UKM Indonesia

​Mandainoor : Orbitkan Kuliner Mandai Ke Pasar Nasional


https://lh3.googleusercontent.com/proxy/iepkCd4sXa9zd80Xo8q2aSxc8L4BKJqDidQzYmZ5oBoy9SA2V-BHVEm3TFzQO_An0WQ38nBHjXjRTWQHNzxcZE5YJQtgBZnpQRWs-3AnPbREyLMjE-DOAGk5EFIwhTPjY9u3ZcvowAQoFqTVkA

Sumber gambar : https://lh3.googleusercontent.com/proxy/iepkCd4sXa9zd80Xo8q2aSxc8L4BKJqDidQzYmZ5oBoy9SA2V-BHVEm3TFzQO_An0WQ38nBHjXjRTWQHNzxcZE5YJQtgBZnpQRWs-3AnPbREyLMjE-DOAGk5EFIwhTPjY9u3ZcvowAQoFqTVkA

Di telinga mereka yang bukan penduduk asli Banjar, kuliner Mandai boleh jadi masih terdengar asing. Makanan pendamping nasi dan lauk yang terbuat dari kulit buah cempedak ini memang merupakan makanan khas Banjar dan populer di tanah kelahirannya. Meski begitu, mengenalkannya ke kalangan nasional menjadi tantangan sendiri.

Inilah yang kemudian dilakukan Mandainoor, UKM milik Muhammad Nor, seorang putra asli Banjar. Lahir di kalangan suku Banjar dan besar di Balikpapan, Nor mengubah makanan favoritnya ini dalam bentuk jamur krispy, yang bisa dinikmati masyarakat secara lebih luas. Meski dimulai sebagai usaha rumahan kecil, kini Mandainoor sukses menjangkau pasar nasional.

Inovasi Baru Kuliner Mandai dari Kalimantan Selatan

Perjalanan bisnis Muhammad Nor dimulai saat ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan minyak dan gas bumi pada tahun 2016. Kala itu, Nor pulang ke kampung halamannya di Banjar dengan niat bersilaturahmi. Tak disangka, selama di sana, ia melihat peluang bisnis dalam pengembangan Mandai, makanan khas Banjar yang digemarinya dan keluarga sejak dulu. Uniknya, kulit cempedak yang merupakan bahan utama makanan ini jarang ditemui di daerah Nusantara lainnya.

Sekilas, buah Cempedak memang terlihat serupa dengan buah nangka. Namun, daging buah Cempedak terasa lebih lembut dan tebal. Biasanya, buah ini dimakan langsung atau dijadikan gorengan berasa manis dan gurih. Sementara bijinya bisa direbus menjadi camilan. Namun di antara semua bagian buah Cempedak, olahan kulitnya terbukti lebih populer dibandingkan olahan dagingnya. Masyarakat Banjar mengolahnya dengan cara difermentasi selama beberapa bulan atau dimasak langsung. Dengan cara inilah kuliner Mandai lahir.

Mandai merupakan makanan yang cukup mudah diolah. “Mandai ini biasanya dimasak dengan digoreng atau masak santan,” ucapnya. Namun, terpikir oleh Nor untuk berinovasi dan mengembangkan Mandai lebih dari itu. Ia berencana mengubah makanan tradisional ini dengan bentuk modern yang lebih bisa diterima masyarakat segala kalangan.

“Untuk melestarikan makanan khas tradisional, kami buat secara kreatif agar generasi muda tetap bisa merasakan enaknya,” paparnya. Ia juga mempromosikan Mandai Jamur Krispy sebagai oleh-oleh khas Kalimantan, sekaligus sebagai pengobat rindu para perantau di luar pulau tersebut.

Nor kemudian coba mengolahnya sebagai camilan jamur krispy yang tengah populer di kota-kota besar. “Teksturnya seperti jamur krispy, dan ada dua rasa, yaitu Original dan Pedas,” jelas Nor. Dalam bentuk ini, menurutnya, Mandai menjadi camilan dengan masa ketahanan lebih lama dan lebih mudah dipasarkan. Nor pun mengemasnya dengan alumunium foil sehingga rasa gurih dan kerenyahannya lebih terjaga. Bahan kulit cempedak dengan mudah didapatkan Nor dari para penjual gorengan cempedak yang hanya menggunakan daging buah tersebut.

Beruntung, produk baru hasil racikan Nor langsung dengan mudah diterima oleh konsumen. Ia meluncurkan Mandai Krispy di tahun 2016, dengan brand Urang Banjar. Namun, demi memudahkan pengurusan HAKI dan menyesuaikan nama produknya, ia mengganti nama brand menjadi Mandainoor. “Sebab, orang-orang lebih banyak mengenal nama Mandai, jadi saya gabungkan dengan nama sendiri, Noor,” jelas bapak tiga anak ini.

Dalam penjualan, selain mengandalkan marketplace dan pemesanan offline, Nor juga menggaet banyak reseller. Sekarang, para reseller Mandainoor sudah tersebar di seluruh Kalimantan dan menjadi kunci dari meluasnya jangkauan pasar produk ini. Nor juga berhasil mengembangkan produknya baik dari segi penjualan maupun jumlah produksi. Bentuk kemasannya juga berubah banyak. Jika di awal Nor hanya menggunakan toples kecil dan korak kertas, belakangan ia memakai full standing pouch berbahan alumunium foil.

Lambat laun, seiring semakin populernya Mandai Jamur Krispy, promosi pun terjadi tanpa diminta. Produknya sempat menjadi viral, bahkan seringkali diliput oleh berbagai media cetak nasional dan media online. Ini menjadikan banyak orang semakin penasaran dengan produk Mandainoor. “Karena sebenarnya, ini makanan favorit dan termasuk kuliner legend orang Kalimantan sejak lama,” jelas Noor.

Sumber gambar : https://static.bmdstatic.com/pk/product/large/5f7d371025861.jpg


Mengatasi Hambatan dan Harapan Untuk Bangkit

Meskipun akhirnya produk Mandai Krispi buatannya menjadi populer, Noor mengaku perjalanan bisnisnya tidak lepas dari berbagai tantangan dan hambatan. Salah satunya adalah harga bahan baku, seperti minyak dan cabai, yang melambung tinggi. Saat hal ini terjadi, Noor biasanya terpaksa menaikkan harga produk. Meski begitu, ia juga menawarkan gratis ongkos kirim bagi para reseller-nya dengan syarat minimal order tertentu.

Noor juga mengaku bahwa para reseller berperan besar dalam meningkatkan kepopuleran Mandai Krispi. Saat ini, reseller Mandainoor sudah tersebar di berbagai kota besar di Kalimantan. “Sudah lebih dari lima puluh reseller yang tergabung, meski sekarang tidak semuanya aktif,” papar Noor. Hal ini dikarenakan hantaman pandemi yang sangat berpengaruh pada penjualan dan produktivitas bisnisnya.

Saat ini, Mandainoor memang masih berusaha bangkit dari hantaman pandemi. “Sementara kami masih stop produksi dikarenakan menurunnya jual beli dan pasokan bahan baku,” papar Nor. Meski sudah beberapa bulan berhenti melakukan produksi dan menurunkan jumlah produk yang dijual, ia tetap berharap ke depannya Mandainoor menemukan cara untuk bertahan dan bahkan berkembang lebih jauh.

Tak hanya itu, ia juga menginginkan bisnisnya kelak memiliki lebih banyak varian produk yang berbahan dasar Buah Cempedak. “Sehingga natinya banyak petani buah cempedak yang terbantu,” ujarnya. Pria berusia 36 tahun ini juga bercita-cita, Mandainoor bisa menjadi usaha yang membuka banyak lapangan pekerjaan dan peluang bisnis baru.

Perjalanan bisnis Muhammad Nor yang cukup berliku, bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi para Sahabat UKM yang tengah merintis usaha. Inspirasi akan produk yang unik dan tak ada duanya, bisa datang dari hal sederhana, seperti makanan khas daerah. Dalam hal ini, selain mendulang cuan, Mandainoor juga melestarikan kuliner daerah dan memperkenalkannya pada masyarakat dalam skala nasional. Bukan tidak mungkin, di masa depan, Mandainoor bisa turut menembus pasar ekpor dan memperkenalkan Mandai ke mata dunia.

Referensi :

  1. Wawancara langsung dengan Muhammad Nor, Owner sekaligus Founder dari Mandainoor selama bulan Desember 2021.
  2. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/06/30/ma...
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: