UKM Indonesia

BOSTEAK



Sumber gambar : Yuria via WhatsApp Chat

Di Indonesia, kuliner Steak kerap kalah populer dengan resep olahan daging tradisional, seperti rendang, tongseng, hingga dendeng. Pasalnya, hidangan Steak biasa dipandang sebagai makanan mewah dari Eropa yang biasa disantap masyarakat kelas menengah ke atas. Belum lagi, banyak masyarakat Indonesia yang merasa tidak cocok dengan bumbu olahan daging ini.

Kesempatan membangkitkan minat pasar lokal terhadap kuliner ini pun dilirik oleh Yuria, pemilik sekaligus pendiri brand BOSTEAK, yang menu utamanya berupa daging steak marinasi. Melalui resep yang melibatkan bumbu rempah khas Nusantara, ia berhasil mengentaskan kepercayaan umum bahwa olahan Steak hanya cocok dengan lidah Eropa. Tidak main-main, kepopuleran produknya bahkan mampu menaikkan omzet BOSTEAK hingga empat kali lipat di masa pandemi. Kisah perjalanan bisnis Yuria, bisa jadi inspirasi tersendiri bagi Sahabat Wirausaha masa kini yang gemar berinovasi.


Memulai Bisnis Dari Makanan Favorit

Yuria memulai usaha kuliner awalnya karena dorongan ekonomi. Kala itu, dalam kondisi keuangan yang serba terbatas, ia hanya memiliki penghasilan tetap sebesar 250 ribu rupiah per bulannya. “Akhirnya, saya banting stir, memulai bisnis makanan,” kenangnya.

Yuria akhirnya memilih salah satu kuliner favoritnya, Steak, sebagai fokus bisnis. Kegemarannya akan makanan ini dimulai saat tengah menempuh pendidikan bidan Clinical Counseling di negeri Kanada. Selama di sana, ia mengambil residensi di rumah seorang profesor yang istrinya kerap menghidangkan menu steak. Beberapa temannya dari Kanada turut membagikan cara memasak steak khas negara tersebut yang bukan main enaknya. Dari pengalaman inilah, Yuria kemudian mencoba peruntungan di bisnis kuliner dengan menu utama steak.

“Mulai dengan barang-barang yang kami punya, seperti handphone dan motor, saya dan suami memulai bisnis steak via online,” cerita Yuria. Proses riset dan pengembangan pun mereka mulai dengan modal seadanya. Enam bulan kemudian, Yuria dan suami berhasil menemukan resep steak yang tidak kalah lezat dengan racikan negara Eropa.

Dalam pengolahan produk, Yuria menggunakan daging lokal yang lebih empuk dibandingkan daging impor. Ia juga menggunakan rempah-rempah Nusantara yang menambah kuat citarasa daging tersebut. Di tahun 2017, mereka meluncurkan BOSTEAK, sebuah usaha kuliner dengan Steak sebagai menu utama. Produk Marinated Steak dari BOSTEAK merupakan daging sapi stik marinasi (sudah dibumbui) yang diproses dengan standar BPOM dan dikemas dalam bentuk beku.

Produk ini, diakui Yuria, sama sekali tidak mengandung MSG dan diproses secara higienis. Ia juga tidak menggunakan pengawet, meskipun produknya memiliki ketahanan selama 6 bulan jika disimpan di dalam freezer dengan titik beku minimal - 18°C.


Pionir Kuliner Steak Berbumbu Rempah di Indonesia

Tak dinyana, bisnis Yuria pun berkembang dengan cepat. Dalam skema penjualan, ia menggunakan sistem pre-order (PO) sehingga laba yang dihasilkan termasuk besar. “Per hari, dari rata-rata order yang masuk, pemasukan kami mencapai 1 – 2 juta rupiah,” paparnya. Skema ini terbukti efektif dalam mengumpulkan keuntungan penjualan. Dengan cepat, Yuria melangkah menuju bab baru dalam perjalanan bisnisnya.

Di tahun 2017, BOSTEAK mulai melangkah maju dengan beralih dari penjualan online ke offline. Yuria membuka restoran steak di Cilacap dengan mempekerjakan dua orang karyawan. Beruntung, produknya dapat diterima masyarakat kota tersebut dengan baik. Keunikan citarasa rempah dengan daging lokal yang lembut berhasil menarik minat pelanggan secara konsisten. “Padahal dalam kategori harga, kami termasuk dalam golongan menengah ke atas,” paparnya.

Menurut Yuria, kepopuleran produknya tinggi lantaran konsistensi mereka dalam menghasilkan Steak berkualitas dan inovasi yang tanpa henti. Dalam waktu singkat, ia berhasil menambah enam karyawan lagi lantaran antusiasme pembeli yang cukup tinggi. “Dengan terus menunjukkan produk yang bagus dan pelayanan yang ramah, usaha kami berkembang pesat,” cerita Yuria.

Meski begitu, mencapai kesuksesan dengan cepat tidak berarti perjalanan mereka bebas dari hambatan. Tantangan muncul dalam kinerja karyawan serta manajemen yang kurang memuaskan di waktu-waktu awal bisnisnya beroperasi. Demi mengatasinya, Yuria kemudian merumuskan sistem Key Performance Indicator (KIP) dan Standard Operating Procedure (SOP) yang cukup ketat. Selain itu, ia juga menghadirkan sistem Reward and Punishment untuk mendongkrak performa para staff. Sementara untuk mengatasi masalah di bagian Manajemen, ia mengajak tim manajerial untuk terus belajar dengan mengikutkan mereka dalam beberapa program mentoring dan pelatihan.Mulai dari platform pembelajaran online seperti WeLearn, We Rise oleh UN Women, hingga UKM Indonesia.

Ilmu yang mereka dapatkan digunakan Yuria untuk memaksimalkan produksi. Koneksi yang didapatnya dari mengikuti berbagai pelatihan ini juga ia manfaatkan untuk memperluas saluran pemasaran BOSTEAK. “Semua ini perlahan berhasil membuat kinerja para karyawan dan manajemen kami membaik,” tutur Yuria.


Mengubah Efek Pandemi Menjadi Kesempatan Emas

Di bulan Maret tahun 2020, tantangan baru muncul seiring masuknya virus COVID-19 ke Indonesia. Dampaknya cukup hebat, hingga omset restoran Bosteak di Cilacap terjun bebas. Dengan 90% keuntungan restorannya turun drastis, Yuria mengaku sangat kesulitan dalam usahanya untuk tetap bertahan. “Kami tidak mengambil opsi PHK karyawan, mengingat mereka sebagian besar adalah janda dan tulang punggung keluarga,” ceritanya.

Akhirnya, Yuria memutuskan untuk berinovasi. “Jika orang-orang takut makan steak di restoran kami, maka kamilah yang akan datang ke pintu-pintu rumah mereka,” ujarnya mantap. Di tahun tersebut, lahirlah produk frozen steak di bawah brand BOSTEAK. Daging sapi beku yang sudah dimarinasi ini dipasarkan secara online di berbagai kanal penjualan daring.

Sumber gambar : Tokopedia

Tidak mau tanggung-tanggung dalam berinovasi, preparasi legalitas pun mereka lakukan. Hingga saat ini, BOSTEAK telah mengantongi beberapa izin edar, seperti PIRT, MD BPOM, serta sertifikasi Halal dari MUI. Hal ini memperkuat tingkat kepercayaan pelanggannya terhadap produk mereka.

Semua usaha ini berbuah manis. Sekarang, produk BOSTEAK tak hanya bisa dijumpai pada restoran mereka di Cilacap. Konsumen dapat menikmati kelezatan steak berbumbu khas Nusantara di mana saja, kapan saja. Di tengah pandemi sekalipun, berkat kesigapan mereka berinovasi, BOSTEAK justru berhasil menambah karyawan dan menaikkan omzet hingga 4 kali lipat. “Saat ini, produk kami juga sudah masuk gerai-gerai retail modern,” tambah Yuria.

Keberhasilan BOSTEAK pun banyak diliput oleh berbagai media, baik televisi maupun media cetak dan online nasional. Kemampuan mereka untuk bertahan dan menciptakan lapangan kerja di tengah pandemi melalui inovasi adalah poin penting yang terus disorot. Yuria mengaku bersyukur bisa berada di titik ini, setelah melalui banyak tantangan besar dalam menjalankan bisnisnya. Menurutnya, semua pencapaian BOSTEAK tidak akan bisa ia dapatkan tanpa dukungan ekosistem bisnis masa kini yang luar biasa.

Pandemic create crisis, yes. But for BOSTEAK, pandemic also create opportunity,” ujar Yuria dengan puas.

Ke depannya, Yuria berharap BOSTEAK bisa terus bertumbuh dan produknya bisa merambah pasar nasional maupun internasional. Ia juga ingin bisa konsisten membuka lapangan pekerjaan, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan, seperti para wanita tulang punggung keluarga, penyandang disabilitas, maupun anak muda yang kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan. “Intinya, kami ingin BOSTEAK terus berdampak positif,” pungkas Yuria.

Referensi :

Wawancara langsung dengan Yuria, Owner sekaligus Founder UKM BOSTEAK via WhatsApp Chat selama bulan Desember 2021

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: