Cirebon, khususnya Desa Tegalwangi di Kecamatan Weru, dikenal sebagai pusat kerajinan rotan sejak era 1970-an dan pernah memiliki lebih dari 1.000 unit usaha rotan aktif. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, ekspor kerajinan rotan daerah ini pada triwulan I-2024 mencapai USD13,12 juta, terdiri dari furnitur rotan senilai USD12,2 juta dan keranjang rotan senilai USD849.839 — angka yang menunjukkan Cirebon tetap menjadi komoditas ekspor unggulan meski menghadapi tekanan bahan baku.

ESPOS.ID - Seorang pengrajin menjemur kursi berbahan dasar rotan di daerah Trangsan, Sukoharjo. (JIBI/SOLOPOS/Dok.)

Sentra kedua yang tak kalah penting adalah Desa Trangsan di Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kerajinan rotan di desa ini sudah berjalan sejak 1920-an dan pernah tercatat sebagai sentra rotan terbesar kedua di Indonesia pada periode 1970–1990. Saat ini sekitar 220 kepala keluarga berprofesi sebagai perajin dan menyerap kurang lebih 5.000 tenaga kerja, dengan sekitar 90 persen hasil produksinya diarahkan untuk pasar ekspor. Untuk memperkuat rantai produksi, pemerintah bersama Koperasi Trangsan Manunggal Jaya meresmikan Rumah Produksi Bersama (RPB) Komoditas Rotan, fasilitas yang mengolah bahan baku rotan menjadi produk setengah jadi hingga furnitur siap ekspor. Produk dari RPB ini sudah menembus pasar Prancis, Kanada, Spanyol, dan Uni Emirat Arab, didukung sertifikasi ISO 9001:2015, SNI untuk produk kursi dan meja sekolah, serta Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK).


Peta Pasar Ekspor dan Peluang Baru bagi UMKM

Selain pasar rumah tangga, sektor hospitality global menawarkan peluang ekspor yang besar bagi furnitur rotan Indonesia, terutama untuk segmen hotel dan resor premium yang mengutamakan material natural. Di luar tujuan tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Jerman, Inggris, Australia, dan Taiwan, sejumlah pasar baru mulai terbuka. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan nilai ekspor industri kerajinan Indonesia — termasuk furnitur dan kerajinan rotan sebagai salah satu kontributor utama — pada triwulan I-2026 mencapai sekitar USD165,27 juta, naik 4,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jerman menjadi salah satu pasar yang makin menjanjikan berkat tren konsumsi hijau yang terus meningkat, dan keberhasilan menembus pasar ini kerap membuka akses ke negara Eropa lain seperti Belanda, Belgia, dan kawasan Skandinavia. Australia juga relatif mudah dijangkau UMKM karena kedekatan geografis dan fasilitas perdagangan dari Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Untuk mendorong pencapaian ini, pemerintah menetapkan target ekspor mebel dan kerajinan nasional sebesar USD5 miliar per tahun, sebuah target yang realistiknya membutuhkan kontribusi aktif dari UMKM di berbagai sentra produksi, bukan hanya eksportir besar.

Baca juga: 6 Peluang Usaha dari Contoh Produk Kerajinan yang Menjanjikan untuk UMKM


Cara UMKM Ikut Ambil Bagian dalam Rantai Ekspor

Untuk masuk ke rantai ekspor furnitur rotan, ada sejumlah syarat administratif yang wajib kamu penuhi. Usahamu perlu berbadan hukum resmi, mengantongi sertifikasi Eksportir Terdaftar Produk Rotan (ETR) dari Kemendag, serta memiliki Nomor Induk Kepabeanan (NIK) dari Bea Cukai. Dari sisi kualitas, produk yang dihasilkan harus presisi dan seragam dengan toleransi maksimal 0,2 persen dari ukuran standar sampel yang telah disetujui pembeli.

Selain memenuhi syarat administratif, kamu juga bisa memanfaatkan program pendampingan yang rutin digelar Kemendag, mulai dari kegiatan business matching bulanan dengan perwakilan perdagangan di luar negeri, pendampingan desain produk rotan dan kayu, hingga keikutsertaan dalam pameran internasional seperti IFEX yang setiap tahun mempertemukan ribuan buyer mancanegara dengan pelaku usaha dalam negeri. Model RPB Komoditas Rotan di Trangsan juga bisa jadi rujukan bagi sentra produksi lain: dengan mengelola produksi secara kolektif melalui koperasi, UMKM skala kecil bisa memenuhi standar sertifikasi dan volume pesanan yang biasanya sulit dicapai sendiri-sendiri.


Risiko, Regulasi, dan Tantangan yang Perlu Diwaspadai

Di balik peluangnya, industri rotan nasional menghadapi sejumlah tantangan struktural yang perlu kamu pahami sebelum terjun lebih jauh. Kebijakan larangan ekspor rotan mentah dan setengah jadi, yang sejatinya ditujukan untuk mendorong hilirisasi di dalam negeri, di sisi lain membuat sebagian pelaku usaha di sektor hulu kesulitan menjual bahan baku, sehingga pasokan untuk industri pengolahan justru ikut terganggu akibat maraknya penyelundupan yang menurunkan suplai bahan baku resmi sekitar 8–10 persen.

Ancaman lain datang dari luar negeri: rotan sintetis yang harganya 20–30 persen lebih murah dibandingkan rotan alam membuat negara pesaing seperti China dan Vietnam mampu menawarkan produk furnitur rotan dengan harga jauh lebih kompetitif di pasar global. Kondisi ini perlu diwaspadai karena persaingan bukan hanya soal kualitas dan desain, tetapi juga soal harga yang bisa jadi pertimbangan utama sebagian buyer, terutama di segmen furnitur massal. Karena itu, strategi ekspor UMKM rotan Indonesia perlu diarahkan ke segmen premium yang justru mengutamakan keaslian material dan nilai kerajinan tangan — bukan berkompetisi langsung di segmen harga murah.

Baca juga: Mendekor Salurkan Dekorasi Unik Buatan Pengrajin Lokal secara Online


Merawat Rotan sebagai Warisan, Bukan Sekadar Komoditas Musiman

Sahabat Wirausaha, peluang ekspor furnitur rotan yang sedang terbuka lebar ini sebaiknya dilihat sebagai momentum jangka panjang, bukan gelombang sesaat yang cukup dinikmati sambil lalu. Sentra-sentra seperti Cirebon dan Trangsan sudah membuktikan bahwa keahlian menganyam rotan yang diwariskan turun-temurun bisa bertahan hampir satu abad dan tetap relevan di pasar global, asal terus diperkuat dengan sertifikasi, kolaborasi produksi, dan promosi yang konsisten. Bagi kamu yang bergerak di sektor ini, tantangan sesungguhnya bukan hanya mengejar angka ekspor, melainkan menjaga agar keunggulan alami dan cerita di balik setiap anyaman rotan tetap menjadi nilai jual yang tidak bisa ditiru oleh material sintetis mana pun.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Referensi data: Kementerian Perdagangan RI (kemendag.go.id), Badan Pusat Statistik (bps.go.id), Kementerian Perindustrian RI.

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.