
Sahabat Wirausaha, Pilar Sosial dalam Laporan Keberlanjutan mencatat bagaimana usahamu memperlakukan pekerja, mulai dari data kepegawaian, pelatihan, risiko pekerja anak dan kerja paksa, hingga kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Standar GRI yang relevan meliputi GRI 2-7, 401, 404, 405, 408, 409, dan 403.
Tanpa dokumentasi yang sistematis, praktik baik yang sudah kamu jalankan sehari-hari — misalnya memperlakukan pekerja dengan adil — jadi sulit dibuktikan ke buyer atau mitra yang makin sering menanyakan bagaimana kondisi kerja di balik produk yang mereka beli.
Di komunitas tani, anak-anak sering ikut membantu keluarga di ladang setelah pulang sekolah atau saat musim panen. Ini terasa wajar dan penuh kehangatan sebagai bagian dari budaya kerja keluarga. Tapi di sisi lain, ada batas yang perlu dijaga: anak-anak tetap harus punya waktu untuk sekolah, bermain, dan tumbuh sehat, tanpa terpapar pekerjaan berat atau berbahaya.
Isu semacam ini sering luput dari perhatian UMKM berbasis komunitas, karena kerja sama yang terjalin biasanya berdasar rasa percaya, bukan kontrak formal. Padahal, ketika bisnis mulai berinteraksi dengan buyer dan mitra yang lebih luas, praktik baik saja tidak cukup — semua itu perlu bisa dijelaskan secara sistematis dan terukur, bukan sekadar cerita.
Artikel ini adalah lanjutan dari pembahasan Pilar Lingkungan. Sekarang kita masuk ke Pilar Sosial, dimulai dari tiga topik yang berkaitan langsung dengan pekerja: kepegawaian, praktik ketenagakerjaan, dan kesehatan keselamatan kerja.
Kenapa Pilar Sosial Bukan Cuma Soal "Karyawan Diperlakukan Baik"?
Dalam pelaporan keberlanjutan, Pilar Sosial memastikan bahwa setiap aktivitas bisnis menghormati hak asasi manusia dan berkontribusi pada hasil yang adil, aman, serta bertanggung jawab bagi pekerja, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Artinya, bisnis tidak hanya dinilai dari apa yang dihasilkan, tapi juga dari integritas proses di baliknya.
Bedanya dengan sekadar "punya niat baik" adalah pada dokumentasinya. Data yang tercatat rapi membantu usahamu mengidentifikasi kekuatan dan tantangan internal, mulai dari beban kerja, kondisi tempat kerja, sampai retensi karyawan — sekaligus jadi bukti konkret ketika ditanya oleh buyer atau mitra bisnis.
Baca Juga: Limbah Kulit Kopi Menumpuk? Ini Cara Susun Pilar Lingkungan di Laporan Keberlanjutan UMKM
Mencatat Data Kepegawaian Secara Sistematis
Langkah pertama adalah mencatat struktur tenaga kerja usahamu, mengacu pada GRI 2-7 (Tenaga Kerja), GRI 2-8 (Pekerja yang Bukan Bekerja Langsung), dan GRI 401-1 (Perekrutan dan Pergantian Karyawan).
| Aspek | Satuan | Tahun Lalu | Tahun Ini |
| Karyawan tetap (penerima upah) — laki-laki/perempuan | Orang | ... | ... |
| Karyawan paruh waktu — laki-laki/perempuan | Orang | ... | ... |
| Pekerja lepas/harian (bukan penerima upah) | Orang | ... | ... |
| Total tenaga kerja | Orang | ... | ... |
| Pergantian karyawan (keluar per tahun) | Orang | ... | ... |
Jumlah karyawan tetap memberi gambaran stabilitas operasional, sementara tenaga kerja harian menunjukkan fleksibilitas usahamu menghadapi fluktuasi produksi. Komposisi gender juga penting dicatat untuk memastikan tidak ada perbedaan perlakuan dalam kesempatan kerja. Data pergantian karyawan sebaiknya tidak hanya dicatat sebagai angka, tapi dianalisis untuk memahami kondisi internal — misalnya apakah ada pola terkait beban kerja atau kepuasan karyawan.
Mengembangkan Kompetensi Karyawan
Selain data kepegawaian, standar GRI 404 (Pelatihan dan Pendidikan) dan GRI 405 (Keanekaragaman dan Peluang Setara) mendorong usaha mencatat program pengembangan karyawannya.
| Jenis Pelatihan | Tujuan | Durasi | Jumlah Peserta Tahun Lalu | Jumlah Peserta Tahun Ini |
| ... | ... | ... | ... | ... |
Setiap pelatihan idealnya punya tujuan yang jelas dan terhubung langsung dengan kebutuhan operasional, misalnya pelatihan quality control untuk menjaga standar mutu, atau pelatihan keamanan pangan untuk memastikan produk aman dikonsumsi. Dengan pendekatan ini, pengembangan karyawan bukan sekadar kegiatan tambahan, tapi bagian dari sistem yang memperkuat operasional secara keseluruhan.
Baca juga: Pilar Ekonomi dalam Laporan Keberlanjutan: Cara UMKM Menyusun Kinerja Nilai Ekonomi dan Pajak
Mengelola Risiko Pekerja Anak dan Kerja Paksa
Ini bagian yang sering luput, terutama bagi UMKM berbasis komunitas seperti usaha pertanian. GRI 408 (Pekerja Anak) dan GRI 409 (Kerja Paksa) mendorong usaha mengidentifikasi area yang berpotensi berisiko, meski tidak ada niat buruk di dalamnya.
Sesuai aturan ILO, anak-anak dilarang melakukan pekerjaan berbahaya, seperti terpapar bahan kimia, menggunakan alat tajam, mengangkat beban berat, atau bekerja terlalu lama di bawah panas ekstrem. Untuk kerja paksa, salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah penggunaan agen yang menjerat pekerja musiman dengan utang biaya transportasi atau hidup, sehingga mereka jadi tidak punya pilihan untuk berhenti bekerja.
| Aspek | Uraian | Penjelasan Risiko |
| Jenis operasi berisiko | ... | ... |
| Pemasok berisiko | ... | ... |
| Lokasi berisiko | ... | ... |
Setelah mengidentifikasi area berisiko, catat juga hasil pemantauannya di periode pelaporan, misalnya jumlah kasus pekerja anak dan kerja paksa yang ditemukan. Angka nol bukan berarti selesai — justru itu jadi dasar untuk menjaga konsistensi praktik yang sudah berjalan baik, sekaligus bukti bahwa usahamu punya sistem pengawasan yang berkelanjutan, bukan cuma mengandalkan rasa percaya semata.
Menjaga Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Di area produksi, risiko kerja seperti panas mesin atau potensi kecelakaan ringan tidak bisa sepenuhnya dihindari. GRI 403 mendorong usaha menerapkan sekaligus mendokumentasikan sistem pengelolaan risiko kerja, bukan cuma prosedur di atas kertas.
Beberapa praktik dasar K3 yang bisa kamu terapkan dan catat:
- Setiap kecelakaan kerja dan hampir celaka dicatat dan dievaluasi berkala
- Alat Pelindung Diri (APD) wajib digunakan pekerja
- APAR tersedia dan diperiksa rutin
- Jalur evakuasi tersedia dan aman digunakan
- Kotak P3K tersedia di area operasional
- Edukasi keselamatan kerja dilakukan secara berkala
| Jenis Kecelakaan/Penyakit Kerja | Jumlah Kasus Tahun Lalu | Jumlah Kasus Tahun Ini | Upaya Perbaikan |
| ... | ... | ... | ... |
Yang membuat sistem K3 efektif bukan cuma prosedurnya, tapi konsistensi pencatatannya. Kejadian sekecil apa pun, seperti terpeleset di area produksi, tetap dicatat karena bisa jadi indikasi pola yang perlu diperbaiki — misalnya soal kondisi lantai atau prosedur kerja. Dengan begitu, K3 bukan cuma bentuk perlindungan, tapi juga alat untuk meningkatkan kualitas operasional bisnis secara keseluruhan.
Praktik Baik Saja Tidak Cukup
Kamu mungkin sudah melakukan banyak hal baik dalam bisnismu — menjaga kualitas produk, memperlakukan karyawan dengan adil, membangun hubungan baik dengan komunitas sekitar. Tapi pertanyaannya, apakah semua itu sudah diubah jadi sistem yang bisa kamu tunjukkan ke pihak lain? Ini yang membedakan bisnis yang sekadar berjalan, dengan bisnis yang siap berkembang ke level berikutnya.
Kamu bisa langsung praktik mengisi bagian Pilar Sosial ini di Template Laporan Keberlanjutan gratis di s.id/template-sr-umkm. Supaya pengisiannya tepat, ikuti dulu kursus video tutorialnya step by step di s.id/kursus-sr — kursus ini merupakan bagian dari kolaborasi GRI bersama Tumbu.co.id dan UKMIndonesia.id untuk mendukung UMKM Indonesia menyusun laporan keberlanjutannya sendiri.
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Daftar Referensi:
- Global Reporting Initiative, GRI 401: Employment (globalreporting.org)
- Global Reporting Initiative, GRI 403: Occupational Health and Safety (globalreporting.org)
- Global Reporting Initiative, GRI 408 & 409: Child Labor and Forced Labor (globalreporting.org)
- Kursus pembelajaran Membangun Bisnis Berdampak dengan Laporan Keberlanjutan
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









