Halo Sahabat Wirausaha,

Artikel ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang profil pengusaha UMKM Indonesia—mulai dari usia, pendidikan, hingga gender pelakunya. Setelah memahami siapa pengusaha UMKM, pembahasan berikutnya menjadi relevan: berapa banyak tenaga kerja yang ditopang UMKM, dalam skala usaha seperti apa, dan tersebar di wilayah mana. Data tenaga kerja memberi gambaran lebih utuh tentang peran UMKM, bukan hanya sebagai aktivitas usaha, tetapi sebagai fondasi ketenagakerjaan nasional.

Infografik: Tenaga kerja UMKM & sebaran wilayah berdasarkan SIDT-UMKM bersumber dari Kementerian UMKM RI, 2024

UMKM kerap disebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Namun, peran itu tidak hanya tercermin dari jumlah unit usaha atau besarnya kontribusi sektor tertentu. Ukuran paling nyata dari dampak UMKM justru terlihat dari berapa banyak tenaga kerja yang bergantung padanya.

Berdasarkan data Sistem Data Informasi Terpadu UMKM (SIDT-UMKM) per 31 Desember 2024, UMKM Indonesia menyerap 45,26 juta tenaga kerja. Angka ini menegaskan satu hal penting: setiap dinamika UMKM—baik bertumbuh maupun tertekan—akan langsung berdampak pada jutaan orang yang menggantungkan penghidupannya di sektor ini.


Update 2025: Tenaga Kerja UMKM Naik Tipis, Struktur Skala Usaha Belum Banyak Berubah

Infografik: Tenaga kerja UMKM & sebaran wilayah berdasarkan SIDT-UMKM bersumber dari Kementerian UMKM RI, 2025

Berdasarkan pembaruan SIDT-UMKM per 31 Desember 2025, UMKM Indonesia menyerap 45.305.983 tenaga kerja. Angka ini naik tipis dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 45.263.348 tenaga kerja, atau bertambah 42.635 orang dalam satu tahun.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa peran UMKM sebagai penyerap tenaga kerja masih terus berjalan, meski pertumbuhannya relatif kecil. Namun, struktur besarnya belum banyak berubah. Tenaga kerja UMKM masih sangat terkonsentrasi di usaha mikro.

Pada 2025, usaha mikro menyerap 44.332.582 tenaga kerja atau sekitar 97,85% dari total tenaga kerja UMKM. Sementara itu, usaha kecil menyerap 570.114 tenaga kerja atau 1,26%, dan usaha menengah menyerap 403.287 tenaga kerja atau 0,89%.

Artinya, pekerjaan rumah UMKM Indonesia masih sama: bagaimana mendorong lebih banyak usaha mikro agar dapat tumbuh menjadi usaha kecil dan menengah, sehingga kualitas pekerjaan, produktivitas, dan perlindungan tenaga kerja juga ikut meningkat.


Ketergantungan Tinggi pada Usaha Mikro

Struktur tenaga kerja UMKM menunjukkan ketimpangan yang tajam berdasarkan skala usaha. Sekitar 97,85% tenaga kerja UMKM berada di usaha mikro, sementara usaha kecil menyerap 1,26%, dan usaha menengah hanya 0,89%.

Dominasi ini menggambarkan karakter UMKM Indonesia yang padat karya, tetapi belum sepenuhnya padat produktivitas. Usaha mikro mampu menyerap banyak tenaga kerja karena hambatan masuknya rendah, namun sering kali beroperasi dengan modal terbatas, teknologi sederhana, dan margin tipis.

Di sisi lain, usaha kecil dan menengah—yang secara teori lebih stabil dan produktif—jumlahnya masih relatif terbatas. Ini menandakan bahwa proses naik kelas UMKM belum berjalan masif, sehingga struktur tenaga kerja masih terkonsentrasi di lapisan paling rentan.

Baca juga: Data UMKM, Jumlah dan Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia


Mayoritas Tenaga Kerja UMKM Masih Belum Dibayar Secara Formal

Pembaruan data 2025 juga memperlihatkan bahwa sebagian besar tenaga kerja UMKM masih berada dalam kategori tenaga kerja yang tidak dibayar. Dari total 45.305.983 tenaga kerja UMKM, sebanyak 14.641.267 orang atau 32,32% merupakan tenaga kerja yang dibayar. Sementara itu, 30.664.716 orang atau 67,68% tercatat sebagai tenaga kerja yang tidak dibayar.

Kondisi ini terutama terlihat pada usaha mikro. Pada skala ini, tenaga kerja yang tidak dibayar mencapai 30.581.483 orang, jauh lebih besar dibanding tenaga kerja yang dibayar sebanyak 13.751.099 orang. Ini menunjukkan bahwa banyak usaha mikro masih bertumpu pada tenaga kerja keluarga, pemilik usaha sendiri, atau pola kerja informal yang belum sepenuhnya teradministrasi sebagai hubungan kerja formal.

Sebaliknya, pada usaha kecil dan menengah, proporsi tenaga kerja yang dibayar jauh lebih tinggi. Usaha kecil mencatat 499.230 tenaga kerja dibayar, sementara usaha menengah mencatat 390.938 tenaga kerja dibayar. Pola ini memperkuat pesan bahwa naik kelas bukan hanya soal memperbesar omzet, tetapi juga membangun sistem kerja yang lebih tertata.

Baca juga: Partisipasi Perempuan dalam Legalitas Usaha Mencerminkan Perubahan Perilaku Bisnis UMKM di Indonesia


Benang Merah: Masa Depan UMKM Ditentukan oleh Kualitas Tenaga Kerja

Data tenaga kerja UMKM menunjukkan bahwa tantangan utama ke depan bukan lagi soal berapa banyak orang yang bekerja, melainkan bagaimana kualitas pekerjaan itu diciptakan. UMKM telah membuktikan kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Tantangan berikutnya adalah mendorong transformasi usaha agar tenaga kerja yang diserap juga lebih produktif dan terlindungi.

Mendorong usaha mikro naik kelas, memperkuat usaha kecil dan menengah, serta mengurangi ketimpangan wilayah menjadi kunci. Tanpa itu, UMKM akan terus menjadi penopang ekonomi jangka pendek, tetapi kesulitan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

UMKM bukan hanya tentang jumlah unit usaha atau sektor dominan. Ia adalah tentang jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidup pada keberlanjutan usaha kecil di sekitarnya. Membaca data tenaga kerja UMKM berarti membaca masa depan pekerjaan di Indonesia—apakah akan tetap bertahan di lapisan informal, atau bergerak menuju struktur yang lebih produktif dan berkelanjutan.

(Artikel ini dipublish pada 20 Januari 2026, dan diperbarui pada tanggal 7 Mei 2026).

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!

Dukung Misi Edukasi Kami

Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.