UKM Indonesia

​KAUSA : Menjadi Pahlawan Bagi Bumi Indonesia Dengan Olahan Daur Ulan


C:\Users\Public\Videos\Downloads\OSU09194.jpg

Sumber gambar : Debrina Emily via WhatsApp Chat

Sampah plastik yang berserakan di jalanan, pantai, dan sungai-sungai merupakan pemandangan biasa bagi masyarakat Indonesia. Sayangnya, semakin hari, semakin banyak orang yang menjadi abai akan pemandangan tersebut. Kondisi inilah yang kemudian menginspirasi Debrina Emily untuk mendirikan usaha berbasis prinsip kepedulian terhadap lingkungan yang dinamakan KAUSA Indonesia.

Diluncurkan pada tahun 2020 lalu, KAUSA Indonesia menggabungkan aksesoris berbahan dasar plastik daur ulang dengan sentuhan tenun khas Nusantara. Tak main-main, hanya dalam waktu setahun, brand ini sukses mengekspansi pasarnya ke wilayah Sumatera, Kalimantan, hingga ke negeri Jerman. Dengan konsep ini, mereka mampu melestarikan seni tenun dan batik tradisional sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya.


Fast Fashion dan Menurunnya Kepedulian Terhadap Lingkungan Hidup

Dunia fesyen bisa dibilang bukan hal asing bagi Debrina Emily. Mendiang ibunya berprofesi sebagai perancang busana dan seringkali menjahit sendiri pakaian-pakaian yang dikenakan anak-anak perempuannya. Menurut sang ibu, pakaian dan aksesoris bisa menjadi representasi dari seseorang.

Di tahun 2017, Debrina merayakan pergantian tahun bersama keluarganya di Kuta, Bali. Perjalanan yang harusnya ia nikmati itu, justru menyisakan rasa miris dalam diri Debrina. Ia memperhatikan banyaknya sampah plastik yang berserakan di setiap sudut pantai Kuta. “Banyak yang tidak peduli, banyak pula yang hanya mencibir kemudian pergi. Tapi saya pulang membawa inspirasi untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan tanah air,” tuturnya mantap.

Kekhawatiran Debrina terhadap pengaruh kebiasaan masyarakat yang buruk dalam mengelola sampah bukanlah tanpa alasan. Terlebih, bidang fesyen yang ingin digelutinya, rupanya menyumbang limbah yang tidak sedikit untuk lingkungan hidup. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang memegang prestasi sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbanyak dunia. Di pulau Jawa sendiri, 189 ribu ton sampah plastik dibuang setiap bulannya dan bari 11,38% di antaranya yang didaur ulang.

Hal ini sangat berpengaruh pada kondisi laut Indonesia. Berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh peneliti Greenpeace International, 36 dari 39 merk garam dunia terbukti mengandung plastik. Dan kadar mikroplastik ini paling banyak ditemukan pada garam yang dijual di Indonesia. “Artinya, saat ini, kesehatan kita tidak hanya sedang berada di titik kritis dalam perang melawan pandemi, namun juga dalam perang melawan polusi lingkungan,” papar Debrina tegas.

Sejak itu, Debrina memiliki satu niat, ia ingin menjadi fashion designer yang punya makna dan membawa perubahan bagi kondisi lingkungan negeri ini. Bersama dua orang teman dekatnya sejak kecil, ia kemudian memulai riset dan proses pengembangan produk fashion dengan konsep daur ulang.

Di bulan Agustus tahun 2020, KAUSA Indonesia pun lahir sebagai brand aksesoris fashion dan lifestyle yanng menggabungkan kebudayaan Indonesia, bahan olahan daur ulang dan pola pikir berkelanjutan. Sustaianable mindset, menurut Debrina, berperan penting dalam tujuan memulihkan bumi Indonesia. “Saya bersama tim KAUSA memiliki motivasi untuk menghasilkan karya yang tidak hanya modis, tapi juga aktif berkontribusi dalam menaikkan angka produk daur ulang,” papar Debrina.

Sebagai brand yang mengusung konsep recycle, awalnya Debrina dan timnya harus berjuang keras melawan arus fast fashion dan modernisasi. Rendahnya kesadaran masyarakat akan produk dan gaya hidup sustainable juga menambah pekerjaan rumah mereka. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, KAUSA mampu bertahan dengan konsisten menghasilkan produk ramah lingkungan dengan desain minimalis.


Menghasilkan Produk Dengan Konsep Sustainable Fashion

Sumber gambar : Debrina Emily via WhatsApp Chat

Seluruh produk KAUSA dihasilkan dengan konsep recycle, alias daur ulang. Mereka mendapatkan bahan baku dari berbagai Bank Sampah yang tersebar di seluruh Indonesia. Selama ini, mereka lebih sering bekerjasama dengan Bank Sampah dari daerah Jakarta dan Tangerang. Dua di antaranya adalah Bank Sampah Meranti dan Bank Sampah Digital.

Sejauh ini, bahan utama dari sebagian besar produk tas dan akseoris adalah material plastik bekas, yang didaur menjadi material yang serupa dengan tas kulit. Sementara untuk produk tenin dan batik, mereka menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Sejauh ini, Debrina dan timnya fokus bekerjasama dengan pengrajin tenun di wilayah Bogor. “Tapi kemarin abis kerjasama juga dengan daerah Medan dan Pekalongan,” tutur Debrina.

Selama setahun belakangan, perkembangan varian produk KAUSA mengalami penambahan. Awalnya, mereka hanya menghasilkan produk pouch, sling bag, dan tote bag. Namun saat ini, mereka juga merambah ke produk-produk aksesoris sehari-hari. “Kita sekarang ada kolaborasi anting dari limbah daur ulang sampah botol, ada scrunchies dan masker juga,” papar Debrina.

Penjualan dimulai dari kanal online nasional, dan mulai berkembang ke berbagai toko online skala internasional. Menurut Debrina, performa penjualan produk mereka per bulannya cukup konstan. Dalam sebulan, mereka bisa memproduksi paling tidak 300 – 500 produk, tergantung kebutuhan. Selain dari penjualan produk, KAUSA juga mendapatkan pemasukan dari berbagai event dan workshop yang mereka adakan. “Kami juga menerima pemasukan dari pesanan khusus berupa souvenir,” ujar Debrina.


Program Pahlawan Bumi Untuk Menebar Semangat Peduli Lingkungan

Sumber gambar : Debrina Emily, via WhatsApp Chat

KAUSA diprakarsai oleh tiga anak muda yang sejak awal merasa prihatin dengan kondisi budaya dan lingkungan Indonesia saat ini. Niat mereka untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik tercermin dalam setiap produk KAUSA. Selain itu, mereka juga berinisiatif untuk membuka komunitas bernama Pahlawan Bumi. “Awal terbentuknya karena kita sebenarnya lihat banyak anak muda di sekeliling kita juga sadar sama isu lingkunagn dan punya minat tinggi di bidang fashion,” jelas Debrina.

Komunitas Pahlawan Bumi yang diampu KAUSA didirikan dengan harapan untuk memperluas jangkauan penyebaran nilai-nilai yang mereka pegang. Hal ini dilakukan dengan mengadakan berbagai event, workshop, serta membuka kelas terkait pengolahan limbah sampah sebanyak dua kali dalam sebulan. Beberapa media dan berbagai institusi pendidikan formal maupun non-formal sudah mendukung inisiatif ini.

Melalui program yang baru terbentuk di bulan Maret 2021 ini, Debrina berharap KAUSA tidak lagi bergerak sendiri, melainkan bersama anak-anak muda yang bertujuan serupa. “Kita bisa sama-sama bangun awareness ke masyarakat mengenai concern kita,” ujar Debrina.


Hambatan dan Tantangan

Guna meningkatkan daya saing terhadap para kompetitornya, KAUSA menjual keunikan produk mereka yang berbahan dasar daur ulang dan meleburkan gayanya dengan kebudayaan. Dengan konsisten menjalankan ini, secara langsung mereka juga menciptakan cerita dan makna di balik setiap produk.

Tantangan juga hadir dalam proses research and development yang mereka jalankan guna menemukan resep paling pas untuk membuat produk recycle. Karena menggunakan bahan utama berupa limbah, mereka perlu menemukan proses sanitasi dan pengolahan yang tepat guna. “Itu perlu trial and error sampau berhasil. Mulai riset dari 2019, setahun untuk riset sampai ketemu formula yang pas,” cerita Debrina. Mereka juga lebih banyak fokus menggunakan dasar-dasar fisika dalam menggunakan teknik heat press untuk mendaur ulang material plastik.

Meski sempat kesulitan dalam tahap ini, namun tim KAUSA akhirnya berhasil mengorbitkan produk pertama mereka secara komersil di bulan Agustus 2020. Beberapa bulan setelahnya, masyarakat pun memberikan respon positif atas usaha mereka.

Sejak kembali berdiri setelah diterpa pandemi, KAUSA berhasil masuk ke berbagai toko daring nasional dan internasional, seperti Etsy. Di gerai-gerai offline, produk KAUSA juga tersebar di Grand Indonesia dan Mall Kelapa Gading Jakarta, Pendopo Alam Sutra Banten, serta Omah Pakarti Yogyakarta.

Pesanan skala nasional juga datang dari berbagai daerah, seperti Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, secara internasional, KAUSA berhasil menembus pasar negara Jerman. Ke depannya, Debrina berharap bisnisnya bisa terus eksis dan berkembang secara global. Saat pandemi sudah mereda, ia juga berharap bisa mewujudkan rencananya untuk membuka toko offline di Bali, tempatnya pertama mendapatkan inspirasi.

Dalam waktu hanya satu tahun, KAUSA berhasil berkembang pesat. Mereka mampu memberikan dampak melalui proposi nilai dengan menaikkan angka daur ulang sampah, serta membawa budaya dan gaya hidup berkelanjutan memasuki era modernisasi. Hasilnya, terjadi peningkatan kesaadaran mengenai hal tersebut dalam masyarakat. “Seterusnya, aku ingin lebih banyak lagi limbah sampah yang bisa kita daur ulang,” pungkas Debrina.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: