
Di artikel sebelumnya kita lihat kenapa suara UMKM perempuan sering kalah di kelompok usaha — jawabannya ternyata berakar dari sebuah norma yang membagi sektor usaha sejak awal. Perempuan diarahkan ke kerajinan dan kuliner, laki-laki ke pertanian dan logistik. Tapi bukan cuma soal sektor: ada satu pola kepemimpinan yang justru memperparah ketimpangan ini.
Sahabat Wirausaha, norma tadi memang jadi titik awal — tapi ternyata bukan satu-satunya biang keladi. Dari tiga pola kepemimpinan kelompok usaha yang diteliti, cuma satu yang paling sering bikin anggota perempuan diam-diam menahan keberatan tanpa berani menyuarakannya. Uniknya, pola ini bukan yang paling kelihatan timpang — justru yang selama ini dianggap paling "ramah perempuan". Kita bongkar di artikel ini, termasuk kenapa kerja keras perempuan sering berhenti di meja notulensi rapat.
Di banyak kelompok usaha subsisten, ada garis pemisah yang nggak pernah ditulis di aturan mana pun, tapi dipatuhi hampir semua orang: perempuan mengurus kerajinan tangan dan kuliner, laki-laki mengurus pertanian dan logistik. Nggak ada yang melarang secara resmi. Tapi begitu ditelusuri lebih dalam, garis ini ternyata menentukan banyak hal — dari seberapa besar usahamu bisa berkembang, sampai siapa yang akhirnya duduk sebagai ketua kelompok.
Kajian yang melibatkan kelompok usaha perempuan di Jakarta, Belitung, Bali, dan Palu menemukan pola ini berulang di hampir semua wilayah, meski dengan variasi. Dan yang lebih penting: pola ini bukan cuma soal siapa mengerjakan apa, tapi soal siapa yang akhirnya punya kendali atas arah usaha.
Sektor "Ringan" untuk Perempuan, Sektor "Berat" untuk Laki-laki
Norma tradisional menciptakan pembagian sektor usaha berdasarkan persepsi peran gender. Perempuan cenderung diarahkan ke sektor yang dianggap "alami" atau ringan, seperti kerajinan tangan dan kuliner — dianggap perluasan dari tugas domestik. Laki-laki lebih banyak ditemukan di sektor yang dipersepsikan butuh tenaga fisik dan kepemimpinan publik lebih besar, seperti pertanian atau distribusi logistik.
| Aspek | Kelompok Usaha Perempuan | Kelompok Usaha Laki-laki |
| Sektor dominan | Kerajinan tangan, kuliner | Pertanian, perikanan, distribusi logistik |
| Skala usaha | Lebih kecil | Lebih besar |
| Akses pasar | Terbatas, lingkup lokal/komunitas | Lebih luas, regional/nasional |
| Akses modal & jaringan | Sering terbatas, sulit berkembang | Lebih mudah dapat modal & jaringan bisnis |
Sektor yang didominasi laki-laki cenderung punya akses lebih luas terhadap pasar, modal, dan jaringan usaha — sementara sektor yang didominasi perempuan sering menghadapi keterbatasan skala akibat marjinalisasi dalam rantai nilai usaha.
Pembagian ini bukan cuma soal selera atau kebiasaan. Ia langsung berdampak pada peluang pengembangan usaha jangka panjang — dan inilah kenapa isu ini bukan sekadar soal kesetaraan, tapi juga soal potensi ekonomi yang belum digarap maksimal.
Kalau Suami Bilang Boleh, Istri Baru Bisa Ikut Kelompok
Di beberapa wilayah, keputusan perempuan untuk aktif di kelompok usaha harus melalui persetujuan suami atau keluarga lebih dulu. Sebaliknya, ketika laki-laki ingin ikut kegiatan serupa, pemberitahuan ke istri biasanya sekadar informasi, bukan permintaan izin. Asimetri kuasa ini kelihatan jelas dari cerita para responden:
"Suami saya tidak suka kalau saya sering keluar rumah." "...suami saya bilang, 'Masa istri yang kerja, suami di rumah?'"
Meski begitu, di lingkungan yang lebih terbuka seperti kawasan urban, perempuan punya ruang gerak yang lebih luas untuk ikut kegiatan kelompok. Sayangnya, ruang yang lebih luas ini nggak selalu diikuti akses yang setara ke posisi strategis. Struktur kelompok yang belum inklusif tetap bisa membatasi perempuan pada peran teknis saja, bukan peran pengambil keputusan.
Glass Ceiling: Ketika Kerja Keras Berhenti di Meja Notulensi
Perempuan sering kali hanya diberi tanggung jawab teknis — mencatat notulensi rapat, mengelola pencatatan keuangan — sementara posisi strategis seperti ketua kelompok lebih sering dipegang laki-laki. Kondisi ini menciptakan glass ceiling dalam kepemimpinan kelompok: batas tak terlihat yang menghalangi perempuan naik ke posisi pengambil keputusan.
Akibatnya, meski perempuan aktif secara administratif dan operasional, keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan tetap terbatas — dan ketimpangan kuasa di tingkat kelompok pun bertahan dari waktu ke waktu.
Tiga Pola Kepemimpinan, Tiga Nasib Berbeda bagi Perempuan
Riset di empat wilayah menemukan tiga komposisi kepemimpinan kelompok usaha, dengan dampak yang berbeda-beda terhadap perempuan:
-
Ketua perempuan, mayoritas anggota perempuan — diskusi lebih setara dan adaptif, ketua jarang mengalami penolakan dari anggota. Tantangannya di akses pasar dan modal yang masih terbatas.
-
Ketua laki-laki, mayoritas anggota laki-laki — struktur dan operasional cenderung kuat, tapi berpotensi memperkuat subordinasi terhadap perempuan yang ada di dalamnya.
-
Ketua laki-laki, mayoritas anggota perempuan — inilah pola yang justru paling rawan: keputusan cenderung merefleksikan sudut pandang laki-laki, memunculkan resistensi pasif dan penolakan diam-diam dari anggota perempuan yang mayoritas.
Pada pola ketiga inilah keterlibatan anggota perempuan paling terbatas — bukan karena mereka nggak mau terlibat, tapi karena tanggung jawab domestik (peran ganda) membatasi ruang gerak, sementara arah kelompok sudah ditentukan oleh sudut pandang yang berbeda dari kebutuhan mereka.
Baca Juga: Siapa Pengusaha UMKM Indonesia? Ini Potret Data Usia, Pendidikan, dan Gender Pelakunya
Kerja Perempuan yang "Tidak Terlihat" tapi Menopang Ekonomi Keluarga
Motivasi utama perempuan bergabung ke kelompok usaha adalah menambah penghasilan keluarga — sering diposisikan sebagai "tambahan" dari nafkah utama suami. Karena itu, perempuan cenderung memilih pekerjaan fleksibel yang bisa dilakukan dari rumah. Laki-laki, sebaliknya, punya keleluasaan mobilitas dan waktu karena norma sosial mendorong mereka fokus penuh sebagai pencari nafkah utama.
Padahal, kontribusi ekonomi perempuan ini sering kali tidak diakui setara — sebuah fenomena yang dikenal sebagai invisible labour, atau kerja yang tak terlihat. Ketika perempuan mendapat dukungan sosial, terutama dari pasangan, mereka menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, kemandirian finansial, dan kemampuan mengambil keputusan — baik di rumah tangga maupun di kelompok usaha.
Apa Artinya untuk Kelompok Usahamu?
Kalau kelompok usahamu masuk pola ketiga di atas — ketua laki-laki dengan mayoritas anggota perempuan — bukan berarti kelompokmu buruk. Tapi ini sinyal penting untuk mulai membuka ruang diskusi yang lebih setara, memastikan anggota perempuan nggak cuma hadir secara jumlah tapi juga didengar suaranya dalam keputusan strategis. Semoga bermanfaat!
Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!
Follow Instagram @ukmindonesiaid biar nggak ketinggalan informasi atau program penting seputar UMKM. Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!
Referensi:
Bank Indonesia & Women's World Banking. (2025). Menuju model bisnis inklusif yang responsif gender: Pembelajaran dari kelompok subsisten di Indonesia. Bank Indonesia.
Dukung Misi Edukasi Kami
Kontribusi Anda, sekecil apa pun, sangat membantu kami agar dapat terus membuat konten edukasi kewirausahaan dan merawat keberlanjutan website ini.









