Sumber Foto: radarmalang.jawapos.com

Sahabat Wirausaha, 

di tengah silih bergantinya tren kuliner yang datang dan pergi, ada satu jenis usaha yang kembali terlihat hidup di banyak sudut kota dan permukiman: rebusan polè pendem. Jajanan berbasis singkong, ubi, jagung, dan kacang ini tidak menawarkan inovasi rasa yang rumit atau tampilan yang mencolok. Justru sebaliknya—ia hadir dengan kesederhanaan yang akrab, harga yang masuk akal, dan cara jual yang mudah dipahami.

Kembalinya minat pada polè pendem bukan kebetulan. Ia berjalan beriringan dengan perubahan perilaku konsumen sekaligus pilihan realistis pelaku UMKM dalam menentukan usaha yang bisa dijalankan secara berkelanjutan. Berikut tujuh alasan mengapa rebusan polè pendem kembali relevan sebagai bisnis jajanan tradisional UMKM.

1. Harga yang Masuk Akal di Tengah Tekanan Biaya Hidup

Salah satu kekuatan utama polè pendem terletak pada harganya. Di tengah kondisi ekonomi yang membuat konsumen semakin berhati-hati membelanjakan uang, jajanan dengan harga terjangkau memiliki peluang lebih besar untuk dibeli tanpa banyak pertimbangan.

Polè pendem berada di posisi itu. Ia bisa dibeli satuan, tidak mengikat, dan tidak menimbulkan rasa bersalah setelah membeli. Bagi UMKM, karakter ini mendorong pembelian spontan tanpa harus mengorbankan margin melalui promo agresif.

2. Bahan Baku Lokal dengan Rantai Pasok Pendek

Singkong, ubi, dan jagung sebagai bahan baku utama polè pendem merupakan komoditas lokal yang mudah dijumpai di berbagai daerah. Rantai pasok yang pendek membuat pelaku usaha lebih fleksibel menyesuaikan pembelian dengan ritme penjualan harian. Saat permintaan meningkat, pasokan relatif mudah ditambah. Ketika penjualan melambat, pembelian bisa ditekan tanpa menyisakan stok mahal.

Bagi UMKM, kondisi ini memberi ruang untuk mengelola biaya secara lebih terkendali—sebuah keunggulan penting dalam usaha skala kecil.

Baca juga: 10 Ide Bisnis Custom Katering Makanan Sehat: Solusi Diet Praktis dan Lezat

3. Produk yang Mudah Dipahami dan Dipercaya Konsumen Sehat

Polè pendem tidak membutuhkan penjelasan panjang. Konsumen tahu apa yang mereka beli dan bagaimana cara pengolahannya. Tidak ada istilah asing, tidak ada proses rumit, dan tidak ada klaim berlebihan.

Di tengah kejenuhan terhadap produk yang terlalu banyak variasi dan narasi pemasaran, kesederhanaan ini justru membangun kepercayaan. Produk yang mudah dipahami cenderung lebih cepat diputuskan untuk dibeli, terutama pada konteks jajanan harian.

Selain mudah dipahami, rebusan polè pendem juga semakin relevan dengan konsumen yang mulai memperhatikan pola makan sehari-hari. Tanpa proses penggorengan, tanpa saus berlebihan, dan tanpa bahan tambahan yang rumit, polè pendem dipersepsikan sebagai jajanan yang lebih “ringan” dan alami. Bagi sebagian konsumen, pilihan ini terasa lebih selaras dengan upaya menjaga keseimbangan konsumsi, meski tetap berada dalam kategori jajanan.

4. Fleksibel dari Sisi Waktu dan Lokasi Jual

Rebusan polè pendem tidak terikat jam makan tertentu. Ia bisa dijual pagi, sore, atau malam—menyesuaikan lokasi dan kebiasaan setempat. Fleksibilitas ini membuatnya cocok dijalankan oleh usaha keluarga, pedagang paruh waktu, maupun UMKM yang menggabungkannya dengan produk lain.

Kemampuan menyesuaikan waktu jual membantu pelaku usaha mengelola tenaga, waktu, dan modal tanpa tekanan operasional berlebih.

Baca juga: 12 Ide Jualan Makanan Sehat Untuk Puasa, Inovasi Menu yang Kekinian!

5. Konsumen Lintas Usia dan Latar Belakang

Polè pendem dikonsumsi lintas usia—anak-anak, orang dewasa, hingga lansia—dan lintas latar belakang sosial. Karakter ini memperluas basis pelanggan dan mengurangi ketergantungan pada satu segmen pasar tertentu.

Tak sedikit pula pelaku usaha dari latar belakang non-kuliner memilih polè pendem sebagai jalan usaha, karena model bisnisnya relatif mudah dipelajari dan pasarnya nyata di banyak lingkungan.

6. Perputaran Harian yang Menjaga Arus Kas

Polè pendem bekerja dengan logika perputaran cepat. Modal bahan baku dikeluarkan di awal hari dan kembali dalam bentuk penjualan pada hari yang sama. Keuntungan per transaksi mungkin tidak besar, tetapi ritme penjualan yang konsisten menjaga arus kas tetap bergerak.

Di banyak titik usaha, pelaku mampu mengolah bahan baku dalam jumlah besar setiap hari. Ini menunjukkan bahwa volume, bukan margin tinggi, menjadi kunci utama. Polè pendem sering dipilih sebagai usaha penopang keuangan harian, bukan untuk lonjakan pendapatan sesaat, tetapi untuk kesinambungan usaha.

Baca juga: Bisnis Kuliner Sirkular: Cara UMKM F&B Mengurangi Makanan Terbuang dan Menambah Pendapatan

7. Tidak Bergantung pada Tren atau Viralitas

Polè pendem tidak hidup dari viralitas media sosial. Ia hidup dari kebiasaan. Ketika sebuah usaha tidak bergantung pada tren cepat atau algoritma platform digital, risiko bisnis menjadi lebih mudah dikelola.

Usaha seperti ini mungkin tidak terlihat spektakuler, tetapi justru lebih tahan terhadap perubahan. Dalam konteks UMKM, ketahanan sering kali jauh lebih penting dibanding pertumbuhan cepat yang rapuh.


Simulasi Singkat Modal dan Omzet Rebusan Polè Pendem

Untuk skala UMKM kecil, bisnis rebusan polè pendem umumnya bisa dimulai dengan modal awal sekitar Rp2–4 juta. Modal ini digunakan untuk membeli peralatan dasar seperti panci besar, kompor, tabung gas, wadah saji, serta perlengkapan jual sederhana. Jika sebagian peralatan tersebut sudah dimiliki di rumah atau digunakan bersama usaha lain, kebutuhan modal awal tentu bisa lebih rendah. Peralatan ini bersifat jangka panjang dan tidak perlu dibeli ulang setiap hari.

Biaya bahan baku harian relatif fleksibel. Dengan pengeluaran sekitar Rp200–300 ribu per hari, pelaku usaha sudah bisa membeli singkong, ubi, jagung, dan kacang secukupnya untuk penjualan harian.

Jika satu porsi polè pendem dijual di kisaran Rp5.000–7.000 dan terjual 40–60 porsi per hari, maka omzet harian berada di rentang Rp200–400 ribu. Dalam kondisi lokasi yang ramai, angka ini dapat lebih tinggi, terutama pada jam sore hingga malam hari.

Model usaha ini tidak bertumpu pada margin besar per porsi, melainkan pada perputaran uang yang cepat dan konsisten. Selama biaya terkontrol dan penjualan stabil, usaha rebusan polè pendem berfungsi sebagai penopang arus kas harian bagi UMKM.


Penutup

Kembalinya minat pada rebusan polè pendem bukan sekadar nostalgia, melainkan cerminan perubahan cara konsumen dan pelaku usaha memandang bisnis kecil. Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian tren, jajanan sederhana dengan bahan lokal, proses jelas, dan harga masuk akal justru kembali menemukan tempatnya.

Bagi UMKM, polè pendem tidak menjanjikan lompatan besar dalam waktu singkat. Ia menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: usaha yang bisa dijalankan terus-menerus tanpa beban berlebihan. Perputaran harian, pasar yang luas, serta ketergantungan yang rendah pada tren membuat bisnis ini lebih mudah diatur.

Pada akhirnya, kekuatan polè pendem terletak bukan pada keunikannya, melainkan pada logika bisnisnya yang masuk akal. Di saat banyak usaha bergantung pada viralitas, polè pendem bertahan lewat kebiasaan. Dan bagi banyak UMKM, bertahan seringkali menjadi pencapaian yang paling penting.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!