UKM Indonesia

​Men’s Republic : Berani Melangkah dengan Brand Sepatu Lokal


https://images.bisnis-cdn.com/uploads/images/20190404_115843.jpg

Sumber gambar : bisnis-cdn.com

Untuk menjadi sukses, teman-teman tidak harus selalu menunggu hingga menjadi tua. Sebab, tidak sedikit juga pengusaha muda yang berhasil meniti bisnisnya dari bawah, lho! Salah satunya adalah Yasa Singgih, laki-laki kelahiran tahun 1995 yang memiliki usaha di bidang retail, dengan mengusung brand lifestyle : Men’s Republic. Dikutip dari Bisnis.com, brand yang berfokus pada produk sneakers ini bisa meraih marjin profit hingga tiga kali lipat jumlah modal. Rata-rata produksi per bulannya bisa mencapai 2.500 pasang dengan rata-rata gross profit di atas 40%. Jumlah produksi dan profit ini, bahkan bisa meningkat di kala Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Bagaimana Yasa memulai semua ini dari sebuah brand sepatu lokal? Mari simak kisahnya di artikel Cerita Inspirasi ini.

Merintis bisnis dari titik terendah hidup

Saat Yasa berusia 15 tahun, ayahnya sempat terkena serangan jantung. Dokter mendiagnosa bahwa sang ayah harus melakukan operasi pemasangan ring. Namun, Yasa yang baru masuk SMA dan kakaknya yang baru saja masuk kuliah, membutuhkan uang pendidikan yang tidak sedikit. Sementara sang ayah bersikeras agar keluarga mengutamakan biaya untuk pendidikan anak-anaknya. Inilah yang kemudian menjadi titik balik dari hidup Yasa. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: ia ingin meringankan beban kedua orangtuanya. Karena itu, sejak kelas 1 SMA, ia berhenti meminta uang pada orangtua, kecuali untuk SPP sekolah.

Di usia 15 tahun, Yasa bekerja sebagai tim event organizer yang kerap menangani sweet seventeen party, pentas seni, dan acara musik. Itu membuat Yasa tertarik merintis bisnis sejak muda. Di tahun 2011, ia mulai usaha pertama kali dengan berjualan kaos. Ia mengambil barang dari Tanah Abang dengan modal hanya 700 ribu rupiah. Yasa menjual dagangannya lewat platform KASKUS dan saat weekend, ia membuka lapak di Thamrin City dengan menumpang di emperan toko yang tutup.

Saat mulai berbisnis kaos, Yasa yang tidak mengerti desain, Adobe atau Corel Draw, membuat logo kaos hanya bermodal Microsoft Word. Lama kelamaan, bisnis kaos mulai berjalan lancar hingga di tahun 2012, ia bisa mengambil barang 2 kali lebih banyak di Tanah Abang. Dari segi promosi, Yasa juga mulai melakukan photoshoot produk, meskipun masih hanya bermodal manekin. Saat itu, sebulan ia bisa berpenghasilan 2-3 juta rupiah. Dan bagi Yasa, sebagai anak SMA itu jumlah yang lumayan dan bisa digunakannya untuk meringankan beban orangtua.

Dua tahun berbisnis, Yasa belajar bahwa ketidaktahuan adalah kelebihan. “Saat kita tidak tahu apa-apa, maka kita tidak takut apa-apa,” ujarnya. Hal ini yang membuat dia berani merintis bisnis di awalnya dan merupakan salah satu kelebihan merintis bisnis di usia muda. Sekarang, saat sudah menikah dan lebih banyak tahu teori bisnis, Yasa mengaku jadi lebih banyak hati-hati dalam melangkah.

Selanjutnya, di bulan Desember 2012, Yasa mulai mencoba merambah bisnis kuliner, dengan modal 70 jutaan. Ia membuka kedai kopi di saat bisnis kopi belum booming. Hari pertama launching, ternyata bertepatan dengan hari di mana Jakarta dilanda banjir. Semuanya hancur lebur. “Awalnya, saya pikir menambah bisnis baru menambah cuan, ternyata malah buntung,” kenang Yasa. Cuan dari kedai kopi hanya 70 ribu rupiah per hari dan usahanya mengalami kemalingan hanya seminggu setelah pembukaan. Alhasil, kedai kopi ini hanya bertahan 10 bulan dengan kerugian sekitar 150 juta. Saat itu, Yasa berusia 18 tahun, baru saja memulai kuliah dan hampir bangkrut.

Bangkit dan Mengaktifkan Brand Men’s Republic

Tahun 2013 adalah titik terendah Yasa, karena tidak ada uang sama sekali. Uang kuliah dibayar dengan menjual semua aset peninggalan kedai kopi. Dari pengalaman ini, Yasa belajar hal lain dalam berdagang, yaitu kita harus fokus. Artinya, kita berani mengatakan tidak pada sebuah peluang yang mungkin juga menghasilkan. Tahun sebelumnya, Yasa mengembangkan bisnis dengan harapan cuan bertambah, tapi lupa bahwa di bisnis kaos ia hanya sendirian dan belum ada model bisnis terstruktur. Karenanya, menurut Yasa, penting bagi kita untuk fokus di satu hal sampai kita menjadi ahli di sana dan bisa mengembangkan. “Setelah itu, baru kita pindah ke yang lain,” ujarnya.

Di tahun 2014, selain kembali berfokus pada bisnis kaos, Yasa juga mulai berbisnis sepatu. Hal ini bukan disengaja, dan diinspirasi oleh ayah Yasa yang baru saja pensiun setelah bekerja 25 tahun di industri sepatu. Yasa merasa sayang jika hal ini disia-siakan, padahal ayahnya punya pengetahuan, skill, dan jaringan yang luas di industri sepatu. Ia akhirnya memutuskan untuk memulai bisnis di bidang ini. “Bisa dibilang, saat itu modalnya nol,” ucap Yasa.

Beruntung, ayah Yasa punya jejak cukup bagus di industri sepatu, sehingga bisa berhutang terlebih dulu pada pabrik dengan koneksi ayahnya. Bermodal nama baik ayah dan keberanian untuk melangkah, Yasa memulai brand Men’s Republic dengan stok awal 8 – 9 lusin sepatu di bulan Juli 2014. Beruntungnya, mereka menggaet pabrik yang tepat dan di kala itu, local brand sedang menjadi tren hangat. Maraknya tren sneakers dan sepatu kulit yang dibawa brand impor juga berpengaruh besar dalam pesatnya perkembangan Men’s Republic. Dalam dua tahun, brand ini berkembang pesat.

Yasa juga masuk di era yang tepat, di mana teknologi mengubah permainan bisnis, sehingga bahkan usaha underdog bisa menantang usaha yang sudah berstatus giant. Brand online, yang hanya mulai dari 9 lusin, tiba–tiba naik jadi 100-200 lusin dalam waktu yang singkat. Semua ini tidak lepas dari pemanfaatan teknologi, alias berdagang lewat internet, hingga akhirnya Yasa mampu mengirim ke 34 provinsi di seluruh Indonesia dan 9 negara di seluruh dunia. Saat ini, penjualan Men’s Republic bisa mencapai 2000 -3000 pcs per bulannya. Yasa mempekerjakan lebih dari 50 orang pekerja, yang membuat brand tumbuh dengan kualitas bagus.

Mengedepankan kualitas dan menguatkan product’s value

Adakah alasan khusus kenapa Yasa memilih nama Men’s Republic dan menyasar produk lifestyle laki-laki? Diakui Yasa, brand Men’s Republic ini bukan buatannya. Pada tahun 2006, saat ayahnya masih bekerja di perusahaan sepatu, beliau juga memulai usaha pakaian dalam laki-laki yang diberi merk Men’s Republic. Di HAKI, merek ini sudah terdaftar sejak tahun 2016, atas nama ayah Yasa. Meskipun sempat beredar di banyak toko dan mall, namun usaha ini akhirnya berhenti melakukan produksi. Saat kemudian Yasa ingin memulai usaha, ayahnya menganjurkan agar Yasa sebaiknya menggunakan merk Men’s Republic yang memang sudah memiliki sertifikat resmi. Di sinilah kemudian Yasa, memutuskan untuk masuk ke fashion laki-laki, agar senada dengan merk yang sudah ada.

Saat memulai bisnis, Yasa memiliki keuntungan yang cukup signifikan yaitu dengan ayahnya memiliki pengalaman sebagai pensiunan pekerja pabrik sepatu. Di awal bisnis, ia bahkan tidak melakukan riset pasar yang mumpuni. Ia mempercayakan desain dan model sepatu yang akan diproduksi, kepada pabrik pilihan ayahnya.

Pabrik tersebut sudah puluhan tahun berbisnis di industri sepatu sehingga punya referensi yang luas. Karena saat itu statusnya adalah berhutang kepada pabrik untuk biaya produksi, Yasa cukup yakin bahwa si empunya pabrik tidak akan memberinya desain yang jelek. Toh, pada akhirnya ia ingin hutangnya dilunasi. Selain itu, sang ayah juga mengetahui pasti size sepatu mana saja yang paling banyak dicari pembeli, yaitu size 41 – 42 untuk laki-laki. Maka saat ia mengisi stok barang, 50% di antaranya adalah size 42. Sisanya baru disebar ke size lain.

Saat ternyata desain yang dibuat pabrik laku keras, Yasa belajar satu hal lain, yaitu kita tidak perlu menyukai apa yang kita jual. “Kalau boleh jujur, saat itu saya tidak suka dengan desain pabrik, bukan selera saya,” tutur peraih Markeeters Youth of The Year 2016 itu. Hal paling penting adalah, tentu saja, kita menjual apa yang disukai pasar.

Menjadi Besar Dengan Support System Yang Tepat

Orangtua memang seringkali menjadi supporter yang paling fanatik saat anaknya mulai berbisnis. Apalagi jika melihat jalan yang diambil si anak adalah jalan yang selama ini belum bisa mereka capai. Hal ini juga sangat dirasakan oleh Yasa. Meskipun keluarganya bukan dari kalangan pebisnis atau entrepreneur, namun dukungan mereka tak kalah hebatnya. Di awal merintis bisnis, ia sempat tidak punya cukup modal untuk menyewa gudang untuk barang dagangannya. Di situ, keluarganya menyediakan rumah mereka untuk dijadikan gudang. Orangtuanya sangat mendukung. Alhasil, di kala itu, jika masuk ke rumah, harus melewati ratusan kotak sepatu.

Saat bisnis tidak berjalan mulus dan ia berada di titik terendah, keluarganya juga terbukti sangat supportif, sampai pernah menawarkan rumah mereka untuk digadaikan seandainya Yasa kesulitan secara finansial, untuk menambahkan modal. Orangtua Yasa termasuk yang senang menyemangati anak-anaknya untuk selalu berani mencoba, apapun itu, yang penting mereka menjalani usaha dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar coba-coba atau main-main. Dan untuk hal ini, Yasa menyadari, ia sangat bersyukur.

Lalu, apa selanjutnya untuk Men’s Republic?

Yasa sudah melangkah jauh dengan brand Men’s Republic. Semasa Yasa kuliah, ia sempat memenangkan kompetisi dan menjadi Winner of Mandiri Young Enterpreneur Student, Category Creative Field 201. Tak ketinggalan, ia juga sempat masuk dalam daftar bergengsi Forbes 30 Under 30 Asia di tahun 2016. Saat ini, selain berbisnis di bidang fashion laki-laki, ia juga tengah merintis brand skincare, bernama Naruko.

Untuk Men’s Republic, Yasa memiliki keinginan agar brand ini menjadi ikon dari fashion di Indonesia. Jepang punya Uniqlo, US ada Nike, Jerman ada Adidas. Yasa ingin orang-orang bisa berkata, bahwa Indonesia punya Men’s Republic. Sehingga orang luar negeri saat berkunjung ke Indonesia bisa dengan bangga juga membeli Men’s Republic. Secara holding, Yasa ingin Men’s Republic menjadi sebuah perusahaan yang visinya punya banyak brand lifestyle. Saat ini kami sudah masuk di fashion, baru mulai di skincare, mungkin juga parfum, dan consumer goods lainnya yang berhubungan dengan lifestyle.

Nah, setelah mengikuti kisah Yasa Singgih yang menjadi sukses di usia muda, diharapkan teman-teman UKM bisa lebih bersemangat juga dalam mengejar asa. Jatuh-bangun adalah hal biasa, yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit dan belajar.

Di artikel ini kita belajar bahwa membangun brand lokal di bidang fashion adalah hal yang tidak mustahil. Bahkan ini bisa dilakukan di usia muda. Saatnya kita sebagai wirausahawan Indonesia mau untuk berjuang mempromosikan brand lokal di saat maraknya brand-brand asing yang masuk.

Untuk mengetahui kisah lengkapnya, yuk tonton Webinar APINDO UMKM Akademi bertajuk “Memulai Bisnis Kreatif Sejak Dini, Kenapa Tidak?” yang bisa diakses lewat link ini.

Sonia Fatmarani, Kontributor Penulis Tetap UKM Indonesia


Referensi :

lifestyle.bisnis.com

instagram.com/mensrepublicid

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: