UKM Indonesia

Mempersiapkan Bisnis Pariwisata Masuk Era Digital


Sumber : Unsplash

Saat kita memasuki zaman di mana semua hal dipermudah dengan bantuan teknologi digital dan sambungan internet, sektor pariwisata juga tak boleh ketinggalan. Hotel, restoran, dan penginapan, hampir semuanya sekarang sudah bermitra dengan aplikasi digital guna mengembangkan bisnisnya. Akses pelanggan ke tempat-tempat pariwisata pun menjadi semakin simpel, bahkan tak jarang tinggal sekali klik, semua sudah terpesan. 

Nah, apa saja sih yang harus teman-teman UKM siapkan dalam memasuki era digital ini? Apa saja yang berbeda dari berdagang lewat dunia digital dengan menjajakan paket pariwisata secara manual? Alexander Nayoan, Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Learning Center, yang sudah berkecimpung lebih dari 20 tahun di dunia hospitality dan hampir 35 tahun di bidang perhotelan dan restoran, mencoba menjelaskan fenomena ini dari pengamatannya selama mengampu posisi di PHRI Learning Center. 

Sekilas tentang PHRI

PHRI adalah suatu asosiasi yg sudah berdiri sejak tahun 1967 dan beranggotakan sekitar 2 ribu hotel dan restoran di seluruh Indonesia sampai saat ini. Dan itu baru sebagian kecil dari keseluruhan yg ada di Indonesia. Tugas kami PHRI adalah melobi dan mendekatkan diri kepada pemerintah untuk menyampaikan aspirasi anggota dan non-anggota mengenai apa yg sebaiknya dilakukan untuk pemerintah, misal dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan. Selama pandemi, justru PHRI yg mengusulkan penerapan protokol kesehatan kepada Kementerian Pariwisata. Kami memberikan dasar, dan mereka membuat yg lebih detail. Kemudian kamu juga menjembatani pemberian dana hibah dari pemerintah kepada hotel-hotel dan restoran. Jika teman-teman UKM memiliki usaha di bidang hotel atau restoran, bisa bergabung dengan PHRI atau menyampaikan aspirasi untuk dibantu secara nasional.

Berbisnis Restoran di Era Digital

Di Indonesia, terdapat  18 ribu hotel dan penginapan yg terdaftar. Itu pun belum seluruhnya, sebab dan masih ada 5 ribu yg tidak terdaftar. Belum lagi adanya Desa Wisata yang jumlahnya bisa sampai 15 ribu di Indonesia. Dengan jumlah sebanyak ini, tentu banyak kesempatan bagi pegiat kuliner (restoran, warung makan) dan hotel atau penginapan untuk masuk dan berbisnis. Namun, di era digital, banyak aturan main yang berubah.

Alih-alih bersaing ketat, di era digital ini justru banyak pihak yang berkolaborasi dan bekerjasama. Baik itu antara hotel dan hotel, restoran dengan penginapan, atau restoran dan restoran. Ini justru bisa menambah nilai jual kita. Tak hanya itu, era digital juga menuntut kita untuk kreatif membuat foto dan video. Kita juga harus rajin update di sosial media, guna mempromosikan produk. Pasalnya, rating website dan sosial media kita juga berpengaruh terhadap reaksi pelanggan. “If you’re not in these digitalisation tools, Anda akan tertinggal,” ujar Alexander. Dari sini, teman-teman UMKM bisa masuk ke dunia pariwisata, khususnya restoran. Teman-teman bisa membuat usaha yang khusus memproduksi foto dan video untuk restoran-restoran ini.

Mengkurasi dan Mempromosikan Menu Andalan 

Perubahan lainnya adalah dalam bentuk penyajian menu di restoran. 10 – 20 tahun lalu, jika kita makan di restoran, menunya bisa berlembar-lembar, dengan banyak sekali varian. Tapi, bagi kaum muda dan milenial, mereka tidak suka jika jumlah pilihan terlalu banyak. Kadang, menu pilihan yang banyak ini pun saat dipesan yang datang tidak sesuai harapan. Milenial lebih suka dengan menu yg sedikit, namun spesifik dan jelas bagaimana isinya. Untuk itu, kita harus punya minimal satu menu yg menjadi best seller. Menu andalan inilah yang nantinya akan membawa traffic ke jejaring sosial media dan platform online kita. 

Mengkurasi menu untuk dijadikan andalan bukan perkara gampang, dan harus ditangani dengan serius. Agar bisa mengerti pola pikir dan selera kaum milenial, yang tentu sudah sangat berbeda dengan selera masyarakat 10 – 20 tahun lalu. “Cara validasi zaman babe-babe, mereka trial and error, bikin-cob, bikin-coba,” jelas Alexander “begitu seterusnya sampai terlihat sebuah pola, mana yg lebih banyak dipesan pelanggan,” lanjutnya. 

Tapi, cara tersebut perlu waktu lama, bisa setahun dua tahun, atau lebih. “Zaman sekarang lain lagi, it’s all about big data,” ujar Alexander. Ya, saat ini, banyak restoran dan warung makan  mengandalkan database pelanggan guna menghadirkan menu yang dapat menarik minat mereka. Hal ini bisa dicapai dengan melakukan survei secara berkala pada para pelanggan. 

Saat dahulu suatu menu atau produk mungkin butuh berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk menjadi populer dan banyak orang beli, justru di zaman sekarang semua lebih mudah lagi. Sesuatu bisa dengan cepat menjadi tren, apalagi jika viral. Jika kita tahu cara membuat produk jadi viral, dan mengandalkan website atau sosial media, sesuatu bisa dengan cepat menjadi booming. Tidak perlu riset bertahun-tahun, yang kita perlukan adalah nilai unik dan khas dari produk yang kita produksi. “Jaman dahulu, saat satu makanan dibilang enak, ya memang enak banget, Zaman sekarang, untuk populer dan menyandang predikat “enak” lebih gampang,” papar Alexander. Semua bisa tergantung cara memasarkannya, dan ditolong oleh sosial media, penampilan, serta branding.

Menyematkan Nilai “Enak” Pada Produk Kita

Opini dan selera pelanggan bisa dibentuk melalui hal yang bukan rasa. “Misalkan, saat seseorang makan, ya hanya makan saja, chef nya diam saja. Saat keluar restoran, ia akan berpikir enak-tidaknya masakan secara jujur, mungkin membandingkannya dengan harga,” jelas Alexander. Namun, jika ia masuk restoran, disapa hangat, disajikan makanan, diucapkan selamat datang, maka setelah makan saat ditanya kembali, ia akan merasa masakan itu enak sekali. Karena keramahan dan pelayanan tentu mempengaruhi penilaian. Begitu pula dengan branding image produk kuliner ini sendiri, saat orang-orang atau seorang influencer bilang produk itu “enak”, maka citra ini akan masuk ke otak konsumen baru. Sebab, selera bisa ditanamkan ke otak pelanggan.

Database penting untuk hotel dan restoran, dan targetkan setiap bulan database ini bertambah. Dan jangan diabaikan, tapi gunakan sebagai bahan promosi di sosial media agar produk kita lebih moncer. Pergantian display di restoran, dulu hanya sekali sebulan. Tapi kalau sekarang, apalagi yg kita pakai sebagai display adalah digital, setiap hari bisa ganti display. Apalagi jika ada promo, dengan pacjage atau menu khusus misalkan edisi terbatas hanya untuk satu hari. Bisa langsung habis dalam sehari.

Kualitas Produk Tetap Harus Nomor Satu

Saat ini, ada yg namanya sertifikat CHSE (Clean, Health, Safety, and Environment Friendly). Lakukan semua protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya, dan dipromosikan bahwa kita melakukan CHSE dengan tepat dan benar. Otomatis, nantinya produk-produk kita akan meningkat dengan sendirinya. Meja dan toilet bersih, dapur bersih, peralatan makan pun kinclong. Jika pelanggan kerasan, merasa aman di restoran kita, mereka akan kembali lagi dan lagi. Nilai jual kita adalah makanan yang aman, bersih, dan enak. 

Menyematkan Sistem QR Code

Sekarang juga banyak hotel dan restoran memakai sistem QR Code. Di dalam QR Code, selain ada informasi barang juga ada iklan di dalamnya dari toko-toko di sekeliling hotel. Banyak hotel sudah mengadaptasi sistem ini dan mendapatkan uang dari sana. “Anda juga bisa beriklan dari sana, buat QR Code untuk produk Anda, dipasang di hotel, dan orang akan lihat,” jelas Alexander.

Nah, setelah mendengarkan tips mempersiapkan bisnis restoran, hotel, dan pariwisata masuk ke era digital, diharapkan teman-teman UKM bisa lebih bersemangat untuk maju, ya! 

Mau tahu lebih lengkapnya? Yuk tonton video webinar “Mengembangkan Bisnis Budaya dan Pariwisata Untuk Kebanggan Bangsa”, yang dapat diakses melalui link berikut.

***

Sonia Fatmarani, Kontributor Penulis Tetap ukmindonesia.id

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: