
Sahabat Wirausaha,
Di kawasan dengan aktivitas tinggi—perkantoran, kos-kosan, ruko, pasar, kampus, hingga fasilitas kesehatan—kebutuhan parkir hampir selalu ada. Kendaraan datang dan pergi setiap hari, sering kali pada jam yang sama dan oleh orang yang sama. Namun ironisnya, parkir masih kerap diperlakukan sebagai pelengkap, bukan sebagai usaha yang dikelola dengan perhitungan bisnis.
Di banyak kota, ruang parkir justru menjadi sumber kebocoran pendapatan. Lahan ada, kendaraan ada, kebutuhan ada, tetapi pengelolaannya sering informal dan tanpa perencanaan jangka panjang. Di sinilah parkir langganan sebenarnya menyimpan peluang usaha yang stabil—namun jarang dilirik oleh UMKM.
Parkir Langganan dan Logika Usaha Berbasis Rutinitas
Parkir langganan berbeda dengan parkir harian. Jika parkir harian bergantung pada lalu lintas kendaraan yang datang silih berganti, parkir langganan bertumpu pada rutinitas. Penggunanya cenderung orang yang sama, datang dan pulang pada jam yang relatif konsisten.
Model langganan mengubah parkir dari transaksi putus menjadi hubungan jangka menengah. Pendapatan tidak lagi sangat fluktuatif, melainkan bisa diperkirakan sejak awal bulan. Bagi UMKM, kepastian arus kas ini sering kali lebih penting daripada potensi lonjakan sesaat.
Inilah sebabnya parkir langganan sering disebut sebagai usaha “sunyi”: tidak viral, tidak banyak dibicarakan, tetapi berjalan terus selama aktivitas di sekitarnya tidak berhenti.
Baca juga: Bisnis Fashion Sirkular: Jahit Ulang, Permak, dan Sewa Pakaian yang Makin Diminati
Siapa Sebenarnya Konsumen Parkir Langganan?
Agar parkir langganan berjalan, UMKM perlu memahami bahwa tidak semua pengguna parkir adalah target yang tepat. Segmen konsumen parkir langganan umumnya adalah mereka yang memiliki kebutuhan parkir rutin dan berulang, bukan pengunjung sekali datang.
Segmen pertama yang paling umum adalah karyawan kantor dan pegawai ruko. Mereka datang hampir setiap hari kerja, memarkir kendaraan dalam durasi panjang, dan cenderung mencari parkir yang aman serta dekat lokasi kerja. Bagi segmen ini, langganan memberi kemudahan karena tidak perlu memikirkan biaya harian atau mencari tempat parkir setiap pagi.
Segmen kedua adalah penghuni kos dan kontrakan. Di kawasan padat, ruang parkir sering kali terbatas. Penghuni yang membawa kendaraan pribadi membutuhkan tempat parkir tetap yang jaraknya masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Parkir langganan di sekitar kos menjadi solusi praktis, terutama jika dikelola rapi dan aman.
Segmen berikutnya adalah pelaku usaha kecil dan pekerja informal di kawasan pasar, terminal, atau simpul transportasi. Mereka bukan pengunjung sesekali, melainkan pengguna area yang sama setiap hari. Dalam konteks ini, parkir langganan lebih masuk akal dibanding parkir harian yang biayanya bisa membengkak dalam sebulan.
Selain itu, ada juga pengguna fasilitas publik rutin, seperti guru di sekolah non-boarding, tenaga kesehatan di klinik kecil, atau relawan dan pengurus tempat ibadah besar. Selama aktivitasnya berulang dan pengguna parkirnya relatif sama, skema langganan bisa diterapkan.
Memahami segmen ini penting agar UMKM tidak salah sasaran. Parkir langganan bukan untuk semua orang, melainkan untuk kelompok pengguna dengan pola aktivitas yang konsisten.
Mengapa Kawasan Padat Aktivitas Jadi Lokasi Ideal
Parkir langganan hanya masuk akal jika berada di lokasi yang tepat. Kawasan padat aktivitas menyediakan prasyarat utamanya: kebutuhan parkir yang berulang. Di area perkantoran, kendaraan terparkir dalam durasi panjang setiap hari kerja. Di kawasan kos, kebutuhan parkir berlangsung hampir sepanjang bulan. Di ruko dan pasar, aktivitas terjadi nyaris tanpa jeda.
Banyak lahan kecil atau ruang sisa di kawasan ramai sebenarnya bisa produktif tanpa harus dibangun besar-besaran. Kuncinya bukan pada luas lahan semata, melainkan pada pola aktivitas di sekitarnya.
Baca juga: Peluang Bisnis 2026: 7 Jenis Jasa Konsultan AI yang Mulai Diburu UMKM
Kriteria Lahan yang Paling Potensial
Tidak semua lahan di area ramai cocok untuk parkir langganan. Lahan yang paling potensial umumnya berada dekat pusat aktivitas rutin: perkantoran kecil, kos padat, kawasan ruko, terminal, stasiun, pasar, atau fasilitas publik yang dikunjungi orang yang sama setiap hari.
Sebaliknya, lahan yang hanya ramai secara musiman atau bergantung pada event cenderung kurang cocok. Parkir langganan hidup dari konsistensi, bukan lonjakan sesaat. Akses masuk yang jelas, sirkulasi aman, dan tidak mengganggu jalan umum juga menjadi syarat penting agar usaha bisa berjalan jangka panjang.
Idealnya Luas Lahan Parkir untuk UMKM
Dalam praktiknya, parkir langganan tidak selalu membutuhkan lahan besar. Untuk parkir roda dua, satu motor rata-rata membutuhkan sekitar 1,5–2 meter persegi. Artinya, lahan seluas 30–40 meter persegi sudah bisa menampung sekitar 15–20 motor jika ditata rapi.
Untuk roda empat, satu mobil membutuhkan sekitar 12–15 meter persegi. Lahan 60–100 meter persegi sudah cukup untuk menampung beberapa unit mobil dengan sirkulasi yang aman. Ini menunjukkan bahwa parkir langganan bisa dijalankan oleh UMKM dengan aset terbatas, selama akses dan pengaturannya jelas.
Legalitas Lingkungan: Fondasi yang Sering Dilupakan
Di luar ukuran lahan, penerimaan lingkungan sekitar sering menjadi penentu keberlanjutan usaha. Parkir di kawasan permukiman membutuhkan legitimasi sosial, meskipun belum selalu berbentuk izin formal. Persetujuan RT/RW, kesepakatan dengan warga sekitar, serta kejelasan jam operasional sering kali menjadi fondasi agar usaha berjalan tanpa konflik.
Tanpa dukungan lingkungan, parkir sekecil apa pun berisiko terhenti, meski permintaannya tinggi.
Baca juga: Parkir Aman, Usaha Nyaman: Strategi Halus Mengusir Tukang Parkir Liar Di Area Toko Atau Bisnismu
Estimasi Tarif, Durasi, dan Potensi Pendapatan
Untuk roda dua, tarif langganan bulanan di kawasan padat aktivitas umumnya berada di kisaran Rp50.000–Rp150.000 per motor. Motor biasanya terparkir selama 8–12 jam per hari, terutama di area kantor dan kos.
Untuk roda empat, tarif langganan berkisar Rp300.000–Rp800.000 per mobil per bulan, tergantung lokasi, keamanan, dan durasi parkir. Di kawasan perkantoran, mobil sering ditinggal selama jam kerja penuh.
Sebagai gambaran sederhana, lahan yang menampung 20 motor dengan tarif Rp75.000 per bulan dapat menghasilkan sekitar Rp1,5 juta. Jika ditambah 4 mobil dengan tarif Rp500.000 per bulan, potensi pendapatan bertambah sekitar Rp2 juta. Dengan demikian, total pendapatan bulanan bisa berada di kisaran Rp3–4 juta, sebelum dikurangi biaya operasional.
Keunggulan skema langganan adalah kepastian pendapatan. UMKM bisa memperkirakan arus kas sejak awal bulan, berbeda dengan parkir harian yang sangat fluktuatif.
Parkir Bukan Passive Income Murni
Meski sering dianggap sebagai passive income, parkir langganan pada praktiknya lebih tepat disebut usaha semi-pasif. Setelah sistem berjalan, intensitas kerja harian memang berkurang, tetapi tetap diperlukan pengelolaan, komunikasi dengan pelanggan, dan penjagaan keamanan.
Parkir tidak membutuhkan inovasi produk, tetapi menuntut konsistensi operasional.
Penutup: Peluang Sunyi yang Nyata
Parkir langganan tidak menjanjikan cerita sukses instan. Ia tidak viral dan jarang dibahas. Namun di kawasan padat aktivitas, parkir adalah kebutuhan dasar yang tidak pernah benar-benar hilang.
Bagi UMKM yang mampu membaca pola aktivitas dan memahami segmen konsumennya, parkir langganan bisa menjadi sumber pendapatan yang stabil dan relatif tahan terhadap perubahan tren. Kuncinya bukan pada seberapa besar lahannya, melainkan pada bagaimana usaha itu dikelola—rapi, legal, dan selaras dengan lingkungan sekitar.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Referensi:
- Kompas UMKM (2023). 5 Peluang Bisnis Lahan Parkir. https://umkm.kompas.com/read/2023/11/25/100228983/5-peluang-bisnis-lahan-parkir?page=all
- MUC Consulting. Sebelum Mulai Usahanya, Pahami Dulu Aspek Pajak Bisnis Parkir. https://muc.co.id/id/article/sebelum-mulai-usahanya-pahami-dulu-aspek-pajak-bisnis-parkir
- Kontan Insight. Melahap Cuan dari Bisnis Parkir yang Tak Pernah Tidur. https://insight.kontan.co.id/news/melahap-cuan-dari-bisnis-parkir-yang-tak-pernah-tidur
- Bizsense. Bisnis Parkir di Jakarta, Sumber Passive Income yang Menjanjikan. https://bizsense.id/bisnis-parkir-di-jakarta-sumber-passive-income-yang-menjanjikan









