Tiga tahun lampau ada sebuah penelitian yang sangat menarik tentang kepemimpinan di perusahaan (Kubski dan Skodova, 2013). Sekitar 81% perusahaan kini dipimpin oleh lelaki, dan hanya 19% yang dipimpin oleh perempuan. Tetapi, kalau kemudian kita lihat apa yang terjadi dengan bisnis sosial, gambarannya jauh berbeda. Memang bisnis sosial majoritasnya tetap tidak dipimpin oleh perempuan, namun ada 38% di antaranya. Artinya, kepemimpinan perempuan di bisnis sosial sekitar dua kali lipat bisnis pada umumnya.

Mengapa demikian? Jawabannya banyak bisa dihubungkan dengan berbagai karakteristik perempuan dalam aspek ekonomi maupun sosial. Lelaki berbisnis kebanyakan karena tuntutan ekonomi yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi pemimpin yang sukses secara material. Akibatnya, bisnis yang dipimpin lelaki sangat fokus kepada profit. Perempuan tidaklah demikian. Mereka berbisnis dengan motivasi sosial yang lebih tinggi, seperti membantu suami, mengisi waktu luang, menyediakan lapangan kerja untuk orang-orang yang dikenalnya, dan sebagainya. Pun, perempuan sangat menimbang keseimbangan antara fungsi pengasuhan keluarga dengan bisnisnya.

Lelaki jauh lebih mudah mendapatkan modal dalam jumlah besar, karena kepemilikan harta yang biasanya atas nama lelaki. Perempuan lebih sulit mendapatkan modal dari sektor formal yang mensyaratkan kolateral. Akibatnya, kalau lelaki bisa mulai dengan ukuran bisnis yang lebih besar, perempuan banyak yang memulainya dari ukuran yang lebih kecil. Tetapi itu juga yang membuat kecerdasan sosial perempuan dalam berbisnis bisa berkembang lebih pesat. Kekuarangan modal finansial dikompensasi dengan pengembangan modal sosial.

Kalau kemudian kita lihat beragam bisnis sosial yang terkenal, peran perempuan juga jauh lebih tinggi di dalamnya. Bukan saja sebagai pemimpin atau pemiliknya, melainkan juga di berbagai posisi lainnya, seperti para manajer dan pekerja, juga para pemasoknya. Sifat-sifat sosial yang melekat pada jenis bisnis ini memang menarik perhatian lebih banyak kaum perempuan. Selain itu, komitmen keberagaman dari para pemilik dan pemimpin bisnis sosial memang membuka peluang itu lebar-lebar.

Karenanya juga, tak mengherankan kalau banyak bisnis sosial yang terkenal juga terkait dengan karya perempuan. Ketika Net Impact mengeluarkan daftar lima perusahaan sosial paling penting di tahun 2015, para pemimpin perempuan sangatlah menonjol. Pada puncaknya adalah Elizabeth Scharpf, pendiri Sustainable Health Enterprises yang mengurusi isu-isu kesehatan perempuan. Pembalut menstruasi dari serat pisang yang higienis dan murah menjadikan kesehatan reproduksi perempuan Rwanda meningkat pesat dibandingkan sebelum ada produk tersebut. Pekerjaaan manufaktur dan penjualannya juga berdampak besar bagi kondisi ekonomi perempuan di negara tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia? Pada tahun yang sama, Schwab Foundation dan World Economic Forum mengumumkan bahwa pemenang Asian Social Entrepreneur of the Year adalah Helianti Hilman. Ia adalah salah seorang pendiri Javara, sebuah bisnis sosial yang berkonsentrasi dalam pertanian berkelanjutan. Produknya, pada saat kemenangan itu diumumkan, mencakup 640 macam dan berasal dari lebih dari 50.000 petani di seantero Indonesia. Tak percuma diberi nama Javara—yang dalam bahasa Sansakerta berarti pemenang—karena dalam beberapa tahun setelah pendiriannya memang bisa membantu para petani menjadi pemenang.

Para petani Indonesia kebanyakan berada dalam kondisi kemiskinan yang jelas menimbulkan dorongan untuk menolong. Tetapi, pertolongan yang dilakukan oleh Helianti melalui Javara-nya adalah dalam bentuk yang benar-benar bisa membuat kepala mereka tegak. Bukan dengan memberikan mereka bantuan yang melenakan, melainkan dengan model bisnis inklusif. Mereka dibantu meningkatkan kualitas, kuantitas dan reliabilitas produknya, bahkan hingga mendapatkan sertifikasi internasional.

Helianti Hilman adalah Kartini modern, yang membangkitkan kesadaran akan pentingnya pertanian berkelanjutan dan pengembangan masyarakat petani Indonesia. Banyak hal yang penting diceritakan tentang perjuangannya, dan bagaimana itu bisa direplikasi lebih jauh. Perjuangan itu akan dikupas pada artikel kami berikutnya.


Sumber:

Artikel ini pernah dimuat di KONTAN tanggal 21 April 2016.

Penulis: Zainal Abidin (Pendiri dan Direktur Utama Perusahaan Sosial WISESA) dan Jalal (Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA)