
Sahabat Wirausaha,
banyak pelaku UMKM di Indonesia mengandalkan promosi sebagai senjata utama menarik pelanggan: diskon besar, gratis ongkir, paket hemat, hingga flash sale. Strategi ini memang terbukti efektif untuk jangka pendek. Namun, apakah cukup untuk membuat pelanggan betah dan kembali lagi?
Sering kali jawabannya: tidak.
Sebab promosi mudah sekali ditiru. Begitu promo berakhir, pelanggan dapat berpindah ke brand lain yang menawarkan potongan harga lebih besar. Jika UMKM hanya mengandalkan promosi, usaha akan terjebak dalam perang harga tanpa ujung, yang lama-lama menipiskan keuntungan.
Disinilah komunikasi dengan pelanggan alias customer relation(CR) dan public relation (PR) berperan penting. Keduanya bukan sekedar pelengkap, tetapi pondasi untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan reputasi jangka panjang. Lalu, apa aja sih fungsinya?
Komunikasi dalam Customer Relation: Cara Menjaga Hubungan dan Kedekatan
Komunikasi bukan hanya merespons chat atau membalas komentar. Komunikasi adalah seni merawat hubungan dengan pelanggan—melalui cerita, edukasi, transparansi, dan interaksi manusiawi. Agar jelas, mari kita lihat beberapa contoh UMKM lokal yang sudah mempraktekan ini dengan baik.
Ada Cokelat nDalem (@cokelatndalem) dari Yogyakarta. Mereka tidak hanya memasang foto cokelat cantik. Lewat seri #nDalemBercerita, mereka mengajak kita mengobrol tentang filosofi nama brand, asal-usul biji kakao, proses riset varian baru, sampai tahap pembuatannya. Ada rasa penasaran yang tumbuh tanpa harus jualan secara terang-terangan.
Pendekatan serupa juga dilakukan Imago Raw Honey (@imagorawhoney), sebuah brand madu hutan. Mereka rutin mengedukasi tentang proses ilmiah di balik produknya dan manfaat kesehatan setiap varian. Mereka juga suka pamer reaksi orang—dari lokal sampai mancanegara—yang baru pertama kali mencoba madu mereka. Reaksi positif ini membangun kepercayaan kalau produknya memang berkualitas.
Contoh lainnya adalah Ladang Lima (@ladanglima.id), produsen tepung dan makanan ringan berbahan singkong. Mereka cerita tentang kelebihan produknya yang gluten-free dan ramah buat penderita Gerd. Lebih dari itu, mereka mengajak followernya berbincang soal ketahanan pangan dan kearifan lokal. Lewat konten 'dari kebun ke meja', kita diajak melihat wajah para petani singkong di Jawa Timur, lahan yang dihidupkan lagi, sampai proses panennya. Ini membuat pelanggan merasa "Oh, aku enggak cuma beli mie, tapi juga ikut mendukung petani lokal dan produk Indonesia."
Komunikasi yang dibangun lewat cerita bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih mahal dari sekadar transaksi, yaitu kepercayaan dan loyalitas. Pelanggan akan bertahan bukan hanya karena produknya enak atau harganya cocok, tapi karena mereka merasa terhubung secara emosional. Mereka tahu cerita di balik produk yang mereka beli dan menjadi bagian dari perjalanan brand kita.
Baca juga: 4 Strategi Penting untuk Bisnis UMKM Bertumbuh: Branding, Marketing, Komunikasi, dan PR
Komunikasi melalui PR: Membangun Citra yang Tidak Bisa Ditiru Kompetitor
Jika CR berfungsi menjaga interaksi, maka PR adalah fondasi yang membangun citra dan kepercayaan jangka panjang. PR tidak selalu berarti konferensi pers atau acara besar—untuk UMKM, PR bisa dimulai dari hal sederhana seperti:
- ikut kegiatan sosial setempat
- membangun kolaborasi dengan komunitas,
- menulis cerita untuk media daerah,
- atau mengundang micro-influencer melihat proses produksi.
Hal yang membantu dalam membangun citra dan reputasi adalah dengan menentukan narasi utama brand. Banyak brand yang mengaitkan narasi mereka dengan misi sosial seperti melestarikan budaya,lingkungan, memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat.
Contoh brand yang berhasil membangun citra melalui misi sosial atau lingkungan sebagai salah satu strategi PR-nya adalah Eiger (@eigeradventure). Brand ini tidak sekadar menjual perlengkapan outdoor, tetapi konsisten menjalankan misi edukasi tentang keselamatan dan etika berkegiatan alam, serta aktif mengkampanyekan pelestarian lingkungan dengan turut serta dalam berbagai event komunitas pecinta alam.
Sementara itu, brand seperti Du Anyam (@duanyam) mengusung misi pemberdayaan perempuan penenun di pelosok Indonesia sebagai inti dari PR-nya; mereka tidak hanya menjual produk anyaman, tetapi secara rutin bercerita tentang dampak sosial yang tercipta, mulai dari peningkatan keterampilan dan kualitas hidup perajin, pelestarian budaya, hingga infrastruktur desa yang terbangun berkat kolaborasi.
Pendekatan serupa juga terlihat pada Mutiara Handycraft (@mutiarahandycraft) , yang menjadikan kisah inspiratif pendirinya yang difabel dan banyak memberdayakan sesama perajin difabel. Dalam produksi kerajinan dari kain perca, misi mereka diperkuat dengan peran aktif sang pendiri sebagai narasumber dan motivator bagi kaum difabel, sehingga reputasi brand tidak hanya dibangun di atas produk, tetapi juga di atas perubahan sosial yang nyata.
Manfaat Nyata CR dan PR bagi UMKM
Ketika UMKM mulai membangun CR dan PR secara konsisten, manfaatnya sangat terasa:
- Kepercayaan meningkat. Pelanggan lebih yakin membeli dari usaha yang terbuka, edukatif, dan punya reputasi baik.
- Peluang liputan media gratis. Media lokal senang mengangkat kisah inspiratif dan usaha otentik dari daerah.
- Daya saing lebih kuat. Citra baik membuat pelanggan tetap bertahan meski kompetitor bermunculan.
Baca juga: Meningkatkan Efektivitas Komunikasi Digital dengan Model PESO
Bagaimana Cara Memulainya?
Berikut beberapa langkah sederhana dan low-budget, yang mungkin Sahabat Wirausaha pernah tahu atau lakukan. Tapi, kali ini lakukanlah dengan konsisten.
- Ceritakan perjalanan usaha Anda di media sosial.
- Gunakan testimoni pelanggan sebagai bukti kredibilitas.
- Edukasi pelanggan tentang produk, proses, dan misi sosial yang dipegang.
- Bangun relasi dengan influencer, blogger, atau bisa juga kirim DM ke akun media digital lokal dengan mengirimkan paket media/influencer yang berisi perkenalan tentang brand dan produk-produk andalan. Tujuannya agar mereka tertarik meliput atau membuat konten mereview produk kita.
- Jadi bagian dari komunitas untuk memperluas jaringan dan kesempatan agar lebih dikenal. Misalnya jadi anggota komunitas ukmindonesia.id dan ikut program kurasinya sehingga dapat kesempatan untuk naik kelas dan berpartisipasi di acara bergengsi seperti Pasar Jajan Whatsapp yang dihadiri para influencer. Bahkan salah satu peserta, @mbrebesmilli_food bisa membuat konten bareng Menteri Perdagangan, lho.
Kesimpulannya, promosi memang penting, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Promosi membuat produk cepat laku, namun komunikasi melalui CR menjaga kedekatan dan PR menjaga citra - keduanya menciptakan hubungan yang sulit ditandingi kompetitor.
Pertanyaannya sekarang:
Cerita apa yang ingin Anda bagikan minggu ini? Atau kegiatan apa yang bisa menunjukkan nilai lebih dari usaha Anda?
Jangan lupa, promosi membuat produk laku, tetapi komunikasi membuat brand kita lebih bermakna dan memiliki tempat istimewa di hati konsumen.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.
Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Muskly.com (2025). Why are PR and Brand Storytelling Crucial for Businesses Today?
- womenonbusiness.com (2024). Why Even Small Businesses Need a PR Strategy
- PRlab.com (2025). The Ultimate Guide to Public Relations for Startups
Sumber foto: freepik.com
Dukung UKM Indonesia
Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.









